
"Hei, Yovie, bukankah kamu mau jadi simpanan tuan Suga? Sepertinya mata tuan Suga hanya melihat istrinya. Kau tidak punya kesempatan."
Yovie tersenyum tipis, "Kita lihat saja nanti."
Gerombolan Yovie terus melangkah. di balik salah satu pilar penyangga gedung, tampak kaki panjang yang melangkah keluar dari persembunyiannya. Dengan tangan yang dia simpan di saku celana, Kenzo menatap pada punggung wanita-wanita yang masih terdengar suaranya walau pelan. Tatapan mata yang dingin terus mengunci tubuh Yovie.
###
"Uang nya sudah aku transfer."
"Terima kasih Pak."
"Kok pak lagi sih?"
"Maaf mas Bambang, sudah biasa manggil pak di kantor. Tiba-tiba manggil mas kalau di luar bikin belibet."
"Ya sudah. Sana mandi bersihkan dirimu, kita makan di luar." titah Pak Bambang mengelus kepala Yovie.
Gadis itu turun dari ranjang, berjalan sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh.
"Sialan! Kalau bukan karena si tua Bangka itu loyal. Mana Sudi aku jadi simpanannya." gumam Yovie menatap pantulan dirinya di kaca wastafel kamar mandi.
"Sabar Yovie. kamu hanya tinggal tunggu waktu yang tepat untuk menyingkirkan nya. Saat aku sudah berhasil menjerat Tuan Suga. Dia pasti aku tendang. Saat ini aku harus merayunya agar bisa ikut serta di meting bersama klien di Singapura."
Seusai membersihkan dirinya, Yovie dan Bambang makan malam di sebuah restoran.
"Pesanlah apapun yang kamu mau." ucap pak Bambang sembari membuka menu dan memesan.
"Mas, katanya besok mau ke Singapure ya?"
"Heemmm..."
"Mas bisa ikutkan aku nggak?"
"Ini urusan pekerjaan Yovie bukan piknik."
"Iya, aku tau mas. Aku ingin punya banyak pengalaman mengikuti meting dengan klien."
"Baiklah, nanti coba aku atur."
"Beneran mas? Makasih ya..."
"Tapi nanti kita lagi ya?"
__ADS_1
"tenang mas, mau berapa kali pun aku layani."
Di tengah percakapan dan makan malam mereka, tiba-tiba datang seorang wanita datang menjambak rambut Yovie.
"Dasar pelakor! Kamu rupanya yang merayu suamiku!" suara lantang dari seorang wanita yang hampir seusia pak Bambang itu.
Pak Bambang terkejut, begitupun dengan Yovie yang memekik kesakitan. Tubuh Yovie langsung tertarik hingga berdiri dengan meringis menahan sakit akut rambut yang di Jambak oleh wanita yang sepertinya istri pak. Bambang.
"Aaww.. sakit! Apa yang kau lakukan? lepaskan!" pekik Yovie yang kesakitan rambutnya di tarik. Yang tentu saja keributan itu mengundang perhatian para tamu dan orang-orang yang ada di sana.
"Dasar pelakor! Kenapa kau harus merayu suami ku, haah? Apa kau sudah tidak laku lagi sampai merayu suami ornag?" teriak wanita itu histeris tanpa melepas kan tangan nya diri menjambak dari rambut Yovie.
"Aaaww... maas! Tolong!"
"Dewi! Sudah! Apa-apaan kau ini?" pak Bambang mendekat mencoba melerai. Namun istri nya itu sudah sangat geram menjambak rambut Yovie dengan kuat.
"Lepaskan Dewi!"
"Aaawww!! Tolong!!"
"Yahh, berteriak saja kau! biar ku lihat siapa yang berani menolong pelakor!"
"Aaaawww..... Mas.... tolong lepaskan aku dari wanita gila ini?"
"Dewi! Cukup." pak Bambang tampak kualahan melerai. Pak Bambang terus mencoba menarik tubuh Dewi, yang mana pastilah makin membuat Yovie memekik kesakitan akibat tarikan dari tangan Dewi yang semakin kuat.
"Aawww....!"
"Dewi! kita di depan umum! Hentikan sayang!" Pak Bambang terus mencoba melepaskan tangan yang menjambak rambut Yovie.
"Hentikan sayang? Kau yang hentikan mas! Berhentilah berselingkuh!"
rambut Yovie akhirnya terlepas dari Cengkraman Dewi, istri dari pak Bambang.
"Lepaskan aku mas! Aku harus mencabik-cabik pelakor itu." teriak Dewi dengan sangat histeris di peluk dari belakang oleh pak Bambang.
"Sudah! jangan membuat keributan. Kita bicarakan di rumah!" pak Bambang menarik Dewi yang meronta-ronta menjauh dari Yovie yang tampak berantakan.
"Lepaskan aku mas! beraninya kau melindungi wanita itu!" terus berteriak histeris.
Yovie yang masih tertinggal dengan perasaan terkejut merasa lemas kakinya. dia duduk di kursi tempat nya tadi.
"Sial! kenapa aku jadi harus mendapatkan ini! Di sini, si.tua Bangka itu yang bersalah. Jika dia tidak menawariku macam-macam dan uang, aku tidak akan terpengaruh. Siapa juga yang mau dengannya. Kalau tidak kepepet, aku juga tidak mau. Yang aku ingin kan itu tuan suga. Bukan si tua Bangka itu!"
__ADS_1
Yovie bergumam-gumam, sangat kesal dengan yang baru saja menimpanya. Yovie merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan. untuk makan lagi sudah tentu dia tak berselera. Jadi ia putuskan untuk pulang saja. Lagi pula sudah kepalang malu.
"Maaf, pesanan nya belum di bayar, anda tidak bisa pergi!" cegah seorang pelayan menghadang langkah kaki Yovie.
"Sialan si tua Bangka itu, aku sudah di Jambak oleh istrinya dan di permalukan seperti itu. Masih harus bayar tagihan makan. Benar-benar sial!" gumam Yovie membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu. lalu menyerahkannya pada sang pelayan.
Selesai membayar, Yovie pulang menggunakan taksi. Sesampainya ia di kos an Ia merebahkan diri atas kasur nya.
"Aaahh, rambutku, sakit sekali! Wanita sialan itu, aku pasti akan balas. Lihat saja."
###
hari berikutnya, Yovie datang ke kantor. Dan pak Bambang pun langsung menarik lengan Yovie ke tempat yang sepi.
"Kamu nggak papa kan Yovie? Kenapa semalaman aku menelpon tidak kamu angkat." berondong pak Bambang mengunci tubuh Yovie di tembok."Aku sangat mengkhawatirkan mu."
"Pak, aku sudah tak mau lagi kena Jambak istri bapak. Kepala ku pusing! aku bahkan tak bisa tidur nyenyak karena trauma." tukas Yovie bohong, untuk membuat pak Bambang makin merasa bersalah.
"Dan lagi, bapak meninggalkan saya dengan tagihan makan malam yang belum di bayar. Rasanya aku ini sudah jatuh, tertimpa tangga pula.
Masalah hubungan kita, tidak akan terjadi jika hanya aku yang bergerak. Kita berdua melakukannya, tapi kenapa aku saja yang sakit seperti ini." Tukas Yovie dengan nada kesal karena hanya dia yang di Jambak tanpa bisa membalas.
"Maaf Yovie, ini tak akan terjadi lagi. Masalah tagihan itu aku akan mengembalikannya dua kali lipat! Dan tentang pergi ke Singapura, aku pastikan kamu ikut juga. Sekarang jangan marah lagi ya. Maafkan aku."
"Heemmm...." dehem Yovie yang bersorak gembira di dalam hati dengan wajah jutek di luar."Aku harus kerja pak. lepaskan saya."
"Kalau sudah tak marah kenapa masih memanggil pak?"
"Iya mas. Ini di kantor. Lepaskan aku."
"Baiklah, nanti datang keruangan ku."
###
Jeni membantu mempersiapkan kebutuhan Suga untuk meting di Singapura.
"Bagaimana kalau kamu ikut?" Suga memeluk Jeni dari belakang mengusap perut Jeni yang besar itu.
"Bolehkan?"
"Hmmm... Bagaimana kalau kita ke dokter untuk memastikan?"
"Baiklah."
__ADS_1
bersambung ...