
Mega duduk di sebuah cafe pagi itu, setelah bolak balik ke mansion utama dan menunggu. Baik Suga, mama Susi dan V tak menampakkan batang hidung nya. Membuat Mega kesal bukan kepalang.
"Ada apa dengan mereka? Apa mereka sepakat menghindari ku?" Gumam Mega menyedot Thai tea nya.
Mega melihat jam di hp nya, "Ck! Lama sekali sih, wanita itu? Sok sibuk."
Tak berapa lama, Jeni mendekat. "Apa kamu Mega?"
Mega mendongakkan kepalanya memindai Jeni menyeluruh. 'Minus!'
"Iya, duduklah."
Jeni duduk perlahan di kursi sebrang Mega.
"Ada apa memanggilku kemari?"
"Kau tau, namaku Mega. Aku adalah kekasih Suga.." ucap Mega menyombong.
"Mega? Mega Alila maksudmu? Apa kau sungguh model itu?" Tanya Jeni dengan mata sedikit berbinar. Karena bertemu dengan salah satu model catwalk yang cukup ternama.
"Aahh, ternyata kau tau. Itu memang aku." Sahut Mega menyombong lagi.
"Jadi... Ada apa seorang Mega memanggil wanita seperti ku kemari?" Tanya Jeni mendekatkan badannya ke batas meja.
"MMM .. tentu saja, aku mau kamu menjauh dari Suga."
Wajah Jeni tampak terkejut."kenapa?"
"Kenapa?" Mega tertawa kecil."itu karena Suga milikku. Dia kami memang sempat putus, tapi, dia harus kembali ke tempat yang benar yaitu aku."
"Aaaa.... Begitu..."
'Kenapa wanita ini? Dia setuju atau tidak.' batin Mega memindai Jeni dengan mata menyelidik.
"Sebenarnya aku tidak keberatan menjauh, tapi, kami... Yaahh, aku dan dia sudah membuat kesepakatan untuk hidup bersama. Jadi kamu tak bisa sembarangan menjauhkan kami."
"Apa maksudmu?"
"Aa iya, aku sangat sibuk. Tolong jangan memanggilku untuk hal seperti ini. Sangat tidak enak berebut seorang pria."
__ADS_1
"Apa? Sombong sekali kamu ini. Aku tak percaya ini. Berebut pria, jelas-jelas kau yang pasti menggodanya." Mega membuang muka dengan kesal."Benar-benar wanita murahan. Kenapa kau menggoda Suga. Lihat dirimu! Apa kamu nggak punya kaca?"
Jeni tertawa geli dengan ucapan dan sikap Mega.
"Nona, Tolong jangan rendahkan dirimu. Aku sangat lelah dan tak enak badan hari ini aku ingin istirahat." Jeni beranjak dari duduknya lalu berbalik dan hendak pergi namun memilih urung dan menoleh menatap Mega.
"Satu lagi nona. Aku tidak merayu laki-laki aneh itu, dia yang mendekat padaku. Jika dia memang menganggapmu pacar, dia dan mama nya tak akan melamarku. Dan sebentar lagi kami akan menikah. Jadi selamat menikmati hari-hari mu yang sakit hati dan menyedihkan." Tutup Jeni kemudian melenggang pergi.
Mega merasa geram dengan ejekan dari Jeni. "Baiklah jika begitu. Lihat saja. Aku pastikan kau malu saat acara pernikahan nanti."
Hari berlalu dengan cepat. Suga hari itu masih bekerja, walau bsek adalah hari pernikahannya. Namun pria pekerja keras itu tetap melakukan tugas kerja sampai semalam ini. Suga melangkah keluar menuju parkiran mobil nya.
"Suga..."
Suga menoleh pada sumber suara. Mega berdiri dengan gaun merah yang menggoda.
"Mau apa lagi?"
"Bisa kah kamu mengantar ku ke apartemen? Mobilku mogok."
Suga menghela nafasnya, tak tega juga hingga selarut ini membiarkan wanita yang pernah singgah dihatinya itu malam-malam di luar."baiklah."
Seberkas senyum melengkung di wajah Mega. Ia masuk kedalam mobil Suga dan melesat jauh.
Pintu ruangan itu di buka. Wajah mama Diana tampak sangat cemas dan Khawatir.
"Kenapa ma?"
"Jeni, coba kamu hubungi Suga." Pinta mama Diana dengan wajah yang cemas.
"Kenapa ma?"
"Semua tamu sudah hadir, keluarga besan juga. Tapi, entah kenapa, Suga masih belum juga menampakkan diri."
"Apa?" Jeni mengambil hp nya lalu mulai menghubungi nomor Suga, akan tetapi tidak aktif. 'Apa-apaan sih dia ini? Padahal sudah buat kesepakatan. Bagaimana bisa dia ingkar?'
"Enggak aktif ma."
"Aduuhh.."
__ADS_1
Jeni merasa lemas seketika. Perasaan di hianati saat acara besar yang sudah tentu akan mempermalukan seluruh keluarga. Bagaimana bisa seorang Suga melakukan hal itu?
Jeni berjalan keluar ruangan rias.
"Jeni, kamu mau kemana?" Mama Diana menyusul langkah anaknya.
Diluar sudah sangat ramai, Jeni berjalan dan terus mengedarkan pandangannya. Ia sangat kecewa dan tak percaya Suga sampai hati akan meninggalkan dihari yang seperti ini. Rasa malu jelas akan dia dapatkan.
Jeni melihat mama Susi terlihat panik, dan beberapa kali memerintahkan anak buahnya untuk mencari Suga. Jeni berjalan mendekat.
"Mama..."
"Jeni..." Mama Susy terlihat sangat merasa bersalah. "Maaf kan mama Jeni, tunggulah sebentar, Semalam Suga juga tak pulang kupikir dia ada dimansionnya sendiri. Ternyata disana dia juga tak ada. Mama khawatir terjadi sesuatu padanya. Percayalah, dia tak akan meninggalkan tanggung jawab seperti ini..."
Netra Jeni mulai berkaca. Bahkan mamanya saja tidak tau.
"Nyonya? Bagaimana sekarang? Apa pertanya bisa di mulai?" Tanya seorang panitia karna waktu yang di jadwalkan sudah mundur hampir satu jam.
"Tunggu sebentar ya."
Jeni merasa lemas beruntung mama Diana sigap menopang tubuh anaknya hingga Jeni tak limbung. 'Bagaimana sekarang? Jika bukan karena anak ini... Aku...' tanpa sadar air mata Jeni luruh, sudah terbayang akan rasa malu yang di dera karena sang mempelai pria tak datang.
"Ya ampun.. Suga."
"Mama... Ada apa?"
Susy menoleh, melihat anaknya yang satu lagi mendekat.
"V?" Jeni yang ikut menoleh terkejut melihat V ada disana. Padahal ia tak mengundang pria itu. Hanya memberi tahunya jika akan menikah melalui pesan singkat, dan Vi tidak membalas sama sekali.
"Suga... Suga, V. Dia hilang."
"Hilang?" V menautkan kedua alisnya."Hilang gimana?" Vi menatap mama Susy dan Jeni yang di topang mama Diana secara bergantian.
Disaat yang bersamaan panitia datang lagi.
"Nyonya, bagaimana? Kapan akan di mulai para tamu sudah gelisah dan penghulu hendak pergi karena masih ada tugas di tempat lain."
Mama Susy tampak memijit pelipisnya. Terlihat sekali dia sedang sangat pusing. Vi memandang Jeni dengan iba dan sedih.
__ADS_1
"Aku.... Biar aku yang jadi mempelai pria nya."
Bersambung...