
Vi memandang setiap sudut dari tempat dirinya berhenti, dengan masih duduk di atas jog motornya. Ia kehilangan jejak, mobil Suga melintas dan melambat di sampingnya.
"Rumah nya masih di depan, terus belok kiri." ucap Jeni dengan kepala yang sedikit keluar dari jendela yang di buka.
Wanita itu tersenyum melihat V yang terbengong. Jeni menjulurkan lidah pada V begitu sudah agak jauh. Sepertinya dia sudah ketahuan.
Mobil Suga berhenti tepat di depan rumah Lia yang pintu pagarnya tertutup. V mengikuti dari belakang. Tepat saat itu pak Subekti hendak keluar, membuka pagar rumahnya lebar-lebar.
Melihat ada mobil berhenti tepat di depan rumahnya, samping pagar pintu. Memandang dengan heran.
"Kalian siapa?" tanyanya pada Rombongan Suga.
"Kami dari perusahaan tempat Lia Lestari bekerja."
"Oohh, bos nya Lia?" tebak Pak Subekti.
Suga tersenyum ramah membenarkan."Benar."
Pak Bekti manggut-manggut memindai dua orang di depannya dan Vi di belakang mereka.
"Kami ingin menanyakan terkait Lia yang tiba-tiba berhenti bekerja." lanjut Suga lagi."Lia nya ada?"
"Ada..." jawab pak Bekti masih terlihat ragu.
"Kami juga ingin membahas masalah uang pesangon untuk Lia. Jika kami boleh bertemu dengannya akan sangat membantu." timpal Jeni yang cukup hapal dengan perangai orang tua Lia.
"Oohh begitu. Kamu bukannya teman Lia ya?"
"Benar, saya rekan kerja Lia, dari bagian Finance. Keuangan maksudnya."
"Oohh, bagian keuangan, baiklah, silahkan masuk." pak Subekti mempersilahkan dengan ramah. Membuka pintu gerbang lebar-lebar.
__ADS_1
"Buk! Ada tamu!" ucap Pak Bekti agak keras bersuara memanggil istrinya.
"Tamu dari mana pak?" Bu Sumi keluar dari dalam rumah, melihat suaminya kembali sebelum pergi.
"Uang datang buk." bisik pak Bekti.
"Uang?" Bu Sumi mengernyit melihat pasangan di belakang suaminya.
"Uang pesangon Lia buk. Jabatan Lia kan tinggi jadi pasti banyak." bisik pak Bekti lagi dengan wajah sumringah. "Itu bos nya Lia."
"Silahkan masuk, ayo, silahkan masuk." ucap pak Bekti ramah mempersilahkan dengan tangannya tak lupa wajah cerah sumringah nya.
Bu Sumi terpaku di depan pintu, menyalami Jeni dan Suga masih dengan menaruh sedikit curiga. wajahnya langsung berubah begitu melihat V di belakang mereka.
"Kamu! Ngapain kamu ke sini? Mau gangguin Lia lagi?" ujar Bu Sumi tak ramah dengan suara keras.
Suga dan Jeni yang sudah masuk ke dalam rumah dan hampir mendudukkan bokongnya terpaksa berhenti mengambang, menoleh ke arah pintu depan. Bu Sumi tampak berkacak pinggang.
"Pergi kamu! Kamu tidak diterima di rumah ini!" hardik wanita setengah abad itu dengan tangan yang menunjuk ke luar rumah nya.
"Dia bersama kami Bu,"
"Oo, jadi kalian sekongkol? Mau ngambil Lia begitu?" hardik Bu Sumi dengan mata yang hampir keluar dari rongga matanya.
"Kenapa ini buk? kok malah marah?" tanya pak Bekti heran dengan istrinya yang justru menghardik tamu-tamu yang mungkin akan membawa uang untuk mereka itu.
"Ini nih pak, ini pacarnya Lia ini pak. pasti ke sini mau jemput Lia. OOO apa jangan-jangan tadi mau kabur sama dia lagi." hardik Bu Sumi lagi menunjukkan V dengan emosi yang meletup.
"Bapak, ibuk mari kita bicarakan di dalam." ucap Suga tenang.
***
__ADS_1
Suasana ruang tamu Bu Sumi terasa sangat panas dan mencekam. Tatapan tak bersahabat Bu dari Lia lestari itu tunjukkan dengan sangat mencolok. Suga memperkenalkan diri sebagai bos ditempat Lia bekerja.
Pak Bekti mengamati kartu nama yang Suga sodorkan. Nama yang cukup terkenal sebagai pengusaha sukses seantero negeri. Tentu saja ia percaya dengan setiap yang Suga tuturkan.
"Bisa kami bicara dan bertemu dengan Lia langsung?" pinta Suga akhirnya.
"Maaf bos Suga. Walau bagaimana pun, Lia adalah anak kami. Saat ini kami ingin yang terbaik buat Lia. Tau sendiri lah dia akan menikah. Jadi harus dipingit." Tutur pak Bekti dengan halus.
"Apa lagi ada mantan pacarnya di sini. Bisa-bisa nanti malah Lia berubah pikiran." sambung pak Bekti melirik V yang duduk di ujung sofa dekat pintu rumah.
Jeni sudah sangat geram sebenarnya dengan tutur halus dari orang tua Lia yang bahkan tak mengijinkan mereka bertemu dengan Lia. Tapi terus memaksa untuk menyerahkan uang pesangon Lia pada mereka, yang orang tuanya.
"Jika kami tak bisa bertemu, kami akan mengirimkan sesuai nominal dari ketentuan saja ke rekening Lia." ucap Suga akhirnya, karena lelah juga bicara pada orang yang ngotot dan mata duitan seperti pak bekti dan Bu Sumi.
"Kenapa nggak di sini saja sih? Nggak percayaan banget sama kami." dengus Bu Sumi makin tak ramah.
"Kami memang tidak percaya, mungkin saja jika uang itu sudah jatuh ke tangan yang salah, tak akan sampai pada Lia yang berhak." sela V yang juga sudah tak sabar menghadapi orang tua Lia.
Bu Sumi langsung melotot pada V, bocah miskin dan kurang ajar dalam anggapannya.
"Kamu!"
"Katakan buk, berapa yang harus saya keluarkan untuk membawa Lia pergi bersamaku?" tanya Vi yang sudah tak ingin. berbasa-basi lagi menatap tajam pada Bu Sumi dan pak Bekti.
Bu Sumi tertawa lantang.
"Sok-sok an sekali kamu! mau bayar anakku. Memangnya kamu mampu, hei bocah kere!"
Suga menahan senyum mendengar adiknya di sebut kere.
"Berapa? hutang yang harus di bayar untuk menebus Lia?"
__ADS_1
"Punya nyali juga kamu tanya ya?" Bu Sumi masih dengan nada meremehkan.
"Oke, kalau kamu bersikeras, mau membawa Lia. Bayar dulu satu milyar!" Tutur Bu Sumi mengetuk meja dengan tangannya kasar.