Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

"Abang, Abang." Panggil Ica kepada Marvin.


Marvin masih dengan mata tertutup. Ica tidak tau harus berbuat apa, sedangkan lantai bawah rumah tersebut nampak sepi. Ica juga takut kalau harus memberitahu orang lain, takut di tuduh melakukan tindakan kriminal.


Ica mencoba menenangkan pikirannya. Ia kemudian mengambil minyak kayu putih miliknya dan air mineral yang sudah tersedia di kamar itu.


Dalam keadaan cemas, Ica memijit kaki tangan serta jidat Marvin. Tidak lupa mulutnya melontarkan penyesalan.


"Bang, bangunlah Ica minta maaf." Ucap Ica.


Marvin perlahan mulai membuka mata. Ia mencium bau menyengat minyak kayu putih yang Ica oleskan dekat hidungnya.


"Syukurlah, Abang sudah sadar." Kata Ica.


"Hem... Kamu masih menangis?" Kata Marvin lemah.


"Mengapa Abang sampai pingsan?" Tanya Ica balik.


"Entahlah, saya hanya takut." Kata Marvin.


"Sudahlah Bang jangan di bahas lagi." Ucap Ica menenangkan.


"Jangan tinggalkan saya." Marvin berucap lirih.


"Iya, Bang." Ica tidak mau lagi berdebat.


"Abang istirahat saja dulu, Ica mau turun bantu-bantu Bibi siapkan makan malam." Kata Ica.


"Iya sayang." Jawab Marvin.


"Jangan mandi dulu yaa Bang untuk sore ini." Ucap Ica seraya berjalan keluar kamar


"Siap sayang. Love you." Teriak Marvin dengan kekuatan seadanya.


*********


Di ruang tamu Pak David dan Bunda Lusi nampak duduk dengan gelisah. Mereka seperti sedang ada masalah.


Mereka biasanya melihat Ica turun dari tangga langsung menyapa dengan hangat. Tapi untuk kali ini mereka hanya diam. Baik terhadap Ica maupun antara mereka berdua.


"Selamat sore, Bunda Ayah." Sapa Ica.


"Sore Nak." Jawab Bunda Lusi mencoba tersenyum.


"Ayo sini duduklah dekat Bunda mu." Kata Pak David kepada Ica yang masih berdiri.


"Iya Ayah, terima kasih." Jawab Ica.


Ica yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari kedua orang tua angkatnya. Ia segera mendekati Bunda Lusi dan duduk di sampingnya.


"Nak, perusahaan Ayah sedang dalam masalah besar. Kemungkinan kita akan mengalami kebangkrutan." Ucap Bunda Lusi menahan tangisnya.


"Kok bisa Bun? Ayah?" Jawab Ica kaget.

__ADS_1


"Iya Nak. Di tipu oleh teman Ayah sendiri." Kata Bunda Lusi.


"Terus bagaimana Yah?" Tanya Ica tak tega.


"Ayah akan mencoba mencari bantuan dari teman Ayah terlebih dahulu." Jawab Pak David.


"Iya Ayah, Ica doakan semoga berhasil." Kata Ica sungguh-sungguh.


"Ca tolong kamu rahasiakan hal ini kepada Marvin yaa. Mengingat kesehatan fisik dan emosinya masih belum stabil." Kata Bunda Lusi.


"Bagaimana dengan Bang Vano Bunda? Apa sudah di beri tau?" Tanya Ica.


"Belum, Dia belum pulang." Kata Bunda Lusi.


"Iya Bunda." Jawab Ica.


Keadaan hening sejenak, mereka dengan jalan pikirannya masing-masing. Bunda Lusi sesekali memijat keningnya yang terasa berat. Ica memilih berdiam diri, tidak mungkin ada solusi dari dirinya dalam masalah sebesar ini.


"Bagaimana dengan perkuliahan mu Nak?" Tanya Bunda Lusi agar tidak larut dalam pikirannya.


"Aman Bunda, Ica sudah punya teman namanya Milka." Jawab Ica.


"Oh ya? Kapan-kapan ajak main kesini yaa." Pinta Bunda Lusi.


"Iya Bunda. Tapi sepertinya ia anak orang dari kalangan atas Bun, mamanya seorang psikolog." Ica menceritakan teman barunya.


"Tidak apa-apa Nak. Kamu jangan merasa minder." Kata Bunda Lusi.


"Bun sepertinya Ayahnya Kak Beni punya perusahaan juga?" Kata Ica tiba-tiba.


"Enggak Yah, itu orang yang menemukan Ica kemarin. Dia kenal dengan Bunda. Ica tidak sengaja mendengar percakapan Kak Beni di telepon. Tapi menurutnya perusahaan mereka di luar negeri sedang berkembang pesat." Kata Ica.


"Siapa Beni Bun?" Tanya Pak David bingung.


"Anaknya Tuan Adikara pemilik perusahaan tekstil terbesar dan pemilik bank swasta itu." Kata Bunda Lusi.


"Iya, Ayah ingat. Tapi bekerja sama dengan mereka sulit, karena banyak sekali pemilik perusahaan yang ingin bekerja sama dengan mereka. Sedangkan kita butuh dalam waktu dekat." Jelas Pak David.


"Coba dulu Yah, tidak ada salah nya di coba. Siapa tau itu jalan keluar kita." Kata Bunda Lusi memberi semangat.


"Baiklah, Ayah akan ke kantor Adikara group besok." Kata Pak David.


"Ayah Bunda, Ica ke atas dulu. Tadi pas Ica pulang dari kampus, Bang Marvin sudah tertidur di sana." Kata Ica berbohong menyelamatkan dirinya.


"Iya Nak." Kata Pak David.


"Jangan lupa bangunkan Ca. Biar makan dulu." Kata Bunda Lusi menambahkan.


"Iya Bunda." Jawab Ica singkat.


Ica memutar badannya ke arah meja makan. Ica akan membawa makanan dan segelas susu untuk Marvin yang baru sadarkan diri.


"Sepertinya Ica sangat memperhatikan anak kita Bunda." Kata Pak David.

__ADS_1


"Iya, bersyukur sekali Marvin di pertemukan dengan dia. Dan kita juga serasa punya anak perempuan di rumah ini." Ungkap Bunda Lusi.


"Iya Bunda, Ayah juga merasa seperti itu."


Ica melihat Marvin yang masih tertidur pulas.


Ia merasa tidak tega membangunkannya. Tetapi mengingat dia sangat lemas tadi siang. Ica membangunkan Marvin dengan pelan.


"Bang, Abang Bangun yuk. Udah sore." Kata Ica.


"Sayang." Panggil Marvin pelan.


"Abang lapar, beri Abang suapan dengan tanganmu yang." Kata Marvin.


"Ica cuci tangan dulu Bang," Kata Ica pergi mencuci tangannya.


"Ina Bang, makanlah." Kata Ica menyuapkan makanan kepada Marvin.


"Terimakasih sayang, Abang senang sekali dengan momen seperti ini." Kata Marvin lirih.


**********


Keesokan harinya, Pak David sudah berangkat ke kantor sejak tadi pagi. Ia akan menemui pemilik perusahaan terbesar didalam negeri tersebut, dan serta memiliki banyak cabang di luar negeri.


Pak David di temani Aldi orang kepercayaan di perusahaannya. Mereka berdua segera meluncur ke kantor Adikara group, setelah membuat proposal dengan teliti tadi pagi.


Tidak butuh waktu lama, mobil mereka sudah parkir di halaman kantor Adikara group. Mereka segera menuju meja resepsionis, agar mereka menelepon direktur perusahaan.


"Halo Pak, tamu dari Wiraarga group sudah datang." Kata wanita sebagai resepsionis.


"Iya, tolong antar mereka ke ruangan saya." Jawab Sang Direktur.


"Selamat pagi, Tuan." Kata Pak David.


"Selamat pagi, silahkan duduk." Kata Pak Hendro mempersilahkan tamunya duduk.


"Terimakasih." Kata Pak David.


"Ada hal apa tuan-tuan merepotkan diri datang kemari?" Kata Pak Hendro membuka obrolan.


"Langsung saja Pak, kami kemari berniat meminta dukungan dana kepada perusahaan yang Bapak pimpin. Karena dalam hal ini perusahaan kami dalam keadaan bermasalah." Kata Pak David menjelaskan.


"Ini untuk keuntungan-keuntungan yang bapak peroleh, dari penanaman saham ke perusahaan kami nantinya." Kata Aldi sambil menyerahkan proposal.


Pak Hendro menerima proposal yang di berikan oleh Aldi. Ia membaca dengan teliti lembar demi lembar, setelah itu menutupnya.


"Proposal nya saya pelajari terlebih dahulu, nanti saya kabari." Kata Pak Hendro.


Mendengar perkataan dari Direktur dari perusahaan Adikara tersebut, ada sedikit kekecewaan dari muka Pak Davin dan Aldi. Mengingat mereka butuh suntikan dana dalam waktu dekat ini.


Arbeni tiba-tiba masuk ruangan Pak Hendro. Ia mengetahui ada tamu dari Wiraarga Group dari resepsionis.


Ia segera menanyakan kepada ayahnya perihal tujuan mereka datang. Setelah mendengar keterangan dari Sang Ayah. Beni setuju bekerja sama dengan perusahaan milik Wiraarga Group, dengan syarat yang ia tentukan.

__ADS_1


"Saya akan menyetujui berkerja sama deng perusahaan Bapak, dan menanamkan saham di sana. Tapi dengan satu syarat," Kata Arbeni memberi jeda dalam ucapannya


__ADS_2