
Didalam ruangan pendingin Airin mulai merasakan seluruh anggota tubuhnya mulai keram, dia pikir apakah teriakannya dan makiannya melalui kamera CCTV terlihat oleh laki-laki breng.sek tersebut, padahal dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk melakukan nya.
Benar-benar manusia tidak punya hati.
Batin Airin.
Gadis tersebut berusaha untuk menetralisir dirinya, mencoba menekan kesadaran karena keadaan tubuhnya kini terasa jelas tidak baik-baik saja, Airin pikir semakin lama berada di ruangan pendingin mungkin akan membunuhnya dan dia bukanlah makhluk hebat yang bisa bertahan dalam posisi seperti ini.
tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan apakah laki-laki gila itu akan membebaskannya yang jelas Airin masih berusaha untuk mencari celah kabur dari tempat tersebut bagaimanapun caranya.
"Oh come Airin"
Ucapnya di dalam hatinya sembari mencoba untuk terus menelusuri ruangan tersebut, berharap dia bisa menemukan celah untuk menarik nafasnya, dia harus bebas bagaimanapun caranya.
gadis tersebut mencoba mencari celah di antara Diding kaca berukuran raksasa tersebut, bergerak kesana-kemari mencoba mencari lubang meskipun hanya sebesar lubang semut, bola matanya terus menelisik ke arah sekitarnya, dia mencoba untuk mengetuk-ngetuk sejenak kaca tebal tersebut mencari mungkin saja ada sedikit kerusakan hingga kaca nya bisa hancur dan dia bisa kabur dari tempat itu.
sembari dia terus menahan pada kondisi tubuhnya yang semakin lama semakin menggigil dengan sempurna,wajah gadis tersebut sudah mulai berubah memerah karena dinginnya suhu yang terasa di dalam sana.
Airin mencoba untuk menggerak-gerakan tubuhnya guna untuk menetralisir suhu panas di dalam tubuhnya tersebut karena suhu ruangan yang dia pikir semakin lama semakin mendingin, jika dia melakukan pergerakan seperti berolahraga siapa tahu mampu membuat dirinya mendapatkan suhu terbaik di dalam cuaca dingin tersebut.
Entahlah berapa lama waktu berlalu Airin tidak tahu, tapi dirinya semakin rumit dan sulit untuk menetralisir rasa pada cuaca tersebut dan jelas dia pikir kondisi tubuhnya saat ini tidak baik-baik saja.
hingga pada akhirnya Airin mencoba untuk menjatuhkan dirinya ke lantai dan duduk di salah satu sudut kaca di mana dia mulai merasa tangan dan kakinya keram dan cukup sulit untuk digerakkan.
Aku mulai membeku.
Airin menutup sejenak bola mata, terasa ada yang mengalir dibalik bola matanya.
Gadis tersebut mencoba untuk menetralisir detak jantungnya yang mulai melemah, bisa dirasakan rasa dingin selalu masuk ke dalam rongga mulutnya dan dia pikir saat ini dia benar-benar mulai tidak bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya.
__ADS_1
Airin berusaha membuka bola matanya tapi rasanya berat,dia membiarkan sejenak bola matanya terpejam sembari menyandarkan dirinya pada dinding kaca yang ada di belakangnya, cukup lama dia melakukan hal tersebut hingga pada akhirnya dia mencoba untuk mendongakkan kepalanya untuk menatap ke arah kamera CCTV yang di atas tanah kemudian garis tersebut mulai berkata.
"aku bukannya kalah breng.sek hanya saja cara main kamu cukup tidak manusiawi dan cukup tidak terpuji, kau tahu kenapa? aku hanya seorang gadis muda yang tidak pernah melakukan kesalahan apapun dengan orang-orang di sekitarku bahkan aku tidak pernah menyakiti siapapun apalagi kamu"
"seharusnya jika kau memang seorang laki-laki mari bermainlah dengan cara yang alami, bahkan aku bisa bermain denganmu dengan cara mengangkat pedang atau mengangkat senjata tapi tidak dengan cara seperti ini"
ucap gadis tersebut sembari terus menata kearah kamera CCTV untuk waktu yang cukup lama, hingga pada akhirnya Airin perlahan meminjamkan bola matanya.
*****
di sisi lain.
beberapa waktu sebelumnya.
Sanders Efron masih menikmati apa yang dilakukan oleh gadis di dalam ruang kaca pendingin tersebut di mana dia mengabaikan ucapan dari Gwen dan terus menikmati pemandangan yang ada di hadapannya itu.
Layar dihadapan nya menampilkan gambar yang memuaskan, persis seperti sebuah pertunjukan bioskop kesukaan nya.
tapi realitanya alih-alih mendengarkan dirinya Sanders malah mengabaikan dirinya, Laki-laki tersebut seolah-olah sengaja menutup telinganya.
Sanders Efron yang lama tidak mendapatkan permainan baru pada ruangan pendingin cukup senang karena tiba-tiba mendapatkan sebuah permainan baru yang telah lama tidak menghibur hatinya.
laki-laki itu menaikkan ujung bibirnya, jelas rona kepuasan muncul dibalik wajah nya ketika bisa dia lihat Airin mulai kedinginan, gadis itu sempat menggerak-gerakan tubuhnya untuk beberapa waktu, seolah-olah tengah melakukan senam aerobik, atau senam apapun yang tidak dia ketahui. Dimana gadis tersebut menaik kedua belah tangannya dan juga menggerakkan kedua belah kakinya juga terus menggoyangkan tubuhnya dan menggerak-gerakkan tubuhnya untuk beberapa waktu.
cukup lama gadis tersebut melakukan pergerakan seperti itu hingga pada akhirnya bisa Sanders Efron yakini, jika gadis yang ada di dalam ruangan pendingin tersebut mulai gelagapan dan tubuh nya mulai merasa membeku dan mengejang.
terdapat kepuasan yang begitu dalam saat dia melihat sosok gadis tersebut sepertinya mulai menyerah dengan keadaan, Airin secara perlahan mulai menduduki dirinya ke lantai dan menyadarkan tubuhnya ke bagian pinggir sisi kiri ruangan kaca tersebut, gadis itu duduk dalam kondisi mulai tidak berdaya sembari berusaha untuk menahan segala kaki tangan dan tubuhnya dari rasa kebas yang terjadi.
laki-laki tersebut menatap begitu puas tontonan yang ada di hadapannya seolah-olah dia benar-benar mendapatkan tontonan gratis saat ini dari gadis yang baru saja dia bawa sejak kemarin.
__ADS_1
di tengah rasa senangnya jelas saja Gwen semakin panik dengan keadaan di mana dia pikir kondisi Airin saat ini semakin tidak baik-baik saja,
dia meyakini jika tubuh Airin saat ini masuk pada fase kritis di mana tubuhnya mulai membeku karena berada di ruangan gila tersebut dan jika tidak langsung diselamatkan bisa dipastikan lambat laut gadis itu akan mengalami hipotermia akut, dan jika semakin lama semakin dibiarkan bisa dipastikan gadis itu akan mengalami kematian mengerikan karena hipotermia.
dia secepat kilat langsung mengingatkan Sanders Efron sekali lagi, meskipun dia tahu mungkin peringatannya tidak akan pernah diindahkan oleh Sanders tapi setidaknya dia harus berusaha lebih dulu untuk mengingatkan laki-laki tersebut jika keadaan Airin saat ini jelas tidak baik-baik saja dan gadis itu mulai masuk pada fase hipotermia, tapi Sanders sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi nya.
"demi apapun Sanders apa kau tidak bisa melihat kondisi Airin saat ini yang sudah semakin memburuk"
gadis tersebut mencoba untuk terus memperingati Sanders.
"kau tidak harus bermain-main dengan seorang perempuan, apalagi untuk gadis yang masih bocah seperti putri Bianca"
gadis itu terus bicara sembari mencoba untuk menatap wajah Sanders Efron dan menekan setiap kata-katanya satu persatu.
"aku tahu kau tidak akan pernah bermain-main dengan perempuan untuk membunuh mereka kecuali ada alasan tertentu yang memang benar-benar membuatmu marah dan dia hanya seorang bocah, kemarahanmu terlalu tidak beralasan jadi tolong dengarkan aku Sanders"
entah berapa lama dia mencoba untuk membujuk laki-laki tersebut namun realitanya Sanders sama sekali tidak mau mendengarkan ucapannya karena itu pada akhirnya Gwen mencoba untuk menggenggam orang tangan kanannya lantas gadis itu diamkan sejenak bola matanya kemudian dia berkata.
'Dia putri Bianca, aku memperingatkan kamu Sanders, dimasa lalu tidak tahu siapa yang berhubungan dengan Paman pertama, bisa jadi itu adalah Bianca dan bukan Wilona, sebelum semuanya terbuka berhenti bermain api, jika itu memang Bianca dan sesuatu yang terjadi pada putrinya, itu artinya kau menyakiti saudara dari putra tertua nya, dan itu sama saja kau menyakiti penerus sah Efron berikutnya"
dan pada akhirnya kata-kata yang tidak ingin diucapkan keluar juga dari bibirnya untuk memperingati Sanders Efron sang keponakannya yang begitu keras kepala.
Gwen bicara dengan nada berapi-api, dia terpaksa mengatakannya karena dia pikir Sanders Efron telah masuk pada akal tidak warasnya.
Mendengar ucapannya seketika laki-laki tersebut langsung menoleh ke arah gadis yang ada di hadapannya tersebut, bola mata sandar seketika langsung membulat dengan sempurna namun di detik berikutnya satu suara terdengar memenuhi ruangan tersebut.
"seharusnya jika kau memang seorang laki-laki permainan dengan cara yang alami, bahkan aku bisa bermain denganmu dengan cara mengangkat pedang atau mengangkat senjata tapi tidak dengan cara seperti ini"
"aku bukannya kalah hanya saja cara mainnya sehingga tidak terpuji, kau tahu kenapa? aku hanya seorang gadis muda yang tidak pernah melakukan kesalahan apapun dengan orang-orang di sekitarku bahkan aku tidak pernah menyakiti siapapun apalagi kamu"
__ADS_1
Itu adalah suara Airin.