
"Jangan khawatir, aku akan mengatasinya dengan baik." ucap Suga menenangkan.
Memeluk tubuh Jeni di atas pembaringan kamar mereka.
.
.
Malam itu, Jeni tak bisa tidur. Ia sangat gelisah, Jeni melirik suaminya yang terlelap di sampingnya memeluk perut buncit Jeni seolah sedang melindungi.
Jeni mengangkat tangan Suga dan menyingkirkan dari perutnya. Jeni bergeser menuruni pembaringan, menoleh sebentar pada Suga yang masih terlelap. Lalu berjalan keluar kamar.
Jeni melangkah tak tentu arah di dalam mansion Utama. Langkah kaki Jeni terhenti di balkon yang menghadap ke halaman belakang. Melihat punggung V di ujung balkon. Ada rasa ragu di hati Jeni untuk mendekat.
Jeni tau, V memiliki perasaan padanya, walau laki-laki itu tak menyampaikan apapun. Tapi Jeni dapat melihat dari sikap dan pancaran matanya. Meski bimbang, Jeni akhirnya tetap mendekat juga.
V menoleh saat Jeni hampir sampai di sampingnya beberapa langkah.
"Kamu belum tidur?"
Jeni menggeleng."Aku tak bisa tidur. Kamu juga ?"
V mengulas senyum, "Aku baru pulang."
"Pulang? jam segini?" Jeni terlihat terkejut menarik lengan V dan melihat jam yang melingkar di tangan adik iparnya.
"Ini jam dua malam." dengan mulut membola.
V tertawa kecil menarik balik tangannya.
"Memang, tadi beres-beres dulu di resto."
"Resto?"
Wajah V sedikit berubah, sadar ia keceplosan. Jeni tak tau jika dia juga punya resto, yang Jeni tau, V hanya memiliki Carwash itu.
"Uummm... Yaahh...." V menggosok tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu juga punya resto?"
V hanya menjawab dengan senyum kecil.
"Bagus sih, kamu sangat di luar dugaan. Awalnya ku pikir kamu hanya pemuda yang pekerja keras. Bekerja di carwash dan ojol. Lalu, makin kesini aku tau ternyata kamu adik Suga. Dan makin kesini, aku makin kagum padamu."
__ADS_1
"Kagum? Bukan jatuh cinta?" V mengerling pada Jeni.
Wajah Jeni sedikit berubah, lalu tertawa kecil. keduanya sempat tertawa bersama sampai kecanggungan mendadak menyelimuti.
"Malam ini cukup dingin, kenapa malah jalan ke balkon?" tanya V mencoba mencairkan suasana.
"Aku tak bisa tidur, jadi jalan-jalan malah langkahku terhenti di sini. Melihat punggung seorang V." jelas Jeni melihat ke arah halaman belakang yang di terangi oleh lampu taman.
V terdiam sesaat, perasaannya untuk Jeni masih ada. Ia melirik wanita cantik yang berdiri disebelahnya menghadap ke halaman belakang. V teringat lagi dengan ucapan Suga dan Jeni yang tak sengaja ia dengar. Ada rasa berharap, namun cepat ia tepiskan.
V melirik pada perut Jeni yang menyembul. Walau dulu saat pertama mendengar bahwa dari mulut Jeni saat ia tak sengaja melintas di depan kamar kakaknya. Pernikahan berdasarkan pada kesempatan keduanya. Tapi, V masih ada hati untuk tidak merusaknya.
V pikir, mungkin memang sebaiknya melupakan Jeni. Mencoba mencari pelipur lara nya melalui seseorang yang lain, Lia misalnya. Karna tanpa V sadari, wanita cantik yang memiliki jiwa sosial sepertinya itu sudah membuatnya mendekat.
"Selamat ya."
Jeni menoleh pada V.
"Untuk?"
Vi melihat pada perut Jeni lalu mengulas tersenyum.
"Apa?" ada perasaan tak nyaman V melihat ke arah perutnya.'Apa dia tau aku hamil?' pikir Jeni.
"Bagaimana kau bisa tau....?" lirih Jeni dengan wajah yang semakin menunjukan ketidaknyamanan.
"Aku tak sengaja mendengar kalian bicara di kamar kemarin."
Jeni menutup mulutnya yang reflek membola.
"Jadi kamu dengar? Semua?"
V melempar senyumnya lalu mengangguk pelan. Melihat Jeni tampak sangat canggung dan terkejut.
"Tenang saja aku tak akan ikut campur. Ini sepenuhnya urusan kalian berdua. Tapi, aku sangat berharap kamu bahagia Jeni. Kak Suga tidak begitu buruk, hanya seorang Mysopobia. Tapi sepertinya tidak parah. Dia bahkan sampai memenuhi kamarnya dengan bunga yang semakin membuat berantakan."
V terkekeh geli dengan tindakan di luar dugaan sang kakak.
"Kau tau...." lirih Jeni yang tentu saja terkejut karena V adalah orang luar Relay, bagaimana dia bisa tau.
"Tentu saja, semua membicarakan masalah bunga satu truk untukmu."
Jeni tampak tersipu malu-malu. Dari lirikan matanya, V yakin, Jeni pun memiliki perasaan pada kakaknya walau mereka awalnya menggunakan perjanjian sebagai pengikat awal.
__ADS_1
"Kak Suga pasti sangat menyukai mu."
"Bagaimana kamu bisa yakin? kamu kan bukan dia."
"Aku sudah hidup dengannya selama bertahun-tahun, lebih lama dari mu. Aku cukup tau bagaimana sifatnya. Apa menurut mu tidak lucu? Seorang Mysopobia yang sangat gatal dengan ketidak simetrisan sebuah benda, tiba-tiba harus memesan satu truk bunga untuk menenangkan hati istrinya."
V terkekeh geli mengingat bagaimana Suga yang dulu pernah mempermasalahkan tata letak sebuah barang.
"Apa dia memang separah itu?"
"Kamu tidak tau?" Vi memasang tampang terkejut. Jeni menggeleng.
"saat aku mendengar kak Suga memasukkan tangannya ke dalam sana..." ucap V sambil melirik pada dada Jeni. Tentu saja Jeni merasa kikuk dan tak nyaman dengan pandangan itu."Karena seekor cicak..." sambung V dengan kekehan geli.
"Dia pasti sebenarnya jijik sekali." kekehan V berubah menjadi gelak tawa, yang memaksa Jeni ikut tertawa.
"Kau tau itu pelecehan...."
Tawa V terhenti seketika. Menyadari itu tindakan yang salah."Benar, kenapa aku malah menertawakan nya? Maaf."
Suara dehem dari belakang terdengar berat. Jeni dan V menoleh bersamaan. Suga berjalan mendekat.
"Aku mencarimu, tiba-tiba tak ada di ranjang dan di kamar. Ternyata malah terkekeh-kekeh di sini bersama adikku." suara Suga terdengar sangat dingin. Pandangan matanya terlihat sangat tak suka.
"Aku tak bisa tidur dan mencari angin. Di sini malah ketemu dengan V..... ummmpp..."
Suga sudah membungkam mulut Jeni dengan ciuman nya. Ia merasa kesal karena Jeni seolah tak mendengar kan larangannya untuk tak dekat pada pria lain. Termasuk adiknya.
Dengan tanpa melepas pangutannya. Suga mengangkat tubuh Jeni. membopongnya dan berjalan menjauh dari balkon. V tertawa kecil dengan tingkah Suga yang kentara sedang pamer dan cemburu padanya.
"Apa dia pikir aku akan mengambil istrinya? Kekanak-kanakan sekali." gumam V merasa geli melihat punggung Sang kakak yang semakin jauh menggendong istrinya.
"Hei! Lihat jalan, nanti nabrak." seru V meledek dengan kekehan geli.
V menghela nafas panjang, menatap langit pekat bertabur gemintang yang bertaburan.
"Kak, Jeni berbeda dengan Mega. Kamu tak perlu khawatir dia akan berpaling."
V menghela nafas lagi, sekelebat bayangan wajah Lia terlintas.
"Aku tak mungkin akan secepat ini jatuh cinta setelah patah hati kan?"
bersambung...
__ADS_1