
Pak David di ruangan kantor bersama istrinya. Mereka mendiskusikan apa yang Pak David Terima dari sambungan telepon tadi.
Pak David mengatakan sejujur mungkin kepada istrinya. Bagaimana permasalahan ini.
"Bun, tadi Pak Alex sudah telepon lagi." Kata Pak David.
"Terus bagaimana Yah?" Tanya Bunda Lusi.
"Tidak ada jalan lain Bun, kita harus merelakan semua aset yang kita punya." Kata Pak David.
"Tidak apa-apa Yah, Bunda sudah ikhlas." Kata Bunda Lusi.
Mereka berpelukan, mengingat sebentar lagi usaha dan tempat tinggal yang mereka miliki akan menjadi milik orang lain. Pak David menawarkan perusahaannya kepada teman dan rekan bisnisnya.
Setelah membuat iklan dijejaring sosial. Pak David dan istrinya pulang ke rumah untuk beristirahat melepas lelah.
Hanya butuh waktu setengah jam, suami istri tersebut sudah sampai di kediaman mereka. Melihat rumah nampak sepi, mereka masuk dan bertanya kepada Bibi pembantu rumah tangga.
Bunda Lusi bertanya kepada Bi Siti yang sedang beres-beres rumah. Bi Nina juga ada, sedang memasak untuk makan malam nanti.
"Bi, anak-anak pada kemana?" Tanya Bunda Lusi.
"Den Vano belum pulang Nyonya, Den Marvin ada di kamar atas." Kata Bi Siti.
"Ica kemana Bi? Apa di atas bersama Marvin?" Tanya Bunda Lusi lagi.
"Nak Ica sudah pergi dari tadi Nya, katanya mau pulang sebentar." Jawab Bi Nina.
"Oh, baiklah Bi." Kata Bunda Lusi.
Bunda Lusi segera naik ke atas menyusul suaminya yang sudah duluan dari tadi. Bunda Lusi nampak lemas memikirkan kejadian ini. "Pasti anak itu sedang berjuang juga, demi hubungannya dengan Marvin." Batin Bunda Lusi.
*********
Ica pulang ke rumah Pak Hendro menjelang siang hari. Ia akan menemui Kakaknya Beni untuk memohon pertolongan.
Ica sebelum pulang ke rumah, Ia menemui Beni di kantor Adikara group. Dengan penampilan seadanya Ica memasuki kantor.
"Maaf Mba, mau bertemu dengan siapa?" Tanya pegawai resepsionis.
"Saya mau bertemu Tuan Arbeni. Apa beliau ada di ruangan?" Tanya Ica.
"Maaf Mba, apa sudah ada janji bertemu hari ini dengan beliau?" Tanya pegawai tersebut.
"Oh, harus ada janji dulu ya?" Tanya Ica.
"Iya Mba, Soalnya Tuan Beni tidak mau diganggu saat di dalam ruangan. Apalagi ada Nona Sera bersama Tuan Beni sekarang." Kata pegawai resepsionis.
Ica berpikir tidak akan ada selesainya jika berdebat dengan pegawai ini. Ia juga memaklumi bahwa di sebuah kantor ada aturan dan juga konsekuensi bagi pelanggarnya.
"Baiklah, tolong hubungkan telepon dengan beliau. Karena ponsel saya ketinggalan." Kata Ica.
"Baik Mba." Kata Pegawai tersebut.
Pegawai resepsionis tersebut menelepon keruangan direktur. Ia harap-harap cemas karena Tuan Beni sering marah kalau menelpon tidak terlalu penting
"Halo, Tuan ada seorang gadis ingin bertemu dengan anda." Kata pegawai dari sambungan telepon.
__ADS_1
"Gadis siapa?" Tanya Beni.
"Saya tidak mengenalnya, tetapi dari pakaiannya dia bukanlah kenalan Tuan Beni." Kata Pegawai itu.
Ica yang mendengar perkataan pegawai itu merasa terhina. Tetapi bukan Ica namanya jika emosi bisa mengalahkan rasa sabarnya.
"Maaf Mba, boleh saya yang bicara?" Tanya Ica.
"Ini." Kata pegawai ketus.
"Halo Kak, Ica tidak di perkenankan masuk keruangan Kakak karena penampilan. Bisakah Kakak turun sebentar?" Kata Ica.
"Oh, adik Kakak datang?" Tanya Beni merasa bersalah.
"Bisa Kak? atau Ica tunggu Kakak di rumah saja." Kata Ica.
"Kakak turun sekarang menjemputmu." Kata Beni.
"Baiklah." Kata Ica.
Beni mematikan sambungan telepon. Ia masuk kedalam lift untuk turun ke lantai bawah. Sedangkan Sera menunggu dalam ruang kerja Beni.
Di kursi tunggu tamu, depan meja resepsionis. Ica menunduk melihat lantai marmer yang mengkilat. Sebenarnya Ica lagi memikirkan hubungannya dengan Marvin.
"Hai, sayang." Sapa Beni.
"Kak." Kata Ica mengangkat wajahnya.
"Sayang, mengapa kamu tidak langsung keruangan Kakak." Tanya Beni.
"Saya tidak diizinkan Kak." Kat Ica.
"Iya, Kak Beni kan agak kejam, jadi mereka tidak berani." Kata Ica Cengengesan
"Baiklah, baiklah. Kakak meminta maaf." Kata Beni.
Beni merangkul Ica menuju meja resepsionis. Ia memperkenalkan Ica agar bisa masuk ruangannya kapan saja gadis itu mau.
"Lita, Delpa. Ini Ica Adikara, adik kandung saya satu-satunya. Jadi hormati dia sama seperti kalian menghormati saya. Biarkan dia masuk keruangan saya kapan dia mau, bagaimanapun penampilannya. Paham?" Kata Beni tegas.
"Baik Tuan, maafkan kami. Maafkan kami Nona Ica." Kata Lita.
"Tidak apa-apa, saya memaafkan kalian." Kata Ica tersenyum.
Beni menggandeng Ica, menaiki lift menuju ruangannya. Ia merasa tidak enak dengan adiknya sendiri karena sikapnya dalam sambungan telepon.
Setelah kepergian Beni dan Ica. Lita berbisik kepada Delpa teman kerjanya.
"Sepertinya, adiknya Tuan Beni lah yang paling ramah diantara keluarga yang lain." Kata Lita.
"Hanya ada tiga sepertinya orang di dunia ini di perlakukan dengan baik olehnya. Nyonya Diana, Nona Sera, dan Nona Ica." Kata Della menimpali.
Akhirnya bisik-bisik mereka akhiri karena ada tamu yang datang. Mereka melayani tamu yang datang tersebut.
Di dalam ruangan Ica langsung duduk di sebelah Sera. Ia menghempas tubuhnya di sofa.
"Hai, Kak Ica." Sapa Sera.
__ADS_1
"Sera, apa kamu tidak sekolah?" Selidik Ica.
"Nggak Kak, Sera malas sekolah." Jawab Sera.
"Dia mau menikah saja." Kata Beni tiba-tiba.
"Kak Beni." Kata Sera merajuk.
Ica yang memandangi kekasih kecil Kakaknya hanya bisa tersenyum. Mereka terlihat serasi, Sera bisa mengimbangi Beni yang sangat dingin.
"Kak Beni, Sera pulang dulu ya." Kata Sera.
"Nanti aja Ser, sekalian kita berdua main di rumah Kak Beni." Kata Ica.
"Ica tumben ke kantor Kakak? Apa ada hal penting?" Selidik Beni.
"Maaf Kak, Kalau boleh Ica mau minta bantuan lagi kepada Kakak dan Papa." Kata Ica menangis.
"Kenapa sayang?" Tanya Beni.
Kemudian Ica menceritakan semua tentang masalah yang di alami keluarga Wiraarga. Juga tentang hubungannya dengan Marvin sedang terancam.
Ica juga menceritakan berapa jumlah hutang calon mertua kepada orang tua Sean. Ica menangis memeluk Beni. Sedangkan Sera yang masih duduk di sofa ikut sedih mendengarnya.
"Sayang, kamu tidak usah menangis." Kata Beni.
Beni memeluk adiknya, Ia juga mengelus rambut adiknya itu. Beni merasakan Ica begitu mencintai tunangannya.
"Iya Kak. Tapi bagaimana, sebentar lagi rumah dan perusahan Ayah David akan dijual?" Kata Ica.
"Terus siapa yang beli? Kamu mau?" Tanya Beni.
"Kakak jangan bercanda, kalau tidak dikembalikan uang keluarga Sean. Marvin harus menikah dengannya." Kata Ica sedih.
"Terus Kakak bisa apa?" Tanya Beni pura-pura.
"Kak saya mohon, tolong bantu keluarga Marvin." Kata Ica.
"Baiklah, demi adik Kakak. Tapi ada syaratnya?" Kata Beni.
"Apa Kak?" Tanya Ica.
"Kakak tau kamu pintar di sekolah dulu. Kakak minta tolong, tuh ajarin si bocah sampai lulus SMA." Kata Marvin melirik Sera.
"Baik Kak, Ica setuju." Jawab Ica cepat.
Sera yang mengetahui dirinya di bicara kan hanya tersenyum kecil. Ia tau bahwa otaknya sangat berbeda deng orang lain.
"Kalau dia gak lulus juga, paling gak bisa menjadi pacarnya Kakak. Masa ia kekasih seorang direktur, sekolah aja gak lulus." Kata Beni.
Beni sengaja mengucapkan hal yang sedikit menyakitkan buat Sera. Agar Sera semangat dalam belajar. Sera yang tadi hanya senyum-senyum walaupun di sindir Beni, seketika ia menunduk dengan air muka yang berubah.
"Baiklah Kak, Sera kamu semangat. Kak Beni sayang sama kamu, buktinya Kak Beni berusaha buat kamu." Kata Ica menghampiri Sera.
"Iya Kak terimakasih." Jawab Sera.
"Sebenarnya Kakak sudah mengetahui masalah kamu, dan Papa di luar negeri sudah menyuruh Tuan Adrian Mehana untuk memberikan uang kepada keluarga kekasihmu." Kata Beni.
__ADS_1
"Hah, Papi Sera? Kakak kenal dengan Papi?" Kata Sera tiba-tiba.
"Iya sayang...." Jawab Arbeni tersenyum.