Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 48


__ADS_3

Pagi ini Yovie memoles bibirnya dengan liptik merah menyala. Dengan mematutkan diri didepan cermin, Yovie memastikan sudah memakai pakaian yang pas untuk menggoda Suga.


"Hari ini tidak boleh gagal." gumamnya dengan sangat percaya diri.


Yovie saat itu menggunakan seragam yang di modifikasi sangat ketat hingga menampakkan lekuk tubuhnya. Yovie tersenyum dengan sangat percaya diri. Melangkah keluar dari kosannya. Ia tertegun melihat Lia juga terlihat baru saja keluar dari gerbang kos dengan motor matiknya.


"Bukankah itu Liana? Apa dia ngekos di sini juga?" gumam Yovie sedikit terkejut. "Sempitnya dunia ini."


Setelah mencegat taksi, Yovie berangkat ke relay grup. Berhenti tepat di gerbang gedung tinggi dan megah itu. Yovie melangkahkan kakinya memasuki lobi, bersamaan dengan pak Bambang.


"Selamat pagi Yovie." sapa pak Bambang.


"Pagi juga pak." jawab Yovie.'Aahh, pagi-pagi sudah bertemu dengan pak tua menyebalkan ini.' dalam pikiran Yovie.


"Datanglah ke ruang an ku. Ada hal yang harus kita diskusi kan." kata pak Bambang sambil melirik Yovie yang menggunakan seragam ketat itu.


"Baik pak." patuh Yovie menunduk kan kepalanya."Saya absen dulu ya pak."


"Oke, saya tunggu di ruangan saya." Pak Bambang berjalan mendahului.


Setelah selesai absen. Yovie berjalan ke ruangan pak Bambang yang kini sudah menjadi atasannya.


Tok tok tok


"Masuk!"


Suara pak Bambang dari dalam ruangan nya.


"Ada apa pak memanggil saya?" tanya Yovie memasuki ruangan itu begitu membuka pintu.


"Duduk." titah pak Bambang menunjuk kursi didepan mejanya.


Yovie berjalan ke kursi, membungkukkan badannya untuk duduk. Mata pak Bambang melihat pada belahan dada Yovie yang terpampang karena seragamnya terlalu ketat dan kancing atas nya sengaja di biarkan terbuka. Pak Bambang menelan ludahnya.


"Apa yang ingin bapak diskusikan dengan ku?"


Pak Bambang mencoba menguasai dirinya. Menatap tajam pada Yovie.


"Siang ini kamu ikut meting dengan perusahaan rainbow."


"Baik pak."


"Untuk lokasi metingnya nanti akan aku kirimkan lewat pesan singkat." lanjut pak Bambang lagi, mata pria paruh baya itu terus berpusat pada pemandangan di depannya."Berikan aku nomor telpon mu."


"Baik pak."


Yovie keluar dari ruangan pak Bambang dengan wajah yang sedikit ketekuk.


"Huuuhh... mata bapak tua itu jelalatan. Sangat menyebalkan, bermaksud melempar umpan pada tuan Suga, malah dapat Bambang." gumamnya kesal sembari berjalan dengan langkah cepat.

__ADS_1


###


"Kenapa kita ke sini pak bambang?" tanya Yovie merasa sedikit heran karena atasannya itu justru membawanya ke hotel.


"Tentu saja untuk meting. Aku sudah katakan padamu, kita akan meting dengan orang perusahaan Rainbow." jelas pak Bambang berjalan dengan santai.


"Di hotel?"


Pak Bambang tertawa kecil.


"Iya, di sini ada yang namanya meeting room. Ruangan nya cukup luas dan nyaman. Pihak Rainbow ingin kita meting di sini." jelas pak Bambang lagi."Kamu jangan berfikiran terlalu jauh karena aku mengajakmu ke hotel."


Yovie merasa malu tertawa kikuk."Maaf pak. Hotel identik pada hal yang semacam itu."


"Semacam apa?"


"Yaahh, hal yang..."


"Ngamar maksudmu?"


"Iya, begitu."


"Kamu mau? Kita bisa ngamar." kata pak Bambang yang di ikuti suara gelak tawanya.


Yovie yang merasa canggung ikut tertawa.


Selsai meting dengan pihak perusahaan rainbow Pak Bambang kembali menawari Yovie.


Pak Bambang memainkan rambut Yovie yang cukup panjang itu."Aku bisa membantumu semakin naik jabatan jika kamu mau ngamar dengan ku."


'Sialan, kenapa jadi dia yang kena? Harusnya tuan Suga yang berkata seperti itu didampingku.' kata Yovie di dalam benaknya.'Tapi, tawaran untuk naik jabatan itu sangat menggiurkan. Apa aku turuti saja kemauannya nanti jika sudah naik jabatan dan semakin dekat dengan tuan Suga. Aku tendang dia pertama kali.'


Yovie tersenyum dengan sangat terpaksa pada pak Bambang yang terus menatap nya dengan pandangan mesum.


###


"Aku mau kembali jadi manager engenering lagi." rengek Jeni pada Suga saat sedang memasangkan dasi untuk suaminya.


"Apa posisi sekertaris tidak membuatmu puas?"


"Itu bukan posisi sekertaris. Aku hanya jadi patung di ruangan mu." Jeni mencebik.


"Kamu mau jadi sekertaris sungguhan? Itu akan sangat capek, Jeni." Suga meraih pinggang Jeni mendekap erat tubuh mungil istrinya.


"Setidaknya aku bekerja." gumam Jeni dengan jari yang bermain di dada bidang suami.


"Tapi kamu sedang hamil. Terlebih itu anakku."


"Kalau begitu, biarkan aku kembali ke posisi sebelumnya. Itu tidak terlalu berat." bujuk Jeni menatap penuh harap.

__ADS_1


Suga menggeleng, "Posisi itu sudah di tempati oleh orang lain. Kamu tetap menjadi sekertaris ku saja. Aku akan meminta Kenzo menyiapkan beberapa pekerjaan untukmu."


"Benarkah?" Wajah Jeni bersinar cerah. Akhirnya ia bekerja juga, sangat lelah jika hanya duduk memandang suaminya bekerja.


"Heemmm..." dehem Suga menunjuk bibir nya dengan telunjuk.


"Apa?"


"Heemmmm..." Suga mengetuk-ngetuk bibirnya lagi.


"Kamu minta cium?"


"Aku sudah membuatmu lebih cerah setelah terlihat sangat suram tadi. Jadi harusnya aku dapat imbalan."


Jeni mengulas senyum di bibirnya. Ia berjinjit dan mengalungkan tangannya di leher Suga. Menautkan bibirnya dengan bibir sang suami. saling menggulum lembut dan memeluk hangat.


"Mmmm.... Aku jadi tak ingin berangkat kerja." gumam Suga masih menikmati kecupan dari istrinya.


"Ayo sarapan." Tutur Jeni melepas pangutan dan pelukannya. Berjalan mendahului keluar dari kamar.


"Apa pagi ini kamu nggak mual?" tanya Suga menyusul.


"Enggak." balas Jeni cepat.


"Apa karena akhir-akhir ini kita sering melakukannya? Jadi dia tidak rewel." tebak Suga menatap istrinya dari samping."Bagaimana kalau tiap malam kita melakukan itu. Ini aku bukan berarti menginginkan nya, hanya saran agar kamu nggak mual."


"Tidak. Aku sekarang justru merindukan mual. Jadi nanti malam tidak usah." tolak Jeni cepat tanggap dengan modus suaminya.


"Mual itu menyiksa." Suga masih ngotot membujuk.


"Aku baik-baik saja. Aku merindukan nya malah."


Suga mendengus kesal. Sementara Jeni mengulas senyum gelinya.


.


.


.


Sesampainya di kantor, Suga benar-benar memberikan beberapa pekerjaan untuk Jeni. Dan pasti tidak boleh jauh darinya. Saat meting pun Jeni ikut serta, ia mencatat beberapa poin dari meting dan juga menyiapkan beberapa materi untuk meting Suga.


Saat mereka melakukan meting di sebuah Hotel ternama. Jeni sekilas melihat Yovie sedang bersama dengan pak Bambang. Ia tak mau berfikiran terlalu jauh karena Jeni sendiri pun menemani Suga meting di hotel itu.


"Waah,, jadi ini istri tuan Suga?"


Suga mengangguk dengan senyuman, tangan nya melintang memeluk pinggang Jeni.


"Cantik." puji rekan bisnisnya lagi.

__ADS_1


"Jangan terlalu lama memandangnya, nanti kamu jatuh cinta. Istriku ini punya banyak pesona. Dan aku sangat pencemburu." tukas Suga dengan senyum terpaksa. Walau bagaimanapun dia tak mungkin kasar pada rekan bisnisnya.


bersambung...


__ADS_2