
"Ini!"
Lia menatap bunga mawar yang di sodorkan v padanya.
"Oleh-oleh juga untukmu."
Mulut Lia ternganga melihat bunga yang V sodorkan padanya. Sangat indah dan wangi.
"Te-terima kasih." ucap Lia akhirnya menerima mawar dari V setelah sempat terbengong."Aku ganti baju dulu."
"Okey." Vi langsung duduk di kursi depan kamar kos Lia. Sementara Lia menutup pintu kamar, lalu bersandar pada daun pintu. menyentuh dadanya yang berdetak tak karuan.
"Ya ampun, apa yang ku pikir kan?" gumam Lia mencoba menyadarkan dirinya sendiri. Lalu bergegas berganti baju setelah meletakkan bunga dari V, dan sedikit memoles wajahnya dengan make up.
Setelah menatap cermin dan mematutkan dirinya, Lia keluar dari kamar.
"Ayo."
Vi menoleh dan menatap lama pada gadis cantik di depannya.
"Cantik." satu kata yang berhasil keluar dari mulut V sukses membuat Lia tersipu.
"Ini, oleh-oleh untuk mu." ucap Lia menyodorkan kantong yang sudah Lia siapkan tadi.
"Makasih ya." Senyuman tak pernah lepas dari wajah V.
"Ayo berangkat , aku udah lapar." Vi menggandeng tangan Lia. Jari-jari kedua nya saling bertaut, dengan langkah kaki dan dalam keheningan kedua nya. Lia menikmati itu, dan berharap ini tak segera berakhir.
Vi melepas genggaman nya saat mereka sudah sampai di parkiran motor. Vi mengambil helm dan memasangkannya di kepala Lia, tak lupa mengencangkan pengaitnya agar aman.
Barulah V memakai helm miliknya sendiri.
"Ayo naik."
Motor melaju dengan pelan, seperti sebelumnya, tak ada percakapan diantara mereka. Hanya suara angin yang terasa sangat berisik di telinga meski telah tertutup helm.
V membawa Lia di alun-alun kota. Makan di sebuah warung tenda pinggir jalan. V sengaja memilih yang lesehan. Memesan beberapa makanan dan minuman.
"Kamu kok persennya banyak banget?" tanya Lia melihat ada dua pecel lele, terong goreng, tempe goreng, dan puyuh, dan dua piring nasi plus sambal lalap.
"Ini semua kesukaanmu kan?"
"Kamu ngapain pesen makanan yang aku suka?"
"Ya biar kemakan." jawab V enteng.
"Kamu pesen semua makanan yang aku suka, kenapa nggak pesan makanan yang kamu suka juga?"
"Karena.... Aku suka semua yang kamu suka."
__ADS_1
Lia terdiam seketika.
"Lia... Setelah apa yang aku lakukan selama ini, apakah kamu tak merasakan apapun?" Vi menatap wajah Lia lekat.
Gadis itu tetap terdiam, tentu saja dia merasakannya. Ia tau, dari sekian banyak temannya, V yang paling mendominasi di setiap harinya, dengan segala alasan dan modus yang V pakai. Ia tau mungkin V memiliki perasaan terhadapnya, namun, Lia tak ingin menyimpulkan sebelum ia mendengar sendiri kata itu keluar dari bibir V.
V mengambil tangan Lia, menggenggam nya dengan lembut tanpa melepas pandangan matanya.
"Apa pertemanan kita bisa berubah menjadi teman hidup?" lontar V menatap manik mata wanita di depannya.
"Teman hidup?"
"Kalau kamu tidak yakin dan takut, bagaimana jika kita berpacaran dulu?" usul V. "Satu atau dua bulan ke depan. Jadilah kekasihku, jika dalam periode itu kamu semakin tidak yakin. Aku akan menerima apapun keputusanmu."
Lia mengalihkan pandangannya, "V aku tidak tau..."
"Apa tak ada sedikit pun rasa di hatimu untuk ku?"
"Tidak... Bukan begitu... Aku sangat senang kamu mengatakannya, aku sangat berterima kasih. Hanya, kamu tidak tau bagaimana keluargaku... Kamu mungkin akan mundur setelahnya jika..."
"Itu, bukan alasanmu saja kan?" V melepas genggaman nya. Lia mengeleng.
"Aku hanya tidak mau tersakiti lagi..."
"Cobalah dengan ku... Kamu nggak akan sakit hati."
Lia tersenyum geli,
"Kamu sudah menjadi pria baik V."
"Apa kamu akan menolak ku karena aku terlalu baik?" V menyipitkan matanya, "itu hanyalah alasan klasik yang menyebalkan."
"Kamu pria baik, aku percaya kamu tak akan menyakitiku."
"Jadi kamu mau?"
"Aku mau, hanya..."
"Kalau mau jangan banyak alasan." Vi tersenyum lebar, "Aku makan."
'Sudahlah, melihat dia tersenyum begitu lebar aku sudah sangat senang. Semoga tidak ada halangan bagi kami, dan semoga ibu merestui. Aku hanya takut kami akan sama-sama terluka...' batin Lia yang masih terus mempertimbangkan kelanjutan hubungan mereka bila sang ibu di kampung tau.
Vi hanyalah seorang Pekerja lapangan biasa. Tidak memiliki apapun, bagi Lia, sikap pekerja keras V sudah cukup membuktikan seberapa tanggung jawabnya nanti jika mereka menikah. Ia yakin akan bahagia walau hidup pas-pasan. Tapi, entah bagiamana dengan ibu dan keluarganya.
Bahkan kakaknya, Lisna lama menikah karena dulu cinta nya tak direstui, karena sang calon masih seorang guru honorer. Setelah diangkat menjadi pegawai negeri, Bu Sumi memaksa untuk buru-buru menikah, dengan alasan Lisna sudah berumur.
Kini tinggal Yasinta dan Lia. Yasinta pun malas berpacaran mengingat bagaimana Lisna dulu, ia tak ingin sakit hati karena ulah ibunya yang mata duitan. Mengharuskan mantu nya setidak-tidaknya, memiliki pangkat yang bisa di sombongkan.
Seusai makan malam, Lia dan V berjalan-jalan mengelilingi alun-alun, jemari keduanya saling bertaut. Rona bahagia seperti sedang bertabur diantara keduanya. Langit pun cerah malammi ini. Memberi suasana romantis bagi pasangan baru itu.
__ADS_1
Waktu pun bergulir, sudah satu bulan lamanya mereka sudah berpacaran. Sore itu, Lia hendak pulang dari bekerja nya. Di parkiran Lia mendapati motornya kempes. Ia lalu menghubungi V.
("Halo")
"Beb, kamu masuk apa?"
("Ada apa?")
"Ban motorku kempes, kalau kamu masuk pagi di resto dan off di...."
("Oke, aku jemput. Tunggu di sana ya.")
"Baiklah."
Lia menunggu di depan gerbang kantor nya setelah menitipkannya pada scurity dan memanggil tambal ban.
Ring.. ring...
Telpon Lia berdering, panggilan masuk dari ibunya.
"Iya Bu?"
("Lia, gimana kabarmu nak?")
"Baik buk, ada apa?"
("Kamu udah gajian belum? kok nggak kirim ke ibuk?")
"iya,, maaf buk, kemarin ATM Lia ke blokir, belum sempat kirim."
("ya sudah, jangan lupa kirim ya kalau sudah bisa di pakai lagi.")
"iya buk." jawab Lia lirih. "uumm, buk, Lia kirim nya nggak seperti kemarin ya?"
("Kenapa? mau kamu tambah?")
"Bukan, maksud Lia, Lia nggak bisa kirim sebanyak kemarin."
("Apa? kenapa?")
"Lia ada keperluan buk."
Tututut... telpon sudah terputus, Lia mengurut dada nya sabar.
"Nggak papa Lia, yang penting kamu kirim. Harus memikirkan dirimu sendiri. Kamu akan menikah suatu hari nanti, ibu juga pasti tak mungkin akan mengeluarkan uang untuk biaya resepsi mu. Kamu harus kuat dan tebalkan telinga mu." gumam Lia pada dirinya sendiri.
"Hei, nglamunin apa?"
Lia terkejut, V sudah berada di sisi kirinya di atas motor klasik yang biasa dia pakai. Lia menatap V lama, ada rasa iba dan cemas.
__ADS_1
'Jika ibu tau aku berpacaran dengan V, apa yang akan dia lakukan? Akankah ibu merestui? Ia hanya seorang pekerja kasar.' Begitulah Yanga ada di dalam pikiran Lia kekhawatiran yang selama ini menghantui Lia.