
Nyonya Diana keluar dari ruang Kepala Universitas itu. Ia terlihat menahan emosinya, dan tetap menggenggam erat tangan Ica.
"Masalahnya sudah Mama selesaikan sayang, kamu bisa tenang berkuliah di sini." Kata Nyonya Diana.
"Apa Dosen itu di pecat Ma?" Tanya Ica.
"Mama nggak tau sayang, mungkin iya mungkin hanya di kasih sanksi." Jawab Mama Diana.
Ica berpikir bagaimana kalau ternyata Dosen Engga di pecat. Ica tau Dosen muda itu sama sepertinya, yang datang dan berjuang dari desa dan hanyalah orang biasa.
Ica merasa bersalah jika Dosen Engga sampai di pecat. Tentu dia juga harapan keluarganya di desa.
"Kenapa sayang? Kok cemberut seperti itu?" Tanya Mama Diana.
"Enggak Ma, Ica boleh meminta satu hal sama Mama?" Kata Ica ragu.
"Minta apa sayang? katakanlah, Mama pasti akan berusaha." Kata Mama Diana.
"Ma sebenarnya Dosen Engga yang laki-laki tadi, sangat baik kepada Ica Ma. Ia bahkan membantu Ica kemarin." Kata Ica.
"Apa itu benar sayang?" Tanya Mama Diana.
"Iya Ma, Lagi pula beliau bisa berkuliah disini karena beasiswa. Ica kasian saja kalau ternyata harus di berhentikan." Jelas Ica.
"Baiklah, Mama serahkan sama kamu. Kamu juga bisa memintanya langsung kepada kepala universitas." Terang Mama Diana.
"Iya Ma, terimakasih." Jawab Ica.
"Nanti Mama telepon rektor, biar dipertimbangkan masalah ini." Kata Nyonya Diana.
Ica hanya terdiam, dalam hati Ia sangat mengagumi orang tuanya ini. "Sungguh luar biasa, pengaruh kata Adikara di belakang nama ku. Semua orang di kampus ini menyegani ku. Tapi apalah daya untuk beli mie ayam di kantin saja Ica tidak punya uang." Kata Ica dalam hati. Kemudian ia tertawa kecil.
"Sayang, kamu pulang dulu ke rumah Bundamu ya Nak. Besok pagi Mama jemput kita berangkat ke desa." Kata Nyonya Diana.
"Iya Ma, terimakasih." Kata Ica.
Marvin sudah menunggu di samping mobil sejak tadi. Ia memperhatikan ibu dan anak itu.
Jika di perhatikan memang ada sedikit kemiripan diantara mereka. Namun kemiripan itu lebih dominan antara Ica dan Beni. "Mungkin karena sudah ada perpaduan." Kata Marvin dalam hati.
"Ica pulang ke rumah Bunda dulu ya Ma." Kata Ica menyalami Mama Diana.
__ADS_1
"Iya sayang, baik-baik di sana." Mama Diana memeluk Ica.
"Sayang, di sini ada uang sekitar 150 juta, untuk uang jaga-jaga bila mana kamu butuhkan. Nanti Mama minta antarkan orang mobil baru kamu, ke rumah Marvin." Kata Mama Diana.
"Tidak usah Ma ini kebanyakan, takutnya hilang. Dan mobil nanti saja, Ica belum bisa nyetir sendiri." Tolak Ica.
Sebenarnya Ica ingin butuh uang, tapi tidak sebanyak itu. Ia hanya malu untuk memintanya kepada Mama Diana.
"Nak, ini juga belum seberapa. Mama mau menebus keteledoran Mama dulu." Kata Mama Diana.
"Ma kalau ada, Ica minta uang cash aja lima ratus ribu." Kata Ica menunduk malu.
"Ada Nak." Mama Diana memberikan uang lima juta kepada Ica.
"Terimakasih banyak ya Ma." Kata Ica.
Ica kemudian menghampiri Marvin dan masuk kedalam mobil. Ica membuka kaca mobil dan melambaikan tangan kepada Mama Diana.
"Sayang, kok kamu minta uang sama tante Diana. Uang mu habis?" Tanya Marvin.
"Belum Bang, masih ada di rumah. Tadi Mama mau ngasih uang kartu debit dan sebuah mobil. Tapi Ica tolak karena belum bisa nyetir sendiri." Jelas Ica.
"Bagus kenapa Bang?" Tanya Ica.
"Biar setiap hari Abang yang antar." Kata Marvin cengengesan.
"Hem... Biasanya juga Ica bareng sama Bang Vano." Kata Ica.
Akhirnya mereka sampai di rumah. Bunda Lusi sudah menunggu mereka dengan hidangan yang menggoda sekarang. Mereka menikmati makanan sambil ngobrol di meja makan. Setelah itu, Bunda Lusi menyuruh Ica untuk beristirahat.
**********
Pagi ini keluarga Pak Hendro sudah tiba di kediaman Pak David. Mereka meminta izin membawa Ica pulang ke desa, dalam rangka mengurus surat identitas Ica.
Mereka juga akan menanyakan perihal dimana orang tua angkat Ica menemukan bay Ica dulu. Bunda Lusi juga akan ikut serta berkunjung ke desa Ica.
Sedangkan Pak David tidak bisa ikut, di karenakan ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
Mama Diana, Bunda Lusi berada dalam mobil yang sama diantar oleh supir. Beni membawa sera, Ica dan Marvin dalam satu mobil.
Sedangkan Pak Hendro sendiri di temani sopir kantornya, Pak Misran. Karena mereka rencananya akan mengajak orang tua Ica ikut bersama mereka.
__ADS_1
"Kak Beni, Sera ikut senang ternyata Kak Ica adalah adik kandung Kakak." Kata Sera.
Marvin dan Ica duduk di belakang, Arbeni yang menyetir di temani Sera. Marvin yang sedari tadi tidak memperhatikan teman perempuan Beni. Ia merasa kenal dengan suaranya.
"Siapa nama calon kakak ipar mu? Sudah kenalan belum?" Bisik Marvin kepada Ica.
"Hus, Dia itu masih SMA. Namanya Sera." Kata Ica berbisik.
"Sera Mehana?" Tanya Marvin.
"Gak tau juga, Abang kenal?" Tanya Ica.
"Mungkin." Jawab Marvin.
Sera tiba-tiba memutar tubuhnya kebelakang. Ia kaget melihat siapa yang bersama Ica.
"Bang Marvin," Kata Sera menutup mulutnya.
"Jadi tunangan kakak Ica adalah Bang Marvin?" Sera masih tidak percaya dunia sesempit ini.
"Iya." Jawab Marvin singkat.
"Sudah izin belum sama Abangmu Ser? Sekarang Kakak Beni ini seleranya sudah berbeda, suka dengan yang masih kepompong." Kata Marvin.
Marvin tidak sadar bahwa Beni sekarang adalah calon kakak iparnya. Karena dari zaman kuliah Marvin sering menyindir Beni, seperti ada persaingan dalam hatinya.
Ia yang waktu itu sangat posesif kepada Sean. Marvin menyangka Beni ingin merebut lagi Sean darinya. Tetapi sindiran Marvin dari dulu tidak pernah ditanggapi oleh Arbeni.
"Diam aja di situ Vin, atau tidak saya restui kamu sama Ica." Kata Beni tetap cool.
"Udahlah Bang, lagian nanti juga Sera bakalan besar. Iya kan Kak Ben?" Kata Sera dengan polosnya.
"Apanya yang besar Sera?" Tanya Ica tidak kalah polosnya.
"Sudah. Sudah diam lah, nanti bisa nabrak ini." Kata Beni.
Ia takut kalau adik dan calon kekasihnya itu keceplosan kata yang tidak enak di dengar, antara Ia dan Marvin. Mengingat Sera memang sering berkata dengan polosnya membuatnya sedikit malu. Tapi karena itu juga membuat Beni jatuh cinta padanya.
Sedangkan Marvin tertawa dalam hati, tidak di sangka Arbeni Adikara yang kekayaannya luar biasa dan asetnya dimana-mana.
Semua wanita mengidolakannya. "Ternyata dia meleleh dengan gadis baru lahir ini, agak oon juga." Kata Marvin dalam Hati. "Tapi apa bedanya dengan saya ya? Saya mencintai Ica dalam sehari, tapi rasanya ingin gila jika tidak melihat dia satu hari saja." Gumam Marvin.
__ADS_1