
Malam itu, Suga tidur berbaring diatas ranjang kamarnya. Jeni baru saja keluar dari kamar mandi seusai membersihkan diri.
"Kau yakin mau tidur di sini?" tanya Suga duduk terbangun begitu melihat Jeni keluar dari kamar mandi.
"Heemmm.... bayi nya mau tidur barang Ayahnya."
"Baiklah." Suga mengangguk.
"Keringkan rambutku." sembari duduk di bibir ranjang.
"Apa itu juga keinginan bayi?" tanya Suga merangkak mendekat dan berlutut di belakang Jeni.
"Bukan. Kamu nggak mau?"
"Mau pakai hairdryer apa handuk?" tanpa menjawab pertanyaan Jeni, Suga justru melontarkan pertanyaan lain.
Jeni mengulur ke belakang handuk kecil pada Suga yang lalu di terima oleh pria itu. Dan menggosokkan handuk di kepala Jeni. Memijit lembut rambut dan kepala Jeni yang memejamkan matanya menikmati pijatan pada kepalanya.
###
"Ini sudah lebih dari seminggu. Kenapa aku masih belum di panggil?" gumam Yovie gelisah. Uang yang dia punya sudah makin menipis. Apalagi ia selama ini masih menginap di losmen.
"Aku harus cari kos kalau begini, untuk menghemat pengeluaran." gumam Yovie lagi. "Besok akan ku datangi lagi perusahaan itu. Aku curiga, jangan-jangan Jeni ada di balik semua ini. Dia pasti menyuruh Suga agar tidak memperkerjakan ku. Dia pasti sangat khawatir jika aku sampai menyainginya. Huuhh, dasar licik."
Perut Yovie keroncongan minta di isi. Ia bergegas keluar dari kamar nya dan membeli makanan di mini market siang itu. Disaat yang bersamaan Yovie melihat Suga.
"Kalau jodoh memang tidak kemana." gumam Yovie dengan senyum tipis nya. Dia berjalan mendekat sembari merapikan rambut dan pakaiannya.
Langkah Yovie terhenti, melihat Jeni sudah lebih dulu menghampiri pria incaranya. Mereka lalu tampak jalan beriringan ke kasir. Yovie mengepalkan tangannya kesal.
"Sialan!"
Yovie sengaja berjalan agak melambat agar tak bertemu keduanya. Setelah melihat Jeni dan Suga tak terlihat lagi, Yovie membayar di kasir. Ia keluar dari minimarket dengan tentengan di tangan kanan nya dan menyedot minuman stik jeli di tangan kirinya.
Yovie terkejut ternyata di luar mini market, Suga masih berdiri seorang diri. sementara Jeni tak ia lihat batang hidungnya.
"Kemana dia? Ah, peduli amat, sekarang waktunya Pepet Suga." gumam Yovie mendekat sambil sesekali merapikan rambut nya.
"EHEM!" dehem Yovie mendekat, Suga menoleh dan mengumbar senyum.
"Apa yang tuan Suga lakukan di sini?"
"Menunggu mu."
Yovie terkejut, rona merah tampak merayapi wajahnya.
"Ada apa menungguku?" tanya nya dengan senyum senang yang tak bisa di sembunyikan.
__ADS_1
"Aku lupa menelponmu, jadii mumpung tadi melihat mu aku tunggu saja. Besok, datanglah ke kantor."
"Apa itu artinya aku diterima kerja?"
Suga mengangguk pelan.
Rona bahagia terbit di wajah Yovie. "Baiklah. Terima kasih."
"Besok pagi, langsung saja datang ke bagian HRD." ucap Suga sebagai penutup."Kalau begitu, aku permisi."
Senyum tipis yang tak terlihat oleh Yovie, Suga sunggingkan di wajah tampannya.
###
Sore itu, V mengendarai motor klasik nya. Ia berhenti sejenak di pinggir jalan karena melihat hal yang cukup menarik baginya. Disebrang jalan, seorang gadis muda memberikan sebungkus nasi pada orang gila yang duduk termenung di pinggir jalan.
V tersenyum, gadis itu juga memberinya sebotol mineral. Duduk berjongkok didepan orang gila itu dan membantu nya membuka bungkusan nasi. Dengan sangat rakus orang gila itu memakan nasi bungkusnya. Gadis itu juga membukakan tutup botol mineral yang juga langsung di minum oleh orang gila itu. Lalu gadis itu pergi setelah menstater motor matik nya.
V memutar arah, mengikuti gadis itu dari belakang. Dan berhenti di sebuah bangunan kos. V kenal dengan bangunan kos itu. Dulu ia pernah mengantar Jeni. V tersenyum kecil merasa sangat lucu.
"Hei!"
V menoleh kearah suara tegas dan ketus itu.
"Kau mengikuti ku?"
Liana terdiam sejenak, lalu berbalik hendak masuk ke bangunan kos yang dia tempati. Ia mengambil dahulu, sempat melirik V yang membawa motornya ke arah gang buntu. Tak lama pria itu berbalik kembali dengan cengiran di wajahnya saat melihat Liana masih sibuk mengemasi belanjaannya.
"Sudah selesai lewat nya?" ledek Lia dengan senyuman kecil.
"Sudah, yang aku cari nggak ada di sana."balas V asal lagi.
"Apa yang kamu cari kebun pisang?"
"Ya itu, pisang." jawab V menggaruk lengannya yang tidak gatal.
"Pisang nya belum berbuah."
"Iya, makanya aku balik lagi."
"Kenapa nggak cari di pasar? Banyak pasti aja."
"uummm... itu, aku mencari petani pisang untuk ku jual di pasar."
"Oohh, jadi kamu pengepul?"
"Yah, semacam itulah."
__ADS_1
"Kupikir kamu kerja di carwash."
"Iya, aku kerja di sana juga. Ini buat sampingan." kata V lagi terus beralasan.
"Oke deh, lanjutkan cari pisang, aku mau masuk." pamit Lia mengangkut belanjaannya.
"Liana,"
Lia menoleh pada v,
"Aku kehausan, nggak ada yang jual minuman di sekitar sini. Barang kali kamu punya teh atau kopi..."
"Tidak punya." jawab Lia singkat lalu berbalik hendak melanjutkan langkahnya.
Mendengar jawaban Lia yang tak memberi celah, V sedikit lemas. Bukan karena ia memiliki perasaan cinta, hanya ingin lebih mengenal gadis yang ia pikir memiliki jiwa sosial sepertinya.
"Aku ada air putih kalau kamu mau." suara Liana di kejauhan , mengurungkan niat V yang hendak menstater motornya. Ia tersenyum sekilas di wajah tampannya.
"Tidak apa, yang penting haus ku hilang." kata V mengekori Liana masuk ke dalam kos nya.
.
.
.
Pagi itu, Yovie bersolek dengan riasan yang cukup tebal. Ia juga menggunakan pakaian yang sedikit mengumbar keseksian tubuhnya. Yovie tersenyum melihat penampilan sempurnanya.
"Hari ini, akan ku pikat kau Tuan Suga. Tunggulah." gumam Yovie menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Waktu menunjukan jam 7.30 pagi. Yovie melenggang memasuki gedung Relay CORP yang mendulang tinggi.
"Aku penasaran, akan jadi apa nanti. Kalau melihat resum yang kuberikan harus nya sekertaris Tuan Suga. Apalagi aku lihat lowongan pekerjaan yang kosong di bagian sekertaris." gumam Yovie dengan senyum nakal, terus melenggang memasuki lift.
Yovie terkejut, ada Jeni di sana, dan juga Liana. Wajah Liana terlihat berang dengan keberadaan Yovie di sana.
"Kamu! Apa yang kamu lakukan di sini?" ketus Liana tak ramah pada Yovie.
Pasalnya, Yovie, Jeni, dan Liana adalah satu angkatan kala dulu bekerja. Namun sikap Yovie yang cenderung iri pada Jeni, hingga penghianatan nya membuat ketiga wanita itu bermusuhan.
"Aku, bekerja di sini."
Jeni tersenyum kecut, sementara Liana membuka mulutnya lebar terkejut dengan pengakuan Yovie.
"Jadi, bersikap ramah lah kalian padaku. Siapa yang tau nasib ku kedepan. Mungkin saja aku akan menjadi Nyonyah kalian. Hahahaha...."
Bersambung ..
__ADS_1