
Tubuh Lia mulai menggigil, namun matanya seolah enggan untuk lepas dari pandangan indah di tengah kabut tipis itu. Meski begitu, pikiran Lia merambat ke mana-mana. Kenapa V membawanya ke tempat itu? Dan bagaimana V bisa mendapatkan uang satu milyar dalam satu hari. Hal yang tidak mungkin bisa di lakukan oleh orang biasa meski bekerja di tiga tempat sekaligus seperti V.
"Apa dia menjual organ tubuhnya?" gumam Lia dengan kepulan asap tipis yang keluar dari mulutnya karena hawa dingin di sekitar. "memang berapa banyak organ tubuh yang dapat di jual untuk mendapatkan satu milyar?"
Lia tertawa kecil. Sesaat kemudian raut wajahnya berubah sedih.
"Berapa banyak pengorbanan yang sudah dia lakukan untuk ku?"
Memikirkan V berkorban sebanyak itu pada wanita yang bahkan menolak dan menyakitinya. Lia merasa sangat jahat.
"Lia!"
Lia menoleh, V berdiri di ujung lorong.
"Ayo makan. Tutup jendelanya."
Dengan patuh, Lia menutup jendela memutus hawa dingin yang sudah menusuk-nusuk tulang dan kulitnya. Lia melangkah mendekati V yang masih setia menunggu di ujung lorong.
"Apa aku membuatmu menunggu lama?"tanya V begitu Lia sudah tinggal beberapa langkah saja dari nya.
Lia menggeleng,
"Coba kulihat." V menarik tangan Lia yang sudah sangat dingin karena hampir 45 menit hanya berdiri di depan jendela yang terbuka.
Vi menangkup kedua tangan Lia menjadi satu. mendekatkannya ke mulut dan meniup nya. Menyalurkan hawa panas dari sana agar tangan itu tak sedingin es lagi.
"Sepertinya kamu udah kelamaan kena hawa dingin pegunungan sini. dingin banget kayak es." V meniup-niup tangan Lia beberapa kali. Wajah wanitanya itu menghangat.
"Aku bikin seblak, cocok banget jadi penghangat."
Vi menarik tangan Lia. Membawa gadis itu ke ruang makan.
Di meja makan tampak sepiring besar seblak mie yang merah menggoda. Dengan potongan sosis dan bakso, beberapa ekor udang goreng pun terlihat sangat ingin segera di cicipi.
"Kamu masak ini semua?"
"Ummm..."
"Aku jadi merasa bersalah tak membantumu..."
V tersenyum menekan bahu Lia agar duduk. "Nggak usah kebanyak drama. Ayo makan."
"Ini aku sendiri yang makan? Kebanyakan!"
"Ya udah makan berdua."
Lia terdiam sesaat memandang piring berisi seblak yang hanya satu, sendok yang hanya satu, dan sepiring kecil udang goreng. Lia berganti memandang V yang mengukir senyum di wajah tampannya.
__ADS_1
Pria tampan berkulit putih itu mengambil sendok dan menyendok sedikit seblak. Mendekatkannya ke mulut lalu meniupnya, bibirnya sedikit ia tempelkan untuk mengetes apakah sudah lebih hangat ataukah masih panas. Lalu ia membawa sesendok seblak itu ke mulut Lia.
"Aaaa....."
"Buka mulutnya, tadi katanya lapar."
Lia masih dalam diamnya, merasa wajahnya menghangat karena perlakuan manis V padanya. Pelan Lia membuka mulutnya dan memakan seblak yang V suapkan.
"Enak?"
"Enak...." puji Lia sepontan. "Kamu bisa masak juga ternyata ya?"
"Ummm...." jawab V singkat menyendok dan memakan seblak dengan sendok yang sama."Kamu pikir ngapain aja aku di resto?" dan di akhiri dengan kekehan kecil V.
'Uuhh,, dulu makan satu piring berdua, sekarang sesendok berdua?' batin Lia malu-malu.
"Coba udang nya." kata V mencubit udang mendekatkan ke wajah istrinya.
Lia menggigit udang yang sudah ada di depan mulutnya. mengunyah dan merasainya. Sementara V memakan sisa gigitan Lia tadi.
'Uuggghh,, kenapa dia terus-menerus membuat wajahku terasa panas.' batin Lia,
"Biar aku makan sendiri." ucap Lia mengambil sendok di tangan V.
"Baiklah."
"UHUK.. UHUK..."
"Makanya makan tu pelan-pelan dan bagi-bagi." Vi mengambil gelas dan menyodorkannya pada Lia.
"Tersedak kan?" sambung nya menepuk punggung Lia.
Setelah habis satu gelas dan mengusap bibir nya.
"Kamu ambil sendok sendiri gih sana."
"Kenapa? kamu nggak mau satu sendok berdua sama suami sendiri?"
"Bu-bukan...." rona merah terbit seketika di wajah cantik Lia.'Kenapa setelah menikah rasanya jadi canggung begini.'
"Oke deh. Aaaa ..." V membuka mulut nya lebar-lebar.
Seusai makan tengah malam yang membuat Lia terus merasa tak karuan. Padahal mereka sudah pernah pacaran, bukan pertama kali nya V bersikap manis dan romantis. Tapi, setelah menikah, dan menjadi pasangan yang halal melakukan apapun berdua, memberi sensasi yang berbeda bagi Lia.
"Mau jalan-jalan keluar nggak?" tanya V seusai melaksanakan dua rokaat bersama.
"Pagi-pagi buta begini?"
__ADS_1
"Di luar sudah banyak yang beraktifitas. Memang di kampung mu nggak?"
"Yaahh, ada sih. kebanyakan pedagang pasar."
"Kalau begitu kita joging saja. Skalian lihat-lihat." ajak V mengenakan pakaian sedikit lebih tebal.
Di depan rumah V keduanya baru saja selesai mengikat tali sepatu.
"Sebenarnya, aku bisa mengikat nya sendiri." ucap Lia dengan wajah yang tampak malu-malu.
"Aku tau, tapi aku ingin melakukan nya untukmu. Tentu saja ini nggak geratis."
Vi mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga sang istri.
"Nanti malam, aku minta imbalannya."
Seketika wajah Lia memerah hingga ke telinganya.
"Ayo!"
***
Pagi itu, Lia dan V menikmati lagi masa-masa pacaran mereka yang sempat tertunda. Menyapa beberapa warga sekitar yang sedang melintas ada yang membawa bakul, ada pula yang membawa cangkul.
Mereka terlihat akrab dengan V.
"Apa kamu sering kemari?" tanya Lia di tengah perjalannan pulang ke rumah pelangi.
"Heemm... Dulu."
"Oohh..."
"Fajar berasal dari sini. Lalu aku putuskan membeli rumah itu."
Lia menatap V, ada banyak tanya tentang V yang belum terjawab, dan kini masih ada hal lain yang Lia belum ketahui tentang suami nya ini.
"Kenapa kamu begitu misterius? Kamu ramah dan sangat terbuka, tapi kenapa aku tidak tau apapun tentang mu?"
Vi mengulas senyum lebar, "Aku kasih tau kalau kamu bisa kalahkan aku sampai rumah." ucap V menantang.
Lia tersenyum geli.
"Baiklah, kamu menantang orang yang salah." balas Lia mengambil ancang-ancang.
"Oke. Satu..." V mulai menghitung.."Dua...."
"Tiga!" sambung Lia sembari berlari mencuri start.
__ADS_1