Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Kesepakatan


__ADS_3

Nyonya Diana tidak berhenti memeluk Ica sambil menangis. Sekitar delapan belas tahun yang lalu putri kecilnya hilang saat di rawat di sebuah rumah sakit.


Putrinya yang lebih kurang berumur satu tahun itu mulanya di rawat karena demam. Nyonya Diana menitipkan kepada pengasuh anaknya, saat Ia keluar sebentar.


Ketika ia kembali, pengasuh mengatakan seseorang yang berseragam suster telah membawa anaknya. Suster itu mengatakan atas perintah Nyonya Diana.


Saat bayi Nyonya Diana memberi nama Adelia Adikara untuk Sang Putri. Mungkin karena alasan tidak tau namanya mereka memberi nama baru.


"Ica, sayang... Apa Mama boleh melihat sesuatu?" Kata Nyonya Diana.


"Silahkan Nyonya." Jawab Ica.


Nyonya Diana menyingkapkan rambut Ica bagian belakang. Ia melihat tanda lahir seperti getah pisang di leher Ica sebesar tutup botol.


Pak Hendro dan Beni yang sedari tadi hanya berdiam diri. Mereka akhirnya mendekati Ica untuk melihat langsung tanda lahir itu.


"Astaga, Tuhan. Ia benar-benar putri kecil kita Pa." Kata Mama Diana.


"Ma, jadi Ica adalah adik kandung Beni Ma?" Kata Beni meyakinkan diri sendiri.


"Iya, Sayang." Jawab Nyonya Diana.


************


"Tuan David, Nyonya Lusi saya sangat berterima kasih telah menjaga putri kami. Bagaimanapun jalannya ini adalah keajaiban bagi keluarga kami." Kata Pak Hendro memulai.


"Terimakasih Tuan Adikara, Kami sekeluarga meminta maaf kalau perlakuan kami ada yang kurang berkenan di hati putri anda." Kata Pak David.


"Ma tolong ambilkan ceknya." Perintah Pak Hendro.


"Ini Pa." Kata Nyonya Diana.


Pak Hendro terlihat sedang menulis di atas cek kosong tersebut. Tentu sejumlah uang di ujung pena yang di gunakan.


"Ini Tuan dan Nyonya, 1,2M kami sekeluarga ikhlas memberikannya untuk keluarga Tuan Adikara," Kata Pak Hendro.


"Saya juga akan ke desa menemui orang orang tua Ica dalam waktu dekat." Kata Pak Hendro.


"Baik Tuan, Kami sangat berterimakasih atas bantuan Tuan dan Nyonya untuk perusahaan kami." Kata Pak David.


"Kami permisi pamit dulu Bunda Lusi," Kata Nyonya Diana.


"Sayang, Mama ini adalah Ibu kandungmu Nak. Ayok kita pulang, kan ada Kak Beni yang sudah kamu kenal." Pinta Nyonya Diana.


"Iya Ca, nanti Kakak ajak jalan-jalan. Kalau kamu mau boleh ambil mobil Kakak, pilih deh." Kata Beni membujuk Ica.


Pak David dan Bunda Lusi melirik kepada Marvin yang sejak tadi hanya menunduk. Mereka merasakan apa yang putranya rasakan. Sepertinya tidak pantas bersanding dengan putri keluarga Adikara tersebut.


Jika di bandingkan aset dan kekayaan mereka tidak ada apa-apanya di bandingkan aset dan kekayaan dari keluarga Adikara. Apalagi saat ini orang tuanya di bantu deng cuma-cuma oleh keluarga itu.


Dalam hati Marvin, Ica bisa saja mendapatkan laki-laki yang lebih dari pada dia. Setelah ia tinggal dengan keluarga Adikara.

__ADS_1


"Ica, Ayok Nak. Naik mobil sama Papa atau Kak Beni?" Tanya Nyonya Diana.


"Maaf Ma, untuk sekarang Ica belum bisa ikut Mama. Mungkin besok Ica akan datang kesana." Jawab Ica.


"Baiklah kalau begitu Ica, Mama mengalah. Tapi besok ya sayang. Janji?" Kata Nyonya Diana.


"Iya Ma." Jawab Ica singkat.


"Tuan, Nyonya, Nak Marvin, Nak Vano. Kami pamit dulu." Kata Pak Hendro.


"Ca besok Kakak jemput ya." Kata Beni memeluk Ica.


Setelah bersalaman, Bunda Lusi memberikan bingkisan sebagai oleh-oleh untuk tamunya. Mereka mengantar keluarga Adikara sampai depan rumah.


Setelah itu mereka duduk lagi di tempat semula, kecuali Marvin. Ia memilih naik ke atas. Vano tetap duduk di tempatnya tadi.


"Bunda, sepertinya Bang Marvin terpukul dengan kejadian ini?" Ujar Vano yang dari tadi hanya berdiam diri.


"Iya Nak, Bunda tau. Tapi bagaimana lagi kita sedang membutuhkan banyak uang, untuk kebutuhan perusahaan." Jawab Bunda Lusi.


"Andai saja Ica bukan anak kandung Tuan Adikara, mungkin kita hanya berhutang uang bukan berhutang budi." Kata Vano sebelum Ica datang dari halaman depan.


"Mana Bang Marvin Bunda?" Tanya Ica baru masuk.


"Sini duduk dulu Ca." Kata Bunda Lusi.


Ica duduk di samping Bunda Lusi. Ica juga memeluk Bunda nya itu.


"Hem... Ica takut Bunda." Kata Ica menunduk.


"Takut kenapa sayang?" Tanya Bunda Lusi.


"Ica takut menyakiti keluarga di sini dan Ica takut menyakiti perasaan Abang Marvin." Kata Ica menunduk.


Tak terasa air mata Bunda Lusi menetes. Ia tidak salah memilih Ica sebagai calon menantunya.


"Beeehhh... Bang Marvin aja di pikirin, nanti kalau kamu sudah jadi putri Adikara, banyak cowok kaya dan ganteng mendekatimu." Kata Vano cengengesan.


"Hus, Vano jangan gitu kenapa?" Kata Bunda Lusi.


"Maaf lah Bunda, kalau gitu Vano pergi dulu. Cari angin." Kata Vano.


"Bunda, Ayah. Ica pamit ke atas cari Bang Marvin dulu." Kata Ica.


"Iya Nak." Jawab Bunda Lusi.


Ica sudah melangkah menuju tangga. Ia masih nampak seperti biasanya, walaupun sudah mengetahui bawa Ia adalah seorang putri dari keluarga sangat kaya.


"Bunda salut dengan Ica Yah, bagaimanapun Ia bisa menempatkan diri dan menjaga perasaan kita." Kata Bunda Lusi.


"Iya Bunda, Ayah merasa banyak berkah yang ia bawa untuk keluarga kita." Kata Pak David.

__ADS_1


Ica membuka kamar Marvin, yang biasa ia tempati selama di rumah keluarga Wiraarga. Marvin sedang memainkan ponselnya.


"Bang, kita main ke taman belakang rumah yuk?" Ajak Ica.


"Malas." Jawab Marvin ketus.


"Oh, ya udah. Ica kebawa dulu ya Bang, selamat istirahat." Kata Ica memutar badannya.


Marvin menggenggam erat pergelangan tangan Ica. Ica yang terkejut memutar badan kearah Marvin.


"Ada apa Bang? Mau ikut?" Tanya Marvin.


"Apa kamu akan tinggal di rumah Adikara Ca?" Tanya Marvin.


"Iya Bang, Besok. Ica kasian melihat Nyonya Diana menangis terus-menerus." Jawab Ica.


"Wah, selamat ya seperti mimpi. Ternyata kamu putri orang terkaya di negara ini." Kata Marvin.


"Iya Bang, terimakasih. Benar-benar seperti mimpi." Kata Ica.


"Rasanya tak pantas Ca, saya bersanding dengan kamu. Lagi pula Beni sangat membenci saya, tidak mungkin merestui hubungan kita." Kata Marvin.


"Kak Beni orangnya baik kok, Ica yakin Kak Beni tidak akan membenci Abang." Kata Ica.


"Tapi...." Kata Marvin terputus.


"Udahlah Bang, Ica sayang sama Abang. Love u." Ica memeluk dan melayangkan kecupan ke pipi Marvin.


"Maaf Ca, sekarang Sean sudah kembali dan ia telah meminta untuk melanjutkan hubungan kami." Kata Marvin memalingkan muka menghindari Ica.


"Oh, Jadi itu alasan Abang? Ini seperti mimpi juga bagi Ica." Jawab Ica meneteskan air mata.


"Pantas saja Abang tidak mau memutuskan Sean," Ica menangis terisak.


"Sean sekarang menjadi Dosen Ica di kampus. Tapi ica mencoba bertahan agar bisa kuliah dan lulus dengan baik." Kata Ica.


"Oh ya, bagus dong dia lulusan terbaik di salah satu universitas luar negeri." Kata Marvin memuji Sean.


"Iya Bang." Jawab Ica.


Ica merasa perkataan Marvin memuji Sean di depannya sengaja ia lakukan. Supaya ia bisa kembali kepada Sean.


"Ica pamit Bang, besok pagi Ica di jemput Kak Beni sekalian mau pulang kampung dulu," Kata Ica.


"Iya, hati-hati ya." Jawab Marvin.


"Bang, sebenarnya tadi Ica belum mau ikut Mama Diana. Agar Ica lebih lama lagi bersama Abang. Tapi ya sudahlah." Kata Ica memutar badannya keluar dari kamar Marvin.


Marvin hanya berdiam diri setelah Ica pergi. Ia sengaja menjauhi Ica. Dirinya merasa rendah diri setelah mengetahui Ica adalah putri kandung dari keluarga Adikara.


Kedua, Ia pernah mengambil Sean yang saat itu adalah kekasih Arbeni. Sebenarnya hanya salah paham karena waktu itu Sean mengaku kepada Marvin tidak mempunyai kekasih.

__ADS_1


Mendengar Ica adalah adik kandung Arbeni Adikara, rasanya tidak mungkin ada kesempatan bagi Marvin mendekati gadis itu lagi. "Dari pada sakit nanti lebih baik sekarang." Gumam Marvin.


__ADS_2