
Airin jelas membulatkan bola matanya, menatap ruangan kaca yang ada di hadapannya saat ini, dia laki-laki bertubuh besar dan kekar tersebut memaksanya dengan sangat kasar agar dia masuk ke dalam ruangan kaca yang ada di hadapannya tersebut.
"Breng..sek lepaskan"
Airin jelas saja berteriak panik sembari dia mencoba untuk memberontak, dia pikir ruangan apa yang ada di hadapannya saat ini?!.
Seketika ketakutan menghantam dirinya sebab dia pikir ruangan kaca tersebut terlihat mengeluarkan salju dan juga kepulauan asap di dalamnya dan Airin pikir itu seperti ruangan pembekuan.
otak nya bekerja dengan sangat cepat, dia tahu apa arti dari ruangan pembekuan, seketika gadis tersebut berusaha untuk terus memberontak dan berusaha untuk melepaskan dirinya.
'Lepaskan, dimana laki-laki tua sialan itu? oh ya ampun berani-berani nya dia ingin membuat ku jadi Elsa dan Anna? ratu Frozen di dunia dongeng? apa dia tahu? dia ingin membuat ku jadi putri tidur dadakan"
gadis itu mulai mengoceh dan berusaha untuk menggigit tangan kedua laki-laki yang ada di sisi di kiri dan kanannya, namun sayangnya tindakannya gagal untuk melakukan hal tersebut kepada dua laki-laki di sisi kiri dan kanannya itu.
sekuat apapun dia memberontak dan tidak mau masuk ke dalam ruangan kaca tersebut sekuat itu juga kedua orang itu memaksa dirinya untuk masuk saat itu juga, hingga pada akhirnya perjuangannya sungguh menjadi sia-sia dan dia berhasil dimasukkan ke dalam ruangan kaca pendingin tersebut.
seketika gadis itu merinding, dia pikir laki-laki malaikat yang dia temui benar-benar telah menjadi gila, tidak tahu apa salahnya dan apa sebenarnya yang terjadi tanpa tahu pokok permasalahan utama kenapa laki-laki itu menangkapnya, dirinya malah diperlakukan dengan tidak adil dan dimasukkan ke dalam ruangan kaca dingin.
Plasshhhh.
Srrtttttttttt.
Klatakkkkk.
"Hahhh?"
__ADS_1
seketika pintu kaca tersebut tertutup dengan otomatis membuang Airin langsung membulatkan bola matanya, gadis tersebut jelas saja terkejut Dan panik.
Dugggggg.
Dugggggg.
Dugggggg.
Airin seketika langsung menggedor pintu kaca yang ditutup secara otomatis, dia menatap punggung kedua laki-laki tersebut yang gini bergerak menjauhi dirinya.
"Yakkkk breng sek.... lepaskan aku sialan"
gadis tersebut terus berteriak sembari menggedor-gedor pintu kaca yang dia tidak tahu berapa ketebalannya, karena sangat sulit sekali untuk mendapatkan bisa dipastikan kaca itu sungguh-sungguh sangat tebal sekali.
bisa diarasakan tubuhnya mulai kedinginan, aroma Kuat es menusuk hidungnya, Airin yang tidak menggunakan alas kakinya seketika merasa dari ujung kaki dan mulai menjalar secara perlahan melewati pori-pori kaki dan juga setiap aliran darahnya dengan bertahap.
seketika Airin berpikir apa mungkin hari ini akan menjadi hari kematiannya, dia berusaha menggedor memukul dan menerjang ruangan kaca itu sejak tadi dan berharap dia bisa kabur dari tempat ini.
dia pikir apa yang menjadi mimpinya dalam beberapa hari terakhir hingga dia harus berada di tempat ini dan merasakan hal yang tidak pernah dirasakan dalam seumur hidupnya juga bertemu dengan laki-laki sialan yang benar-benar membuatnya kesal.
bahkan dia tidak tahu apa penghubungan antara dirinya dan laki-laki tersebut dimana dia tidak mengenalnya, apalagi Airin pikir dia jelas tidak memiliki kesalahan apapun terhadap laki-laki itu, yang dia tahu tiba-tiba saja dia dibawa di sini yang bahkan dia pun sebenarnya tidak tahu ada di mana apakah dia ada di salah satu wilayah di Indonesia atau bahkan ia telah dibawa ke tempat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
gadis tersebut masih berusaha untuk menyelamatkan dirinya di balik rasa di mana dia mulai berpikir rasa dingin menyeruak sedikit demi sedikit di dalam pori-pori kulitnya dan di setiap anggota tubuhnya.
seketika akhirnya merasa tubuhnya mulai menggigil dengan sempurna, gadis tersebut mencoba untuk mendongakkan kepalanya secara perlahan dan dia pikir pasti ada kamera yang terdapat pada ruang tersebut.
__ADS_1
seperti yang dia duga dia menemukan kamera yang tertuju kepada dirinya di atas sana di bagian sisi kanannya, Airin seketika mendongakkan kepalanya kemudian menatap kamera tersebut dengan tatapan yang begitu tajam.
"Yakkkk brengsek...apa kau tahu? aku akan menikah dalam waktu dekat, apa kau punya dendam pribadi padaku? aku pikir aku sama sekali tidak mengenalmu dan aku bisa menebak kau pasti salah mengenali orang"
gadis itu mulai bicara sambil berteriak dan kesal menetap ke arah kamera CCTV yang ada di atas sana.
"aku bahkan tidak pernah menyakiti siapapun di dunia ini apalagi menyakiti dirimu jangankan menyakiti manusia semut saja aku tak mampu menginjaknya sialan, jadi lepaskan aku karena kau tahu aku akan menikah dan Mari lupakan semuanya aku tidak akan melaporkanmu pada polisi"
dia terus berteriak sembari menatap ke arah kamera CCTV dan di ujung sana di ruangan berbeda Sanders Efron menatap gadis tersebut sembari dia duduk di atas sebuah kursi sofa mendominasi berwarna merah dengan gaya yang begitu santai dan juga angkuh.
Menikah?!.
laki-laki itu seketika menaikkan ujung alisnya, membiarkan bola matanya terus menatap gadis yang ada di ruangan Lotus tersebut.
dia tahu tubuh gadis tersebut mulai menggigil, dia dapat menghitung waktu, tidak lama lagi tunggu gadis tersebut akan keram dan permainan mengerikan akan dimulai.
dia akan lihat apakah gadis itu akan sanggup berteriak dan keras kepala seperti itu, dia tidak menginginkan banyak hal, iya juga di situ minta maaf kepadanya dari dalam ruangan Lotus dan tidak akan pernah mengulangi perbuatan nya lagi.
laki-laki tersebut terus menetap tajam ke arah layar yang ada di hadapannya dengan penuh kepuasan, menunggu permainan dimulai di mana bisa dia lihat gadis itu akan mulai masuk pada fase kritisnya.
seulas senyuman mengerikan bagaikan seorang malaikat pencabut nyawa tampil dari Balik wajah tampannya, laki-laki itu membiarkan tangan kanannya terus menggesek-gesek bibir bagian bawahnya senantiasa terus menikmati wajah yang kini mulai berubah secara perlahan di seberang sana.
Gwen jelas panik setengah mati dan berusaha untuk menyadarkan Sanders Efron.
"Kau pasti sudah gila"
__ADS_1
gadis itu berucap ke arah Sanders Efron, mencoba untuk mengingatkan laki-laki itu jika Airin benar-benar akan mati atas perbuatannya.
"kau akan membunuh nya, tidak kah kau lihat Sanders Efron? tubuhnya mulai menggigil dan dia jelas tidak baik-baik saja, sialan"