
Vicky saat itu sedang duduk di ruangan yang memang tersedia khusus untuknya. Dari balik kaca pembatas ruangan nya yang hanya dapat terlihat tembus keluar dari tempat nya duduk.
Lia baru saja memasuki area carwash. V berjalan keluar, salah satu karyawannya mendekat hendak mengerjakan mencuci motor milik Lia.
"Yang itu biar aku saja." ucap V mengambil kain lap dari tangan karyawan nya.
"Baik."
V berjalan mendekati motor Lia yang baru saja terparkir.
"full ya mas." ucap Lia saat merasa ada orang yang mendekat tanpa melihat orang itu.
pandangan matanya melebar melihat orang itu ternyata adalah V.
"Oohh, kamu..."
V tersenyum tipis. Lalu mulai menyemprot body motor Lia. Sementara Lia duduk tak jauh dari motor nya yang sedang di cuci. Ia memandang V yang sedang bekerja menyemprotkan sabun salju dan menggosok nya dengan pencuci.
"Kamu benaran kerja di sini ternyata?"
V menoleh sekilas lalu kembali sibuk mencuci.
"Kenapa?"
"Yaahh, kamu orang yang pekerja keras ya?"
"Aku butuh uang."
Lia tertawa kecil. "Aku juga. Tapi usahaku tak sekeras kamu."
"Oohh ya?" balas V tanpa menoleh dan terus mencuci motor Lia.
"Heemm... Aku salut padamu. Hidup mu pasti sangat keras. Kerja di Carwash, di resto, dan ojol. Lihat ini."
Vi menoleh melihat ke arah Lia yang mengacungkan dua jempol nya.
"Aku tidak sehebat itu."
"Aku tau, ada orang yang juga berjuang keras menghasilkan uang."lontar Lia masih melihat V yang menyemprotkan air dari selangnya hingga bersih dari sabun. Menarik lagi tangannya yang mengacungkan jempol pada V.
"MMM... Dulu waktu aku datang ke acara pernikahan Jeni, aku sempat melihatmu sekilas. Apa kamu punya hubungan keluarga dengan Jeni?" tanya Lia yang sempat melihat V sekilas,
namun dikarenakan ia ada urusan mendadak, mengharuskan dirinya pergi tanpa sempat menghadiri acara pernikahan Jeni secara menyeluruh. Hanya meninggalkan kado untuknya.
Vi hanya tersenyum kecil, tentu saja itu bukan jawaban yang Lia harapkan.
'Tak mungkin Vicky memiliki hubungan dengan keluarga tuan Suga. Strata sosial mereka terlalu jauh berbeda. Dengan keluarga Jeni pun kurasa sedikit tak mungkin. Lain cerita jika Vicky pernah berkerja pada mereka. Mungkin kah?' pikir Lia yang lalu berdiri melihat V sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Terima kasih." ucap Lia mengulurkan uang untuk membayar.
"Kasir nya di sana." V menunjukkan lokasi kasir dengan jempolnya. Lia melihat ke arah yang di tunjuk V.
"Oohh, maaf, ini pertama kalinya aku mencuci di sini."
__ADS_1
"Aku tau, aku tak pernah melihatmu sebelumnya di sini."
Lia mengulas senyum. Lalu berjalan menuju kasir. Setelah membayar, Lia kembali ke motornya yang terparkir. Masih ada V di sana.
"Kapan kamu masuk kerja di resto rescue?" tanya Lia mengenakan helm di kepalanya.
"Hari ini off."
Lia manggut-manggut sambil menaiki motor nya dan menstater.
"Lain kali aku mampir ke resto." ucap Lia menarik tuas gas motornya.
"Okey."
V masih melihat ke arah Lia yang mengendarai motor nya keluar dari area carwash. Hingga punggung gadis itu tak terlihat lagi.
"Jadi kamu juga kenal dengan Jeni ya?"gumam V
"Mereka satu kos yang sama, tidak heran sih." lanjut V bergumam lagi sambil melangkah kembali ke ruangan miliknya.
"Apa mereka juga satu kantor?"
V yang telah duduk di kursi depan sebuah meja yang sedikit berantakan itu mulai mengoperasikan komputer. Melakukan pencarian data pekerja Relay grup.
Walau bagaimanapun, V juga menjadi salah satu kandidat pewaris di Relay. Dan pernah sempat bekerja di sana selam satu tahun sebelum dirinya keluar dan merintis usaha Resto dan Carwash. Jadi mudah saja baginya untuk mencari data karyawan di Relay.
V menyenderkan punggungnya.
"Mereka seangkatan, dan seorang manager produksi?"
______
"Apa dia tidur?"
Suga menyentuh lembut perut Jeni yang terbaring di atas peraduan. Dengan wajah yang begitu dekat dengan perut Jeni yang sedikit membuncit itu.
"Kenapa?"
"Hari ini kamu sepertinya tidak banyak muntah, juga tidak rewel."
Suga memiringkan kepalanya menatap Jeni. "Apa dia menjadi tenang karena aku menjenguknya siang ini?"
"Tidak tau." jawab Jeni memalingkan wajahnya yang sudah memerah. Mengingat lagi penyatuan mereka tadi siang di kantor.
"Mungkin dia rewel karena ingin lebih sering di jengukin papanya." Suga asal mengambil kesimpulan yang menguntungkannya tentu.
"Suga! kamu lihat V nggak?" suara mamy Susy yang tiba-tiba muncul dari pintu kamar nya yang memang tidak di tutup rapat itu.
Seketika mulut mamy Susi terbuka, melihat suga yang tengkurap dengan wajah yang sangat dekat pada perut Jeni yang terbuka dan membuncit.
"Itu?" mamy Susi menunjuk perut Jeni.
Jeni yang tersadar bergegas menutupi perutnya yang terbuka karena Suga menyibak baju Jeni di atas perut. Suga pun tak kalah terkejutnya, ia bergegas bangkit dan turun dari ranjang.
__ADS_1
"Mami apa-apa an sih? Masuk bukannya ketuk pintu." protes Suga mendekat pada mamy Susy dengan dengan wajah kesal.
"Itu, kenapa perut Jeni terlihat menyembul?"
"Menyembul apaan?" Suga sok tidak mengerti sembari menoleh pada Jeni yang kini sudah terduduk.
"Kau! Jangan coba-coba membodohi mamy, Suga!"
Mami Susy berganti menatap Jeni. "Berapa bulan?"
"Mamy!" Suga sedikit meninggikan suaranya. Namun tatapan tajam mami Susy langsung membungkam mulut Suga.
.
.
.
Mamy Susi memijit pelipisnya sambil bersandar pada punggung kursi sofa.
"Jadi sudah tiga bulan ya?" gumamnya yang tiba-tiba merasa pusing.
Jeni dan Suga duduk di sofa sebrang mami Susi duduk.
"Bukankah mami juga mengharapkan seorang cucu?" ini Suga yang berbicara.
"Iya, benar sekali, mama memang mengharapkan seorang cucu."
"Lalu, apa yang membuat Mami pusing?"
"Suga, bagaimana jika besan tau."
"Cepat atau lambat dia juga akan tau."
"Kenapa itu bisa terjadi?" mami Susy menegakkan punggung dan kepalanya, memandang Suga dan Jeni bergantian.
"Kami rasa kami tak perlu menjelaskan semua pada mami."
"Suga!"
"Benar. Mami juga harus tau." ucap Jeni tiba-tiba ikut bicara.
"Kamu sebaiknya diam saja." tukas Suga.
"Tidak." tegas Jeni, "Mami, kami melakukan nya karena kecelakaan. Bukan karena di sengaja. Lalu kami di pertemukan lagi di Relay Grup. Dan berjalan seperti ini."
"Mami sebenarnya tidak keberatan Jeni. Tentu saja. Mami sangat bisa menerimanya, apalagi itu anak Suga. Hanya, mami tidak tau bagaimana reaksi papa mu nanti.
Kamu tau, hubungan papa mu dengan Suga baru saja membaik setelah beberapa kejadian yang telah berlalu. Jika Pak Roman tau kamu sudah hamil tiga bulan di saat pernikahan kalian belum seumur itu.
Menurutmu, apa yang mungkin akan Pak Roman lakukan?"
Wajah mami Susy terlihat sangat serius.
__ADS_1
Bersambung....