Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
bab 23 • Kedatangan Mega •


__ADS_3

Pagi ini Jeni telah rapi. Ia bersiap untuk pergi ke kantor. Jeni mematutkan diri di cermin. Dengan blouse V neck bermotif floral berwarna Salem, dan celana jeans warna senada dipadukan dengan sneaker warna hitam. Membuat anak gadis Papa Roman itu terlihat lebih segar.


Jeni menggembung pipi yang terasa sedikit tembem dari sebelumnya. Menepuk kedua pipinya.


"Rasanya kok aku gendutan ya?"


Jeni bergumam sendiri. Lalu ia menyambar tas kerjanya, berjalan keluar dari kamar. Tanpa sarapan lebih dulu, karena ia masih merasa jengkel dengan papa nya.


"Jeni! Ayo sarapan dulu." Seru mama Diana begitu melihat Jeni menuruni tangga dari kamarnya.


"Ngak ma. Jeni buru-buru."


"Buru-buru kemana? Ini masih terlalu pagi nak."


Jeni melambaikan tangannya sembari berjalan keluar rumah. Jeni melangkah keluar gerbang dengan tangan yang memijiti ponselnya untuk memesan ojek online. Ia tertegun, melihat Vi dengan motor klasik nya.


"Slamat pagi."


"Kamu ngapain di sini?" Ujar Jeni sembari mendekat.


"Nungguin kamu."


V mengambil helm dan memasangkannya di kepala Jeni, mengencangkan pengaitnya lalu tersenyum dengan sangat manis.


"V..."


"Ayo berangkat."


Sepontan Jeni mengikuti duduk dijok belakang. Melingkarkan tangannya memeluk perut V begitu motor di jalankan.


"Ini masih terlalu pagi..."


"Beruntung, aku sudah sampai disini. Kamu udah saram belum?"


"Belum."


"Kalau sarapan dulu gimana? Kamu mau makan apa?"


"Soto aja."


"Okey."


V memarkirikan motornya di depan warung soto babat yang sedikit jauh dari jalan raya.


"Disini sotonya enak, ada miso nya juga. Enak dan empuk." Jelas V sembari turun dari motor dan melepas helm nya. Ia lalu berganti membantu Jeni melepas helm.


"ISO?"


"Miso." V membenarkan ucapan Jeni, setelah meletakkan helm milik Jeni.


"Miso itu, semacam babat juga, dalaman sapi yang di masak dengan bumbu dan gula Jawa. Dimasak sampai empuk dan semua bumbunya meresap. Terus di goreng tapi nggak sampai kering."


"Ooohh,, sepertinya aku belum pernah coba."


"Kalau gitu, coba di sini. Pasti suka." V menggenggam tangan Jeni menuntunnya masuk kedalam warung Soto.


Di warung itu masih tampak lengang. Hanya ada beberapa saja pembeli yang sarapan. V mengedarkan pandangannya. Setelah memesan pada penjual. Ia mengajak Jeni untuk mengambil duduk lesehan.


"Kamu sering makan di sini?" Tanya Jeni sambil memandang berkeliling setelah mendudukkan bokongnya diatas tikar.


"Nggak juga sih? Kadang-kadang sama anak-anak kos."


"Hmmmm....."


Dari cerita V yang pernah dia tau, Pria tampan dihadapannya itu, menyewa sebuah rumah untuk dijadikan kosan bersama para pekerja di Car wash tempat V pertama kali bertemu dengan Jeni.


"Hmm.. benar, ini enak."


"Rasa nggak pernah bohong." V tersenyum lebar, yang tentu aja membuat Jeni bersemu oleh ketampanan pria di depannya itu.

__ADS_1


"EHEMM... Biar aku yang bayar nanti ya, biar utang ku lunas."


"Ini bukan makan malam Jeni, utang mu adalah untung makan malam."


"Uuugggghhhh, kamu curang. Boleh aku nambah?"


V melongo melihat mangkok Jeni yang udah kosong. Walau begitu, v tetap mengangguk.


Seusai sarapan, yang cukup membuat V takjub itu, karena Jeni berhasil menghabiskan hampir lima mangkok soto dan beberapa miso. V mengantar Jeni ke kantor. Di depan gerbang kantor itu. Jeni menyerahkan helm yang ia kenakan.


"Makasih ya."


"Nanti balik jam berapa?"


"Harusnya jam empat. Tapi nggak tau kalau lembur."


"Kalau pulang, nanti telpon aku."


"Emangnya kamu nggak kerja?" Tanya Jeni sedikit heran,"aaahh, iya, aku lupa di sana Shift ya?"


V hanya menjawab dengan senyuman.


"Jadi kamu masuk pagi?" Yang di jawab dengan nggukan oleh V.


"Okey. Aku masuk dulu ya." Pamit Jeni melambaikan tangannya.


V masih menatap punggung wanita yang terus mengusiknya.


"V?"


V menoleh pada sumber suara. Sebuah mobil merah berhenti tak jauh darinya. Wajah kakaknya, Suga terlihat menatapnya dari balik pintu yang kacanya di turunkan setengah.


"Kamu... Mama nyariin kamu tadi, pagi-pagi udah nggak kelihatan."


"Aku ada urusan."


"Apa kamu punya pacar yang bekerja di sini?"


"Benarkah? ya sudah, Nanti malam balik ke rumah. Kalau tidak mau di jemput paksa lagi sama mama."


"Oke."


Setelah mobil Suga kembali berjalan masuk ke areal perusahaan. V baru membawa motornya pergi.


###


Mega merias wajahnya dengan sangat detail, hingga ia tampak begitu sangat menggoda. Mega memakai gaun selutut yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.


Setelah memastikan penampilan nya sempurna, Jeni berkendara ke kantor Suga. Tentu saja ia harus menemui pria yang membuatnya pergi untuk beberapa waktu yang cukup lama.


Sesampai nya di kantor. Mega berjalan melewati para sekertaris Suga. Saat hendak membuka pintu ruangan Suga. Ia di tahan.


"Maaf..."


"Ya?"


Mega menoleh dengan jengah, namun tetap mencoba anggun. Sekertaris itu sedikit terkejut. Siapa yang tak kenal dengan Mega. Wanita yang sudah beberapa kali masuk keruangan itu dan menjadi kekasih atasannya. Tentu saja mereka juga tau jika Mega sudah tak lagi berhubungan dengan sang bos.


"Ada apa?"


Sekertaris itu bergeming.


"UMM... Apa nona Mega sudah membuat janji?"


"Apa aku masih perlu membuat janji? Kau lupa siapa aku?"


"UMM.. maaf. Tapi, ini jam kerja, dan tuan Suga tak ingin di ganggu jika bukan karena janji temu."


"Aahh, kau jadi berani sekarang karena aku sudah lama tak terlihat kenari ya?" Ujar Mega dengan angkuh dan jengah.

__ADS_1


"Maaf, tapi.. tuan Suga..."


Ceklek.


Pintu ruangan Suga di buka.


"Sintia, tolong...." Ucapan Suga terputus, wajahnya sangat terkejut melihat sang mantan kekasih kini ada di depan pintu.


"Suga..."


###


Kini, Mega dan Suga sudah duduk di sofa ruangan yang di dominasi warna hitam dan putih itu. Dua cangkir kopi bertengger di atas meja yang menjadi pembatas bagi keduanya.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kemari?" Tanya Suga datar.


"Suga, apa kamu tidak merindukan aku?"


Suga tertawa tanpa suara.


"Suga..." Mega bergerak mendekat dan duduk disamping Suga. Wanita dewasa itu mengelus paha pria yang pernah menjalin cinta dengannya.


"Aku..."


Suga menepis tangan Mega yang mulai bergentayangan itu. Tentu saja itu membuat Mega terkejut.


"Jangan Berlebihan, kita hanya mantan."


"Suga, sungguhan kamu tidak rindu?" Mega walau merasa sakit hati atas penolakan Suga itu tentu saja tak mau menyerah.


'aku cukup tau bagaimana sifat mu. Aku yakin aku bisa membuatmu kembali padaku.' batin Mega


"Mau apa kamu kemari?"


"Suga, jangan ketus begitu. Kita..."


"Aku sangat sibuk Mega. Jika tak ada hal yang penting sebaiknya kmu kembali saja."


"Suga plis, aku pergi juga atas permintaanmu. Kita putus juga atas permintaanmu, dan semua demi adikmu yang minggat itu. Tak bisa kah kita..."


"Tidak. Maaf. " Suga langsung berdiri saat merasakan tangan Mega kembali mulai bergentayangan di tubuh.


"Dengar Mega, aku sedikitpun tak memiliki hasrat untuk menjalin hubungan lagi denganmu. Lagi pula, aku sebentar lagi kan menikah. Jadi, jangan ganggu aku. Okey?"


Suga berjalan mendekati pintu ruanganya lalu membuka pintu lebar-lebar.


"Keluarlah."


"Suga, kau mengusirku?"


"Aku sangat sibuk."


Suga melongok keluar ruanganya dengn tangan yang masih memegang handel pintu.


"Sintia, panggil Kenzo kemari. Aku dan atur pertemuanku dengan Jeni siang ini."


"Baik." Sahut suara dari luar ruangan Suga.


Suga melihat Mega lagi, yang masih tak mau beranjak dari duduk ya.


"Kau mau keluar sendiri atau sintia yang membantumu keluar?"


Mega mendengus kesal.'sial! Apa aku gagal?'


"Baiklah. Aku pergi." Mega beranjak berjalan keluar dari pintu, dan berhenti tepat di depan Suga."tapi aku tidak menyerah. Aku masih akan menemuimu."


"Terserah."


Mega melenggang pergi.

__ADS_1


"Jika Suga sulit di dekati kembali, berarti, aku akan mendekati mama Susy. Dia sangat mendukungku dulu.." gumam Mega saat sudah berada di dalam lift.


Bersambung...


__ADS_2