
"Kamu..."
Jeni terkejut melihat pria yang pernah ia temui di tempat pencucian mobil. Ya, dia adalah mas-mas yang sempat meledeknya dengan ****** bekas di mobilnya.
"Eh, embak, ketemu lagi." Celetuk pria itu nyengir."Cek dulu mbak ada yang hilang apaa nggak? Tapi keknya tadi mereka belum sempat ambil apapun sih. Tapi cek aja."
Jeni pun mengecek tas miliknya. Syukur nggak ada yang hilang. Ia pun bernafas lega.
"Makasih ya mas."
"Santai mbak, sesama mahluk ciptaan Nya emang harus saling tolong menolong." Ucap mas mas itu nyengir.
Selanjutnya mereka sempat terlibat percakapan kecil.
"Ini mas V, sebagai tanda terima kasih." Jeni menyodorkan selembar uang yang ia lipat menjadi empat bagian.
"Enggak usah terima kasih."
"Ayolah, aku memaksa."
"Sungguh, ini tidak perlu mba Jeni."
"Aku sudah berhutang padamu, jika kamu nggak ada entah bagaimana dengan ku. Semua didalam ini sangat penting." Tutur Jeni memaksa, ia tau Vi hanyalah pekerja di sebuah tempat pencucian mobil, gaji yang dia dapat pastilah juga tak seberapa. Karena itulah Jeni ingin memberi imbalan pada Vi.
Namun pria itu justru menolak, mau bagaimana lagi, ia pun tak kekurangan dalam hal materi. Akhirnya, karena melihat kesungguhan Jeni untuk membalas kebaikannya. Vi pun tersenyum dan luluh.
"Begini saja. Bagaimana kalau kamu mentraktirku makan?"
"Makan?" Tanya Jeni dengan ragu.
"Heemmm.."
"Tapi hari ini aku masih ada keperluan." Jeni menatap wajah tampan Vi yang sangat murah senyum itu.
"Kalau begitu, aku berikan nomor hpku. Kalau kamu sudah tidak sibuk lagi, hubungi aku."
Vi menengadahkan tangannya meminta hp milik Jeni, Jeni pun memberikan benda pipih miliknya ke tangan Vi. Pria itu mengernyit setelah memijit benda itu, lalu menatap Jeni.
"Benda ini mati."
"Benarkah?" Jeni tampak terkejut mengambil balik hpnya ia memijit benda pipih itu."Aahh, benar. Habis batre."
__ADS_1
Vi mengulas senyum manisnya, tentu saja itu membuat Jeni sedikit berdebar.
"Kalau begitu catat nomorku."
Setelah menyebut kan nomor telponnya dan Jeni mencatatnya di notes. Vi pamit karena masih ada urusan lain.
Hari terus berlalu, akhirnya, Jeni kembali ke kota asalnya. Setelah semua pekerjaannya tuntas.
"Jeni!"
Jeni menatap datar pria yang kini berdiri di depan gerbang kantor tempat dia bekerja. Ia sudah memblokir nomor Verel, pastilah pria itu sudah sangat kelimpungan karena tak bisa menghubunginya selama beberapa hari ia di luar kota.
"Ada apa?"
"Ada apa?" Ulang Verel dengan nada tidak suka. Seolah-olah Jeni tak ada salah padanya karena membawa mobil dan memblokir nomornya.
"Kamu kenapa sih? Mana mobil?"
"Mobil apa?"
"Mobil yang kamu bawa."
"Aku nggak bawa mobil." Jeni berjalan acuh pada pria yang pernah menjadi kekasihnya, UPS, masih kekasihnya. Walau Jeni sudah tak menganggap begitu sejak ia tau Verel berselingkuh dengan sahabatnya dan justru mengatainya jelek dan bodoh.
"Jeni!"
"Kamu kenapa sih?" Verel memprotes."Kamu udah memblokir nomorku, lalu kamu cuek padaku, apa maksudmu?"
"Aku nggak minat berdebat. Aku capek. Sudah ya." Ucap Jeni begitu melihat Lia sudah di depan kantor dengan sepeda motornya.
"Kamu mau kemana? Mana mobil?"
"Aku mau pulang."
"Oke. Dimana mobilku?"
"Mobil mu?" Ulang Jeni dengan nada di tekan."Mobilmu yang mana?"
"Mobil yang kami bawa, kemarin kamu pinjam buat keluar kota."
"Aaahh, jadi kamu merasa itu mobil mu ya?"
__ADS_1
"Jeni!"
"Varel, itu mobil yang kubeli, dan kamu yang pakai. Setelah kupikir-pikir saat aku keluar kota aku sangat membutuhkan banyak uang, jadi aku menjualnya lagi."
"Apa? Kamu kok lancang menjualnya?" Hardik Verel dengan mata mendelik tak terima.
Jeni tertawa merendahkan."Ver, aku yang membelinya, jadi wajar jika aku memnjualnya. Karena itu milikku. Yang tidak benar adalah jika kamu yang lakukan."
Verel menghela nafasnya, ia sangat marah pada Jeni, melihat Jeni yang sepertinya sudah mulai berubah ia harus menahan nya. Jangan sampai ia tak mendapatkan apapun.
"Baiklah, berikan aku uang penjualannya."
"Ha-ha-ha, kenapa aku harus memberikannya padamu?"
"Kenapa karena aku pacarmu. Kamu sudah menjual mobil yang kupakai."
"Hey, cowok nggak modal dan nggak tau malu, lama-lama kesel juga aku dengarnya. Udah nggak ikut bayar, cuma make. Masih minta bagian pulak. Ngaca dong wooii..." Seru Lia geram dengan sikap Verel yang tak tau malu.
"Kau siapa? Jangan ikut campur." Hardik Verel dengan mendelik.
"Siapa?" Lia balik mendelik pada Verel."Aku Lia! Kau dengar? Namaku Lia! Penghianat sepertimu masih berani muncul dihadapan kami, bahkan berani menuntut yang bukan hakmu. Heeii! Kamu tuh masih pacar! Ingat? Pacar, berani sekali kau memeras sahabatku!"
Lia sengaja bicara dengan suara lantang agar mereka menjadi pusat perhatian. Agar Verel mereasa malu. Itu niatnya.
Sesuai pengharapannya, tak lama terdengar suara bisik-bisik yang menyudutkan Verel, apa lagi dia dengan tegas mengucapkan penghianatan dan uang. Sudah pasti makin membuat orang disekitar memandang rendah pada Verel.
"Kau..." Geram Verel melirik pada orang-orang yang berbisik menyudutkannya.
"Apa? Kau mau berbuat kasar? Ayo lakukan! Dasar pecundang. Sudah berhianat, memanfaatkan pacar , mau mukul lagi." Cecar Lia dengan suara lantang. Yang tentu saja menimbulkan bisikan-bisikan yang makin menghakimi Verel.
Melihat, Verel semakin terpojok, membuat Jeni cukup kasihan juga walau bagaimanapun pria itu sudah membersamainya selama ini.
"Sudah cukup." Ucap Jeni menengahi. "Maaf Verel, aku merasa ini sudah di batasku. Aku tau kamu sudah menjalin hubungan dengan Yovie. Aku juga dengar semua yang kalian bicarakan di hotel waktu itu. Semuanya sudah cukup jelas. Aku juga punya buktinya. Aku bisa mengirimkannya kenomermu nanti. Sekarang, aku ingin kita udahan aja. Nggak perlu dilanjutkan lagi hubungan yang toxic ini. Selamat tinggal."
Jeni langsung menaiki motor Lia. Yang mana Lia mencibir Verel lalu menstater motornya.
"Ayo Lia."
"Jeni, aku bisa jelaskan. Kamu hanya salah paham!" Seru Verel mencoba mencegah Jeni. Namun motor yang di tumpangi Jeni sudah menjauh."Jeni!"
"Aahhhh... Sial!" Umpatnya, memukul udara."udah mobil nggak dapat, uang juga nggak dapat. Gimana nih jelasinnya pada ibuk?" Gumamnya mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
Bersambung...