
Jeni dan Suga duduk diatap semen lantai paling atas kosannya, bangunan yang belum jadi sepenuhnya itu beratap semen. Hingga bisa dipakai untuk duduk-duduk dan menjemur pakaian. Di atap ada kursi panjang dari kayu.
Disanalah mereka duduk memandang gemerlap lampu kota. Semilir angin malam memainkan rambut Jeni yang terurai. Angin diatap lebih kencang terpaannya, menusuk kulit Jeni yang hanya memakai gaun yang berbahan tipis.
Jeni memeluk tubuhnya sendiri. Suga melirik kecil padanya, melepas jasnya dan menyelimutkan di tubuh Jeni. Jeni menatap bosnya sedikit bingung.
"Berhentilah memacari pria tak berguna."
Jeni mendengus.
"Bekerja saja dengan benar."
"Aahh, jadi sekarang seorang CEO pun mencampuri urusan pribadi karyawannya." Cemooh Jeni dengan wajah tak enak dilihat.
"Aku bicara sebagai laki-laki. Sebagai seorang Suga."
"Apa peduliku, kau tetap saja bos ku."
"Kau tidak pandai mencari kekasih yang tulus dan setia."
"Berhentilah mengoceh."
"Begitu cara bicaramu pada bos?"
Jeni memutar matanya malas, "bukankah kamu bilang kamu bicara sebagai laki-laki? Kenapa sekarang menyebut bos?"
Suga terdiam sesaat. "Benar juga..."
"Benar juga...." Jeni menirukan dengan gerakan mulut tanpa suara, yang terkesan menghina ucapan Suga.
"Intinya, jangan berpacaran dengan pria yang tidak berguna!"
"Semua pria tidak berguna." Bergumam pelan.
"Aku pria!"
Jeni menatap bosnya dengan mata aneh.
"Aku pria, aku seorang CEO, aku setia dan tulus mencintai wanita. Apa aku tidak terlihat oleh mu?"
Pandangan mata Jeni makin aneh menatap bosnya yang kini berdiri didepannya itu.
"Huuuhh, dasar lamban." Suga berjalan menjauh meninggalkan Jeni hendak menuruni tangga.
Jeni berdiri menatap punggung Suga dengan masih menatapnya aneh.
"Bos, tidak jadi minum? Aku membuatnya sepesial untukmu." Seru Jeni mencorongkan tangannya di depan mulut.
Suga berbalik dengan cepat dan berjalan mendekat mengambil segelas minuman jahe yang udah tak begitu hangat lagi. Meneguknya sampai habis dan berlalu tanpa pamit setelah meletakkan kembali gelas di bangku.
Jeni menghela nafasnya, ia tak menyusul Suga, memilih berjalan kepinggir bangunan dan melongok kebawah, yang mana dari sana terlihat mobil Suga terparkir berikut Kenzo yang masih setia dengan udud yang bertengger di mulutnya.
Melihat Suga sudah kembali, Kenzo langsung membukakan pintu belakang. Suga mendongakkan kepalanya melihat atap bangunan. Bertemu tatap dengan Jeni.
sampai mobil silver itu menghilang, Jeni baru sadar, jika jas milik bosnya masih ia pakai dan tertinggal.
__ADS_1
Di kamar kosan.
"Hei, dia.... Siapa namanya?" Selidik Lia penasaran.
"Suga...."
"Suga? Ha-ha-ha nama yang sangat jarang, seperti nama CEO kita...."
"Itu memang dia...." Jawab Jeni malas.
"Apa?" Lia terkejut bukkan main menyingkir kan boneka beruang yang menjadi penghalang pandangannya pada sang sahabat.
"Jadi, kau berpacaran dengan CEO kita? Kau gila? Lepas dari Verel langsung dapat CEO? Bagaimana ceritanya."
"Hei, siapa yang bilang kami pacaran?"
"Lalu? Apa itu tadi?"
"Bukan apa-apa, hanya ..."
Jeni mulai menceritakan awal mula pertemuan mereka mulai dari percintaan semalam mereka sampai pria itu mengantarkan nya sampai ke kosan tadi.
Lia di buat melongo karenanya.
"Kau... Beruntung sekali, seperti cerita dalam novel-novel yang pernah kubaca." Tutur Lia memandang Jeni dengan tatapan kagum. "Hmm.. sudah jelas, CEO Suga itu menyukaimu."
Jeni menggeleng malas.
"Kamu nggak percaya?" Geram Lia dengan heran. Ia mengambil hp nya dan melakukan pencarian.
Lia menyodorkan hp nya agar sahabatnya itu tau orang seperti apa Suga.
"Kau lihat?"
"Aah, seorang pemain?"
Lia memutar matanya malas.
"Dia bukan pemain biasa."
"Pemain tetap saja pemain. Aku tidak peduli juga tidak tertarik." Jeni menjatuhkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Jeni, dengar dulu."
"Ssstttt... Tidur. Besok kita masih harus kerja."
______
Hari berikutnya, Jeni yang mengambil jas dan saputangan Suga dari binatu. Langsung membawanya ke kantor hendak di serahkan pada Suga.
"Huuff, untung saja dia tidak memaksaku menjadi sekretarisnya." Gumam Jeni sembari berjalan di area kantor. Ia tertegun melihat Suga sedang berjalan dengan kenzo dan beberapa orang di belakang mereka.
"Apa tepat aku menyerahkan ini sekarang?" Gumam Jeni melihat jas yang terbungkus plastik dari binatu dalam pelukannya.
Jeni melangkah dan berpapasan dengan rombongan Suga. Pria itu berhenti. Melirik pada jasnya yang menggantung di pelukan Jeni. Jeni pun melihat barang milik Suga lalu melihat ragu pada orang-orang dibelakang Suga.
__ADS_1
Suga yang paham maksud lirikan Jeni menoleh sedikit kebelakang dan berbisik pelan pada Kenzo.
Rombongan itu berjalan lebih dulu. Sementara Kenzo dan Suga masih tertinggal.
"Ini... Milikmu. Sudah ku londri." Ucap Jeni pelan menyerahkan jas yang terbungkus plastik itu. Suga hanya menoleh menginsyaratkan Kenzo untuk mengambilnya. Tangan Suga tersimpan rapat di saku celananya.
"Terima kasih..."
"Tunggu...."
"Iya? Jeni menatap bosnya dengan mata bertanya.
Mata bulat yang menambah rasa gemas di dalam diri Suga saat melihatnya.
"Tawaranku semalam."
"Semalam?" Jeni masih terlihat bingung." Memangnya kamu menawarkan apa?"
Suga seprti kehilangan kata-kata nya.
"Bodoh."
"Ha?" Jeni masih memasang wajah bingung menggemaskan.
"Lamban."
"Haa?" Jeni makin terlihat bingung. Dan tentu saja itu semakin membuat Suga makin gemas.
"Sudah lah, aku tidak tertarik pada gadis bodoh dan lamban."
Suga melangkah hendak meninggalkan Jeni. Gadis itu hanya menghela nafasnya. Saat itu tak disangka seekor cicak jatuh di bajunya. Tepat di ambang baju depan yang seketika membuat Jeni menjerit geli dengan terus mengibaskan tangannya mengusir si cicak nakal.
"Kyaaa.... Cicak! Cicak!" Jerit nya tak karuan yang langsung membuat semua orang menatap padanya.
Tentu saja langsung membuat Suga berbalik. Pria itu melebar matanya melihat Jeni histeris dengan seekor cicak di bajunya, yang kemudian cicak itu merayap masuk ke dalam rongga baju Jeni diantara belahan dadanya.
Jeni makin histeris "kyaaa .... Jijik! Jijik! Cicak!"
Dengan sigap Suga mendekat ia bingung bagaimana hendak mengeluarkan cicak itu. Sementara jeni terus berteriak histeris. Tanpa pikir panjang tangan Suga terulur dan masuk ke dalam rongga baju menelusup diantara belahan dada Jeni.
Mata dan mulut Jeni membulat sempurna, sangat terkejut dengan tindakan Suga. Dan semua mata yang melihat pun sama terkejutnya, karena jeritan Jeni yang histeris dan keras itu menarik perhatian banyak orang di sana. Ditambah dengan aksi Suga yang berusaha mengeluarkan cicak dengan anti-mainstream.
Tentu saja Kenzo pun tak kalah terkejut dengan tingkah Suga. Matanya sama lebarnya dengan wajah orang-orang yang terkejut menyaksikan.
Cicak laknat itu berhasil Suga dapatkan dengan wajah kesal membanting cicak itu ke lantai dan menginjaknya penuh dendam berkali-kali.
"Sialan! Aku saja belum kesana lagi kau sudah mendahuluiku." Umpatnya, terus menginjaki jasat cicak yang malang.
Suga terengah setelah cukup puas menginjak cicak malang itu. Ia menengadahkan tangannya, dengan cepat Kenzo menyemprotkan cairan anti septik di sana. Suga mengusap tangannya merata. Ia lalu melepas sepatunya yang ia pakai untuk menginjak cicak melemparnya begitu saja.
Tangannya menengadah lagi, dan lagi-lagi kenzo menyemprotkan anti septik ditangan tuannya. Suga masih terlihat kesal membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dengan sebelah sepatu di kakinya.
Jeni hanya menatapnya dengan pandangan tak percaya dan gusar. mulutnya masih membulat menyempurnakan ketidak percayaan nya dengan yang baru saja terjadi. Ia melirik cicak yang terkemet di lantai dan sebelah sepatu Suga yang tertinggal.
bersambung...
__ADS_1