Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 68


__ADS_3

Vi mengedarkan pandangan nya, di area parkir yang cukup luas dan terang oleh lampu neon di sepanjang toko dan pagar tembok di sisi kanan.


"Lia!" gumamnya saat menemukan gadis yang dia cari. Sedang berbicara dengan tukang parkir, lalu masuk ke dalam mobil yang berhenti tak jauh darinya.


Vi mengulas senyuman, seperti sudah menemukan harta Karun saja.


"Bos? Ada apaan sih?" Riski yang menyusul menepuk pundak Vi, dan melihat ke arah yang sama dengan Vi.


"Nggak ada. tadi cuma liat orang yang aku kenal. Tapi, dia sepertinya sudah pergi." terang Vi masih dengan senyuman yang sama.


"Ayo!" ajaknya memasuki toko pusat oleh-oleh.


###


Sesampainya Lia di kosannya, ia menghubungi Jeni terlebih dahulu.


"Jen, aku sudah kembali. Aku membawa beberapa oleh-oleh untuk mu. Kamu di rumah nggak?"


("Benarkah? Uummm, aku di rumah. Akan ku kirimkan seseorang untuk menjemputmu.")


"Eehh,, tidak usah, aku naik motor sendiri saja." tolak Lia halus tak ingin merepotkan Jeni.


("Tidak apa, tunggu ya.")


Sambungan di putus. Lia tersenyum, Jeni memang baik. Lia teringat saat Jeni mengirim seseorang untuk menjemputnya, dan orang itu adalah V.


"Apa, Jeni akan mengirim V lagi untuk menjemputmu?" gumam Lia dengan senyum kecil.


"Akhir-akhir ini aku memang sering bertemu dengan-nya. Entah sengaja atau tidak." gumaman Lia berlanjut.


"Sebaiknya ku siap kan saja sekalian oleh-oleh untuk V."


Lia mengambil beberapa makanan khas dari kampung nya. Lalu memasukkan ke dalam kantong tersendiri. Ia siap kan untuk V.


"Baiklah, satu kantong untuk V dan satu lagi untuk Jeni." gumamnya memandang dua kantong dengan dua warna yang berbeda, agar nanti tak keliru atau pun tertukar. Setelahnya, Lia menunggu di depan kos nya. Menanti seseorang yang Jeni kirimkan untuk menjemputnya.


Tidak ada motor klasik yang biasa V kendarai lewat ataupun terdengar suaranya. Hanya beberapa motor dan sebuah sedan yang melintas.


Lia melongok di ujung gang, jemputan yang di harapkan tak kunjung datang, hingga sebuah mobil sedan yang sempat lewat kembali lagi. Seseorang laki-laki keluar dari sana dan mendekati Lia.


"Sory, mbak Lia bukan ya?"


"Iya." jawab Lia ragu.


"Saya supir nyonya Jeni, maaf, tadi sempat tersesat." kata orang itu. dan dia bukan V.


Ada sedikit rasa kecewa menjalar di hati Lia. "ooohh begitu. Baiklah, ayo berangkat."


Selama di dalam mobil Lia teringat lagi dengan pikirannya yang langsung tertuju pada V saat Jeni bilang akan mengutus seseorang untuk menjemputnya. Lia tertawa kecil tanpa suara.


"Apa yang kamu pikirkan Lia." gumamnya memeluk satu kantong yang sudah dia siap kan untuk V.


Sesampainya di rumah Jeni, Lia mendapat sambutan dari Jeni. Sahabatnya itu langsung memeluknya dan tak lupa cipika-cipiki.


"Kamu makin cantik aja setelah dari kampung Lia." seloroh Jeni."Bagaimana kampung mu ada yang berubah atau bagaimana?"


"Iya, banyak yang berubah, tapi, tetap saja aku tak bisa ke mana-mana."


"Yaah, kamu kan hajatan. Ayo masuk."

__ADS_1


Setelah kedua nya duduk di salah satu ruang yang menghadap ke arah taman yang terdapat kolam ikan dan air mancur.


"Waahh, indah nya. Jeni, kamu pasti bahagia tuan Suga membangunkan sebuah rumah yang megah untuk mu dan taman yang sangat indah." puji Lia dengan mata berbinar.


"Iyaa, aku senang, mungkin nanti kamu juga."


"Aku? aahh, tidak mungkin, aku tidak seberuntung kamu." Lia mengelak mengibaskan tangannya di udara."Lagi pula, siapa pangeran berkuda putih yang akan mempersunting wanita menyedihkan seperti ku?"


"Jangan bicara seperti itu. Kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti." ucap Jeni dengan senyuman misterius di bibirnya.


Lia ingat dia belum menyerahkan oleh-oleh untuk sahabatnya itu.


"Oo iya, ini oleh-oleh untuk mu." menyerahkan kantong milik Jeni


"Waah, terima kasih." kata Jeni dengan sangat senang lalu membuka kantong yang baru diterimanya. Mengeluarkan isinya,


"Waahh, ini dodol! Aku suka. Makasih Lia."


"MMM.. Gani...."


"Dia sedang istirahat."


"Oohh..." Lia memandang sekeliling ruangan itu.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu di kampung."


Lia hanya mengulas senyum. Jeni memangkas jarak dan duduk di samping Lia.


"Apa yang terjadi? Mereka minta uang lagi?" tanya Jeni yang memang sudah mengenal bagaimana perangai keluarga Lia yang mata duitan dan selalu merongrong Lia.


"Ceritakan pada ku. Aku memang tidak bisa membantu banyak, tapi setidaknya, kamu butuh seseorang untuk berbagi." Sambung Jeni lagi menyentuh pundak Lia.


"Haahh,,, kamu selalu begitu. Tak bisakah kamu menolak dan mengatakan keberatan mu?"


"Mereka keluargaku Jen, orang tua ku. tak mungkin aku mengabaikan mereka."


"Kamu nggak mengabaikan. Hanya, sesekali bersikap tegas lah pada mereka. Jangan setiap mereka minta kamu kasih."


Lia terdiam, dia memang sudah mengatakan jika tak punya uang, tapi tanggapan dari keluarga terutama sang ibu justru mengatakan hal yang menyakiti hatinya.


" Kamu juga punya kehidupan sendiri Lia. Kamu juga akan menikah nanti nya. Tak mungkin kamu akan terus memberi mereka uang."


"Menikah?" Lia menoleh pada Jeni,"Aku bahkan tidak berani memikirkannya Jen."


"Lia....." lirih Jeni menatap Lia iba dan prihatin.


Setelah cukup lama bercerita, akhirnya Lia pulang, membawa serta kantong yang memang di peruntukan V.


"Itu?" Jeni menunjuk kantong yang Lia bawa.


Lia tersenyum kecil.


"Tadi nya kupikir kamu akan mengutus v untuk menjemput ku, ternyata bukan dia, padahal sudah ku siapkan oleh-oleh untuk nya ini."


"Ooohh, jadi kamu kecewa?" goda Jeni mentowel pipi Lia yang sedikit bersemu merah.


"Aku tidak kecewa Jeni." elak Lia yang masih bersemu.


"Iya deh." ucap Jeni masih dengan senyum menggoda nya sambil membuka kan pintu mobil untuk Lia. Memastikan Lia masuk kedalamnya dan menutupnya."hati-hati di jalan."

__ADS_1


"Uummm.. Daaahh..."


Setelah kembali dari rumah Jeni, Lia langsung merebahkan diri di atas kasur kamarnya. Lia menoleh dan menatap kantong oleh-oleh untuk V.


Lia mengambil hp nya dan menghubungi V.


("Halo?")


"kamu di mana? aku ada oleh-oleh untuk mu."


("Oke, aku ke kos. Kamu udah makan belum?")


"Belum."


("Kalau gitu aku sekalian jemput kamu aja. kita makan di luar ya?")


"eeehh?" Lia langsung terbangun dari pembaringan nya.


("Lima menit lagi sampai.")


"Eehh??"


Telpon di tutup.


"Lima menit?" Lia menatap dirinya yang masih berantakan. "iiisshhh.... mana sempat lima menit untuk berdandan."


Ring ... ring....


"Vi?" gumam nya melihat dilayar telpon tertera nama Vi.


"Halo?"


("Aku sudah di depan pintu.")


"Apa?"


Lia yang masih terkejut itu berjalan mendekati pintu dan membukanya


Wajah V dengan senyum lebar yang menambah ketampanannya.


"Ini yang kamu bilang lima menit?"


"Ha-ha-ha, ayo."


"Aku belum siap." ucap Lia.


"Udah cantik kok. Apa lagi yang mau di siapin?"


Lia pun bingung, tak mungkin juga dia bakal bilang mau dandan dulu.


"Uumm oleh-oleh, aku belum menyiapkan oleh-oleh." ucap Lia gugup.


Vi tersenyum lagi.


"Ini!"


Lia menatap bunga mawar yang di sodorkan v padanya.


"Oleh-oleh juga untukmu."

__ADS_1


__ADS_2