
Pria itu menarik Ica masuk ke dalam mobilnya sebelum Marvin datang. Pergelangan tangan Ica di tarik paksa oleh pria tersebut. Sehingga membuatnya tangannya sedikit sakit.
"Kenapa kamu membawa saya?" Tanya Ica
Air mata Ica telah mengambang, ingin tumpah dari sudut matanya yang cantik. Pria yang memakai masker itu tidak menghiraukan Ica yang sedang menangis.
Mobil itu melaju membawa Ica yang berkali-kali memohon kepadanya. Namun seakan buta dan tuli pria itu tidak menghiraukan permintaan Ica.
Pemuda itu mengarahkan mobilnya ke dalam hutan, di sebelah barat hutan tersebut adalah samudra dan pelabuhan. Menuju sebuah rumah tua yang ada di sana. Mobil itu berhenti, pria itu m membawa Ica masuk ke dalam rumah.
"Ayo duduk." Perintah pria tersebut.
"Sebenarnya kamu siapa? Apa salah saya pada mu?" Tanya Ica meringkuk duduk di sebuah kursi tua.
"Diam! Bisa nggak diam? Berisik lagi kamu saya bunuh." Kata Pria tersebut.
Ica sangat takut dengan ancaman pemuda tersebut. Ia memilih diam, lebih baik mati satu menit kemudian dari pada mati sekarang.
Pria itu perlahan membuka kacamata dan penutup wajahnya. Ia memandang tajam wajah Ica yang ketakutan.
"Astaga, Dosen Engga? Kenapa Kakak lakukan ini? Apa salah saya kepada Kak Engga? Padahal dulu Ica pernah menyelamatkan Kakak bersama Sean?" Kata Ica menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Kamu memang tidak salah. Saya lah yang bersalah, saya terpaksa menerima pinjaman uang dari seseorang yang sekarang saya bekerja padanya." Kata Engga dengan sorot mata tajam.
"Kak tapi mengapa saya harus di bawah kemari?" Tanya Ica.
"Karena malam ini saya akan menyerahkan mu untuk di habisi." Kata Engga tertawa menggelegar.
"Kenapa Kakak tega melakukan ini kepada saya?" Tanya Ica tersedu.
"Saya sudah bilang, saya berhutang waktu itu dan tidak sanggup membayarnya. Saya bisa menyelamatkanmu malam ini, asal kamu memenuhi syarat yang saya ajukan." Kata Engga.
__ADS_1
"Apa Kak? Tolong saya Kak." Kata Ica.
"Ada dua syarat yang saya ajukan. Pertama saya ingin memilikimu, kita akan pergi dari sini ke tempat yang jauh. Hingga tidak ada orang yang bisa menemukan kita. Kedua, saya ingin kamu membayar hutang saya sebesar 250 juta." Kata Engga.
"Untuk apa Kakak berhutang sebanyak itu?" Tanya Ica.
"Beberapa bulan yang lalu Ibu saya masuk rumah sakit. Saya harus menyiapkan uang untuk operasi sebanyak empat kali. Karena menjaga beliau, saya juga harus di berhentikan sebagai dosen di yayasan mu itu. Dasar tidak punya hati!" Kata Beni Marah.
"Kenapa bisa di pecat? Kenapa Kakak tidak mengubungi saya?" Tanya Ica merasa bersalah.
"Tidak menghubungi mu, kata mu? Saya sudah berulang kali menghubungi mu. Namun apa yang saya dapat? Panggilan saya terus kamu matikan tanpa di angkat terlebih dahulu." Kata Engga.
"Kak sabarlah, saya bisa membayar hutang Kakak. Saya juga bisa menjadikan Kakak sebagai Dosen tetap di sana. Kalau Kakak mau, saya akan meminta Papa untuk mendirikan universitas untuk Kakak. Tolong saya Kak." Kata Ica.
"Orang seperti mu tidak bisa di percaya. Saya dan Ibu saya akan mati di bunuh jika tidak melunasi hutang itu. Sedangkan kamu akan hidup bahagia bersama kekasihmu? Itu tidak akan saya biarkan Ica, kita akan mati bersama-sama." Kata Engga seolah putus asa.
"Kak, dengarkanlah saya. Setelah kita pulang ke rumah, saya akan mengatakan bahwa Kakak membawa saya pergi untuk keselamatan saya. kemudian saya akan meminta Papa memberikan uang. Seandainya tidak, uang Ica masih ada lebih dari hutang Kakak. Apa Kakak mau Ibu di sakiti penjahat juga?" Tanya Ica.
Lama berpikir, akhirnya Dosen Engga menyepakati apa yang di katakan Ica. Ia meminta untuk hutangnya di lunasi dan di jadikan rektor di Universitas naungan Yayasan milik Adikara Group.
Beni mengeluarkan sebuah kertas, ia menulis dengan penerangan layar handphone seadanya. Menuliskan rincian perjanjian yang akan di tanda tangani oleh Ica.
"Bagaiman dengan persyaratan pertama? Apa kamu mau menikah dengan saya?" Tanya Engga.
"Seandainya cinta bisa di paksakan, seandainya akan ada bahagia setelah kita menikah? Saya yakin Kakak hanya mengagumi saya, bukan mencintai.
Saya sudah tau Kakak memiliki tunangan. Saya pernah melihat Kakak tersenyum lepas bersama gadis itu, bukankah hal itu lebih dari sekedar mengagumi?" Kata Ica dengan sendu.
"Kapan kamu melihatnya? Tapi benar yang kamu katakan, saya mengagumi keberuntungan mu. Saya mengagumi kebaikan mu, walau itu bukan pada saya." Kata Engga.
"Saya berjanji Kakak akan melihat dan merasakan sendiri kebaikan yang saya berikan dengan tulus." Kata Ica.
__ADS_1
"Saya mohon Kak, keluarkan saya dari sini. Kita akan bersama melewati masalah ini." Kata Ica menangis sejadinya.
"Kita akan menunggu pagi. Kita akan pergi dari sini, sebelum mereka menemukan kita." Kata Engga.
Engga mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Sudah banyak panggilan telepon yang masuk dari bosnya. Ia membaca pesan terakhir dari sang bos.
Ia mengatakan akan segera menemui Engga sesuai alamat GPS. Ia ingin bermain-main dengan musuh lamanya.
"Astaga Ca, GPS di ponsel saya lupa di matikan. Mereka sedang menuju ke sini." Kata Engga.
"Terus kita harus bagaimana Kak?" Tanya Ica bingung.
"Ayo kita pergi sekarang juga, sebelum mereka datang." Kata Engga.
Ia menarik tangan Ica menaiki mobil. Sebelumya Engga telah mematikan GPS ponselnya. Bahkan Ia juga mematikan ponselnya dan menyuruh Ica melakukan hal yang sama.
Engga melajukan mobilnya keluar lewat jalan yang berbeda melewati hutan. Ia tidak ingin gadis ini mati sia-sia. Ia mengingat betapa baiknya gadis ini saat dulu membela diri di depan pemilik yayasan.
Ia juga tidak tidak menyalahkan Ica atas perasaanya. Engga juga menyadari bahwa perasaannya juga untuk gadis lain. Ia hanya ingin menikmati kekayaan keluarga Adikara, membuat dirinya khilaf belakangan ini.
"Kak, kita kemana?" Tanya Ica.
"Kita akan pulang ke rumah mu. Tapi kita harus ganti mobil terlebih dahulu. Karena ini mobil pemberian mereka, pasti mereka mengenalinya." Kata Engga.
"Kita sewa motor saja Kak, biar lebih muda. Atau kalau tidak saya akan menelepon Kak Beni." Kata Ica.
"Menelepon keluarga my sama saja kamu membunuh saya Ca. Mereka tentu akan menghakimi saya atas kejadian ini. Saya akan mengantar mu pulang tapi tidak saat malam seperti ini." Kata Engga.
"Iya Kak." Jawab Ica singkat.
Sebenarnya Ica merasa antara nyaman atau tidak bersama Engga. Ia belum yakin kalau Engga tega melakukan ini kepadanya.
__ADS_1
Jangan-jangan Engga sedang merencanakan akan menyerahkan kepada bosnya itu. "Apa yang harus saya lakukan? Siapa yang bisa saya percaya?" Tanya Ica dalam hati.