Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
bab 79


__ADS_3

Lia sudah membulatkan tekat untuk kabur. Dengan berhati-hati Lia membuka jendela, lalu mulai melompati jendela kamar dengan perlahan agar tak terdengar. Jantung nya terus berdetak kencang. Dalam hatinya terus berharap agar pelariannya lancar.


Lia berhasil keluar hingga di halaman depan, mengendap-endap dan melompati pagar setinggi satu setengah meter. Jantungnya berdegup kencang, di lihatnya sang ibu berbelok di ujung gang rumahnya. Sepertinya ia baru dari warung Bu Lastri.


Gegas Lia bersembunyi di antara rimbunan pohon pisang milik tetangga samping rumahnya. Jantung nya terus mengentak kuat , ia mengintip dari balik batang pohon pisang berharap sang ibu tak melihatnya.


Jalanan tampak kosong. Sepertinya, Bu Sumi sudah masuk ke halaman rumah, tak lama terdengar suara derit pintu pagar yang di tutup.


Lia bernafas lega, 'Syukurlah,'


Lia melangkah lagi, ke arah yang berlawanan dari Bu Sumi muncul tadi. Lia sampai di belokan menuju simpang tempat Jeni menunggu. Selangkah demi selangkah Lia tapaki dengan kewaspadaan.


Simpang sudah tampak, mobil yang mungkin milik Jeni pun sudah terlihat. Lia memantapkan lagi hatinya. Mengayunkan kaki dengan mantap.


Dari belakang mulut Lia di bekap dan tubuhnya di kunci. Deg! Jantung nya semakin berdetak tak karuan. Keringat sebiji jagung membasahi pelipisnya. Wajahnya semakin tegang.


"Mau ke mana kamu?"


Lia meronta, berusaha meloloskan diri. Namun kuncian tangan kekar di tubuhnya begitu kuat.


"Buk, Lia di sini buk!"


Pak Subekti berhasil menangkapnya. Mata Lia sudah berembun, padahal tinggal sejengkal lagi langkahnya. Kenapa ia harus tertangkap.


"Untung belum jauh. Kamu kenapa sampai harus kabur-kaburan Lia. Nyusahin bapak dan ibuk saja!"


Lia terus di seret menuju rumah nya. Meski dia meronta dan meraung, tak ada yang berani mendekat untuk menolong. Bagaimana tidak? Orang sekampung tau Lia akan di persunting oleh sang tuan tanah. jika sampai terdengar di telinga Bang Tan, habis lah riwayat.


"Lepasin! Lia buk! pak!"


Lia meronta dan berontak, namun pak Subekti dan Bu Sumi tetap menyeretnya masuk hingga ke dalam rumah dan melemparnya ke kamar Yasinta yang saat itu sedang bekerja.


Lia tersungkur di samping ranjang, ia bergegas bangun dan berlari ke pintu yang menutup dengan cepat dan di kunci dari luar. Lia terus mengetuk pintu memohon agar di bebaskan.


"Sudah! Jangan khawatir buk, kamar Yasinta jendelanya sudah di teralis. Dia nggak akan bisa kabur lagi!" ucap pak Subekti di balik pintu.


Lutut Lia serasa lemas mendengar ucapan sang bapak. Pupus sudah harapan Lia untuk kabur, sekarang sudah tak bisa, hanya melalui pertolongan Tuhan saja ia mungkin bisa pergi dari rumah itu.


###


["Vi? kamu di mana?"]


"Di Resto. Ada apa kak? Tumben telpon."


["Ada hal penting yang mau kubicarakan. Datang ke rumah malam ini juga."]


"Okey."


V menutup sambungan telponnya dengan hati bertanya-tanya. Ada apa gerangan Suga sampai menelpon dan memintanya datang ke rumah.


"Ada apa bos?" tanya Fajar, melihat V terlihat tidak biasa dengan raut wajah yang serius itu seusai menerima panggilan telepon.

__ADS_1


"UMM.. Suga menelpon dan menyuruhku ke rumahnya."


"Heemmm... Apa itu suami mbak Jeni temannya pacarmu bos?"


"Hemm.."


Vi memang biasa bercerita pada Fajar.


"Mungkin nggak dia punya informasi tentang pacar mu di kampung."


"Kupikir juga begitu."


"Ini sudah jam 7 malam. sebaiknya, segera ke sana. mana tau penting." usul Fajar, "Masalah di sini biar aku yang urus."


"Okey. Aku pergi dulu ya."


Sesampainya V di kediaman Suga dan Jeni.


"Duduk dulu." ucap Sang Kakak menunjuk kursi single di balkon rumah nya.


"Ada apa?"


"Bukan aku yang mau bicara. tapi Jeni." ujar Suga sambil berlalu memasuki kamar yang tak jauh dari balkon.


'Mungkinkah Jeni sungguh-sungguh mendapat informasi tentang Lia, seperti yang fajar katakan?'


V duduk di kursi yang Suga tunjuk, V melihat halaman samping rumah. Kolam renang yang lebar berwarna biru dengan lampu taman yang temaram. Tanaman hias tampak menghiasi sekitar kolam.


Vicky menoleh pada suara yang memanggilnya. Jeni berjalan mendekat, dan duduk di kursi yang lain. Vi sengaja diam menunggu Jeni berucap.


"Aku dapat pesan dari Lia. Dia memintaku untuk membantunya kabur."


V menyipitkan matanya, 'Kabur?'


Namun, ia masih tak bersuara.


"Orang tuanya mengurung Lia. Besok pagi-pagi buta, aku akan ke sana menjemput Lia. Kamu ikutlah bersama kami."


V terdiam menyimak ucapan Jeni dengan seksama.


"Kenapa aku harus ikut?"


wajah Jeni berubah mendengar pertanyaan V yang terkesan tak perduli itu.


"Kenapa? Pertanyaan macam apa itu? Apa nggak mencintainya lagi? Kamu nggak ingin menyelamatkan nya?" ujar Jeni dengan intonasi kesal.


V beranjak dari duduknya.


"Dia bukan urusan ku lagi." ucap V acuh melangkah pelan, meski hati masih ingin mendengar hal lainnya.


"V! Lia akan di nikahkan dengan seorang tuan tanah sebagai penebus hutang." Jeni meninggikan suaranya. Ikut beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Bagus, itu yang dia inginkan. Seorang yang kaya dan bisa dia manfaatkan."


"Aahh, jadi itu yang dia katakan padamu agar kau menjauh? Apa karena itu kalian putus? Kau percaya? Bukankah kau tidak akan menyakitinya?"


Vi berbalik dan menatap Jeni yang terlihat sangat resah dan sedih itu. Entah untuk nya atau untuk sahabatnya.


"Aku tidak menyakitinya Jeni, itu pilihannya. Jika dia menerima lamaran ku waktu itu aku pasti berjuang. Tapi, dia bahkan menolak ku. Apa menurutmu aku masih harus perduli?"


"Kau akan menyesal."


"Aku sudah menyesal." V melambaikan tangannya dan kembali melanjutkan langkah pergi dari rumah Jeni.


"Vi!"


Jeni berlari mengejar V, lengannya di tahan oleh Suga.


"Biarkan saja."


"Tapi..." Jeni menatap suaminya dengan permohonan.


"Dia sudah dewasa, dia tau apa yang dia lakukan."


Masih tersirat rasa sedih dan gelisah di wajah Jeni. Kenapa hubungan V dan sahabatnya tidak bisa lancar padahal keduanya orang yang baik.


***


Jeni dan Suga bertolak menuju kampung Lia. Langit masih gelap saat itu, bahkan bintang-bintang masih tampak bergemerlapan di atas sana.


"Tidurlah dulu, jika sudah sampai akan aku bangunkan."


"Baiklah."


Suga fokus menyetir, sesekali matanya melirik sepion, tampak lampu motor yang sedari tadi mengikuti sejak mereka keluar dari mansion. Suga tersenyum tipis.


"Berlagak tidak perduli haah?" gumamnya.


Pukul 9.30 pagi, mobil Suga berhenti tepat di simpang yang di tunjuk Lia. Ia memarkirkan mobilnya agar terlihat dari gang tempat Lia di perkirakan akan muncul. Tak lupa, Suga memastikan motor yang sedari tadi mengikutinya masih terlihat, meski jauh beberapa meter dari tempatnya memarkirkan mobil.


"Sayang, kita sarapan dulu."


Suga sempat membeli nasi bungkus tadi di pinggir jalan untuk sarapan berdua, Gani mereka titipkan pada pengasuh agar mereka lebih leluasa.


Saat mereka sedang asik sarapan. Motor yang tadi mengikuti tiba-tiba saja menyalip.


Suga terkejut, ia tau itu V. Kemana dia akan pergi? Tempat itu harusnya asing baginya.


"Kenapa sayang?" tanya Jeni yang melihat Suga mulai menstater mobilnya.


"Sepertinya sesuatu sedang terjadi. Kita lihat-lihat dulu."


"Tapi, Lia belum..."

__ADS_1


"Mungkin juga ini berhubungan dengannya."


__ADS_2