
Bianca cukup terkejut dengan respon suaminya, dia mencoba untuk meraih tangan laki-laki tersebut dengan cepat, perempuan itu menggelengkan kepalanya sembari menarik Alexander agar duduk di atas ranjang mereka.
"seharusnya aku menyadari ada sesuatu yang aneh di masa itu"
laki-laki itu bicara dengan penuh penyesalan, tahu kenapa tapi rasanya dia merasa bodoh karena lepas kontrol atas putra mereka, kala itu bagaimana pertengkaran antara Karla dan Lucas yang bahkan tidak diketahui kenapa kedua orang itu sama sekali tidak ingin bicara antara satu dengan yang lainnya.
namun setelah kepergian Lucas hanya dalam hitungan jam karena tiba-tiba berkata ingin pergi ke Paris dan mengikuti Lucas serta melanjutkan kuliahnya di sana.
dia pikir itu adalah hal yang wajar dan normal mengingat kedua orang tersebut sering bertengkar lalu akur lagi, tidak pernah terbesir sedikitpun di dalam hatinya jika kedua orang tersebut akan memilih untuk menikah dan menjalin hubungan yang ada di luar kapasitas pemikirannya.
"Ini benar-benar tidak pernah terpikirkan olehku"
laki-laki itu mengeram masih dengan perasaan kesal, Bianca buru-buru mengambil kotak P3K, bisa dilihat tangan kami suaminya pada bagian punggung tangan tanpa luka dan berdarah karena penjual dahsyat yang dilakukan oleh suaminya pada dinding kamar mereka.
"kamu melukai dirimu sendiri Alexander"
__ADS_1
Alih-alih dia mendengarkan ucapan suaminya, perempuan itu tampak kesal dan protes pada Alexander atas apa yang dilakukan suaminya barusan.
"kamu selalu seperti itu ketika marah pasti melukai dirimu sendiri"
seharusnya dia ingat suaminya selalu melakukan hal seperti itu jika laki-laki tersebut marah atau merasa kesal pada sesuatu, dia lupa mengantisipasi atau sifat buruk suaminya.
"aku hanya tidak tahu harus melampiaskan kemarahanku ke mana"
laki-laki itu berucap dengan cepat membalas ucapan istrinya.
"aku tahu tapi aku benci ketika kamu melukai dirimu sendiri"
Keheningan terjadi di antara mereka, seolah-olah pikiran kedua suami istri tersebut berkelana entah ke mana, Alexander sendiri berpikir sana anak-anak besar rupanya terkadang beban orang tua semakin besar bukan semakin ringan, akan ada berbagai macam resiko dalam menghadapi anak-anak bahkan dia tidak menyangka hal seperti ini pun bisa terjadi dan lepas dari kontrol pengawasannya.
"apa yang harus kita lakukan selanjutnya untuk Karla dan Lucas?"
__ADS_1
pada akhirnya laki-laki tersebut bertanya sembari menelisik wajah istrinya.
"biarkan mereka bercerai dan jangan sampai keluarga lainnya tahu soal hubungan mereka"
perempuan itu menjawab dengan cepat tanpa melihat kearah suaminya, fokus untuk mengobati punggung tangan Alexander membawa luka tersebut dengan obat ditambah kain kasa.
Alexander tampak tidak menjawab, kegelisahan menghantam dirinya, setelah mendengar berita ke pernikahan kini dia harus mendengar berita perceraian.
"kau tahu mereka tidak mungkin bersama"
pada akhirnya Bianca bicara dengan perlahan, setelah menyelesaikan sesi mengobati tangan suaminya dia langsung mendengarkan kepalanya dan menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
"kamu paling tahu siapa Karla yang sesungguhnya"
lanjut perempuan itu lagi kemudian sembari terus menelisik bola mata suaminya.
__ADS_1
Seketika keheningan terjadi di antara mereka, tidak ada yang mampu mengeluarkan kata-kata sembari pemikiran mereka belalang buana entah ke mana.
ucapan istrinya jelas benar Karla dan Lucas tidak mungkin bersama, akan ada banyak pertimbangan dan juga resiko besar yang akan mereka dapatkan jika kedua orang tersebut hidup bersama.