Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Teman Baru


__ADS_3

Ica masih duduk di bangkunya. Ia menghela nafas panjang setelah Miss Sean keluar kelas. "Tatapannya itu loh, mengerikan." Gumam Ica.


"Hai... Kok bengong?" Sapa seorang gadis cantik pakai kacamata.


"Enggak kok." Jawab Ica kaget.


"Siapa namamu? Perkenalkan saya milka." Kata gadis itu.


"Saya Spica, biasa di panggil Ica." Jawab Ica.


Milka seorang gadis berkulit putih, rambut lurus sebahu, tinggi sekitar 150cm, dan berkacamata. Nampaknya ia anak dari kalangan atas. Memang di kampus ini semua kalangan menengah keatas kecuali Ica.


"Ica, senang berteman dengan mu. Kita ke kantin yuk?" Ajak Milka.


Ica berpikir sejenak. "Pasti makanan di kantin ini mahal-mahal, mana Ica punya uang? menolak pun tak enak." Pikir Ica dalam hati.


Ica tak sengaja merogoh sakunya. Sebenarnya ia berharap uang dia puluh ribu sisa beli hand body kemarin.


Ica lupa bawa tadi pagi sebelum masuk ke kelas, ia di kasih uang oleh Marvin. Sampai ia kaget sendiri saat mengeluarkan uang tersebut di hadapan Milka dari dalam saku.


"Maaf yaa Mil, tadinya saya nggak punya uang, lupa kalau di kasih.Yok kita ke kantin." Ajak Ica.


"Yuk," Kata Milka.


"Ca, Kamu sudah hafal belum dengan kampus kita ini?" Tanya Milka saat mereka berjalan menuju kantin.


"Belum Mil. Gimana kalau kita keliling-keliling setelah makan?" Ica memiliki Ide.


"Saya setuju." Sahut Milka.


Di kantin, Milka dan Ica mencari meja kosong untuk mereka tempati. Mereka menemukan meja di pojokan, menghadap ruang di depannya yang biasa tempat makan para dosen dan staf.


"Ca, rumah mu di mana? Boleh sekali-sekali saya main ke rumah kamu?" Tanya Milka sambil memohon.


"Oh, nanti saya kasih alamatnya yaa mil." Kata Ica tersenyum.


Saat mereka sedang menikmati makanannya. Milka melihat Miss Sean masuk ke ruang depan yang di khususkan untuk para dosen itu.


"Ca... Ca Miss Sean Ca, sama cowok ganteng. Seandainya...." Kata Milka menghayal.


Ica yang sedang memasukan makanan ke dalam mulutnya, langsung terkaget. "Saya harus tau informasi laki-laki bersama Miss Sean." Kata Ica dalam hati.


"Mana Mil?" Tanya Ica mencari dengan matanya.


"Itu loh Ca." Milka tak segan memutar kepala teman baru di kenalnya itu.


Memang antara ruang umum dan ruang khusus hanya berbatas dinding kaca. Mahasiswa boleh masuk di sana tapi bayarnya sedikit lebih mahal. Anggap saja seperti ruang VIP kantin.


"Ganteng yaa?" Gumam Ica.


"Kan sudah saya bilang dari tadi Ca. Bersyukur sekali yaa Miss Sean?" Kata Milka.


"Iya sih." Jawab Ica.


"Sudah selesai. Yuk kita keluar." Ajak Milka sambil mengambil dompetnya dalam tas.


"Eehh... Ica saja yang bayar. Anggap saja awal persahabatan kita." Ica sudah di meja kasir kantin.

__ADS_1


"Terimakasih yaa Ca. Semoga kita langgeng dan tidak ada salah paham yang merusak persahabatan kita." Milka terharu dengan teman barunya.


"Iya-Iya, aman." Jawab Ica.


Selesai makan mereka menuju taman kampus. Mengabadikan momen pertemuan mereka.


"Ca, Nanti kamu pulang naik apa?" Tanya Milka.


"Gak tau Mil, mungkin naik taksi. Soalnya berangkat pagi tadi di antar keluarga." Jawab Ica.


"Hem... Boleh nggak kalau saya antar pulang Ca? Sekalian biar enak kalau mau main." Pinta Milka.


"Boleh Mil. Tapi jauh loh." Kata Ica mengingatkan.


"Ahh... Ke ujung dunia pun Milka antar. Masih di dalam kota kan?" Tanya Milka menyelidik.


"Masih lah. Jalan S.B.D." Jawab Ica.


"Searah sama rumah Milka," Kata Milka.


"Tiap hari juga kalau mau, Milka jemput. Karena rumah mu saya lewati setiap hari."Sambung Milka serius.


"Iya, terimakasih banyak Milka." Ucap Ica sungguh-sungguh.


Mereka segera menuju kelas, karena sudah waktu mata kuliah selanjutnya. Ica dan Milka duduk bersebelahan di ruang kelas.


"Pengumuman, Teman-teman mata kuliah sekarang kita atur jadwalnya kembali. Di karenakan Dosen yang akan mengajar sedang ada perkuliahan di kelas lain atau kakak tingkat kita." Kata Adi Ketua kelas.


Mereka semua meninggalkan ruang kelas. Ica dan Milka segera menuju parkiran.


"Ada apa Ca?" Tanya Milka.


"Saya harus telepon Kakak saya dulu. Berpamitan untuk pulang bareng kamu Mil." Kata Ica.


"Memangnya, Kakak kamu dimana?" Tanya Ica.


"Kuliah di sini juga, Mahasiswa teknik. Tapi kakak tingkat kita." Jawab Ica.


Ica segera menghubungi Vano. Ia tidak mau Vano menunggunya ketika pulang. Ica mendapat nomor ponsel Vano saat berangkat tadi, dimintanya dari Marvin.


"Halo, ini siapa?" Kata Vano dari sambungan telepon.


"Halo Bang, ini Ica. Bang Ica hari ini pulang bareng teman Ica, namanya Milka. Kebetulan rumahnya satu arah dengan rumah Bunda." Kata Ica.


"Oh, Iya Ca. Abang kebetulan masih lama nih. Hati-hati yaa, jangan lupa...." Kata Vano terdengar sedang tertawa.


"Jangan lupa apa Bang?" Jawab Ica.


"Titip salam sama teman mu." Tawa Vano pecah terdengar dari sambungan telepon.


"Oh, Iya, Iya. Aman." Jawab Ica.


Selesai menelepon, Ica menghampiri Milka. Ia menaiki mobil karena Milka sudah menunggunya di dalam mobil. Milka segera melajukan mobilnya.


"Apa kata Kakak mu Ca?" Tanya Milka penasaran.


"Titip salam untukmu." Jawab Ica singkat.

__ADS_1


"Maksud saya, dia nggak keberatan kamu bareng sama saya, Spica Utami?" Tanya Milka cemberut.


"Nggak kok. Bang Vano juga masih lama pulangnya." Kata Ica.


"Oh, Okelah." Jawab Milka.


Milka sangat ramah, bahkan tidak berhenti mengajak Ica ngobrol. Dari obrolan ringan sampai pertanyaan pribadi. Ia juga tidak segan bercerita kepada Ica tentang dirinya.


"Ca, sebenarnya kamu memiliki berapa saudara?" Tanya Milka mulai berkicau lagi.


"Saya anak tunggal." Jawab Ica santai.


"Trus, Vano siapa?" Tanya Milka menyelidik.


"Kakak angkat." Jawab Ica.


"Owh." Jawab Milka.


"Mil ada yang mau saya bilang sama kamu, sebelum kita lebih lama berteman." Kata Ica.


"Bilang aja, kenapa? Kenapa Ca?" Tanya Milka penasaran.


"Sebenarnya saya bukan anak orang dari kalangan atas seperti kalian. Dan rumah di mana saya tinggal adalah milik orang tua angkat saya." Kata Ica merasa tidak enak hati kepada Milka.


"Terus apa yang mau kamu bilang sama saya Ca?" Tanya Milka.


"Hanya itu Mil, Saya tidak mau di kira berbohong soal status saya." Kata Ica.


"Kalau soal berteman, saya yakin seratus persen bahkan seribu persen kamu orang baik. Karena mama saya seorang psikolog jadi banyak buku tentang kepribadian yang saya baca." Kata Milka menjelaskan.


"Hem... Iya, Terimakasih Mil sudah mau berteman." Ucap Ica terharu.


"Kecuali kamu bilang, saya psikopat. Sepertinya saya harus waspada." Kata Milka tertawa lepas.


"Eeh... Iya nih, yang mana rumah kamu Ca?" Tanya Milka.


"Itu yang warna putih, ada terlihat pucuk pohon mangga didalam pagar." Kata Ica.


Milka memberhentikan mobilnya. Ica segera turun. Milka terlihat membuka kaca spion mobil di arah Ica.


"Mil, Ayo mampir dulu." Aja Ica.


"Lain kali aja Ca, Ini saya harus ngantar mama ke bandara." Kata Milka.


"Janji yaa, kapan-kapan mampir." Kata Ica.


"Iya, siap. Daahhh." Milka Melajukan mobilnya pelan.


Ica segera masuk ke rumah, terlihat Marvin sedang berbaring di sofa ruang tv. Ica pelan-pelan mau naik ke atas menuju kamarnya.


"Eeh... Udah masuk gak salam, mengendap-endap lagi." Kata Marvin mengagetkan Ica.


"Iya, Maaf." Kata Ica buru-buru mau ke kamar.


"Sini dulu, belum selesai hutang mu tadi pagi." Kata Marvin santai.


Ica merasa ini orang seperti pencabut nyawa saja, menakutkan. "Hadeh, mengerikan. " kata Ica dalam Hati.

__ADS_1


__ADS_2