Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 20 • Menunggu Jawaban •


__ADS_3

Dalam ruangan yang terasa begitu hambar itu, empat pasang mata saling bertemu tatap. Dua asisten bawaan Susi tak perlu dianggap.


Setelah menata banyaknya hadiah dan bingkisan di atas meja yang cukup banyak dan lebar itu, mama Susy tersenyum dengan sangat ramah.


"Kami membawakan sedikit oleh-oleh untuk keluarga. Dan, beberapa untuk Jeni." Tutur Susy membuka percakapan.


"Apa anda datang kemari untuk mewakilkann putra anda ini untuk meminta maaf?"


"Ohohoho,, anda sungguh sangat cepat, memang untuk itulah kami datang, dan beberapa hal lainnya yang mengikuti setelah permintaan maaf kami diterima." Tutur mama Susy dengan senyum yang dibuat setulus mungkin.


Papa Roman mengangguk-angguk setuju. Untuk putrinya, setidak ia harus sedikit jual mahal.


"Sebenarnya, saya kurang menyukai anak anda ini... Dia...." Roman pun sengaja mengambangkan ucapannya dengan lambaian gerakan tangan,


"Nyonya Susy mamanya,tentu anda lebih tau bagaimana anak anda, kan?" Lontar papa Roman dengan nada sindiran.


"Ho-ho-ho, mohon anda memaafkan anak saya yang tidak pandai dan kurang ajar ini. Dia memang selalu membuat masalah. Semua ini tentu saja sepenuhnya adalah salahnya. Jikalau tuan Roman ingin membunuhnya, saya tentu akan segera menyiapkan liang kubur untuknya. Ho-ho-ho.."


Mama Diana sangat terkejut dengan pernyataan mama Susy Arzetty itu. Bagaimana bisa seorang ibu berkata seperti itu terhadap anaknya.


'menyiapkan liang kubur? Benar-benar calon besan ini..' geram Diana dengan tangan yang mencengkram kuat bajunya.


"Nyonya Arzetty, bagaimana bisa anda berkata seperti itu Tenta...." Ucapan mama Diana tertahan saat merasakan tangan papa Roman menyentuh pungung tangannya. Sebagai isyarat agar mama Diana tak melanjutkan ucapan.


"Ohohoho,, nyonya Diana, mohon jangan terlalu di masukkan ke hati. Sebagai permohonan maaf, saya bermaksud menawarkan 20 persen saham kami dan.....


Tentu saja saya sangat berharap tuan Roman bersedia menikahkan putri anda dengan anak saya ini. Walau bagaimanapun hubungan baik ini harus terus berlanjut. Lagi pula mereka saling mencintai, tentu saja, cepat atau lambat kita akan menjadi besan, kan?? Ho-ho-ho.


Mumpung ada insiden itu, mari kita perjelas saja hubungan mereka. Demi menjaga nama baik nak Jeni. Dan membatasi gerak anak nakal ini."


Mama Susy berkata dengan sangat halus dan merendah demi tercapainya kesepakatan pernikahan antara anak mereka. Tak lupa senyum ramah di wajahnya.


"Saya sangat menghargai semua usaha anda, nyonya Arzetty. Tapi, Kami tetap akan menanyakan nya pada Jeni terlebih dahulu." Ungkap Roman halus tanpa bermaksud menolak ataupun menerima lamaran dari calon besan."Dia yang nantinya akan menjalani pernikahan ini. Mohon jangan terlalu menekan."


"Tentu saja, tentu saja... Kami sangat paham akan hal itu. Mari kita bicarakan lagi dalam kurun waktu dua hari. Kami sangat menantikan kabar baiknya."


.


.


Mama Susy dan Suga pun pamit dan kembali ke mansion mereka. Mama Susy berjalan sembari melirik sinis pada Suga.


"Kau, bersikap baiklah selama dua hari kedepan. Jika sampai pernikahan ini gagal habis kau saat itu juga!" Ancam mama Susy keras."Citra Relay Grup dipertaruhkan disini."


###


"Pah."

__ADS_1


Roman menatap istrinya yang terlihat begitu cemas dan tidak tenang.


"Mama, kurang suka dengan keluarga itu. Mama takut, Jeni tidak akan bahagia jika menikah dengan keluarga mereka."


"Kenapa mama bisa yakin jika jenin tidak akan bahagia dengan keluarga itu?"


"Wanita bernama Susy itu, sepertinya penuh tipu muslihat. Dan anak laki-laki nya yang bernama Suga itu... Meresahkan." Diana terlihat berfikir dengan kening berkerut.


Roman terkekeh kecil.


"Papa!" Mama Diana menatap tak suka pada suaminya yang justru seperti meledek.


"Mereka berkali-kali lipat lebih baik dari pada bedugal yang bersama Jeni waktu itu. Walau licik, tapi, mereka tidak menipu dan memeras anak kita."


"Papa!"


"Ha-ha-ha, jadi kamu mau papa merestui hubungan Jeni dengan Verel itu? Begitu?"


"Ya, tidak juga sih pa." Wajah ragu dan cemas Diana terlihat jelas."Mama hanya ingin Jeni menikah dengan pria yang dia cintai."


Papa Roman tersenyum simpul, ia cukup mengerti akan kegundahan hati istrinya. Sebenarnya, ia pun merasakan hal yang sama.


"Yeah, ada lamaran dari keluarga yang cukup berpengaruh dan kompensasi yang cukup menggiurkan. Mana mungkin kita tolak mentah-mentah."


"Papa! Jadi papa mau menjual anak kita?" Mama Diana sangat keberatan dengan pernyataan suaminya itu.


Papa sudah senang Jeni putus dengan Verel, selagi hati Jeni masih belum kembali pada laki-laki itu, sebaiknya papa segera menjual Jeni pada keluarga pemilik Grup Relay itu." Terang papa Roman dengan senyum lebar di wajahnya. Diakhiri dengan langkah panjang menuju kamarnya. Roman masih terdengar tertawa kecil.


Yang tentu saja pernyataan suaminya itu membuat Diana kesal bukan kepalang. Bukan karena Diana menerima hubungan pria benalu dengan Jeni. Namun, lebih ke sikap dari Suga.


Sedikit banyak, mama Diana sudah menyelidiki orang seperti apa Suga. Seorang player yang arogan dan dingin. Diana tak ingin putrinya terlibat dengan orang seperti itu. Ia sangat takut anak gadisnya itu akan tersakiti.


###


"Apa malam ini aku sudah membuatmu cukup senang?"


Vi dan Jeni berjalan dia area parkiran di atas bukit. Lalu berhenti di dekat motor Vi terparkir.


"Heemm... Terima kasih sudah membiarkan aku membayar kali ini." Ucap Jeni saat Vi memasangkan helm di kepalanya.


"Hmm... Bukankah kau punya hutang padaku?"


Jeni tersenyum lucu.


"Tentu saja, dengan begini hutang ku tinggal satu kali makan malam."


"Baiklah, ayo kita pulang."

__ADS_1


Kendaraan roda dua itu bergerak membelah jalanan kota. Diatas motor, mereka masih bercanda.


"V bawa motormu ke jalan Brigjen Katamso, lalu masuk ke perumahan Teratai wangi." Seru Jeni beradu dengan suara terpaan angin dan deru motor yang berjalan.


"Kenapa kesana?"


"Itu... Rumah papaku. Aku harus kembali ke sana."


"Oke."


Tepat di depan pintu gerbang rumah megah itu, motor klasik V berhenti.


"Rumah papa mu besar juga. Kenapa kamu malah ngekos."


Jeni terkekeh kecil.


"Rumah ini juga tidak terlalu jauh dari kantor mu."


"Yeah, ada banyak alasan yang tak bisa aku bicarakan denganmu. Kita tidak sedekat itu..."


"Benarkah? Kupikir kita sudah cukup dekat, lihatlah, hanya beberapa senti meter." Ucap V sembari mengukur jarak antara dirinya dengan Jeni dengan tangannya.


Jeni terkekeh geli.


"EHEM!"


Jeni terlonjak kaget menoleh kebelakang. Pintu gerbang sudah di buka cukup lebar. Dan papanya berdiri di sebelah dalam, memindai pria yang mengantar putri sampai gerbang itu.


"Jika ada tamu, sebaiknya suruh dia masuk. Bukannya berdiri didepan gerbang, sangat tidak baik jika dilihat tetangga, apalagi kau dengan yang terjadi baru-baru ini. Jangan sampai timbul skandal lain."


Usai mengucapkan itu, papa Roman berbalik menuju bangunan yang tampak terang itu, berjalan dari halaman. Ia menoleh melihat pada V.


"Kalau tidak masuk sebaiknya kalian tidak usah bertemu lagi!"


V tersenyum, "Baik paman."


Vi menuntun motornya memasuki gerbang.


"V, kamu..." Jeni menahan lengan teman prianya itu, Jeni khawatir, jika nanti V justru mendapat perlakuan yang tidak baik dan papanya.


"Aku, masih ingin bertemu denganmu, lagi pula, kamu masih punya satu janji yang harus di penuhi denganku. Jadi, sedikit mengenalkan diri pada calon mertua tidak masalah kan?"


Vi mengedipkan sebelah matanya dengan senyum genit. Hanya untuk membuat Jeni tenang dan tidak perlu khawatir. Ia yakin bisa mengatasi nya dengan baik.


"Jangan salahkan aku jika dia mengintimidasi mu."


"Apa jika aku lulus, kita bisa resmi berpacaran?"

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2