
1 hari jelang malam natal
Kamar utama Karla
"Bukankah aneh? kata nya Vinno menyukai kamu tapi tiba-tiba laki-laki tersebut menghindari kamu dan memutuskan untuk berhenti mengejar mu?"
Levina bertanya sambil mengerutkan keningnya, melirik kearah Karla untuk beberapa waktu.
"Demi apapun dia bilang ingin menembak mu kemarin,lalu Kenapa dia berubah pikiran? dia membuang semua persiapan nya dan berkata dia menyerah?"
Tanya gadis tersebut lagi kemudian.
Karla yang sibuk membuat pohon hias natal dikamar nya terlihat cuek saja, tidak terlalu menggubris ucapan Levita.
"Seolah-olah ada yang mengancam dirinya untuk tidak melanjutkan aksi nya"
Lagi Levita bicara.
Karla sama sekali tidak menghiraukan ucapan sahabat baiknya itu, dia memperhatikan beberapa hiasan di pohon natal nya, melihat apakah semua sudah terpasang dengan sempurna.
"Hmm aku pikir tinggal meletakkan lampu hias nya, aku harus membeli nya yang baru, karena lampu yang lama tidak berfungsi dengan baik"
Karla bicara dengan cepat, mencoba memundurkan tubuhnya sambil terus memperhatikan pohon natal miliknya.
"Karla...please...apa kamu tidak mendengar Ku?"
Levita memunyungkan bibirnya, cukup kesal Karla mengabaikan dirinya.
"Ckckkck jangan hiraukan soal Vinno, jika dia ingin melakukannya dia akan melakukan nya"
"Tapi ini aneh, dia berhenti sebelum mencoba"
"Itu artinya dia tidak sungguh-sungguh pada ku"
"Ini laki-laki ke 3 yang batal menembak dan mengencani mu, jika ini terus berlanjut kamu bisa perawan tua"
Karla seketika terkekeh.
"Ada Lucas yang berjanji akan mencarikan suami untuk ku"
Jawab gadis tersebut dengan entengnya.
"Gila"
"Tentu saja tidak, dia tahu bagaimana seleraku"
"11-12 seperti kak Lucas? kau bermimpi menunggu bulan terbelah dua ingin sosok yang sama seperti kakak mu"
setelah berkata begitu Levita langsung meraih gelas minuman nya, dia menyesap jus jeruk milik nya.
Gadis tersebut menatap Karla untuk beberapa waktu, dia cukup khawatir dengan keadaan, tapi dia pikir ini sangat aneh, Vinno benar-benar telah membuat perencanaan yang matang kemarin, menceritakan jika 85% semua telah dilakukan untuk membuat kejutan pada Karla dan berniat menembak gadis tersebut sebelum malam natal, tapi kenapa sekarang semua di batalkan secara tiba-tiba?!.
seolah-olah ada ancaman yang diberikan kepada laki-laki itu sehingga membuat Vinno membatalkan rencananya untuk menembak Karla.
dia pikir ini sangat tidak masuk akal, dia mencoba untuk menekan Vinno dan bertanya ada apa, tapi laki-laki itu sama sekali tidak ingin menjawabnya dan berkata dia sudah berubah pikiran, tertarik pada gadis lain saat ini.
hal tersebut jelas saja membuat Levita sedikit frustasi, kini gadis tersebut menghela kasar nafasnya.
******
Sebelum malam natal
Ketika semua sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing, Lucas dan Karla terlihat saling terkekeh bersama sambil menghiasi pohon natal di tengah rumah, sesekali mereka saling menjahili antara satu dengan yang lainnya, bahkan terkadang mereka saling berdebat dan adu pendapat.
__ADS_1
"Aku bilang ini seharusnya di sini kakak"
"Sayang mereka terlihat buruk disana"
"No... perhatikan ini tidak cocok diletakkan di sana"
"Oh god lihat mereka selalu seperti itu"
Mommy Lucas bicara sambil menggelengkan kepalanya, dia melirik kearah mommy Karla yang sibuk mempersiapkan makan malam di meja makan.
"Frans bantu paman untuk mengangkat beberapa barang kedalam"
Daddy Karla bicara cepat"
"Okey, wait"
Yang dipanggil Frans langsung bergerak cepat mendekati laki-laki paruh baya tersebut.
"Kak bantu letakkan ini"
Karla bicara pada Lucas, meminta laki-laki tersebut meletakkan sebuah hiasan di bagian paling atas pohon natal.
"Aku akan mengangkat tubuh mu"
"Kakak saja yang letakkan"
Alih-alih menjawab, tiba-tiba Lucas menggendong tubuh Karla dan membiarkan gadis tersebut meletakkan nya sendiri, Karla terpekik kecil karena terkejut.
"Akhhh kakak jangan mengejutkan ku"
"Baby cepat letakkan, kamu ternyata semakin berat"
Oceh Lucas kemudian.
Mommy Karla terkekeh, melirik kearah dua orang tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
"Saudara memang seperti itu sayang,kita dulu juga begitu"
Nyonya Bianca bicara cepat.
"Comeeee makan malam sudah siap, berkumpul dan nikmati makan malam kita"
Teriak nyonya Wilona cepat.
mendengar panggilan untuk makan, semua orang jelas bergerak dengan cepat, berhamburan untuk duduk di kursi masing-masing guna menyantap makan malam bersama.
Lucas dan Karla memilih datang paling akhir, biasa duduk bersebelahan antara satu dengan yang lainnya.
Laki-laki tersebut menggeser kursi Karla, membiarkan gadis tersebut duduk lebih dulu.
"Kamu selalu memperlakukan dia seperti tuan putri"
Frans Bicara sambil menggelengkan kepalanya, dia meraih piring makan lantas mulai mengambil barisan nasi.
"Demi apapun mereka seperti pasangan suami dan istri, sebentar bertengkar, sebentar akur, tapi terlalu banyak manja-manjaan dan kak Lucas terlalu memanjakan Karla, itu membuat ku iri"
Anka protes sambil menggelengkan kepalanya.
Semua orang terlihat terkekeh mendengar ocehan Anka,dua putra Paman Lucas.
"Dia tidak memperlakukan aku dengan sama seperti memperlakukan Karla"
"itu karena kamu selalu mengajak ku bertengkar"
__ADS_1
Lucas menjawab cepat.
"Aishhhh padahal yang sering mengajak bertengkar itu kakak"
protesnya dengan cepat.
seketika seisi ruangan tertawa karena mendengar apa yang diucapkan oleh Anka.
"tapi aku serius jangan terlalu memanjakan karla, dia benar-benar manja dan terus bergantung pada dirimu, aku takut tidak ada laki-laki yang akan jatuh cinta padanya, siapa yang akan menikahi perempuan manja yang apa-apa selalu meminta bantuan orang lain bahkan terus berada disekitar mu, aku takut juga Perempuan tidak berani mendekati mu karena Karla"
Frans kembali protes, dia pikiran adik perempuannya itu memang begitu manja dan segala sesuatunya selalu dituruti oleh Lucas, kedekatan mereka termasuk sedikit tidak wajar baginya.
"Kakak..."
Karla memunyungkan bibirnya.
"Aku serius sayang, bayangkan siapa yang akan menikahi mu? kamu bisa gadis tua jika terus bersikap seperti itu dan siapa yang akan tertarik berkencan dengan Lucas jika kamu terus berada di sekitar nya?"
"Kalau begitu Kak Lucas bisa menikahi ku jika tidak ada yang mau menikahi ku nanti dan para gadis tidak mau mendekati nya"
Karla bicara sambil menjulurkan lidahnya.
"Tanya pada nya apa dia mau menikahi gadis manja seperti kamu?"
"Tentu saja mau, kalau aku bilang menikah yah menikah, iya bukan kak?"
"He em, aku sedang merencanakan nya"
Lucas menjawab dengan enteng nya.
"Tuh kannn"
"Jangan sembarangan bicara, berhenti main-main dan itu terdengar mengerikan, jangan bicara pernikahan antar sepupu, itu akan merusak bagian peraturan Keluarga"
Oceh nyonya Bianca kemudian.
"Itu hanya istilah bibi, jangan dianggap serius, aku ini cantik mana mungkin laki-laki tidak jatuh cinta pada ku?"
Karla terkekeh, dia melirik kearah Lucas, mengedipkan sebelah bola matanya sambil mengerutkan hidung nya.
Lucas terlihat diam, dia mengeratkan rahang sambil menggenggam erat sendok dan garpu ditangan nya.
"Kalau benar tidak ada yang menikahi Karla, aku yang akan menikahi nya"
Lucas bicara lantas menyuapi makanannya dengan ekspresi wajah yang sulit di jelaskan.
"Ya?"
Semua orang terlihat terkejut.
"Aku hanya bercanda"
ucap Lucas sambil mengembangkan senyuman nya.
"Ekspresi wajah mu membuat orang jadi tegang"
Oceh mommy Lucas kemudian.
Frans melirik kearah Lucas untuk beberapa waktu, laki-laki tersebut terlihat diam kemudian melirik kearah handphone nya.
sebuah pesan masuk disana.
Bukankah ini aneh? dia bilang dia batal untuk menembak adik sepupu mu malam ini.
__ADS_1