
Di sudut ruangan Sean tertawa menggelegar. Ia sangat senang mendengar musuh yang selama ini di incar sudah dalam genggamannya. "Sekarang saatnya pembalasan di mulai putri Adikara?" Kata Sean.
Ia seolah berbicara pada seseorang dalam gelapnya malam. Memecah keheningan saat makhluk hidup yang lain beristirahat dengan segala aktivitas mereka.
Membayangkan gadis itu bertekuk lutut di hadapannya memohon ampun. Membuat hati Sean sangat bahagia.
Bermain-main dengan gadis kesayangan Marvin rasanya membuat Sean memperoleh kepuasan tersendiri. ia akan membangunkan suaminya untuk ikut menyaksikan permainan yang di buatnya.
"Kak, ayo bangun!" Kata Sean.
Ia berusaha menggoyangkan badan Banyak yang masih tertidur pulas. Berulang kali Sean melakukannya namun Barrak belum. juga bangun. "Memang dasar pria tidak berguna!" Umpat Sean.
"Ada apa sayang? Malam begini harus bangun?" Tanya Barrak mengusap matanya.
Barrak tidak tau apa yang di rencanakan Sean malam seperti ini. Namun jika ia menolak Sean selalu mengancam keselamatan calon bayi mereka. Badan Barrak masih pegal karena bekerja sepanjang hari, merintis perusahaan baru mereka.
"Ayo, kita harus berangkat sekarang. Wanita gila itu sudah di tangkap anak buah saya." Kata Sean bersemangat.
"Memangnya di mana mereka sayang?" Tanya Barrak.
"Ikut saja Kak, jangan banyak protes. Kumpulkan dulu kesadaran mu, nanti biar bisa menyetir dengan benar." Kata Sean.
Dengan malas Barrak masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air hangat dari shower. Kemudian dengan cepat Barrak berganti pakaian.
Ia langsung menemui Sean yang sudah menunggunya di dalam mobil. Ia melihat istrinya tidak lagi seperti wanita lembut yang ia kenal. Sean lebih mirip dengan pembu-nuh berdarah dingin yang sering ia dengar.
"Apa kamu yakin akan melakukannya malam ini? Apa tidak terlalu berat hukuman yang kamu berikan padanya?" Tanya Barrak.
Ia berharap Sean tidak sekejam ini. Apalagi saat ini dirinya sedang mengandung, Sang Pencipta tentu mengutuk perbuatan yang akan mereka lakukan.
"Kakak tuh udah berapa kali bertanya? Udah ikuti saja. Atau kalau tidak mau silahkan turun!" Sean sedikit meninggikan nada bicaranya.
Bukan tidak mau menolak, tapi Barrak ingin memastikan keselamatan istri dan calon anak mereka. Siapa tau lawan yang di maksud adalah orang besar juga. Bisa jadi keselamatan Sean lah yang di ujung tanduk.
Selain itu Barrak ingin mengetahui seperti apa perempuan yang membuat hati istrinya sangat sakit. Menemani istrinya itu sudah menjadi keputusan Barrak malam ini.
"Iya sayang, Kakak diam deh." Jawab Barrak.
Sean segera menyuruh sopirnya untuk jalan. Ia tidak sabar ingin berjumpa gadis yang membuatnya hidupnya sial. Pikiran jahat telah membuat hatinya kehilangan nurani.
"Cepat jalan Pak!" Kata Sean pada sang supir.
__ADS_1
"Baik Nyonya." Jawabnya.
Sopir itu melajukan mobilnya pelan. Barrak melihat wajah istrinya sangat bahagia malam ini. Tak sadar Sean berucap lagi pada sang sopir.
"Cepat sedikit kenapa Pak!" Kata Sean tidak sabar.
Belum sempat Pak Sopir menjawab. Barrak telah mendahuluinya, menenangkan Sean agar tidak mengikuti ambisinya agar cepat sampai ke tempat tujuan.
"Sayang, kenapa harus buru-buru sekali? Bisa berakibat buruk bagi calon anak kita loh." Barrak mengingatkan.
"Pelan-pelan saja Pak!" Kata Barrak kepada supir.
Sean tidak ingin melawan lagi. Ia tidak ingin berdebat masalah kehamilannya dengan Barrak. Sebenarnya Sean masa bodoh dengan keselamatan bayinya. Toh juga Sean tidak sepenuhnya menginginkan bayi ini dalam rahimnya.
Ia hanya ingin hidup bahagia bersama Marvin mantan kekasihnya yang telah ia tinggalkan dulu. Dan bisa memiliki pria itu seutuhnya.
Setengah jam telah berlalu, meraka tiba di halaman bangunan tersebut. Bangunan yang menjadi tempat penyekapan itu memang agak jauh dari rumah warga. Tempat tersebut sudah lama menjadi markas Sean dan anak buahnya.
"Tempat ini sayang?" Tanya Barrak.
"Iya, ayo turun." Kata Sean.
Sean menyuruh supirnya untuk menunggu di depan pintu bangunan tersebut. Kemudian mereka berdua masuk kedalam bangunan.
Barrak tidak pernah melihat mereka bertemu dengan Sean. Tibalah mereka di suatu ruangan gelap. Terdengar suara tangis seorang wanita yang tertahan.
"Cepat beri sayatan di muka gadis itu! Cepat lakukan, saya ingin melihat apa Marvin masih menginginkannya nanti." Perintah Sean.
"Tunggu dulu!" Kata Barrak.
"Kenapa lagi sayang?" Tanya Sean dengan nada meninggi.
"Tidak baik dalam suasana gelap seperti ini. Nanti kami kena percikan dar-h, tidak baik untuk kamu." Barrak mengingatkan.
Sean berpikir lagi, benar juga apa yang di katakan oleh suaminya. Ia tidak ingin kena percikan wanita yang sangat di bencinya itu.
Suasana sangat mencekam bagi Ica. Ia hanya berdoa semoga Tuhan masih berpihak kepadanya.
"Bengong saja, cepat hidupkan lampu! Dari tadi diam saja." Kata Sean.
Mendengar perintah dari Bosnya, seorang dari mereka menghidupkan senter ponselnya. Menyelinap ke dalam sebuah ruangan, ia mencari saklar untuk menghidupkan lampu listrik yang ada.
__ADS_1
Cek lek
Tanpa hitungan detik listrik menyalah di seluruh ruangan. Sean mendekati wajah Ica yang telah pucat karena ketakutan.
Ica sekali melirik ke arah Barrak dengan pandangan yang tidak bisa di artikan. Ica memandang lekat wajah pria itu, ia seakan pernah mengenalnya. Tetapi untuk mengingat kembali yang sudah ia lewati, kepalanya terasa sangat pusing.
"Putri George?" Gumam Barrak saat melihat wajah Ica.
Barrak sangat terkejut ternyata gadis yang sangat istrinya benci adalah Putri George. Dilema mulai menyelimuti hatinya. "Bagaimana ini jika Dave dan Harris mengetahuinya? Apalagi Ronald, ia akan melindungi keluarganya lebih dari dirinya." Kata Barrak dalam hati.
Ia tidak mungkin menghabisi putri orang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Tetapi juga tidak mungkin menolak kehendak istrinya. Karena demi anak yang ada dalam kandungannya.
Ia juga sangat mencintai wanita itu. Terlebih menurut istrinya, Putri George lah yang sering menghinanya.
"Sepertinya saya ingin melihat kelihaian kamu dalam menggoda Marvin. Coba buktikan sekalian pisau dapur ini akan membuat tanda-tanda cinta di tubuh mu." Bisik Sean pelan.
Sangat pelan ia berbicara di telinga Ica. Namun ia bisa memastikan Ica bisa mendengar jelas.
Ica hanya bisa menelan saliva nya. Dengan tubuh yang gemetar ia menunggu detik demi detik, seperti di dalam ruangan operasi. Ia hanya bisa pasrah kepada Tuhan atas hidupnya.
Tidak terhitung lagi sudah berapa banyak air mata yang menghangatkan pipinya. Tubuhnya terikat di kursi tua hampir dua jam membuang tubuhnya sangat sakit.
"Ayo, silahkan nikmati tubuh wanita menjijikkan ini. Siapa saja boleh duluan jangan lupa kasih tanda sepuas kalian. Tapi jangan biarkan ia mati duluan. Saya masih ingin bermain-main dengannya." Kata Sean setengah berteriak.
Barrak hampir tidak bisa mengenali istrinya. Mengapa Sean yang ia kenal berubah menjadi wanita sangat kejam. Ia saja yang sudah lama menjadi kepala geng mafia, tidak pernah memperlakukan wanita seperti ini.
Ia tidak habis pikir mengapa Sean begitu berniat membuat gadis ini menderita. Muncul di kepala Barrak pertanyaan apa yang terjadi di antara mereka.
Karena sebagai orang yang pernah belajar di tentang kepribadian. Tidak mungkin akan seperti ini jika hanya di hina atau di olok-olok. Apalagi terjadinya sudah sangat lama, jika mungkin harus membun-uh tentu tidak sesadis ini.
Barrak mencoba mengulur waktu. Ia ingin menghubungi Harris agar masalahnya jelas. Ia tidak mungkin membiarkan penindasan terjadi di depan matanya tanpa alasan yang jelas.
Melihat salah satu anak buah Sean melangkah. Barrak tiba memiliki akal konyol. Ia pura-pura sakit kepala.
"Sayang aduh-duh, kepala saya sangat sakit." Kata Barrak sempoyongan.
"Sayang kenapa? Kok bisa seperti ini, ayo kita berobat dulu." Kata Sean.
Ia memberi perintah kepada anak buahnya untuk menunggu mereka kembali. Ia tidak ingin satu detik pun terlewatkan di matanya.
"Jangan sedikitpun sentuh gadis itu sampai saya kembali!" Perintah Sean.
__ADS_1
Sean membopong Barrak ingin membawa suaminya ke klinik terlebih dahulu. Namun saat mereka memutar badan, tiba-tiba...,"
"Sepertinya ingin bermain-main dengan saya, cecunguk kecil! Berani sekali kalian mengusik mahkota keluarga George!" Ucap seseorang yang berdiri tegap di depan pintu.