GAIRAH DAN HASRAT TERLARANG

GAIRAH DAN HASRAT TERLARANG
Tidak mau menukar nya


__ADS_3

"Tapi bagaimana dengan Airin?mom kita harus menyelamatkan gadis itu"


Ucap Karla kemudian.


Mommy nya terlihat diam, kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak akan menukar mu dengan Airin, kau tahu bagaimana cara ku bertahan hidup pada masa itu? mommy bagaimana bisa hidup tanpa mu, Karla"


Pada akhirnya wanita tersebut menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia langsung berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kau mencintai Lucas bukan? mommy akan memikirkan cara untuk mu mendapatkan restu dari Bianca, bagaimana pun caranya kau dan Lucas bukan saudara, itu bukan masalah"


Akhirnya wanita tersebut berusaha beringsut dari posisinya, dia membiarkan Karla untuk melupakan segalanya.


"Istirahat lah hmmm"


"Mom?"


"Dengarkan mommy, tutup mata dan telinga, anggap kamu tidak pernah mendengar kalimat ngawur mommy yang berkata kamu bukan putri ku, sampai kapanpun kamu tetaplah Putri kebanggaan ku, tidak peduli kata orang kamu tetap putri ku, besok mommy akan bicara pada Lucas soal hubungan kalian"


Dia bicara seolah-olah tidak ingin tahu soal Airin ditangan Sanders, terdengar egois tapi Wilona sama sekali tidak mau melepaskan Karla.


Dimasa lalu dia hampir mati demi Karla, dia mana mungkin kehilangan Putri nya untuk kedua kalinya.


"Mom..?"


Karla ingin bertanya dengan serius soal Airin, takut hal buruk terjadi pada saudara sepupu nya tersebut.


"Untie Bianca mu pasti punya cara untuk menyelamatkan Airin, dia bahkan tidak akan mau menyerahkan kamu pada Efron"


Setelah berkata begitu Wanita tersebut mencium lembut puncak kepala putrinya, dia meminta Karla untuk tidur secepat nya.


"Ini sudah larut, tidurlah, semua pasti baik-baik saja"


Setelah berkata begitu, wanita tersebut memilih untuk beranjak pergi dari sana tanpa banyak bicara, sedangkan karla menatap punggung mommy nya yang kini menghilang secara perlahan di balik pintu.


pemikiran dan pemikiran berkacamuk menjadi satu dalam dirinya, entah apa yang ada di dalam pemikirannya sebenarnya, tapi seolah-olah ada batu besar yang menghantam dirinya.


semua terasa begitu berat saat ini.


********


Begitu nyonya Wilona keluar dari kamar Airin, seketika dia menyandarkan dirinya ke dinding pintu untuk beberapa waktu, Wanita tersebut terlihat gemetaran dan sedikit panik, berusaha menetralisir detak jantung nya yang terus terpompa tanpa bisa dikendalikan.


di hadapannya Mack sang Suami nya menatap dirinya dengan tatapan yang suliydi artikan, laki-laki tersebut melangkah maju secara perlahan.


"Semua baik-baik saja?"

__ADS_1


Dia bertanya pelan pada istrinya.


"Tidak sebaik apa yang kamu pikirkan"


Suara Wilona setengah tidak terdengar.


Mereka diam, memutuskan untuk bergerak menjauh dari sana dan memilih masuk ke dalam kamar mereka sendiri.


begitu tiba di dalam kamar mereka Wilona terlihat masih tidak mengeluarkan suaranya, wanita tersebut memilih untuk duduk di tepian kasur sembari memijat-mijat kepalanya.


berbagai macam pemikiran menghantam dirinya.


"aku akan bicara pada Bianca soal anak-anak, apa pikir tidak masalah merestui hubungan mereka, keduanya tidak memiliki hubungan apa-apa"


ucap wanita tersebut kemudian.


Laki-laki tersebut hanya diam, menatap istrinya untuk beberapa waktu, memilih mendekati Wilona kemudian membiarkan dirinya duduk diantara kedua kakinya yang saling bertumpu, marck menggenggam erat kedua telapak tangan istrinya sembari dia menatap dalam wajah istrinya untuk beberapa waktu.


"ini bukan soal anak-anak dan hubungan mereka, tapi ini soal Airin"


Ucap Marck pelan.


"Nyawa Airin berada di ujung tanduk, Efron mengambil mereka dan menjadikan mereka tawanan"


Laki-laki tersebut kembali bicara.


"Lalu bagaimana bisa aku menyerahkan putri ku pada mereka?"


Sesungguhnya dia bohong berkata pada Karla jika Bianca tidak akan menyerahkan Karla pada Efron.


dia ingat apa yang di ucapkan Bianca kemarin pada nya.


"Aku benar-benar berada pada posisi terjepit, biarkan Karla kembali pada keluarga Efron, Wilona"


Bisa Wilona ingat bola mata Bianca terlihat berkaca-kaca menatapnya, meminta agar Wilona mempertimbangkan untuk mengembalikan Karla pada keluarga Efron.


dia tahu Airin adalah Putri kandung dari saudara perempuannya, Airin adalah kehidupan untuk Bianca, tapi menukar Karla pada Airin jelas bukan pilihan yang tepat.


"Pada akhirnya apa yang menjadi milik mereka, akan kembali pada mereka bukan?"


Tanya Bianca pelan.


Wanita tersebut berharap besar, dia benar-benar berada pada titik terjepit,dia mana mau kehilangan putri bungsunya, siapa yang tidak tahu sepak terjang keluarga Efron, Airin pasti tidak baik-baik saja disana.


Tapi Wilona alih-alih mendengarkan permintaan nya, wanita tersebut menggelengkan kepalanya.


"Karla adalah putri ku, selama nya adalah putri ku kak, aku mana mungkin mengembalikan nya pada Efron?"

__ADS_1


Bibir Wilona bergetar, dia menampilkan wajah penuh kesedihan nya, bola mata nya berkaca-kaca, dan didetik berikutnya air mata itu tumpah.


Bayangkan bagaimana perasaan nya ketika kehilangan seorang putri? dia pernah merasakan nya puluhan tahun yang lalu, terlalu sakit dan menyesakkan,dia mana mau kembali merasakan kehilangan untuk kedua kalinya.


"Maafkan aku karena tidak bisa memenuhi keinginan kakak"


Ucap Wilona lagi.


Dia Terdengar begitu egois, membiarkan saudara perempuan nya kehilangan putri nya asalkan dia tidak kehilangan putri nya.


Bianca hanya bisa menelan salivanya, pilihan menyelamatkan Karla untuk Wilona, mengorbankan dia dan putri nya.


Wanita tersebut meneteskan air matanya, menatap saudara perempuan nya yang melepas kan genggaman tangan nya secara perlahan.


"Airin akan mati bersama mereka"


Meskipun Bianca memohon, Wilona tetap bersikeras tidak akan memberikan Karla pada Efron.


"Aku tidak peduli"


"Wilona?"


"Bianca mencoba menyusul Airin ke Swiss, aku pikir ini ini tidak baik-baik saja sayang"


Seketika suara suaminya mengejutkan lamunannya.


Wilona menatap wajah Marck untuk beberapa waktu.


"Berikan Karla pada mereka hmmm, karena Karla memang putri Adams Efron, kita tidak memiliki hak atas Karla sama sekali, kita sudah cukup lama bersama Karla, Wilona"


Laki-laki tersebut bicara pelan, Bismillah memang diciptakan untuk membujuk Wilona pada malam ini, sebelum Bianca pergi ke Swiss untuk menyusul Airin dan mempertaruhkan nyawanya.


mendengar ucapan sang suaminya, sejenak wanita itu diam untuk beberapa waktu, meneliti wajah suami dan berusaha untuk berpikir dengan keras, hingga pada akhirnya Wilona menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"aku tidak akan memberikan Karla pada mereka, Marck"


wanita itu bicara dengan cara sedikit egois, tidak ingin memikirkan perasaan orang lain selama dia masih bisa bersama dengan putrinya.


"tapi Karla bukanlah Karla, Wilona. Dia putri Adams Efron"


laki-laki tersebut berkali-kali mencoba untuk mengingatkan istrinya.


"Dan nyawa putri dari kakak kandungnya dalam keadaan terancam saat ini, tidakkah kau berusaha untuk memikirkannya? Airin yang sesungguhnya merupakan bagian dari anggota keluarga kita, sedangkan Karla sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan kita"


Ucap laki-laki tersebut lagi kemudian.


Wilona terlihat berusaha untuk menahan nafasnya, wanita tersebut memejamkan bola matanya sejenak, hingga akhirnya Wilona membuka bola matanya dan berkata.

__ADS_1


"Aku tidak peduli itu Marck"


Ucapnya dengan nada yang datar dan dingin.


__ADS_2