Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 13 • Makan malam •


__ADS_3

"Ver, gimana sih? Kamu sama sekali nggak Mandang aku? Seenaknya ngejar cewek jelek itu?"


Verel yang mulai jengah dengan banyaknya tuntutan dari ibu dan Yovie, membalikkan badannya. Menatap wanita yang menjadi pemuas hasratnya saat masih bersama dengan Jeni.


"Dengar, aku nggk bisa putus dari Jeni."


"OOO, jadi kamu sekarang terang-terangan ya bilang gitu sama aku?"


"Nggak usah belagak deh." Hardik Verel dengan hati yang sudah di liputi emosi. "Kita bisa hidup enak juga berkat Jeni. Dari uangnya lah kita bisa menikmati semuanya. Aku bisa nurutin kemauan kamu beli ini itu, bisa kasih makan kamu makanan enak. Bisa kasih kamu tumpangan yang nggak perlu khawatir kehujanan.


Sekarang, lihatlah kita! Bahkan aku sekarang nggak bisa kasih mama uang belanja. Kamu? Bisa? Bisa gantiin Jeni jadi mesin uangku? Nggak bisa kan? Kamu cuma enak di tunggangi aja...."


PLAK!


"Baji**** emang kamu, Ver." Ketus Yovie ikut tersulut emosinya."Jadi selama ini kamu cuma jadiin aku pemuas nafsumu aja?"


Verel tertawa remeh dan sangat menghina melihat tubuh Yovie dari atas kebawah.


"Sepertinya kamu baru sadar. Dengan Jeni, aku mencari materi dan hati, dari mu? Aku mendapatkan hasratku."


"Karna Jeni nggak bisa kasih aku kepuasan, sementara kamu? Ha-ha-ha...."


"Brengsek kamu Ver!"


Yovie merasa sangat direndahkan, ia sudah hampir menangis oleh sikap dan ucapan Verel, ia mengangkat tangannya hendak memukul Verel. Tapi, tangan itu sudah dicengkram dan di dorong oleh kekasihnya itu, hingga tubuh Yovie terjatuh dan terjerembab.


"Kamu, hanya pantas berada dibawah tubuhku." Gumam Verel penuh ejekan. Lalu asal melangkah menjauhi Yovie yang masih terduduk di atas aspal sebuah halaman kafe.


Gadis itu menangis tersedu, ia sangat marah, pada Verel juga pada Jeni. Hingga ia bertekat akan membuat keduanya menderita.


###


Di gedung pencakar langit,


"Aku suka dengan presentasi mu." Suga berjalan mendekat dengan langkah yang terlihat gagah.


"Terima kasih,"


Walau gugup, Jeni tetap berusaha untuk terlihat profesional dan tenang.


"Hmmmm .... Aku pikir, aku cukup cocok dengan mu." Ucap Suga lagi berhenti tepat didepan Jeni.


Jeni terpaku dalam otaknya yang sempat membeku. "Ya? Cocok dengan ku?"


Jeni menunjuk dirinya sendiri. "Da-lam hal?"


Suga tersenyum tipis, "Tentu saja pekerjaan, apa kamu mengharapkan hal lain?"


Jeni dengan cepat menggeleng."tidak! Tidak!"


Suga mengulas senyum tipisnya, menambah karisma dan ketampanan nya. "Bagus!"


Ada kelegaan yang tersirat di wajah Jeni. Pikirannya sudah traveling kemana-mana.


"Jadi, mulai hari ini, kamu jadi sekertaris ku."

__ADS_1


"What?" Jeni memasang tampang terkejut yang berlebihan dan sangat tak percaya. Sementara Suga tersenyum degan penuh percaya diri.


"Ke-kenapa? Apa anda kekurangan sekertaris tuan?"tanya Jeni dengan mata yang masih membelalak tak percaya."Saya lihat masih ada banyak sekali sekertaris anda di depan sana."


"Jadi kamu tidak mau?"


Cepat Jeni menggeleng, seketika Suga mendelik.


_______


Sore ini Jeni pulang dengan lemas. Saat ia hendak masuk kedalam kosannya, ia menerima pesan dari Adrian.


["Kak, kita bertemu di restoran Hanabi."]


["Eh? Ada apa?"] Jeni mengirim balasan.


["Datang saja nanti malam."]


'Hmmm.. ada apa gerangan Adri sampai memintaku datang ke restoran Hanabi.' Batin Jeni sedikit bingung.


Malam hari nya, Jeni menunggu taksi online yang dia pesan. Tak lama, sebuah mobil hitam berhenti di depannya.


"Ini kah?" Gumam Jeni.


Pintu dibuka, "hai..."


Jeni sedikit terkejut melihat sopir nya.


"Vi?"


.


.


"Ha-ha-ha, sebenarnya profesimu apa sih?" Tanya Jeni penasaran, menatap pria tampan yang cukup membuatnya berdebar karena saking tampannya.


"Hmmm.. apa yaa?"


"Apa kamu masih di carwash?"


"Masih. Itu kerjaanku waktu siang."


Jeni manggut-manggut,


"Kalau malam atau pas libur aku jadi supir online."


Jeni menatap kagum pada pria disampingnya. Seorang pekerja keras. Itu yang terlintas di kepala Jeni.


"Kenapa menatapku seperti itu? Kalau kelamaan nanti kamu bisa jatuh cinta pada ketampanan ku." Goda Vi dengan mengerling nakal.


Jeni tersipu malu. Selain tampan, Vi juga ramah dan humble, jenis orang yang mudah akrab pada siapapun. Bisa membuat nyaman juga.


"Hihihi, apa keramahan ini termasuk dalam SOP sebagai driver?"


"Huummm, tentu saja, kita kan harus ramah pada cs, membuat nyaman agar dapat bintang lima."jawab V tanpa melepaskan senyuman dari wajahnya."Nanti kasih bintang lima ya."

__ADS_1


"hmmm.. Jangan keterusan membuat nyaman wanita ya, lalu di tinggalkan. Itu namanya gosting. Tidak baik." Jeni mengangkat telunjuknya dan menggoyangkan kekiri dan kekanan.


Vi tergelak. "Siap nona pelanggan."


Hening sesaat.


"Apa mobil ini milikmu?"tanya Jeni melihat berkeliling. Wajah Vi sedikit beriak.


"Bukan. Ini punya temanku, dia driver juga. Aku pakai akun dan mobil dia."


"Oohh, pantas aja, namanya Syarif tapi malah Vi yang datang. Tadi aku sempat ragu masuk ke mobil yang salah."


"Enggak, dia pake nya pagi siang. Kalau malam dia kerja."


"Hmmm... Dia nggak takut kamu bawa kabur mobilnya?"


"Nggak tau. Sepertinya ia percaya padaku." Jelas Vi tanpa menoleh dan mulai membelokkan mobilnya masuk ke halaman parkir Restoran Hanabi. Vi memandang bangunan itu dengan seksama.


"Pake aplikasi ya. Aku kasih bintang lima dan tips juga kok."


"Makasih ya." Ucap Vi Sembari mengedipkan sebelah matanya."Ini restoran berkelas. Kamu ada acara apa disini?"


"Kencan."


Vi ngernyit. "Dengan siapa? Pacarmu ada disini. Aku tidak membuat janji kencan denganmu."


"Ha-ha-ha." Jeni tergelak mendengar lelucon Vi yang memasang wajah serius itu.


"Aku kencan dengan adikku, dia mengajak bertemu dengan ku di sini. Padahal dia masih SMA. Tapi berlagak ngajak makan disini. Palingan ntar minta dibayarin." Kekeh Jeni, "Sudah ya, selamat on bit."


Jeni melangkah masuk kedalam restoran sembari melambai. Lalu ia menghilang dari pandangan Vi.


"Hmmm.. adik ya?"


###


Jeni yang melangkah ke meja yang sudah di reservasi atas nama Adrian itu tertegun begitu melihat sang ayah dan mama nya juga duduk disana.


"Papa..."


Roman menatap tajam pada anak gadisnya yang sudah hampir satu tahun tak pulang.


"Jeni!"


Mama Diana yang sudah teramat rindu pada anaknya itu berlari mendekat dan memeluk Jeni.


"Anakku, mama kangen nak."


Jeni masih merasa sangat terkejut, ia menatap papa Roman. Bingung, kenapa orang yang sangat keras itu, dan yang sudah mengusir dari rumah, bahkan memecatnya kini justru duduk diam disana.


'Kenapa papa disini? Bukankah dia sangat membenci ku? Bahkan dia sudah mengusir ku, apa yang dia lakukan disini?' pikir Jeni dengan hati yang masih merasa sakit jika ingat dengan peristiwa pengusiran dan pemecatan dari sang papa.


"Mama selalu merindukanmu Jeni. Tapi, mama tak berdaya." Tangis mama Diana.


"Duduk dulu kak." Ucap Adrian yang duduk didepan papanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2