Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 35


__ADS_3

"Apa suamimu itu tak waras, bagaimana bisa dia memperkerjakan Yovie?"


"Jangan tanya padaku, lagi pula aku tidak perduli." jawab Jeni acuh, atau mungkin lebih tepatnya berpura-pura acuh.


"Apa?" Liana melongo tak percaya."Jeni...."


"huuwweeekkk...."


perut Jeni terasa mual, dan berlari ke kamar mandi.


"Hei, apa yang terjadi? kamu nggak papa?" tanya Liana khawatir menyusul Jeni."Apa kamu masuk angin? atau lambung?"


"Aku baik-baik saja. jangan khawatir Lia." ucap Jeni lirih di sela-sela mual dan muntah nya.


"gimana kalau kita ke klinik saja?" tawar Lia memijit tengkuk Jeni.


"Tidak apa Li, aku baik-baik saja."


"Ya ampun, kamu makan apa sih?" Lia bergumam dengan cemas."Apa aku panggilkan saja suamimu?"


Jeni terdiam sesaat.


"Baiklah." lirihnya memberikan hp nya pada Lia.


Lia tampak sibuk mencari kontak Suga, namun sejeli apapun ia tak juga menemukan. "Jen, kamu beri nama apa dia di kontak mu?"


"Aa itu..." kata Jeni sedikit ragu, tepat saat itu, hp Jeni berdering.


"Hei Gigollo ku memanggil." seru Lia sedikit terkejut, tak ada foto PP penelpon hanya gambar pemandangan yang tampak. hingga ia tak tau Gigollo yang di maksud.


Jeni melirik dengan rasa tak enak dan bersalah.


"Tunggu, apa kamu beri nama kontak suami mu Gigollo?" Tanya Lia dengan mata melebar.


"Itu... menang dia..."


Lia menepuk jidatnya. Lalu menggeser tombol hijau.


"Halo?"


["Siapa ini? Kenapa suaranya beda?"]


"Aku Liana teman Jeni, dia sedang muntah di toilet."


["Muntah? Apa bayi nya baik-baik saja? apa bayinya minta macam-macam?"]


"Apa? Bayi?" netra Lia melebar sempurna mendengar kata bayi dari balik sepiker bersuara Suga itu. Langsung menatap Jenin dengan memburu.


"Bayi? Apa kamu hamil Jen?"


###


"Apa yang terjadi?"


Jeni tampak berbaring lemas di sofa ruangan nya, dengan tangan yang menutupi matanya.


"Entahlah," ketus Jeni lalu duduk dan menatap sengit pada Suga. "kenapa kamu harus menyebut bayi segala pada Lia, dia jadi tahu jika aku hamil."


"Memangnya kenapa? kita sudah menikah, wajar jika kamu hamil."

__ADS_1


"Tapi... kita baru saja menikah, belum ada satu bulan." ketus Jeni lagi dengan wajah yang hampir menangis.


"Haaahhh.... kenapa aku harus hamil segala. semua nya jadi kacau." racau Jeni menutup wajahnya.


"Jangan merengek. itu menyebalkan. Aku akan selalu sedia untuk bayi nya, apa sih yang kamu keluhkan?" helaan nafas berat Suga hembuskan. Merasa sangat jengkel dengan Jeni yang seolah terganggu dengan benih di rahimnya.


"Cepat katakan apa keluhan mu?"


Jeni hanya melirik kecil suaminya, dengan wajah cemberut.


"Apa kamu memperkerjakan Yovie?"


"Siapa Yovie?"


"Kamu tidak tau?" Jeni menghela nafasnya susah. Disenderkanya punggung di sofa. "Dia wanita yang mengambil mantan pacarku."


"Ooohh.... Jadi kamu menysal wanita itu sudah mengambil mantan pacarmu itu?"


"Tidak, tapi dia datang kemari. Entah apa yang dia rencanakan."


Kening Suga berkerut, "Tidak usah memikirkan yang tidak perlu. Kalau lelah istirahat saja. Tidak usah kerja, ingat ada bayi ku disana."


"Aku ingin istirahat, tapi tak ada tempat tidur di sini..." gumam Jeni melirik Suga dengan tampang memelas. Berharap mungkin saja Suga akan menempatkan sebuah kasur atau semacam nya di sudut ruang kerjanya.


"Istirahat di ruang kerjaku saja. Disana ada kamar khusus untuk aku istirahat."


Jeni tersentak, bukan itu maksudnya. "Apa kamu tak bisa menempatkan sebuah kasur di sini, seperti itu?"


"Disini kamu tak punya privasi. Lihat!" Suga menunjuk luar ruangan Jeni yang hanya bersekat kaca transparan. "Mereka akan tau jika kamu sedang tidur. Ngiler lagi."


Wajah Jeni menghangat karena malu. mereka memang pernah tidur bersama. Mungkin saja Jeni memang pernah ngiler.


Suga memutar matanya malas. Meladeni keinginan seorang wanita hamil bukan perkara mudah.


"Baiklah, akan kupikir kan nanti." ucap nya kemudian beranjak dari duduk nya. "Jika tidak ada yang lain lagi aku pergi."


"Okey, tidak usah yang besar, yang penting nyaman dan diletakkan di ujung sana." kata Jeni menunjuk sudut ruangan yang sedikit lebih tertutup.


Suga hanya melirik nya saja. Lalu keluar dari ruangan Jeni.


"Apa dia pikir aku benar-benar akan mengabulkan nya?"gumam Suga sembari melangkah."Aku tak mau jika ada yang melihat nya tidur di ruangan itu."


###


"Akhir-akhir ini sikap Jeni sangat aneh." gumam Suga di ruang kerjanya bersama Kenzo.


"Kenapa memangnya, tuan Suga?"


"Dia sedikit manja. Itu bukan sepeti dirinya yang sebelumnya. Sangat ketus dan tidak ramah." ucap Suga lagi mencoba membuka memorinya selama bertemu dan berinteraksi dengan Jeni.


"Mungkin karena pengaruh hormon. Biasanya wanita hamil memang seperti itu." jawab Kenzo mencoba memberi jawaban lugas.


Suga menggeleng...


"Dia tau jika aku memperkerjakan Yovie, apa mereka sudah bertemu?" tanya Suga memandang wajah asistennya itu.


"Maksud nya nona Jeni dan Yovie?"


"Heemm...." Suga menjentikkan jarinya. "Tunjukkan cctv padaku."

__ADS_1


.


.


.


Setelah Kenzo berhasil mengolah alih semua cctv di Relay grup. Akhirnya, ia membawa rekaman yang menunjukan pertemuan Jeni dan Yovie. Lalu memperlihatkan nya pada Suga.


Suga memperhatikan Vidio itu dengan seksama. Lalu senyum terkembang di wajahnya.


"Dia selalu bersikap seperti itu setelah bertemu dengan Yovie. Hmmmm... ini akan menarik, aku bisa memanfaatkan wanita itu." kekeh Suga memainkan dagunya dengan telunjuk.


"O iya Kenzo, panggil Yovie keruangan ku."


"Baik."


.


.


.


"Tuan Suga kenapa membuatku menunggu sangat lama." gumam Yovie di ruang tunggu HRD.


"Sial! ini sudah hampir seharian. Orang-orang ini juga sangat cuek padaku. Awas, aja akan aku tandai mereka. Begitu aku berhasil merayu tuan Suga. Akan ku pecat mereka." gumam Yovie dengan kesal.


"Nona Yovie?" seorang wanita memanggilnya dari pintu kaca yang di buka.


"Sekertaris Kenzo ingin menemui mu."


"Okey."


Diruangan meting yang tersendiri, Kenzo menunggu Yovie. Tak lama wanita berpakaian yang sedikit terbuka itu melangkahkan kaki nya memasuki ruangan itu.


"Nona Yovie...."


"Benar sekertaris Kenzo." ucap Yovie mendudukkan bokong nya di kursi depan Kenzo yang bersekat meja itu.


"Kami sudah membaca resume mu dan bermaksud menempatkan ku di salah satu bagian di perusahaan ini."


"Apa itu sekertaris sesuai dengan apli yang aku ajukan?" tanya Yovie dengan semangat.


"Sayang sekali tidak."


Yovie tampak menyenderkan punggungnya pada kursi, merasa cukup lemas.


"Posisi itu sudah terisi." sambung Kenzo lagi.


"Jadi?"


"Ada satu bagian yang kebetulan kosong. karena pergeseran karyawan yang berpotensi." ucap Kenzo mengeluarkan sebuah kertas dari map yang ada di depannya.


"Ini adalah posisi yang kosong. Nona Yovie bisa mempertimbangkan..." Kenzo mengulurkan kertas itu pada Yovie.


Dengan sedikit kesal, Yovie menerimanya. Membaca kertas itu dengan seksama. Kemudian, matanya membola, ia menatap Kenzo dengan mata bulat yang hampir keluar dari rongga nya....


bersambung...


waahh, kira-kira Yovie dikasih posisi apa ya?

__ADS_1


__ADS_2