
Bunda Lusi selesai menelpon Marvin. Jam dinding menunjukan pukul 16.05WIB. Ia di temani oleh suaminya duduk di meja makan.
Pak David sengaja pulang lebih awal dari kantor. Ia mendapat telepon dari istri memberitahukan bahwa keluarga Adikara akan bertamu pada malam ini.
"Yah, mengapa Bunda punya firasat tidak enak tentang mereka mau mengangkat Ica sebagai anak." Kata Bunda Lusi.
"Itu perasaan Bunda saja." Jawab Pak David.
"Iya Pak, mungkin kerena kita sudah menganggap Ica sebagai anak kita." Kata Bunda Lusi kemudian.
"Apa kata Marvin tadi Bun?" Tanya Pak David.
"Mereka akan pulang sore ini Yah." Jawab Bunda Lusi.
"Iyalah kalau begitu, Bunda istirahat saja dulu." Kata Pak David.
"Iya Yah." Jawab Bunda Lusi.
Bunda Lusi meninggalkan suaminya menuju kamarnya di lantai dua. Ia akan membaringkan tubuhnya sejenak. Sekalian menunggu anak-anaknya pulang.
Sedangkan Pak David menuju taman belakang rumah. Ia ingin menikmati udara segar, walaupun di tengah masalah yang sedang menimpanya.
**********
Ica masih berlama-lama membersihkan diri. Ia belum tau kalau calon mertuanya meminta agar mereka segera pulang.
"Sayang, apa sudah selesai." Tanya Marvin mengetuk pintu kamar Ica.
Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya suara air yang terdengar. Tidak lama kemudian Ica keluar dari kamar mandi. Ia mendengar Marvin mengetuk pintu.
"Ada apa Bang?" Tanya Ica.
"Harum sekali kamu sayang." Goda Marvin.
"Terimakasih sayang. Abang sudah rapi sekali?" Tanya Ica.
"Sayang, kita akan pulang sekarang. Keluarga Adikara akan datang malam ini, mereka ingin bertemu denganmu." Jelas Marvin.
"Iya Bang, Ica beres-bereskan kamar dulu." Kata Ica.
"Abang tunggu di bawah ya, Soalnya mau panaskan mobil sebentar. Dan menyiapkan barang-barang yang mau di bawa." Kata Marvin.
"Iya Bang." jawab Ica.
Marvin menuruni anak tangga. Ia akan mempersiapkan segala yang ingin dibawa pulang.
Ica yang sudah selesai membereskan kamarnya, ia membawa koper kecil kebawa mendekati Marvin.
"Bang sudah nih." Kata Ica.
"Coba cari Bi Surti dibelakang, kita akan berpamitan." Kata Marvin.
Ica memutar badan mencari orang yang di maksud. Bi Murti sedang menanam rempah-rempah dan kembang di belakang. Ica menghampiri Bi Murti.
"Bi, di panggil oleh Bang Marvin. Rencananya kami mau berpamitan pulang." Kata Ica.
"Buru-buru sekali neng, bukannya Den Marvin bilang masih malam nanti." Kata Bi Murti.
"Iya Bi, soalnya ada teman Ayah mau ke rumah sekitar pukul 19.00WIB." Jawab Ica menjelaskan.
__ADS_1
Bi Murti dan Ica sudah sampai di ruang tamu. Mang Tardi menyiapkan beberapa buah duren dan membungkus ikan hasil pancingan mereka tadi siang.
Tidak berapa lama semua suda siap. Marvin dan Ica berpamitan untuk segera pulang.
"Mang, Bi... Terimakasih sudah menjamu kami dan menerima kami dengan baik. Kami pamit pulang dulu." Kata Marvin.
"Ahh... Den Marvin, ini kan memang villanya Den Marvin." Kata Mang Tardi.
"Iya Mang, terimakasih banyak." Kata Marvin.
" Sama-sama Den." Jawab Mang Tardi.
Bi Murti memeluk Ica seakan tidak mau lepas. Kedua orang tua ini dulunya memang memiliki seorang anak perempuan. Ia meninggal terkena demam DBD sekitar delapan tahun yang lalu.
"Bi sudah jangan nangis, besok-besok kalau Ica tidak ada kuliah kami datang lagi." Kata Ica menenangkan Bi Murti.
"Iya Neng, hati-hati di jalan." Kata Bi Murti.
Marvin bersalaman dengan Mang Tardi dan Bi Murti. Ketika bersalaman dengan Bi Murti, Ia memberikan beberapa lembar pecahan uang merah.
"Den, tidak usah." Tolak Bi Murti.
"Gak apa-apa Bi, untuk beli sayuran." Kata Marvin.
"Gaji yang di berikan Tuan David sudah lebih dari cukup Nak Marvin. Mau nabung juga untuk siapa?" Kata Bi Murti meneteskan air mata.
"Nggak apa-apa Bi. Rejeki tidak elok kalau di tolak." Ica mengelus pundak Bi Murti.
"Iya Den, terimakasih." Bi Murti akhirnya menerima lembaran pemberian Marvin.
"Kami pamit ya Bi, Mang." Kata Ica.
Marvin sudah masuk kedalam mobil. Sedangkan Ica tertahan oleh Bi Murti. Bi Murti berlari ke kamarnya seperti mau mengambil sesuatu. Ia sudah berada di dekat Ica di samping mobil kurang dari dua menit.
"Ini Nak, pemberian dari Bibi." Kata Bi Murti.
Sebuah gelang berwarna gold di berikan oleh Bi Murti. Wanita paruh baya itu terlihat menahan kesedihan mendalam. Ica menerima pemberian Bi Murti dengan terharu.
"Terimakasih Bi, lain kali Ica datang lagi ke sini." Kata Ica tanpa sadar meneteskan air mata.
"Iya Nak, terimakasih." Kata Bi Murti melambaikan tangan.
Marvin segera melajukan mobilnya pelan. Ica masih melihat ke arah belakang mobil, Mang Tardi memeluk istrinya yang sedang menangis.
"Baik sekali mereka ya Bang." Kata Ica.
"Iya sayang, kalau anak perempuan mereka masih hidup. Mungkin sebesar kamu, paling dua tahun di bawah kamu." Kata Marvin menjelaskan.
"Sepertinya ini emas asli mahal harganya. Tapi kenapa di berikan sama Ica ya?" Kata Ica heran.
"Iya sayang itu emas asli. Bi Murti nitip uang sekitar lima belas juta kepada Bunda hasil buka celengan. Bi Murti ingin membelikan perhiasan untuk putrinya yang akan ulang tahun sebulan kemudian. Tapi naas putrinya meninggal seminggu setelah Bunda mengantar perhiasan itu." Jelas Marvin.
"Kasian sekali yaa Bang." Jawab Ica masih memandangi gelang pemberian Bi Murti.
"Iya, itu kalungnya yang di pakai Bi Murti." Kata Marvin.
"Tapi mengapa barang mahal ini di berikan untuk Ica ya Bang?" Kata Ica.
"Karena kamu pantas menerimanya sayang, baik dan cantik?" Jawab Marvin Sam bil mencubit pipi kenyal milik Ica.
__ADS_1
"Hem...." Gumam Ica.
"Kalau Arbeni yang memberikan barang mahal. Enggak bilang gitu." Marvin mulai cemburu.
"Sayang, kok sampai kesana pembicaraannya?" Tanya Ica.
"Sayang sih, kalau Bi Murti yang kasih merasa tidak pantas. Kalau Beni sialan itu yang kasih biasa aja, 'Mungkin hadiah bang.' Kan gak logika." Kata Marvin memulai kecemburuannya.
"Iya deh, Maaf Bang." Kata Ica melayangkan ciuman di sudut bibir Marvin.
"Ingat ya jangan genit di depan Arbeni dan keluarganya nanti. Kalau bukan ingin membantu Ayah. Mana sudi saya ketemu dengan anak Adikara sok kegantengan itu." Umpat Marvin.
"Udah-udah sayang, Ica hanya mencintai Tuan Marvinno seorang." Ica memeluk Marvin dari samping.
"Awas loh, nabrak orang nanti." Kata Marvin.
Dalam hatinya Marvin sangat senang dengan pernyataan Ica. Namun egonya Ia menyembunyikan perasaan budak cintanya terhadap Ica.
Marvin terus melajukan mobilnya. Ica yang habis ia bentak terlihat tertidur dan masih menggenggam gelang pemberian Bi Murti tadi. Ada perasaan bersalah dalam hati Marvin.
************
Di ruang tamu sudah nampak keluarga Adikara, Pak Hendro, Nyonya Diana dan anak mereka Arbeni Adikara. Mereka membawa surat-surat yang harus di tanda tangani dalam persetujuan kerja sama.
Marvin memarkirkan mobilnya di belakang mobil milik Tuan Adikara. Ia segera membangunkan Ica. Gelangnya sudah di pasangkan Marvin ditangan kanan Ica saat ia tidur.
"Selamat malam." Sapa Marvin karena sudah terlihat mobil tamu parkir di halaman.
"Selamat Malam." Jawab sebagian besar mereka.
Marvin menyalami tamunya satu persatu dan Ayah Bunda nya. Ica mengikuti dari belakang. Marvin yang sudah duduk di sofa melirik saat Ica bersalaman dengan Beni. Ica duduk di sebelah Bunda Lusi.
Tanpa sepengetahuan mereka Nyonya Diana terus memperhatikan Ica yang sedang menunduk. Ia merasa bergetar saat melihat anak ini, padahal baru pertama kalinya. "Pantas saja Beni sangat memperjuangkan anak ini, saya pun akan melakukan hal yang sama stelah bertemu dengannya." Kata Nyonya Diana dalam hati.
"Tuan dan Nyonya Adikara terimakasih sudah mau berkunjung di kediaman kami ini." Kata Pak David memulai pembicaraan serius.
"Kami juga sangat berterima kasih kedatangan kami sudah di sambut baik oleh keluarga Tuan Wiraarga di sini," Kata Pak Hendro.
"Adapun maksud kedatangan kami, adalah dikarenakan istri saya ingin bertemu secara langsung dengan Ica." Kat Pak Hendro.
"Perlu Tuan dan Nyonya ketahui, Ica ini anak angkat kami dan tunangannya Marvin anak kami." Kata Bunda Lusi menegaskan.
"Saya mengerti Jeng, Beni juga tidak berminat merebut Ica dari anak Jeng. Seperti...." Kata Nyonya Diana Panas.
"Mama, sudahlah. Kita datang untuk Ica kan?" Kata Beni.
"Nak Ica, maaf tadi saya tak sengaja melihat Nak Ica memakai kalung. Boleh saya lihat?" Kata Nyonya Diana.
"Oh, Iya. Ini Nyonya." Kata Ica sambil melepas kalung miliknya.
"Jangan panggil Nyonya sayang, panggil Mama dong." Kata Arbeni.
Marvin yang sudah geram menahan amarahnya. "Coba kalau bukan karena Ayah butuh uang dari keluarga sialan ini, sudah saya remukan kepala dia." Kata Marvin dalam hati.
Nyonya Diana menerima kalung silver dengan liontin berbentuk love tersebut. Mukanya terlihat berubah pucat dengan hati-hati Ia membuka liontin tersebut. Di dalam liontin ada tulisan 'Adr'.
"Adr Pa, Dia anak kita." Nyonya Diana memeluk Ica sangat erat.
Semua mereka terkejut, seorang Nyonya Diana yang sangat ganas ketika di kantornya. Tiba-tiba turun ke lantai memeluk Ica sambil menangis.
__ADS_1