
"Nggak pernah bosan-bosannya melihat pemandangan ini." Lia dengan pandangan takjub, memeluk tubuhnya sendiri yang masih merasakan hawa dingin meski sudah menjelang siang.
"bagus kan kalau nggak terhalang kabut?" V menimpali, pria itu melangkah mendekat dari ujung lorong dengan gelas teh yang masih mengepul uapnya.
"Minum dulu." menyodorkan gelas.
Lia menangkup gelas yang hangat itu dengan kedua tangannya. Agar tangannya yang terasa dingin bisa mendapat transfer kehangatan. Pelan Lia mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Menyeruput hingga menimbulkan bunyi. V mengulas senyum kecil.
"Ayo, aku ajak ke tempat lain yang lebih enak buat liat pemandangan ini." ajak V menarik tangan Lia.
"Ke mana?"
V mengulas senyum lagi, "Beranda."
"Beranda?"
"Di kamar utama ada."
Pintu kamar Lia pertama kali membuka matanya terbuka dari luar. Pasangan suami istri itu melangkah masuk dengan beriringan. Langkah mereka terhenti di depan pintu kaca penghubung balkon dan kamar.
Vi mendorong pintu itu hingga terbuka. Hawa dingin menyeruap dari luar sangat kontras dengan kamar yang hangat.
"Kenapa kamar ini terasa lebih hangat?"
"Aku kasih penghangat ruangan."
Lia hanya ber-oooh ria.
"Bagus nggak?"
Lia mengangguk sebagai jawaban, menyeruput teh yang sedari tadi di tangan. V mengulas senyum melihat wajah cantik istrinya yang masih memandang perbukitan rumah-rumah penduduk.
Tangan V mengambil alih gelas Lia, saat teh itu mulai dingin dan berkurang isinya. Lalu meletakkan di meja dekat pintu penghubung balkon.
V memutar tubuh istrinya, tangannya terangkat menyentuh dagu dan bergeser ke pipi tembem Lia. Jempol nya mengusap lembut bibir yang basah, yang terus menggoda V untuk segera mencicipinya.
Jantung lia berdegub kencang, usapan lembut jempol V terus membuat otak nya berkelana. Nafas hangat nya tampak membuat kepulan kecil di tengah dingin nya pagi menjelang siang itu. Mata V terus terpantik di bibir Lia, jempol nya masih setia mengukir bibir Lia dengan lembut.
"Aku ingin mencicipi nya sekarang."
Isyarat V membuat Lia menutup matanya perlahan. Ia sudah siap memberikan bibir nya pada sang suami. Dengan jantung yang terus berdetak kencang menanti benda kenyal V menyentuh bibirnya.
Nafas hangat V menerpa wajah Lia, semakin dekat dan dekat. Sesapan kecil Lia rasakan, namun ia tak tau harus bagaimana? Ini pertama kalinya, jadi ia memilih diam dengan bibir yang masih mengatup. Lidah v menggelitik i bibir Lia agar terbuka.
Lia pikir, lidah nakal itu Ingin dirinya membuka mulut dan menerobos masuk mengorek rongga mulut nya. Lia membuka sedikit jalur masuk bagi lidah V, dan benar saja, lidah nakal V menjelajahi seluruh rongga mulutnya tanpa ampun. Lia hanya diam, karena saat ini hanya itu yang dia tau.
V menjeda cumbuannya, mengulas senyum geli dan bahagia.
__ADS_1
"Kamu benar-benar belum pernah berciuman ya?"
"Aku sudah bilang, apa kamu pikir aku bohong?" rona merah terbit di wajah cantik itu.
"Kalau begitu aku ajari."
V membingkai wajah Lia dan melummat lagi bibir yang terus menggoda imannya.
"Ikuti apa yang aku lakukan." bisik V menjeda sesaat ciumannya.
Lia dan V tenggelam dalam manisnya ciuman pertama, bagi Lia tentunya. Hingga tak terasa tubuh Lia semakin condong ke belakang, tangannya reflek merangkul leher V. Sedangkan tangan V menahan tubuh itu dan perlahan menuntun nya terbaring di atas lantai balkon tanpa melepas pangutan.
V menggunakan lutut dan tangannya sebagai tumpuan, agar Lia tak perlu merasakan beban tubuh V yang berat.
"Bagaimana rasanya?"
Pertanyaan V semakin membuat rona wajah Lia semakin memerah.
"Menyenangkan..."
Vi tertawa, tawa yang justru membuat Lia semakin bahagia.
"Mau yang lebih menyenangkan lagi?"
Lia mengangguk."Aku siap walau ini belum malam."
V tertawa lagi, "Kau mau mengatai ku mencuri start?"
"Nanti malam kenapa?"
Wajah Lia kian merona. Bibir nya yang merekah dan membengkak menggoda V lagi untuk menikmatinya.
Wajah V mendekat lagi, menempelkan bibir nya pada bibir Lia. Berbagi ludah lagi, membelit benda tak bertulang untuk kesekian kalinya.
###
Hari semakin sore, hawa dingin menusuk tulang memaksa Lia mengenakan pakaian yang lebih tebal ditambah lapisan jaket. Kabut mulai turun, Vi bersiap memanaskan mobilnya.
Sore ini karena Lia berhalangan, mereka memutuskan menunda honeymoon. Dan pulang ke rumah mama Susi. Mungkin itu rencananya, yang akan terealisasi belakangan. V masih ingin menikmati masa-masa berdua mereka.
"Maaf ya," lirih Lia merasa bersalah karena V terpaksa menunda mencicipi dirinya, karena Lia justru mengalami masa siklusnya.
"Kenapa minta maaf?"
"Kamu pasti kesal."
V tersenyum kecil. Memeluk tubuh Lia dan mengecup punca kepala wanitanya.
__ADS_1
"Kamu tau rasanya saat kamu sudah berpuasa seharian, lalu satu jam sebelum azan magrib berkumandang, tiba-tiba kamu harus batal."
Lia mengangguk."Aku sangat kesal. Tapi ya sudah lah,"
"Benar. Itu juga yang aku rasakan sekarang, aku sangat kesal, tapi ya sudah lah. Kita hanya menunda."
Lia memilih diam mendengar suaminya bertutur kata.
"Masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan berdua. Selain bercinta, atau kamu yang sudah sangat nggak tahan ingin merasakannya?"
V melonggarkan pelukannya,mengerling menggoda dan menyentil hidung Lia. Terlihat Lia yang tampak malu-malu.
***
Di dalam mobil perjalanan pulang ke kota.
"Kamu nggak kerja?"
"Enggak,"
"V?"
"Heemm?" V yang memegang kemudi, menoleh sebentar ke arah istrinya dan kembali memandang ke depan, fokus pada jalanan.
"Bagaimana kamu bisa dapatkan 1 milyar itu dalam sehari? Kamu tidak mempersulit dirimu sendiri kan?"
V mengulas senyum.
"Tidak. Dulu aku pernah bilang, aku punya banyak uang kan?"
Lia tersenyum tipis. "Jadi itu bukan candaan untuk membuatku tenang?" tatap Lia bertumbu pada wajah tampan suaminya.
Terbersit sedikit rasa kecewa karena V sejak awal seperti sengaja menyembunyikan semua darinya. Apakah itu harus? Apakah Ia terlihat sangat menyukai uangnya?
V menepikan mobilnya, menatap lembut wanita yang terlihat muram. "Aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Sejak awal aku sudah menunjukkan diriku, aku memang bekerja di resto dan Carwash sesekali menjadi sopir."
"Kamu tau motor yang bisa aku Kendarai untuk memboncengkan mu?" lanjut V menatap iris mata Lia yang mengembun. "Harga nya 50jutaan. Hanya orang yang tau motor yang paham harganya."
"Bagi yang tidak hanya terlihat seperti motor tua yang gampang ambyar. Biaya perawatannya juga tidak sedikit."
V tersenyum lagi, "Apa kamu cukup jeli melihatnya?"
Lia menggeleng, "Aku bukan anak motor juga bukan orang kaya. Aku tidak tau."
"Karena itu, aku menyukai mu Lia. Kamu memiliki pesona yang tidak orang lain miliki. Kamu membuatku tertarik dengan semua yang kamu miliki."
"Aku tidak memiliki apapun... V...."
__ADS_1
"Kamu punya, hanya kamu tidak menyadarinya." tutup V mulai menjalankan lagi mobilnya."Dan satu lagi, Suga adalah Kakakku. Jangan terkejut, kamu dan Jeni bukan hanya sahabat, tapi juga ipar."
Pernyataan V membuat mata Lia melebar....