Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Hari Pertunangan


__ADS_3

"Sayang, sudah belum?" Tanya Marvin dari luar pintu kamar.


"Sebentar lagi Tuan." Jawab tukang rias yang sedang merias Ica.


Ica sedang di make up dan di rias. Ia menggunakan gaun putih berenda terlihat sangat mewah. Menggunakan kalung mutiara yang senada dan bermahkota berlian dalam bingkai emas putih.


Sedangkan Marvin menggunakan baju putih dalam balutan jas berwarna silver, membuat siapa saja yang melihatnya akan berdecak kagum dengan kesempurnaan Tuhan menciptakan insan yang satu ini.


Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh seorang Marvin dan keluarga besarnya. Sesuai kesepakatan kedua belah pihak, hari ini akan berlangsung pertunangan antara Marvinno Wiraarga dan Spica Utami.


Di ruang tamu di lantai bawah rumah keluarga David Wiraarga sudah banyak tamu yang datang. Tamu tersebut dari keluarga besar, tetangga, dan kolega David di perusahaan, maupun rekan-rekan bisnisnya.


Dalam ruangan bernuansa putih, juga berhiaskan bunga mawar putih di selingi warna pink dari bunga tersebut. Di sana terlihat Bunda Lusi dan suaminya menyambut dan mempersilahkan tamu undangan, terlihat juga Bapak Marjoyo dan Ibu Asmi duduk di kursi utama.


Para tamu undangan di persilahkan menikmati berbagai macam hidangan yang sudah di sediakan oleh pelayan-pelayan catering. Mulai dari menu pembuka sampai makanan berat, mereka boleh menikmati selama acara tersebut di gelar.


Ica menuruni anak tangga, ia terlihat sangat anggun. Semua mata tertuju padanya, tak sedikit pula yang memuji akan kecantikan calon tunangan Marvin tersebut.


"Sayang, duduklah." Kata Bunda Lusi mengantarkan Ica ke tempat pengantin.


Ica dan Marvin duduk menyaksikan pembawa acara, membuka acara pertunangan tersebut. Dan doa dibawakan oleh salah satu rekan Pak David.


"Sekarang kita memasuki acara pemasangan cincin, sebagai tanda ikatan. Kepada Tuan dan Nona, silahkan berdiri berhadapan." Kata pembawa acara.


"Tuan Marvinno, silahkan pasangkan cincin yang ada di tanganmu ke jari manis sebelah kiri Nona Ica, Apa yang ingin anda sampaikan?" Lanjut pembawa acara setelah Marvin dan Ica berhadapan.


"Spica Utami, cincin adalah lingkaran yang tak ada ujungnya sebagai lambang ikatan yang tidak akan terputus, saya pasangkan ke jari manis mu." Kata Marvin.


"Sekarang gantian." Jelas pembawa acara.


"Marvinno Wiraarga, Saya pasangkan cincin ini di jari manis mu , dengan harapan akan mengikat kita sampai waktunya pernikahan nanti." Kata Ica.


"Orang tua dari kedua calon pengantin kita ini, di persilahkan untuk memberi nasihat, agar nantinya pertunangan ini berujung manis dengan pernikahan." Lanjut pembawa acara.


Pak David, Bunda Lusi, Bapak Marjoyo, dan Ibu Asmi maju ke depan membisikan beberapa petuah dan nasihat kepada kedua anak mereka.


Setelah itu, para tamu dan sanak keluarga bergantian bersalaman dengan Marvin dan Ica. Terlihat juga Vano dan Elvita serta teman-temannya yang lain.


"El kita tunangan juga yuk." Kata Vano setelah memberi selamat kepada Marvin dan Ica.


"Aduh, kalau Ica enak, Bang Marvin udah selesai kuliah, tinggal kerja di tempat Om David. Lha kalau kita mau makan apa Vin?" Tanya Elvita nampak tak setuju dengan rencana Vano.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak tulus mencintai saya, El?" Vano balik bertanya.


"Bukan begitu sayang, kita kan masih sama-sama kuliah." Elvita menjelaskan alasannya menolak ajakan Vano.


Ketika mereka asik berdebat, teman-teman Vani yang lain datang, Ayu, Dea, Agung, Dian, Sari, dan yang lainnya ikut bergabung di kursi tamu.


"Sepertinya seru nih?" Kata Dian mencairkan suasana.


"Oh, enggak.. Biasa, masalah rumah tangga." Timpal Vano sambil senyum.


"Kita keliling-keliling kota yuk sore ini." Ajak Ayu dengan semangat.


"Sepertinya bisa setelah acara ini sepi, tapi gak bisa sampai malam. Saya masih ada tugas." Jawab Vano.


"Tugas apaan bro, setau kami gak pernah dirimu mengerjakan tugas?" Timpal Agung penasaran.


"Tugas menemani calon Ibu negara." Ujar Vano melirik Elvita.


"Kalau itu, memang keinginanmu Vano. Seperti orang pejabat aja, banyak kesibukan." Cecar Agung kembali.


"Kita pamit dulu sama Bang Marvin dan orang tuanya Vano." Ajak Dian.


Setelah berpamitan, Vano dan teman-temannya segera mengendarai mobil yang tadi mereka parkir kan. Mereka akan bersantai di pinggir pantai sambil menikmati keindahannya di sore hari.


**********


Matahari sudah hampir menyembunyikan wajahnya. Acara pertunangan Marvin dan Ica hampir selesai. Para tamu undangan sudah berpamitan meninggalkan kediaman Bapak David Wiraarga. Hanya keluarga yang menginap saja yang masih ngobrol di ruang tamu. Sebagian masuk ke dalam kamar untuk sekedar membaringkan tubuh sejenak.


Marvin dan Ica masih terlihat membicarakan sesuatu di atas singgasananya.


"Sayang, udah sah nih?" Goda Marvin.


"Sabar, ini baru pertunangan Bang." Jawab Ica.


"Gak apa-apa, yuk ke kamar biar istirahat." Kata Marvin.


Dalam hatinya Marvin ingin melakukannya. Mengingat ini baru pertunangan. "Ahh.. tidak akan ku sakiti dia." Gumam Marvin.


Marvin dan Ica sudah sampai di kamar Marvin, lantai atas. Mereka akan membersihkan diri dan berganti pakaian, sebelum waktu makan malam tiba.


"Ca.." Panggil Marvin lirih.

__ADS_1


Ica yang tadi berusaha melepaskan gaunnya, seketika menoleh. Marvin memeluk Ica dari belakang. Ia merasakan aroma segar dari leher dan rambut kekasihnya itu.


"Sayang, berjanjilah..engkau tidak akan meninggalkan saya, apapun yang terjadi." Bisik Marvin.


"Apakah abang juga berjanji?" Tanya Ica pelan.


"Iya, sayang pasti." Jawab Marvin.


Marvin memutar badan Ica. Mata sepasang kekasih itu beradu. Marvin yang terpesona melihat keindahan yang sedang dihadapannya itu tidak kuat menahan hasrat.


"Sayang, boleh Abang merasakannya?" Tanya Marvin.


Ica hanya diam dan menunduk. Marvin yang sudah menahan sedari tadi langsung menarik wajah Ica, lalu dibenamkannya di wajahnya. Menikmati setiap inci keindahan yang ada di wajah kekasihnya tersebut.


Setelah beberapa waktu hanyut dalam waktu yang akan menjadi kenangan manis itu. Marvin melepas kan Ica. Ica yang nampaknya kesusahan melepas gaun dan perhiasannya. Dengan senang hati Marvin membantu.


"Sayang, cepat bersihkan dirimu. Sebentar lagi makan malam." Kata Marvin setelah membantu Ica.


"Iya, Bang." Jawab Ica singkat.


Ica segera ke kamar mandi, tidak butuh waktu lama ia sudah selesai membersihkan diri. Marvin melihat Ica keluar hanya menggunakan handuk selutut kaki. membuatnya hanya bisa menelan saliva.


"Sudah Bang, giliran mu."Kata Ica mengagetkan Marvin yang sedang berada dalam dunia khayal nya.


" Oh, Iy-iya sayang." Kata Marvin berlalu ke kamar mandi.


Ica berganti pakaian, mengenakan kaos dan celana panjang membuat ia nyaman memakainya. Ditambah dengan sedikit make up flow les dan lipgloss membuatnya semakin terlihat segar.


Marvin yang baru keluar dari kamar mandi, melihat calon istrinya itu sudah cantik. Ia melayangkan satu kecupan di pipi Ica dan berlalu ganti pakaian.


"Hem..nanti habis bedaknya lho Bang?" Kata Ica cemberut.


"Bisa di tambah lagi kan yang?" Sahut Marvin.


Dari luar pintu Bi Siti, memanggil mereka.


"Nona, Den...Di suruh turun untuk makan malam bersama." Kata Bi Siti sedikit berteriak.


"Iya Bi, kami akan segera turun." Jawab Ica.


Ica dan Marvin turun bersama untuk menikmati makan malam bersama. Di meja makan sudah terlihat keluarga besar Ica dan keluarga besar dari Marvin. Rencananya mereka akan pulang besok, karena acara pertunangan sampai sore hari.

__ADS_1


__ADS_2