Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Menyusun Rencana


__ADS_3

Jasean hanya terpaku menatap kepergian Arbeni dan Ica. Ia tidak menyangka bahwa Spica utami gadis desa, seorang mahasiswi baru di kampus ini adalah adik kandung Arbeni mantan kekasihnya waktu kuliah.


Hal yang membuatnya lebih terkejut lagi bahwa mereka adalah generasi kedua pemilik universitas tempatnya mengajar sekarang. "Apa mereka sekaya itu sekarang? Padahal dulu waktu kuliah, mobil yang milik Beni di bawa mobilnya Marvin." Kata Sean dalam hati.


"Apa mereka benar pemilik kampus ini?" Tanya Sean kepada Engga yang duduk di kursi taman.


"Gak tau juga sih, kalau mereka benar dari keturunan Adikara. Berarti benar mereka pemilik universitas." Jawab Dosen Engga.


"Wah, Kalau begitu ini kesempatan bagus Ngga." Kata Sean.


"Kesempatan apa?" Tanya Dosen Engga.


"Yeah kesempatan, Kamu dekati Ica dan aku bisa dekat lagi dengan Kak Beni." Kata Sean tanpa malu.


"Sean, Sean... Kamu tidak mengerti perjuangan saya bisa menjadi dosen di sini sangatlah susah. Kehidupan saya tidaklah seberuntung kehidupan kalian. Andaikan saya menyukai Ica itu bukan kerena ia pemilik universitas tempat kita bekerja." Kata Engga malas mengikuti kelicikan Sean.


"Terserah kamu, diajak hidup senang saja nggak mau. Lagian apa susahnya mendekati Spica itu, dia masih polos juga." Kata Sean dengan nada emosi.


Dosen Engga kemudian pergi tidak ingin berdebat dengan rekan kerjanya. Selama ini ia menaruh hati kepada Miss Sean karena kecantikannya. Sejak kejadian tadi rasa kekagumannya sedikit memudar.


Sean tidak habis pikir, Ia memutar otak bagaimana bisa mendekati Beni kembali. "Kalau tidak bisa mendapatkan Beni, Marvin juga boleh jadi. Sama-sama pengusaha." Kata Sean dalam hati.


Dalam menjalankan rencananya, Sean akan memanfaatkan Ica sebagai umpan. Ia akan mengancam Ica tidak bisa lulus dalam mata kuliahnya. "Bisalah gadis itu saya atur." Kata Sean.


Sean akan menghasut Marvin jika Beni sulit didapatkan. Ia akan memanfaatkan Dosen Engga untuk membuat Marvin membenci Ica.


**********


Beni memarkirkan mobilnya di halaman. Ia segera menggandeng Ica untuk bertemu Mama Diana.


"Hai Ma, lihat siapa yang datang?" Kata Beni.


Nyonya Diana sedang tiduran menonton televisi, mengarahkan pandangannya ke arah Beni.


"Ehh, anak Mama sudah datang." Nyonya Diana mendekat lalu merangkul Ica.


Kemudian Nyonya Diana mengajak Ica duduk di sofa ruang TV tersebut. Tidak lupa Ia meminta Bibi menyiapkan makanan untuk anaknya itu.


"Gimana sayang perkuliahannya?" Tanya Nyonya Diana.

__ADS_1


"Baik-baik saja Ma." Jawab Ica.


"Kamu tau, universitas tempat kamu berkuliah adalah milik Ayah. Itu artinya milik kamu juga." Cerita Mama Diana berapi-api.


"Iya, Ma. Tadi Kak Beni yang cerita." Kata Ica.


"Kamu senang nggak?" Tanya Mama Diana.


"Ica senang Ma." Jawab Ica ingin membahagiakan Mama Diana.


Sebenarnya Ica merasakan hidupnya rumit setelah kecopetan dulu. Ia sudah senang diangkat keluarga Bunda Lusi menjadi putrinya. Masalah tiba--tiba datang ketika Marvin ingin melamarnya.


Setelah menerima Marvin menjadi tunangan. Ica berharap semuanya menjadi lebih baik. Ternyata masalah datang lagi, Ia merasa tidak baik-baik saja ketika Marvin bertemu dengan Sean kekasihnya dulu. Apalagi sekarang saat tau Sean adalah dosennya.


"Sayang kok melamun? Coba ceritakan sama Mama?" Kata Mama Diana.


"Enggak Ma, Ica Gak kenapa-kenapa." Jawab Ica.


"Ica kangen sama Marvin." Selidik Mama Diana.


"Apa ada yang menyakitimu di kampus?" Tanya Mama Diana.


Belum sempat Ica menjawab, Beni sudah duduk di dekat Ica. Ia membawa tiga botol minuman dan dua toples camilan.


"Oh, ya? Kok bisa?" Tanya Mama Diana.


"Mereka belum tau, kalau Ica adiknya Kak Beni Ma." Jelas Ica menenangkan Mama Diana.


"Kalau seandainya kamu bukan adiknya Beni. Kan tidak bisa di benarkan juga tindakan mereka." Kata Mama Diana emosi.


"Beni juga sudah bilang begitu Ma pada mereka." Jawab Beni mendukung Mamanya.


"Mama akan datang ke kampus Ica besok. Mama mau lihat wajah Dosen yang berani membully anak Mama." Kata Mama Diana menahan emosi.


"Nggak apa-apa Ma, tidak usah di permasalahkan. Ica kan baik-baik saja." Kata Ica.


"Nggak apa-apa Nak, Mama nggak marah sama kamu. Terus hubungan mu sama Marvin itu gimana nak? Bukannya kamu lebih baik tinggal disini? Kita menemui orang tua mu terlebih dahulu." Kata Mama Diana.


"Entahlah Ma." Kata Ica menunduk.

__ADS_1


"Ica sebagai Kakak kandung kamu, saya sangat menghawatirkan kamu di sana. Karena saya sangat mengenal Marvin tunanganmu itu." Kata Arbeni tegas.


"Memangnya kenapa dengan Marvin, Beni?" Tanya Mama Diana.


"Enggak Ma, yang Beni takutkan Ica hanya dijadikan pelarian saja oleh Marvin, setelah ia mengalami patah hati oleh kekasihnya dulu. Atau bisa jadi kerena Ica sudah kaya sekarang, mereka mau memanfaatkan Ica." Kata Beni.


"Benar begitu Sayang? Kamu tidak terlalu mengenal Marvin?" Tanya Mama Diana Lembut.


"Kalau untuk yang pertama Ica tidak tau Ma, tapi kalau keluarga Bunda Lusi mau memanfaatkan Ica, sepertinya tidak mungkin Ma." Jelas Ica hampir meneteskan air mata.


"Tidak apa-apa sayang. Kakak mu ini memang terlalu kasar." Kata Mama Diana memeluk Ica.


"Iya Ma, Ica mengerti maksud Kak Beni." Jawab Ica.


"Maafin Kakak ya sayang, Kakak hanya tidak ingin melihat kamu terluka lagi." Kata Beni menahan air matanya.


Beni kemudian pergi ke kamar, meninggalkan adik dan ibunya. Ia tidak bermaksud menyinggung perasaan adiknya. Hanya saja ada beberapa alasan membuat Beni berkata seperti itu.


Pertama, saat Ia hampir menyerempet Ica. Pada waktu Ica tau Marvin sedang bersama wanita lain.


Kedua, mereka sepakat menjadikan Ica syarat untuk melakukan kerja sama. Ketiga, Beni tidak pernah mendengar Marvin mengantar Ica ke kampus. Karena Beni menyuruh orang untuk menjaga Ica dari jauh.


Keempat, Ia tau betapa Marvin sangat mencintai Sean dulu. Rela ia memberikan motor gede kesayangannya, agar Beni tidak mendekati Sean lagi. Dari semua itu Beni sebenarnya agak ragu.


**********


"Sayang, kamu jadi nginap disini?" Tanya Mama Diana melihat Ica terus menunduk.


Ica hanya diam, ia masih bisa menerima jika Beni mengatakan Marvin menjadikannya pelampiasan. Tapi berat rasanya jika keluarga yang sudah sangat menyayangi dia dikatakan akan memanfaatkannya.


"Sayang?" Kata Mama Diana mengelus rambut Ica.


"Iya Ma." Jawab Ica singkat.


"Sayang, apa kamu mencintai Marvin Nak?" Tanya Mama Diana.


"Enggak tau Ma." Jawab Ica.


"Beni, sini dulu." Panggil Mama Diana setengah berteriak.

__ADS_1


"Ada apa Ma?" Tanya Beni Mendekati Nyonya Diana.


"Temani adik mu! Mama buka pintu dulu, sepertinya ada tamu." Kata Mama Diana sambil berlalu.


__ADS_2