Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
bab 77


__ADS_3

Selama beberapa hari ini V merasa kosong, penolakan Lia pada lamarannya sangat memukul diri nya dengan keras.


Di tengah kebimbangan diri nya, V lebih banyak bekerja baik di resto maupun di carwash. Kadang ia hang out dan sekedar minum berdua dengan Fajar. Seperti malam ini, kedua nya tengah ngopi-ngopi di rooftop resto rescue setelah jam Operasional.


"Santai saja boz, pepatah bilang, mati satu tumbuh seribu."


V mengulas senyum. "Lia belum mati."


"Tapi kan, dia sudah gugur jadi calon. Dia aja nolak dirimu yang jelas-jelas sudah sangat baik dengannya." terang Fajar membenarkan ucapannya, dengan gerakan tangan yang ikut berbicara. "Bodoh wanita yang sudah menolak mu."


V hanya tersenyum getir. Kedua nya sama terdiam, hening di tengah malam itu.


"Tapi... Rasa nya ada yang salah. Seperti ada yang tidak kena..." ucap Fajar lagi menyampaikan pandangannya.


"Kamu juga merasa begitu?"


"Juga? Jadi, bos merasakan nya?"


V tak menjawab, pandangan matanya hanya lurus menatap ke depan. Jatuh pada bola bola lampu yang berderet di jalanan.


"Jika memang memanfaatkan mu, kenapa dia harus mengembalikan uang 30juta itu?"


"Jika memang benar ucapannya, kenapa dia tidak mencoba mengeruk uang mu perlahan? Bukankah dia tau kamu punya uang tabungan 30juta itu?"


"Dan, jika itu semua salah, apakah kedatangan ibunya ke carwash sudah di rencanakan?"


"Tapi, uang itu tak seberapa di banding 30juta yang mungkin dia bisa ambil dengan halus. Dia tidak sebodoh itu kan?"


Vi menyeruput kopinya, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.


"Ada beberapa hal yang mengganjal di hati ku Jar." lirih V dengan helaan nafasnya.


"Apa kamu mau aku mencari informasi?"


"Kamu bisa melakukannya?" menoleh pada fajar.


"Tentu saja."Jawab Fajar yakin.


Vi kembali menatap lampu-lampu jalanan yang berada jauh di sana. Dengan kelap-kelip lampu kendaraan yang bergerak dan melintas.


"Haahh,, kenapa wanita begitu rumit?"


"Kalau tidak, itu bukan wanita..."


"Ha-ha-ha, benar bos!"


****


Beberapa hari setelahnya.


Fajar yang telah mendapatkan informasi, menghubungi V melalui sambungan telpon. Ia mengangkat helm nya di atas kepala dengan masih menunggangi kuda besi nya.


"Bos, dia pergi dengan ibunya ke kampung."

__ADS_1


("Ke kampung?")


"Hemmm... Kos an nya sudah kosong. Mereka berangkat semalam, dan dari informan yang aku dapat, ibunya sudah menjual semua barang-barang milik Lia."


V tampak sangat terkejut.


("Apa itu berarti dia tidak akan kembali kemari?") bergumam.


"Aku akan mencari tau lebih lanjut."


("Baiklah, terima kasih.")


Fajar menutup sambungan telponnya, menyimpan seluler di saku jaket. Lalu membetulkan posisi helm sebelum dia menarik tuas gas motornya.


V mengetuk-ngetuk benda pipih berlayar gelap itu di dagunya. Ia berpikir dalam diamnya. V bangkit dari duduknya, berjalan menuju parkiran di resto Rescue.


"Jeni pasti tau sesuatu." pikir V menarik tuas gas motornya, melaju menuju kediaman sang kakak, Suga.


****


"Tumben kamu kemari?"


"Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan." ucap V sembari berjalan memasuki mansion kakaknya.


"Apa ini tentang Lia?"


Vi berbalik memutar tubuhnya menatap Jeni yang berjalan di belakangnya.


Jeni mengernyit, "Bukankah kamu melamarnya? Apa itu berhasil?"


Dari pertanyaan Jeni, V tau Lia tak mengatakan apapun pada sahabatnya ini.


"Dia menolak ku."


"Apa?" Jeni sangat terkejut.


"Kenapa reaksi mu begitu?" tanya V dengan kekehan kecil.


Jeni menjadi bingung, dan menggeleng beberapa kali.


"Kenapa dia menolak mu?"


"Dia bilang dia mata duitan seperti ibunya."


Jeni menepuk kepalanya. "Aahh, benar, dia bilang ibunya kemari. Lalu? Apa kamu percaya begitu saja? Kamu sudah cukup mengenalnya kan?"


"Dia yang mengatakannya, aku bisa apa?" V mengangkat kedua bahunya.


"Tunggu sebentar, aku akan hubungi Lia lebih dulu. Dia bilang semalam dia pulang kampung karena ayahnya tiba-tiba sakit." gumam Jeni mengambil hp nya di samping Gani yang sedang terlelap di atas karpet lantai yang di lapisi kasur bayi.


"Apa rencana mu?" sambung Jeni mengetik pesan pada Lia.


"Entahlah."

__ADS_1


"Kamu tidak mau memperjuangkannya?"


"Untuk apa aku memperjuangkan seseorang yang tidak mau aku perjuangkan."


Jeni mendengus.


"Aku pamit." kata V setelah beberapa saat mereka dalam keheningan.


"Okey, hati-hati di jalan. Jika ada kabar dari Lia, aku akan memberitahumu."


"Tidak perlu. Kami sudah tak punya hubungan apapun."


Vi melambaikan tangan nya sembari melangkah keluar.


"Sementara ini cukup." gumam V menatap bangunan megah Milik kakaknya itu. Tujuan V datang hanyalah untuk mencari tau, tapi karena dia tak mendapatkan apapun. Ia pergi dengan meninggalkan sedikit pancingan.


Sementara itu di Kampung Lia.


"Apa?"


Lia tersentak mendengar penuturan dari ibunya, jika beberapa hari lagi Bang Tan akan melamarnya.


"Lia nggak mau!"


"Lia! Kamu mau rumah ini di ambil? Kamu mau bapak dan ibuk kamu ini jadi gelandangan?" sentak Bu Sumi.


"Lia nggak mau buk!" tolak Lia keras,"Kenapa harus Lia? Kurang apa Lia sama ibuk dan bapak? Lia nggak ngeluh saat bapak dan ibuk minta uang, sebisa mungkin Lia kasih. Lia selalu mengusahakan permintaan kalian. kenapa sekarang Lia lagi? Utang siapa ini buk? Kenapa Lia yang harus di korbankan?"


"Lia! pantas kamu bilang begitu pada orang tua mu?" sentak Bu Sumi tak kalah vokal."Kamu udah nggak kerja sekarang Lia, setelah ini, apa lagi yang bisa kamu kasih? Nikah saja sama Tantoro itu, kamu bakal hidup makmur!"


Lia menyadari akan beberapa hal, ia tertawa kecut.


"Pantas saja, ibuk menyuruh Lia buat keluar dari kerjaan Lia. Ternyata ini rencana ibuk?" tukas Lia tak habis pikir dengan kelicikan ibunya."Jahat ibuk sama Lia." sambung Lia menatap sinis Bu Sumi.


"Terserah Lia, ini ibuk lakukan demi kamu juga. Sama Tantoro hidup kamu terjamin, dari pada kamu nikah sama Vicky Vicky itu. Dapat apa kamu? Udah kere, nggak di kasih makan, malah di jual kamu nanti."


"buk bang Tan itu sudah nikah buk! udah punya istri dua lagi! Tega ibuk mau nikahin Lia sama dia."


"Lia, tolong, ini yang terakhir. Bapak minta, menikahlah dengan Tantoro. kita nggak punya apa-apa lagi. Utang semakin menumpuk. dan Juragan Tantoro meminta kami segera melunasi hutang itu. Uang itu sudah berbunga dan tidak sedikit Lia." ucap pak Subekti dengan lembut mencoba memberi pengertian pada Lia.


"Tapi, kenapa harus Lia pak?"


"La wong dia mau kamu kok. kalau kamu nikah sama dia, utang kita lunas, rumah ini kembali jadi milik kita dan kamu bisa hidup makmur. Ibuk dan bapak nggak akan ganggu-ganggu kamu lagi." ketus Bu Sumi.


Lia berdiri dari duduk nya "Lia nggak mau! Lia akan kembali ke kota." tekatnya.


Bu Sumi tersentak dan mendelik pada anak gadisnya.


"Pak!"


pak Bekti pun sama terkejutnya, "Kamu nggak boleh pergi!"


"Pak kita kurung saja Lia di kamar!" usul Bu Sumi.

__ADS_1


__ADS_2