
"Mama, aku sudah ada orang yang di sukai. Aku sedang dalam usaha meluluhkan dia. Bisakah mama tunggu sebentar lagi?"
"Benarkah kamu sudah ada wanita yang di sukai? Siapa? Anak mana?"
"Sabar mama, nanti akan V perkenalkan jika sudah berhasil. Karena itu, berhentilah menjodohkan aku."
Mama Susy menarik tangannya dan merapikan pakaian nya.
"Katakan siapa namanya?"
Vi terdiam sejenak berpikir.
"Kalau kamu mau mama berhenti menjodohkan mu, mama harus tau siapa namanya."
"Tapi mama tak boleh menyelidikinya."
"Baiklah. Cepat katakan siapa namanya?"
"Lia. Apa itu cukup?"
"Baiklah." Mama Susy keluar dari kamar V dengan tenang.
V menghela nafasnya. "Semoga mama tidak mempersulit Lia. Maaf Lia, aku menggunakan mu."
Di sisi lain,
"Aku memang setuju untuk tidak menyelidikinya, tapi, aku tidak bilang tidak akan menemui nya. khixixi...." gumam Mama Susy melirik kecil pada kamar V.
Arya baru saja tiba, dia menghadap pada majikannya.
"Apa yang kamu temukan?"
"Saya, tidak menemukan apapun nyonya, Tuan muda hanya bekerja di resto dan Carwash. Tidak kemanapun." Arya memberi laporan.
"Heemmm... ini aneh, dia bilang sudah ada wanita yang di sukai. Tapi, dia tidak sedang dekat dengan siapapun?"
Mama susi berpikir. "Apa anak itu membohongiku?"
"Apa kamu tidak menemukan wanita bernama Lia?"
"Tidak. Maaf." jawab Arya menundukkan kepalanya."Apa perlu saya selidiki?"
"Tidak! Aku sudah berjanji untuk tidak menyelidikinya. Aku akan menemui wanita itu." ucap Mama Susy masih berfikir."Harus mulai dari mana agar terlihat wajar?"
Keesokan harinya, mama Susi mendatangi Carwash dengan berpura-pura sebagai pelanggan. Hampir semua karyawan di sana laki-laki.
"Heemm, tidak mungkin ada wanita bernama Lia di sini."
Berikutnya, mama Susy berkunjung ke resto rescue. Ia mengamati para waiters dan karyawan di sana.
"Maaf," panggil Mama Susi saat sedang berpura-pura menjadi pelanggan juga di sana.
"Ada yang bisa di bantu?"
"Lia, ada di mana ya? Dia masuk kan hari ini?"
"Lia?" waiters itu mengangkat alisnya."Tidak ada yang bernama Lia di sini."
"Benarkah?" mama Susy terkejut, lalu ia berpura-pura salah masuk resto sebagai alibinya."Ini bukan resto Que-que ya?"
"Bukan."
"Ooh, sepertinya aku salah masuk resto. Maaf. Silahkan dilanjut pekerjaannya."
waiters itu pun pamit undur diri.
"Bukan di sini juga, lalu di mana wanita bernama Lia itu?" gumam mamaa Susy.
__ADS_1
Mama Susy keluar dari resto dan memasuki mobilnya. lalu menjalankan tak tentu arah.
"Apa mungkin orang di komplek rumah V dan teman-temannya tinggal?"
Setelah cukup menimbang, Mama Susy akhirnya memutuskan untuk mencari tau di sekitar komplek perumahan V.
"Bagaimana caraku agar V tidak tau dan curiga jika aku mencari nama Lia di komplek ini?"
###
"Terima kasih, ini angsuran ku yang terakhir." ucap Lia menyodorkan beberapa lembar uang merah pada Vicky.
"Oke."
"Terima kasih sudah percaya padaku."
"Aku tidak percaya padamu. Aku sangat takut kamu nggak balikin uangku, jadi aku kemari setiap hari dan minta makan." ucap V tanpa melewatkan senyuman di wajah tampannya.
"Apa aku harus menagih uang makan?"
"Tidak! Itu bunga."
Sejak Lia meminjam uang V, pria itu memang lebih sering main ke kosan Lia dengan alasan takut Lia kabur. Kini dia sudah tak memiliki alasan lain. Sepertinya Vicky harus memikirkan lagi alasan untuk datang ke Kosan Lia.
"Karena kamu sudah melunasi hutang kamu, bagaimana kalau sebagai tanda terima kasih, aku traktir kamu makan?"
"Makan?"
"Huuummm... makan yang murah saja, bakso atau mie ayam."
Lia mengerucutkan mulutnya, "Aku bosan makan bakso terus. Tiap kali kamu traktir selalu makan bakso atau mie ayam."
"Itu yang paling murah. kenyang." ucap Vi beralasan."Aku harus mengumpulkan uang untuk biaya nikah ku nanti."
"Ooohh, jadi kamu sudah punya calon?"
"Iya, ini lagi di usahakan." jawab V ambigu.
"Ayolah, bakso atau mie ayam?" tanya Vi lagi berdri dari duduknya.
"Tidak mau! Kamu kan punya uang banyak sekali-sekali traktir yang mahalan dikit kek." Lia memalingkan wajahnya pura-pura ngambek.
"Ya sudah, cepat berdiri ganti baju, aku traktir soto."
"Ya elah, soto lebih murah, semangkuk 6rb." Lia semakin mengerucutkan bibirnya beberapa senti.
"Mau nggak? Buruan ah, aku masuk siang nih. Ntar telat lagi nungguin kamu."omel V karena Lia tak beranjak.
"Mentahannya aja deh, aku malas kalau cuma makan soto."
"Ya sudah. Mau mentahan nya ya?" Vi merogoh kantong nya mengeluarkan dua lembar uang dua ribu an."Nih!"
Mulut Lia terbuka lebar, hingga membentuk huruf O.
"Kok cuma empat ribu?"
"Yang dua ribu kepotong parkir." diakhiri suara gelak tawa V.
"Iiisshhh...."
Akhirnya mereka pergi juga. Makan puyuh goreng di sebuah warteg.
"Waahh, kenyang." Lia mengusap perutnya yang terasa penuh.
"Kamu kok makannya banyak banget sih?" Vi mengeluarkan beberapa uang recehan dan menghitungnya.
"Nih aku tambahin." Lia mendorong uang 2 ribuan pemberian V tadi, dengan tawa kecil melihat teman lelaki nya malah menghitung lembaran uang coklat, ungu dan dua ribuan. Padahal, Lia baru saja mengembalikan uang V yang berwarna merah-merah itu.
__ADS_1
"Kenapa nggak pake uang merah tadi aja?"
"itu kan buat biaya nikah."jawab V enteng, "Yang ini buat nraktir."
Lia membuka mulutnya hendak berucap, suara lain sudah menghentikan.
"Liana?"
Lia mendoangak melihat pria yang kini berdiri tak jauh dari V duduk. V pun menoleh dengan sedikit mendongak.
"Liana, kamu di sini juga?" Seru seorang lelaki dengan perawakan yang cukup bagus.
Vi yang merasa tak kenal menoleh dan menatap Lia. Melihat ekspresi Lia yang datar saja, membuat V tak mau berpikir terlalu jauh. Mungkin saja dia salah satu teman kerjanya.
"Boleh gabung?" tanya pria itu.
"Silahkan klau mau menempati meja ini, kebetulan kami sudah selesai." ucap Lia sembari beranjak dari duduknya.
Pria itu memandang V dengan tatapan aneh.
"Apa dia pacarmu sekarang?"
"Itu bukan urusan mu Ki." tukas Lia menjawab dengan enggan."Ayo V!"
V berdiri mengikuti langkah Lia.
Setelah sampai di parkiran, Vi baru buka suara.
"Siapa dia?"
"Mantan."
"Oohh..."
Selesai. Tak ad lagi percakapan diantara mereka hingga V menurunkan Lia di sebuah swalayan tak jauh dari kos an.
Lia keluar dari swalayan setelah membeli beberapa camilan dan mie instan. Ia menatap datar pria yang berdiri menghadang jalannya.
"Apa yang kamu mau, Yongki?"
"Aku mau balikan."
Lia memutar matanya malas, tanpa menjawab ia melewati Yongki begitu saja.
"Siapa laki-laki yang tadi makan bersamamu? Apa dia pacarmu?"
Lia acuh, tak perduli dengan Yongki. Untuk apa berbicara pada pria yang sudah berhianat. Buang-buang tenaga dan emosi.
"Lia! Aku bicara dengan mu."
"Lia! Berhenti! BErhenti kataku!"
Yongki menarik lengan Lia hingga berbalik berhadapan dengannya. Lia berusaha menarik balik tangannya, namun Cengkraman Yongki sangat kuat.
"Siapa..."
"COPEETT!!"
Yongki terkejut dengan Lia yang tiba-tiba berteriak hingga orang yang lewat melihat ke arah mereka.
"Lepasiinnn!" Lia melotot galak."Atau aku teriakin copet lagi!"
"Kamu...."
"COPETT!!"
"Mana copetnya?"
__ADS_1
Beberapa orang pejalan kaki mulai mendekat..
bersambung..