
Siang itu, cuaca terasa sangat melayung. Jeni merasa kecewa dengan Suga yang tiba-tiba hilang, dan kini justru digantikan oleh V yang ternyata adik Suga.
Walau sampai saat ini Jeni masih belum merasakan perasaan apapun pada Suga. Namun, ditinggal di hari pernikahan tetap meninggalkan rasa sakit. Jeni bertekat, jika bukan demi nama baik papanya, sudah pasti ia tak mau menikah.
Apalagi, dirinya merasa seperti tak berarti, ditinggalkan lalu digantikan. Sakit.
"Sudah siap mas V?"
V mengangguk yakin. Di sampingnya Jeni yang sudah di rias kembali, diduduk, bibirnya bergetar, mata nya terasa buram oleh air yang menggenang di sana.
Pak penghulu meminta papa Roman untuk menjabat tangan V. Papa Roman mengulurkan tangannya, begitu pun dengan V. Mengangkat tangannya hendak menjabat tangan Roman, namun tangan lain sudah menggenggam tangan milik papa Roman lebih dulu.
V tersentak, begitupun dengan Papa Roman. Mengangkat kepalanya menatap pemilik tangan yang menjabat tangannya. Suga berdiri di belakang V duduk dengan tangan yang terulur dan nafas terengah.
"Suga! Nama mempelai prianya Suga Afgantara, pak penghulu. Maaf saya terlambat. Telah terjadi sesuatu."
"KAU!" Papa Roman berdiri dengan wajah berangnya. Begitu pun dengan V dan Jeni, yang terlihat sangat terkejut.
"Maaf, bisa kah kita mulai?" Ucap Suga mengatur nafasnya.
"Kau! Beraninya kau setelah muncul setelah membuat semua orang panik." Hardik pak Roman dengan mata yang masih di liputi kekesalan.
"Jadi, ini mempelai nya yang mana? Saya harus segera pergi ke tempat hajatan lain." Sela pak penghulu tak sabar, karena sedari tadi hanya di suruh menunggu saja.
"Saya." Ucap Suga cepat dan yakin."saya Suga. Nama mempelai pria yang tertera di sana."
"Ya sudah. Semua tenang dan duduk. Kita mulai."
"Tunggu." Vi angkat bicara. "Apa kau tidak keberatan Jeni? Setelah ia pergi, lalu datang tiba-tiba setelah hendak mengacaukan semuanya. Apa kau tidak keberatan dia menjadi mempelaimu."
Hening, semua menunggu jawaban dari Jeni. Termasuk papa Roman. Walau dia kesal dengan Suga, tapi pria itu datang disaat yang tepat. Jika terlambat, dan Jeni sampai benar-benar menikah dengan V, sudah pasti akan kena damprat.
"Tidak. Biar Suga menyelesaikannya."
Vi yang cukup kecewa karena tak jadi menggantikan Suga akhirnya pergi walau hatinya sakit.
Di kejauhan terdengar suara lantang Suga mengucap ikrarnya.
"Vi..."
__ADS_1
Mama Susi menyusulnya. "Jangan pergi lagi. Mama nggak tau apa yang terjadi diantara kalian. Tapi, mama mohon, jangan pergi lagi."
V menoleh menatap mama nya. Lalu berjalan perlahan dan memeluk tubuh mamanya.
"Maaf ma, aku akan pulang jika sudah siap kembali lagi."
"Vi... Ada hubungan apa kamu dengan Jeni? Apa kalian..." Bahu mama Susi berguncang terdengar lirih isakannya.
"Ini hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Dia tak menyambut perasaanku. Kami hanya berteman. Mama jangan pikir akan sama seperti dulu lagi. Aku bukan anak kecil." Ucap V menenangkan mamanya, mengusap air mata Mama Susi dengan jempolnya.
"Lalu kenapa kau pergi? Haa?"
"Aku harus mencari cinta yang lain, seperti yang mama bilang aku tampan dan muda. Akan ada banyak wanita yang mencintai ku. Tapi, ku ingin yang tulus, yang tidak memandang itu semua. Karena itu..."
Mama Susy tersenyum kesal.
"Kenapa anak kesayangan mama selalu membuat cemas seperti ini."
"Aku pergi dulu ya ma. Salam ku untuk Kakak dan kakak ipar. Semoga mereka bahagia."
.
.
.
"Kenapa kau sampai mengulurkan waktu selama itu. Tiga jam Suga. Tiga jam!"
"Maaf ma, papa, aku disekap. Tapi, semua udah Kenzo bereskan."
"Apa?" Mama Susy dan papa Roman terkejut.
"Siapa? Siapa yang berani melakukannya?"
"Itu tidak penting, yang penting, sekarang aku sudah berada disini. Dan pernikahan tetap dilanjutkan." Ucap Suga enteng, "jadi, apa aku boleh pergi beristirahat di kamar pengantin?"
.
.
__ADS_1
.
Jeni menatap wajah, "sebenarnya, kalau di make up in aku cantik juga." Gumamnya
"Mau sampai kapan mereka menyidangnya? Aku juga mau kasih ia pelajaran karena sudah membuatku galau dan baper. Se enaknya saja mempermainkan perasaan dan pernikahan."
Jeni masih menunggu sesaat di depan meja rias, namun karena Suga tak kunjung datang, akhirnya Jeni memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Satu jam lamanya, Jeni membersihkan diri, ia keluar dari kamarmandi dengan berbalut handuk di tubuhnya. Rambut yang di gulung dengan handuk juga sehabis keramas.
Jeni terkejut melihat Suga sudah tiduran diatas ranjangnya. "Oo, kau sudah selesai?"
"Apa yang kau lakukan di ranjang ku?" Protes Jeni mendekat denagn mata mendelik kesal.
"Apa? Apa kau tak lihat? Aku tiduran, badanku capek." Jawab Suga enteng berguling-guling di ranjang milik Jeni.
"Setelah membuat masalah kau mau enak-enak tidur hah?"
"Siapa yang membuat masalah? Bukankah aku datang saat sebelum V mengikrarkan sumpah nya?"
Jeni merasa geram dengan sikap tak merasa bersalah Suga, pria itu justru terkesan santai tiduran di as ranjangnya. Jeni jadi kesal dan marah, dia sampai di tuduh macam-macam dan merasa ditinggalkan. Dengan geram ia mendekati ranjang, mengambil bantal dan memukuli Suga dengan membabi buta.
"Auuu... Aaauuu... Apa-apaan kau ini."
"Mati saja kau!" Pekik Jeni dengan masih memukuli Suga denagn bantal. Pria itu mencoba menghindar.
"Beraninya kau mempermainkan dan mempermalukan keluargaku?! Kenapa kau masih berani muncul disaat terakhir Haahh? Saat itu aku berharap kau mati tertabrak truk."
"Ooohh, pantas saja aku hampir tertabrak mobil tadi ternyata kamu yang nyumpahin?" Balas Suga menghindari pukulan Jeni.
"Kalau begitu kenapa kau tidak mati aja!" Pekik Jeni dengan kesal, menyibak rambutnya yang sudah berantakan karena aksinya yang memukul Suga secara serampangan.
Tangan Suga menangkap tangan Jeni merebut bantal dan membuangnya. Suga meraih tubuh Jeni dan membanting nya pelan di atas ranjang, lalu mengunci tubuh ramping Jeni.
Dengan nafas terengah, dada yang naik turun dan rambut basah yang berantakan. Jeni menatap sengit Suga yang juga sedang memandang dirinya.
"Aku disekap. Seseorang tak ingin kita menikah, jadi dia mencampurkan obat tidur di minumanku. Beruntung Kenzo bergerak cepat dan ku selamat. Aku baru terbangun beberapa menit sebelum acara di mulai. Kami melajukan mobil secepat mungkin agar bisa sampai. Tapi, kami terjebak macet, jadi aku berlari untuk sampai ke gedung tempat pernikahan kita. Aku hampir tertabrak mobil itu aku tidak bohong." Jelas Suga menatap dalam netra Jeni.
"Apa kau percaya padaku?"
__ADS_1