Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
bab 22 • kembali kerumah •


__ADS_3

Langkah kaki jenjang menapaki jalanan aspal, berjalan melangkah membelah kumpulan orang-orang berbaju hitam itu. Mereka dengan teratur menyingkir memberi jalan. Wanita berpakaian serba hitam selutut itu, dengan topi lebar menatap Vi dan tersenyum kecil.


"Di sini kamu tinggal selama ini, nak?"


Vi membuang nafasnya, ia kini telah di temukan oleh mamanya, tidak, mungkin lebih tepat di sebut, di jemput oleh mamanya. Dengan paksa. Karena mau tak mau, Vi memang harus ikut dengan sang mama.


###


Malam itu, V memasuki sebuah mansion besar, dengan beberapa orang di belakangnya. Seolah menjaga agar dia tak kabur lagi.


"Kenapa mama sampai harus menjemputmu baru kamu kembali hah?"


Mama Susy yang berjalan dengan sangat anggun di depan V itu, berbalik menatap sang anak bandel yang telah keluyuran selama hampir lima tahun lamanya.


"Jawab mama. Lima tahun, kamu pergi nggak pulang-pulang..." Susy menatap tajam anak nya, walau ada rasa rindu pada bungsu nya itu, tetep saja Susy kesal anaknya sampai tak pulang hanya karena bertengkar dengan sang Kaka karena wanita.


"Aku lelah, aku mau tidur. Selamat malam." Ucap V pamit dan langsung melangkah pergi ke kamar yang berada dilantai atas.


"Vi! Mama belum selesai!" Pekik Mama Susy kesal dengan aanknya yang bahkan tidak perduli itu.


Di tangga, V melihat Suga. Saat itu, Suga baru akan menuruni tangga. Mereka sama-sama tertegun, lalu berusaha menetralkan suasana canggung itu.


"Akhirnya kamu pulang." Ungkap Suga pelan menatap adiknya.


V hanya acuh melanjutkan menaiki tangga menuju kamarnya. Melewati sang kakak yang masih mematung ditempatnya.


"Vi, ayo kita bicara."


Vi menoleh, pada Suga yang menatapnya dengan mata yang lembut dan ramah. Sangat berbeda dengan mata lima tahun yang lalu. Hingga V memutuskan untuk pergi.


Di balkon yang cukup luas, diantara tanaman hias yang tertata rapi dengan sebuah kolam kecil di sana. Yang mana, di sana V tengah duduk menatap hamparan lampu-lampu kendaraan dan lampu jalan di Bawah sana.


Suga berjalan dengan membawa dua botol minuman ditangannya. Ia lalu mengambil duduk di samping adiknya. Satu ia ururkan pada V.


"Bagaimana rasanya tinggal di luar?"


"Menyenangkan." Ucap V dengan senyum tipis lalu menenggak minumannya.


"Maaf..."


"Untuk apa, kak?" Walau sudah tau kemana arah pembicaraan mereka. Namun V tetap menanyakannya.

__ADS_1


"Yeaaahh, ini tentang Mega."


"Kita masih belum dewasa saat itu."


"Yeeaahh, jangan sampai mengulanginya lagi." Suga menyodorkan minumannya ke arah V, adiknya itu mengadukan botol yang di bawanya hingga menimbulkan bunyi dentang. Lalu keduanya menenggak minuman masing-masing.


###


Jeni berguling di atas ranjangnya. Ia tidur tak tenang. Mengambil hp dan menekan tombol power. Benda pipih itu menyala,tapi wajah Jeni sedikit kusut. Ia seperti menunggu kabar dari seorang. Beberapa kali hanya begitu. Mengecek hpnya, menanti kabar.


"Ada apa dengan ku? Kenapa aku malah seperti ini? Huuufff."


Jeni menatap langit kamarnya. Ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi lebih dulu saja.


(Vi, apa kamu sudah sampai rumah?")


Selang beberapa waktu, dan masih belum ada balas.


'apa sesuatu terjadi padanya?' batin Jeni sedikit khawatir. I lalu bangkit. 'bagai mana jika memang terjadi sesuatu?'


Jeni mengirimi beberapa pesan teks. Namun masih belum terbaca.


"Bagaimana sekarang? Tak ada satupun yang di baca. Tapi nomernya aktif." Gumam Jeni gelisah.


Jeni berguling-guling lagi. Menihat lagi layar hpnya.


"Telpon ajalah." Gumam Jeni yang terus gelisah.


Suara telpon tersambung, dan Jeni masih menunggu dengan harap cemas. Ia mengikuti kuku jempolnya.


("Halo?") Suara V di sebrang sana.


Jeni terdiam, lucu bukan, ia malah bimbang sekarang. Bingung sekaligus gugup.


'Duh, kok jadi deg-degan gini sih?' batin Jeni tak karuan.


("Jeni?")


("Masih hidup nggak?")


"Eh, i-iya."

__ADS_1


Suara tawa dari seberang sana terdengar. Yang entah mengapa membuat Jeni merasa malu.


"Eh, ya udah sih kalau kamu baik-baik aja. Aku tutup ya." Ucap Jeni dengan degupan jantung yang Tek beraturan. 'aneh, kenapa aku kek gini sih?'batinnya.


("Kok buru-buru sih? Baru juga di angkat.")


"Ya kan cuma mastiin aja kamu nggak papa. Dari tadi aku kirimin pesan teks nggak ada di baca, maksudku, yah, mana tau terjadi sesuatu di jalan. Di rampok ataw kecelakaan, atau di culik..."


Suara tawa terdengar lagi.


("Ya emang lagi di culik sekarang.")


"Hah? Yang bener? A-aku harus gimana? Ap aku panggilan polisi?"


Suara tawa lagi-lagi terdengar.


"Iihh, kok malah ketawa sih."


("Yang nyulik ibu ku.")


"Iihh, mana ada ibu nyulik anaknya sendiri."


("Ada. Ibu ku.")


Kini Jeni ikut tertawa.


"Jadi kamu sudah sampai di rumah?"


("Heemmm..")


Keduanya terdiam, tak ada suara selain semilir angin dari balik speaker ponsel Jeni. Ada rasa canggung yang tiba-tiba datang. Yang Jeni tak mengerti kenapa.


"Baiklah, kalau begitu, aku tutup telponnya."


("Okey.")


________


Mega yang telah mendarat, menatap kota dimana dia mengukir kenangan dengan Suga dan V. Duo pria tampan kakak beradik yang pernah singgah di hati dan kehidupannya.


"Suga, aku kembali. Aku pasti, akan mendapatkanmu lagi." Gumam Mega dengan penuh kepercayaan tinggi melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2