GAIRAH DAN HASRAT TERLARANG

GAIRAH DAN HASRAT TERLARANG
Cinta tak harus selalu memiliki


__ADS_3

Keesokan harinya


Mansion utama Bianca.


Wanita tersebut terlihat bergerak dengan tergesa-gesa, mencoba memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas nya, dia pikir dia mana mungkin menundanya lagi untuk mendapatkan Airin, putri nya jelas tidak dalam keadaan baik-baik saja.


melakukan negosiasi dengan Sanders Efron bukanlah hal yang mudah karena laki-laki itu berkata tidak ada Karla maka Airin tidak akan kembali padanya.


bicara dengan adiknya pun percuma, Wilona bahkan tidak ingin mengembalikan Karla kepada Efron, dia tidak menyalahkan Wilona, mungkin itu adalah respon normal seorang ibu untuk anak-anak mereka, meskipun bukan anak kandung Wilona namun kebersamaan yang terjadi selama ini jelas tidak bisa dihilangkan sama sekali, Wilona mana mungkin mau menyerahkan Karla pada Efron mengingat ada banyak sekali ketakutan yang terjadi jika Karla kembali ke sana.


Seketika kepala Bianca terasa berdenyut-denyut, dan percaya lah bukan hanya hari ini tapi terjadi terus menerus tidak menentu sejak beberapa hari ini.


Bianca menghela nafasnya pelan, dia mencoba mendongakkan kepalanya secara perlahan, menahan air matanya yang mungkin akan jatuh saat ini.


semakin lama dia menunda untuk mendapatkan Airin maka semua akan semakin rumit dan nyawa Airin pasti tidak baik-baik saja.


kelemahannya di dalam keluarganya adalah, Alexander sama sekali tidak tahu siapa dirinya, tidak tahu identitas aslinya, dan laki-laki itu yang menjadi suaminya tidak pernah tahu apa pekerjaannya di masa lalu.


dia tidak mungkin mengatakan pada Alexander jika dia pergi untuk menyimpan air di sini dan akan pergi bertarung dengan para mafia.


"Kamu ingin pergi kemana?"


dia ingat bagaimana laki-laki itu bertanya sembari mengerutkan keningnya kemarin, menontonnya sedikit khawatir karena Bianka terus berkata dia harus pergi ke luar negeri untuk sedikit urusan.


"ada hal yang harus aku urus di sana dan aku pikir akan menyusul Airin"


Dia menjawab dengan cepat dan mencoba untuk menetralisir perasaannya.


"Ini aneh, apa Airin Langsung ke Swiss? tanpa berpamitan pada kita? obrolan di tempat mommy memang serius, tapi bukan berarti gadis itu harus pergi tanpa berpamitan kan?"


Suami nya terlihat gelisah dan kesal dengan keadaan, dia pikir bagaimana bisa putri nya kabur ke Swiss tanpa berpamitan meskipun sudah di izinkan.


"Jangan khawatir soal apapun sayang, aku akan menemui Airin dan menyelesaikan semuanya"


Bianca berusaha untuk menyakinkan Suaminya.


Wanita Tersebut menghela kembali nafasnya, hadiah langsung dengan cinta yang ada di hadapannya sembari mencoba menahan perasaan yang bergemuruh di dalam dadanya.


Bianca baru akan berbalik dan berniat untuk pergi dari sana namun satu sosok mengejutkan dirinya.


"Kamu benar-benar akan pergi?"

__ADS_1


suara sang pemilik sosok yang ada dan berdiri di hadapannya tersebut bertanya ke arah dirinya sembari menatap dalam bola matanya.


"kamu pikir setelah masuk ke sana dan mendapatkan Airin kamu akan berhasil untuk keluar tanpa membawa Karla?"


lagi barisan pertanyaan tersebut terlontar dari sosok itu sembari dia menunggu ekspresi Bianca juga jawaban dari wanita di hadapannya itu.


Bianca seketika menelan salivanya saat pertanyaan itu dilesatkan untuk dirinya.


"Aku tidak tahu"


jawabnya pelan dengan jutaan kekhawatiran.


"aku akan membantu untuk menyelesaikan semuanya, tapi seperti biasa bukan kah kamu tahu? saat kita berusaha menyelesaikan sesuatu, pada akhirnya akan ada satu orang yang dikorbankan di antara semua orang"


Sosok tersebut bicara sambil bergerak mendekati Bianca.


"aku sudah tidak sanggup lagi bermain dengan cara yang lama, aku telah hidup dan kembali dengan cara yang normal, tidak berpikir untuk bermain perang-perangan atau bahkan menyakiti semua orang"


Bianca bicara dengan cepat, bola matanya masih menatap sosok yang ada di hadapannya itu untuk beberapa waktu.


"aku benci pertumpahan darah, karena itu sejak awal kita telah membuat kesepakatan dimana kamu hanya tahu tentang aku dan aku tahu tentang kamu tanpa memberitahukannya pada orang lain"


lanjut wanita itu lagi kemudian.


"tidak ada pertumpahan darah di antara kita semua, aku sudah bicara pada Karla, mari menyusun sebuah rencana bersama"


udah selesai tersebut kemudian dengan cepat, membuat Bianca seketika membulatkan bola matanya ketika dia mendengar sosok itu berkata soal Karla.


"Kau?"


Dia jelas tercekat.


******


Disisi lain.


Mansion utama Lucas.


Lucas menatap wajah perempuan dihadapan nya tersebut untuk beberapa waktu, banyangkan setelah kejadian di rumah Alexander sudah berapa hari dia tidak melihat wajah istrinya tersebut?!.


Ada jutaan kerinduan yang terjadi di dalam dirinya hingga tanpa berpikir dua tiga kali dia berlarian mendekati Karla yang berdiri di hadapannya dan langsung memeluknya tanpa berpikir dua tiga kali pula.

__ADS_1


"kau kemana saja?"


berpisah dari perempuan itu rasanya hampir membuat dia mati, iya bener-bener tidak bisa berpisah dari Karla dalam keadaan bagaimanapun juga, seakan-akan dunia akan runtuh dan kematian semakin lama semakin mendekati dirinya jika mereka berpisah.


"aku mencarimu kemana-mana bahkan aku bertanya pada mommy Wilona di mana kamu, tapi seluruh keluarga seolah-olah tidak ingin mengatakan keberadaanmu hingga akhirnya baru hari ini mommy Wilona mau bicara di mana keberadaanmu"


laki-laki itu bicara panjang lebar kearah istrinya sembari terus memeluk erat tubuh Karla.


"Maafkan aku"


Karla bicara pelan, membiarkan Lucas memeluk dirinya dengan erat, dia tahu laki-laki itu begitu merindukannya, dan dia tahu dibandingkan cintanya cinta Lucas kepada dirinya jelas jauh lebih besar.


"aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri, Lucas"


ucap perempuan tersebut kemudian.


Karla memeluk halal tubulus sembari dia mengelus lembut punggung belakang suaminya, Karla terlihat memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu, menikmati momen tersebut tanpa lagi mau mengeluarkan suaranya.


seolah-olah ada pikiran yang bercabang dan menghantam dirinya.


perempuan itu membiarkan dirinya melepas kerinduan pada laki-laki yang ada di hadapannya tersebut, memeluk Lucas dengan cara yang begitu erat, seolah ini akan menjadi hari terakhir untuk mereka bersama.


"apakah mommy Wilona atau Daddy Marck menyakiti kamu?"


Lucas menanyakan hal tersebut setelah melepaskan pelukannya.


Mendengar pertanyaan dari suaminya seketika membuat Karla mengembangkan senyumannya.


"tidak ada orang tua yang akan menyakiti anak-anaknya Lucas"


Jawab Karla pelan sembari menyelisik bola mata suaminya.


Lucas langsung menggenggam erat telapak tangan istrinya kemudian dia membawa langkah Karla untuk masuk ke kediaman mereka.


"aku tahu mereka berdua tidak mungkin menyakitimu tapi pemikiranku terus berkacamuk menjadi satu, kamu tahu sayang ini membuat berkepalaku berdenyut-denyut tidak menentu, aku takut kita dipisahkan begitu saja oleh semua orang"


Ucap Lucas kemudian.


Karla sama sekali tidak bicara, dia hanya menatap wajah sembari mengikuti langkah laki-laki tersebut dalam keheningan.


Bukankah cinta tidak harus selalu memiliki, Lucas?.

__ADS_1


Maafkan aku, mungkin ini akan menyakiti kamu, aku dan dia.


__ADS_2