
"Di sana kita hanya makan malam atau nginap juga?"
"Menginap."
Jeni mengelus perutnya, "Bagaimana kalau mamy curiga dan tau?"
"Curiga apa? Tau apa?" Suga sudah terlihat sangat malas melirik kecil pada Jeni yang mulai merengek manja dengan wajah mengsedih.
"Perut ini sudah terlihat membuncit."
"Biarkan saja. Toh kita sudah menikah."
Jeni menghela nafasnya, "Aku malu, aku merasa seperti bukan wanita baik-baik. baru menikah sudah hamil tiga bulan."
'Kenapa wanita ini jadi banyak drama.' pikir Suga, 'Apa semua wanita hamil jadi begini sensitif dan menyebalkan?'
Suga memilih diam dari pada banyak bicara yang hanya memperburuk suasana hati istrinya. Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan pintu utama mansion.
Suga keluar lebih dulu setelah melirik kecil pada istrinya yang masih cemberut sambil mengelus perut nya. Lalu ia membukakan pintu disamping Jeni.
"Ayo keluar." ucap nya mengulurkan tangannya.
Jeni masih terlihat masam, menyambut tangan Suga dan menjejakkan kaki keluar dari mobil.
"Kenapa wajahmu masam begitu? Bagaimana jika mami Susy berpikir kita sedang bertengkar?"
Jeni menghembuskan nafasnya, entah kenapa ia jadi gampang melow sejak tau diri nya hamil. Suasana hati nya terus merasa buruk dan sedih. Hal yang biasanya Jeni cuek dan tak perduli jadi mudah terpengaruh dan tersinggung.
Suga menyentuh dagu Jeni, perlahan wajahnya mendekat dan memberi kecupan ringan pada istrinya.
"Apa sudah lebih baik?"
Jeni menggeleng,
"Mungkin sedikit lebih lama." gumam Suga melummat bibir mungil istrinya. Sesaat lamanya saling mengisi rongga mulut dengan lidah yang bergoyang.
"Kita lanjutkan setelah makan malam." gumam Suga lagi melepas pangutannya.
"Huweekkk....." tukas Jeni sok muntah, padahal ya tidak. Berjalan mendahului suaminya.
.
.
.
"Waahh, anak perempuan mami sudah datang." sambut mami Susy merentangkan tangannya memeluk Jeni.
"Siapa itu yang di belakang mu Jeni?" tanya Mami Susy melirik Suga sinis.
"Entahlah, mami nggak kenal?" sahut Jeni melepas pelukan dan menoleh menatap Suga yang membuang muka.
"Enggak, kenapa dia bisa sampai masuk kemari?"
__ADS_1
Jeni lalu tersenyum lebar."Itu anak mami."
"Benarkah? Tapi kenapa selama ini tak pernah pulang? Jika bukan karena mami yang panggil." pertanyaan sindiran dari Mami Susy dengan memasang mimik muka terkejut. Membuat Suga memutar mata nya malas.
"Dia sibuk bekerja. Mamy, tolong di maklumi."
"Baiklah, anak mamy yang satu lagi juga belum datang." ucap mami Susy, sedetik kemudian air muka nya berubah melihat V sudah berdiri di belakang Suga. Baru saja masuk dan menutup pintu. Wajah mami Susy langsung berubah sumringah.
"V!"
Mamy melangkah cepat melewati Suga dan memeluk anak bungsu nya.
"Mami pikir kamu nggak datang. Hampir saja mami mau mengutus orang untuk menjemput mu." Sambut mamy Susi yang di balas senyum kecil oleh V.
"Baiklah, karena semua sudah datang. Ayo kita makan malam." ajak mami Susy riang gembira.
###
"Apa kamu sudah hamil Jeni?"
"UHUK, UHUK, UHUK.."
Jeni dan Suga tersedak bersamaan. Mami Susy yang baru saja melontar pertanyaan menatap pasangan yang kompak itu.
"Kenapa dengan kalian? Apa kalian bahkan belum malam pertama?" pertanyaan itu mami Susi lontarkan lagi dengan wajah terkejut.
"UHUK... UHUK..."
"Jadi benar? Kalian belum malam pertama?" mamy susi makin tak percaya dengan pertanyaannya sendiri.
V hanya menyimak dan mengunyah makanan nya perlahan, dengan ekspresi yang entah.
"Haahhh...."
Mamy Susy menyentak nafas nya tak percaya.
"Apa yang aku harapkan? Seorang cucu? Ya Ampunn..."
Mamy Susi terus mendeessah sebal. Sementara Suga dan Jeni memilih diam dan melanjutkan makan malam nya.
###
"Kenapa kamu terlihat seperti orang susah Jen?" Suara Vicky cukup mengagetkan Jeni yang termenung menatap halaman belakang mansion utama di balkon.
"Vi." Jeni menyambut dengan senyum kecil.
Angin malam itu serasa dingin berhembus, rambut Jeni tersibak dan menari-nari ke belakang karena terpaan nya.
Jeni merapatkan lagi kardigan yang menyelimuti badannya. Dan mensedakepkan tangan di depan.
"Aku tak tau jika kamu dan Suga bersaudara."
V berdiri mensejajari Jeni, dan ikut memandang halaman belakang dari balkon.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak ngantor di Relay?"
"Aku nggak suka kerja kantoran."
Jeni tertawa kecil mendengar alasan dari V yang sedikit menggelikan baginya itu. Bagaimana bisa seorang salah satu penerus perusahaan besar seperti Relay Grup tidak suka pekerjaan kantoran. Dan lebih memilih bekerja di carwash.
"Mau sampai kapan kamu bermain-main seperti ini?" Tanya Jeni penasaran sekaligus merasa salut pada pria yang dia anggap seorang pekerja keras itu.
"Aku tidak bermain-main Jeni, Aku hanya sedang membangun bisnisku sendiri, yang sesuai dengan passion ku."
Jeni menoleh menatap V dari samping.
"Aku akan selalu mendukung mu." ucap Jeni menepuk lengan V."Fighting!"
V ikut menoleh memandang Jeni dari samping dan tersenyum sangat manis.
"Jangan tersenyum seperti itu. Nanti aku meleleh.."
"Kau sudah meleleh?" Vi tersenyum semakin lebar.
Jeni tergelak. Tawa nya sangat renyah di telinga V. Pria tampan itu hanya bisa memandang dengan mata penuh kasih tanpa Jeni sadari.
'Andai waktu bisa di putar, aku sangat berharap saat akad dulu, akulah yang mengucap ikrar janji. Sayang nya Suga datang terlalu cepat. Kenapa kita tak berjodoh Jeni?' batin V masih dengan tatapan sayang pada wanita yang kini masih tertawa di sampingnya.
"V, terima kasih."
"Untuk apa?"
"Mmmmm, banyak hal, tapi yang paling utama, karena kamu sudah mencoba untuk menyelamatkan ku dari rasa malu karena Suga tak kunjung datang." kata Jeni dengan pandangan mata yang menerawang jauh.
"Saat itu rasanya aku ingin mati saja. Bagaimana perasaan mama, papa, dan semua rasa malu yang akan kami tanggung. Terlebih...." Jeni mengambangkan ucapannya.
Ia memilih diam dari pada mengungkapkan saat itu ia sangat kacau karena tengah hamil. Sementara V terus menyimak tanpa memotong atau pun menyela.
"Pokok nya terima kasih."
"Dari tadi, aku perhatikan ucapanmu, semua hanya tentang rasa malu dan sejenisnya...
Apa,, hati mu tidak terluka karena cinta?"
V yang memang merasa Jeni dan Suga menikah bukan atas dasar cinta dan mungkin karena perjanjian konyol tentang citra kedua keluarga mengingat apa yang telah terjadi di depan umum saat tragedi cicak. Masih mengharap celah,
"Apa kamu tidak mencintainya?" lontar V dengan hati-hati namun penuh harap.
Jeni tak mampu berkata, ia memang merasa jika V sudah memiliki rasa dengan nya. Dan kini ia melihat pancaran itu lagi di mata V .
"V... aku...."
"EHEMM..."
suara deheman dari belakang terdengar Jeni dan V sama-sama menoleh ke arah sumber suara.
Bersambung...
__ADS_1