
"Tidak ingin mengantar Lucas malam ini?"
saat Karla sibuk menonton televisi di ruang tengah, kakak laki-lakinya bertanya sembari menaikkan ujung alisnya, laki-laki itu melirik ke arah Karla sembari dia meraih cemilan yang ada di atas meja.
Setoples chitato chips menjadi santapan favoritnya sejak dulu, laki-laki tersebut langsung duduk di atas kursi sofa yang memanjang tepat di hadapan televisi berukuran besar di hadapan mereka berdua.
Karla sendiri sejak tadi hanya berbaring di salah satu kursi sofa di bagian sebelah kanan tanpa banyak bicara sembari bola matanya terus menatap ke arah televisi di hadapannya.
Frans mulai mengunyah chitato miliknya, sembari bola matanya kini ikut fokus ke siaran televisi yang ada di hadapannya, tapi tiba-tiba laki-laki tersebut mengerutkan keningnya dia pikir apa yang tengah ditonton adiknya itu saat ini.
"sejak kapan kamu tertarik menonton berita? biasanya kamu akan mencari drama percintaan atau bahkan opa oppa koreamu yang sangat menjijikan itu, kenapa sekarang seleramu berubah menjadi seperti orang dewasa yang menyukai berita-berita berat?"
laki-laki tersebut bertanya sambil mengurutkan keningnya, dia berusaha menyambar remote yang ada di atas meja kemudian mulai mengganti channel televisi nya.
Karla seketika terkejut saat mendengar ucapan dari kakak laki-laki yang tersebut, dia menulis sejenak kemudian dia memalingkan wajahnya.
"come Karla kau tidak ingin mengantar Lucas? ini membuatku sangat gelisah baby, aku berpikir seharusnya kau pergi kuliah ke Paris dan jangan mengacaukan kehidupan kami di sini, aku takut saat kau kuliah di Indonesia pada akhirnya kita akan terus bertengkar, sebaiknya kau ikut dengan Lucas dan menyelesaikan kuliahmu di sana seperti apa yang daddy minta dulu"
laki-laki bermulut pedas tersebut bicara dengan cepat pada adiknya, meskipun mereka berdua saudara kandung tapi lucu nya Frans tidak begitu suka berdekatan dengan Karla karena adiknya baginya terlalu cengeng dan juga selalu meminta perhatian dari kedua orang tuanya terutama mommy mereka.
baginya berjauhan dengan Karla seperti sebuah kehidupan yang sangat menyenangkan, tapi dia tidak bilang dia tidak menyayanginya adiknya tersebut, dia jelas sangat menyayangi Karla bahkan jika ada yang berani macam-macam pada perempuan tersebut dia orang pertama yang akan menjadi pelindungnya dan mengajar siapapun yang membuat masalah pada perempuan tersebut.
hanya saja dia tidak suka jika mereka berada pada satu frame yang sama karena pada akhirnya orang tua mereka akan saling tarik-menarik antara satu dengan yang lainnya untuk memberikan perhatian kepada mereka berdua.
__ADS_1
dia lebih suka perempuan tersebut berada jauh dengan dirinya.
mendengar protesan dan juga ocehan dari kakak laki-lakinya seketika membuat perempuan itu memungyungkan bibirnya.
"kakak benar-benar ingin mengusir ku saat ini?'
perempuan itu protes dengan cepat.
"sebenarnya mungkin aku mengusirmu tapi aku juga ingin kamu belajar mandiri dan belajarlah untuk memahami bagaimana cara mengatur perusahaan, karena cepat atau lambat kamu akan masuk ke dalam perusahaan seperti kakak"
ucap Frans kemudian.
"kembali ke Paris dan mengambil jurusan kuliah di sana soal perusahaan jelas akan menguntungkanmu, semua teman-temanmu bahkan nyari sudah tidak ada lagi di Indonesia, bahkan aku pikir mengikuti Lucas jelas menjadi pilihan yang terbaik untuk kamu saat ini"
Karla sama sekali tidak menjawab atau menyahut apa yang diucapkan oleh kakak laki-laki yang tersebut, perempuan itu tampak diam dan tidak berani mengeluarkan suaranya.
Keheningan terjadi di antara mereka, Yang ada hanyalah suara televisi yang memenuhi ruangan tersebut dan juga suara kunyahan halus dari chitato yang ada di dalam genggamannya.
Karla berkelana pada pemikirannya sendiri sembari dia terus menatap ke arah layar handphonenya.
"pergilah ke Paris dan coba selamatkan Lucas dari perjodohan yang akan dia lakukan oleh paman bersama orang tua Luna"
tiba-tiba saja kakak laki-lakinya bicara membaca keheningan, hal tersebut jelas membuat Karla cukup terkejut.
__ADS_1
Perempuan tersebut seketika langsung memelihara kakak laki-lakinya.
"kau pikir bisa membohongiku?"
Kali ini Frans bicara sembari menatap dalam bola mata adiknya tersebut.
"kau mencintainya bukan selama ini? bola matamu tidak bisa menipuku sejak kecil dulu"
Lanjut laki-laki tersebut lagi.
"aku tidak tahu apa yang terjadi di Jepang dengan kalian tapi aku pikir pasti ada satu kejadian yang membuat kamu begitu marah padanya, tapi realitanya meskipun kamu marah kamu juga bahagia karena setidaknya kamu tahu perasaanmu selama ini pada Lucas tidak bertepuk sebelah tangan"
saat mendengar ucapan dari kakak laki-laki tersebut seketika membuat bibir Karla bergetar.
"Kakak bicara apa?"
"Berhentilah membohongi ku Karla, kau sebenarnya tidak bisa membedakan apakah kamu mencintai Lucas sebagai perasaan adik kepada kakaknya atau kau mencintai Lucas sebagai perempuan kepada seorang laki-laki, mungkin kamu bisa menipu perasaanmu pada seluruh orang di keluarga kita dan Lucas tapi kamu sama sekali tidak bisa menipu perasaanmu dari pandangan ku"
setelah berkata seperti itu laki-laki itu langsung membuang pandangannya, dia kembali mengunyah Citata yang ada di hadapannya lantas membiarkan bola matanya fokus ke arah televisi yang ada di depan sana.
"20 menit lagi pesawatnya akan berangkat, jangan menyesali keputusanmu, kesempatan tidak pernah datang dua kali"
laki-laki itu bicara namun sama sekali tidak melihat ke arah adik perempuannya.
__ADS_1