
Malam telah berlalu, pagi menyambut dengan merekah. Tuan Hendro dan istrinya mempercepat kepulangan mereka ke negara asal. Meninggalkan bandara dari negara perantauannya pagi ini.
Mereka akan melaksanakan pernikahan putri tercinta besok lusa. Kedua suami istri tersebut sangat senang sekali. Namun masih ada yang mengganjal di hati suami istri tersebut.
"Ma, Papa merasa ada sesuatu hal sehingga Beni ingin mempercepat pernikahan putri kita." Kata Pak Hendro.
"Iya Pa, Mama juga merasa begitu. Apa mungkin telah tumbuh benih Marvin dalam putri kita Pa?" Tanya Nyonya Diana.
"Mungkin saja Ma, tapi Beni tidak mungkin cemas itu. Lagi pula tinggal di minggu lagi pernikahan mereka sesuai rencana awal. Papa rasa tidak mungkin Beni mendesak kita agar meninggalkan pekerjaan. Hanya karena alasan tersebut." Kata Pak Hendro.
"Jadi menurut Papa kenapa Beni harus mendesak kita agar segera pulang ke negara asal?" Tanya Nyonya Diana lagi.
"Kita belum bisa menerka Ma. Namun yang jelas Beni sudah mempertimbangkan semuanya. Apalagi sekarang ada Dave dan Ronald, tentunya mereka akan menasihati Beni dalam mengambil keputusan." Kata Pak Hendro.
"Iya Pa, kita tidak perlu khawatir dengan keputusan mereka." Kata Nyonya Diana kepada suaminya.
"Mama tetap sabar sampai nanti kita mendengar langsung alasan dari Beni dan Dave." Kata Pak Hendro.
Lama mengobrol, akhirnya jam keberangkatan mereka telah tiba. Mereka masuk ke dalam pesawat kelas bisnis. Dari negara ini mereka akan menghabiskan sembilan jam dengan satu kali transit.
Sore hari sekitar pukul 16.00 berdasarkan perhitungan waktu negara asal. Kedua suami istri itu tiba, Ronald di tugaskan mereka untuk menjemput Kakaknya.
Sekitar satu jam dari bandara akhirnya mereka tiba di rumah. Sudah tampak berkumpul sanak dan saudara yang turut membantu persiapan di area sekitar kediaman mewah keluarga Adikara.
Keluarga Wiraarga juga turut membantu menyiapkan segala sesuatunya. Pak David dan istri serta kedua anak mereka, serta calon menantu ikut membantu demi kelancaran acara pernikahan.
Ronald memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Hanya ada Ica sedang ngobrol dengan Pak Yon di gardu satpam. Sedang yang lain sedang sibuk di aula terbuka yang ada di sebelah utara rumah itu.
Ica yang melihat orang tuanya datang. Ia segera menghampiri mereka, dan mencium tangan Mama dan Papanya.
"Ma, sini Ica bantu bawakan tas Mama." Kata Ica.
__ADS_1
"Apa kabarmu Nak?" Tanya Mama Diana sambil menyerahkan tas berukuran sedang di tangannya.
"Kami semua di sini baik-baik saja. Mama sama Papa selama di sana apa semua baik-baik saja?" Tanya Ica kemudian.
"Syukur Nak kami sehat-sehat saja selama di sana. Oh ya, nanti ada oleh-oleh di koper warna silver. Ada baju-baju untuk semua sanak keluarga di tambah tas bagi yang perempuan dewasa. Ada juga baju khusus untuk anak-anak." Kata Mama Diana.
"Iya Ma siapa." Jawab Ica.
"Kue itu juga silahkan di bagi-bagikan. Dan spesial untuk pengantin cantik Mama sudah di siapkan di dalam koper warna hitam. Semuanya satu koper itu untuk kamu sayang, di sana juga ada perhiasan." Kata Mama Diana.
Sesampainya di aula Pak Hendro menyapa sanak keluarganya. Terlebih untuk calon besan, ia mengucapkan terimakasih untuk semua yang telah membantu.
Tidak lupa juga Ica memberikan oleh-oleh yang di bawa Mama dan Papanya. Setelah agak lama Pak Hendro berbincang di aula itu. Mereka pamit untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
"Terimakasih sekali lagi buat keluarga semuanya yang telah membantu kami sampai saat ini. Juga sampai hari H, kami berdua tidak mungkin bisa menyelesaikan semuanya tanpa dukungan keluarga semua. Kami juga meminta maaf dan izin untuk membersihkan diri terlebih dahulu." Kata Pak Hendro.
Selesai meminta izin, Pak Hendro dan Mama Diana masuk ke rumah utama untuk beristirahat sejenak dan membersihkan diri. Setelah itu mereka akan bergabung membantu mengarahkan apa yang harus di kerjakan.
Tidak berapa lama Pak Hendro sudah duduk di ruang tamu. Sedang istrinya Nyonya Diana ikut turun setelah berhias sedikit.
"Ca, mau kemana Nak?" Tanya Pak Hendro.
"Mau ganti baju Pa ke kamar. Apa apa Pa?" Tanya Ica kemudian.
"Gantilah dulu, nanti kalau sudah selesai tolong panggil Beni dan Uncle mu." Kata Pak Hendro.
"Uncle Dave apa Uncle Ronald Pa?" Tanya Ica.
"Keduanya sayang, katakan Papa dan Mama menunggu di ruang kerja Papa." Kata Pak Hendro.
"Baik Pa." Jawab Ica.
__ADS_1
Ica pergi menghilang di balik pintu kamar. Sedang Mama Diana mendekati suaminya. Ica memanggil Kakak dan Uncle nya sesuai perintah Papa Hendro.
Pak Hendro mengajak istri untuk pindah ke ruang kerja. Mereka yang di panggil Pak Hendro segera datang.
"Silahkan duduk dulu." Kata Pak Hendro.
"Ada apa Kak? Kok Kakak mengumpulkan kami bertiga di sini?" Kata Dave.
Suasana hening sejenak, Pak Hendro menarik napasnya dalam-dalam. Sedang Mama Diana telah mengetahui arah pembicaraan mereka tenang dan diam saja.
"Dave, sebenarnya saya sebagai orang tua dan sebagai Kakak ingin menanyakan. Ada hal apa yang terjadi sampai Beni menelpon kami untuk segera pulang. Dan rasanya pernikahan ini sangat buru-buru?" Selidik Pak Hendro.
"Iya Dave, kamu di sini sebagai orang tua dari Ica dan Beni. Apa Ica dan Marvin telah melanggar batas hingga kalian melakukan seperti ini?" Tanya Mama Diana tidak sabar.
"Sebelumnya kami minta Maaf dengan Kakak dan Kakak ipar. Saat menelepon Beni takut menceritakan yang sebenarnya terjadi. Kalau hanya sekedar yang Kakak Ipar katakan, tentunya kami semua tidak khawatir seperti ini Kak." Kata Dave.
"Jadi apa alasan kalian?" Tanya Pak Hendro.
Beni menjelaskan secara runtut apa yang dialami oleh Ica. Mulai dari mobil mereka di kejar oleh orang tak di kenal, sampai mobil itu kena tembak di bagian dekat nomor polisinya.
Kemudian Ica yang menerima ancaman lewat telepon oleh orang yang tidak di kenal. Dengan ancaman mereka akan memisahkan Ica dan kekasihnya Marvin.
"Itulah Pa alasan kami. Beni tidak mau sampai terjadi apa-apa sama Marvin apalagi Ica. Beni tidak sanggup melihat Ica jika sampai mereka terpisah karena kejahatan orang lain." Kata Beni.
"Keputusan mu tepat Ben. Terimakasih Dave dan Ronald, kalian tentu sudah lebih paham dengan dunia seperti ini. Kakak harap kalian bisa mengusut tuntas orang yang mengancam keselamatan Ica. Walaupun acara di langsungkan nanti, Kakak harap kalian jangan lengah." Kata Pak Hendro.
"Saya berjanji Kak, saya akan melindungi keluarga Kakak, terutama Ica. Sebagai bakti dan terimakasih saya." Kata Ronald.
"Iya Kak, Kakak tidak usah khawatir Dave dan Ronald akan menuntaskan kasus ini." Kata Dave.
"Ini uang dua ratus miliar, perbanyak pasukan penjaga. Ingat utamakan kejujuran dan kualitas." Kata Pak Hendro.
__ADS_1
"Siap Kak." Kata Dave.
"Ben, kamu juga tidak boleh lengah. Acara biar berjalan, kalian harus berjaga-jaga." Kata Mama Diana.