
"Katakan apa salahku?" Suga menatap intens manik mata Jeni.
Jeni membisu, sedikitpun tak mengeluarkan kata. Dan membuang muka ke samping. Tak ingin menatap wajah Suga yang memandang lekat padanya.
"Apa salah ku Jeni?"
Jeni masih membisu.
"Apa ini masalah bunga?"
Jeni menarik tangannya yang Suga cengkram kuat.
"Jadi masalah bunga, kau bilang kau tak suka mawar. Aku hanya membuangnya ke tempat sampah."
Jeni menatap tajam Suga.
"Kau memberikannya pada Yovie, di depan mataku!" pekik Jeni dengan mata yang memerah menahan air mata dan amarah nya.
"Kau cemburu?"
"Tidak. aku hanya tidak suka kau memberikan pada Yovie."
"Itu artinya kamu cemburu."
Jeni membisu lagi, menatap mata Suga yang juga tengah menatapnya.
"Yovie... Orang yang sudah mengambil mantan kekasihku. Dan aku..."
Jeni tak menyelesaikan kalimatnya, mengatur nafasnya yang sudah tak beraturan karena emosinya. Jeni mengelus perut nya yang tiba-tiba terasa keras dan cukup menyakitinya.
"Kau mau aku hanya melihat mu?"
Suga membingkai wajah Jeni, memberi lummatan lembut pada bibirnya.
"Aku hanya melihatmu seorang, jadi kamu juga jangan melihat pada pria lain."
Suga mengecup lembut dan pelan bibir istri nya. Meski hanya sekilas Jeni membalasnya.
__ADS_1
"Aku tidak suka kamu memberi Yovie bunga." ucap Jeni menjeda ciuman Suga.
Mendorong sedikit tubuh Suga. Suaminya itu menarik lagi tubuh Jeni mendekat. Mendekapnya erat dan mendaratkan lagi bibir nya pada benda kenyal milik Jeni.
Tangan Suga mengangkat tubuh Jeni tanpa melepas pangutannya. Melangkah dan membawanya ke ruangan istirahat khusus. Dan membaringkan sang istri ke peraduan.
"Kamu mau aku bagaimana?"
Suga sudah berada di atas tubuh Jeni. menggunakan lutut dan tanganya sebagai tumpuan. Menatap lekat pada gadis yang tengah hamil anaknya itu.
"Aku mau bunga yang lebih indah, lebih bagus lebih mahal dan lebih banyak bunga dari nya."
Suga menarik sudut bibir nya ke atas. Mengeluarkan gawai nya dari dalam saku dan melakukan panggilan.
"Kenzo, kirimkan satu truk bunga yang paling mahal,paling wangi, dan paling indah ke ruangan ku."
Telepon di tutup tanpa menunggu jawaban dari Kenzo sang asisten.
"Apa itu cukup?"
wajah Jeni merona.
Suga menautkan bibir nya pada Jeni yang makin memerah wajahnya. Tangan Jeni terangkat memeluk leher Suga.
Jeni menggeliat , tubuhnya terasa panas , kecupan ringan serasa menguliti tubuh nya. Netranya terpejam dan menikmati sentuhan lembut di setiap inci tubuhnya.
Tangan Suga menelusup masuk ke dalam baju Jeni, lalu melepasnya lapisan kain luar berikut dengan bra-nya yang telah terlepas pengait nya. Melembar nya sembarang.
Nafas Suga makin cepat, tangannya ia tempat kan di pinggang Jeni dan perlahan menganggat tubuh nya dan berguling hingga tubuh istrinya itu berada diatas tubuhnya.
Jeni merengkuh kepala Suga dan memperdalam ciuman. Merasai tangan Suga yang bergentayangan di tubuh nya, membuatnya terbuai, hingga tanpa terasa mereka sudah polos saja.
Jeni memposisikan diri duduk diatas tubuh suaminya. Wajah Suga tenggelam ke dalam dada Jeni , menyesap kulit nya dan meremas bola kenyal di depan. Nafasnya kian memburu, membuat tanda kepemilikan di sepanjang dada atas Jeni , bibirnya perlahan turun dan menyesapi bola kenyal milik Jeni. Lidah nya terus bermain, bergoyang dan menari nari di sana.
Jeni bersuara , begitu merdu di telinga Suga hingga membuat nya menggila, Ia mengangkat sedikit tubuh istri nya dan kembali berguling hingga ia mengukung lagi tubuh mungil itu. Dengan rakus Suga menghujani perut Jeni dengan kecupan ringan. Kembali ia menyesap nya membuat tanda tanda cinta nya tercetak jelas di perut Jeni.
Jeni menggeliat, mulut nya terbuka lebar merasakan sengatan di sekujur tubuhnya. Rasa yang berbeda dari saat pertama ia lakukan dulu dengan Suga, merasai benda keras yang mencoba masuk kedalam tubuh.
__ADS_1
Nafas hangat Jeni menerpa kulit suaminya , bercampur dengan peluh yang menjadi satu . Goncangan perlahan mereka rasakan, tubuh yang terus menyentak membuat kedua nya makin tak sabar.
Tubuh Suga semakin menegang, gesekan bibir bawah Jeni semakin cepat, menghisap bagian tubuh suaminya semakin dalam.
Tubuh Jeni berguncang, tanganya mencengkram kuat punggung Suga dengan mata yang terpejam rapat dan mulut yang kian terbuka lebar. Merasai hembusan hangat yang menelisik ke dalam tubuh nya . Nikmat dunia yang membuat nya merasa diatas awan.
.
.
.
Jeni membuka matanya, rasa remuk di tubuhnya setelah hampir tiga jam lamanya bertempur dengan Suga. Ia mengerjap, bangkit dari pembaringan mengedarkan pandangannya berkeliling, ia sangat terkejut melihat ruangan itu kini penuh dengan bunga.
"Kau suka?"
Suara Suga yang sedang duduk membaca buku di kursi sofa single tak jauh dari ranjang.
"Masih ada sebagian di ruangan ku. Aku sampai tak bisa kerja."
Wajah Jeni jadi bersemu merah dan terlihat malu-malu. Suga menutup bukunya, lalu ia beranjak dari kursinya. Berjalan mendekati sang istri.
"Apa kamu masih mau marah padaku?"
.
.
.
Jeni dan Suga berjalan beriringan keluar dari gedung Relay CORP. Jeni melihat tepat di depan pintu gedung itu banyak bunga Lily bertebaran dan Satu ikat bunga tulip tiba-tiba terulur ke arahnya.
Kenzo tersenyum dengan lebar. Suga mendelik pada Asisten nya itu.
"Kenapa jadi kamu yang memberikan bunga ini padanya?" protes Suga merebut bunga ditangan Kenzo.
"Sama aja kan bos?" Kenzo nyengir.
__ADS_1
"Kau suka?"