
Ica dan Marvin sudah ada di bawah pohon lemon. Ica membiarkan dulu Marvin mengambilkan buah warna kuning itu untuknya. Setelah mengambil beberapa buah lemon tersebut, Marvin menggandeng Ica duduk di kursi taman.
"Kita istirahat dulu di sini sebentar sayang." Pinta Marvin.
"Iya. Bang sebenarnya ada yang Ica mau bicarakan." Kata Ica merasa sedikit cemas.
"Ada apa sayang? Katakanlah." Kata Marvin.
"Bang, bagaimana menurut mu jika dalam diri saya telah tumbuh benih dari Abang. Apa Abang akan bertanggung jawab?" Tanya Ica.
"Apa benar yang kamu katakan sayang, kalau benar Abang pasti sangat bahagia." Jawab Marvin.
"Apa Abang akan bertanggung jawab? Apa Bunda akan merestui?" Tanya Ica kembali.
"Iya, sayang. Kesalahan memang kesalahan, tapi kalau benar kita yang melakukan. Kami di ajari orang tua agar bertanggung jawab dengan apa yang telah di perbuat." Kata Marvin.
"Bang, sebenarnya tadi Elvita ngomong sama saya. Kalau dia udah telat hampir dia bulan, dan hanya bersama Vano dia melakukannya." Kata Ica.
"Kita harus Tanya Vano dulu, kalau memang dia melakukannya. Abang pastikan Vano mau bertanggung jawab." Kata Marvin.
"Tapi Bang Elvita mau di temani oleh kita pergi ke dokter untuk periksa. Dia takut kalau di katakan sama Bunda langsung." Kata Ica.
"Baiklah kita akan ke dokter sekarang. Biar Abang carikan alasan biar kita bisa keluar berempat." Kata Marvin.
Setelah berunding, Marvin dan Ica sepakat akan menemani Elvita ke dokter dan mengajak Vano ikut serta. Mereka kembali ke ruang tamu. Marvin membawa lima gelas jus lemon dalam sebuah talam.
"Bunda maaf menunggu lama. Ini silahkan semuanya di minum." Kata Marvin layaknya seorang pelayan.
"Iya Nak, terimakasih." Jawab Bunda Lusi.
"Bun, jadi kapan Ayah dan Bunda akan ke rumah Ica untuk menemui ? Untuk menemui Kak Beni dan Om Dave sebagai wali Ica sementara." Tanya Beni.
"Nanti Bunda sampaikan dulu sama Ayah ya Nak. Kapan Ayah tidak terlalu padat di kantor, lagi pula sedikit banyak harus di persiapkan." Jelas Bunda Lusi.
"Iya Bunda, Marvin dan Ica sangat berterimakasih sama Bunda." Kata Marvin.
Marvin dan Ica memeluk Bunda Lusi dengan erat. Sedangkan Bunda Lusi tersenyum bahagia melihat perubahan Marvin, dari laki-laki yang hampir kehilangan hidupnya karena masa lalu. Ia bisa menjadi seperti sekarang ini, mendapatkan wanita yang jauh lebih segalanya di banding bayang masa lalu itu.
"Bunda, kami berempat mau cari angin keluar sebentar. Silahkan kalau Bunda mau beristirahat dulu, nanti kami kembali." Kata Ica sopan.
__ADS_1
"Jadi kalian berempat mau jalan bareng? Kok tumben anak Bunda berdua ini mau bareng-bareng." Selidik Bunda Lusi.
"Iya Bunda, kalau tidak sekarang kapan lagi. Kalau nanti mungkin Abang Marvin dan Vano akan sibuk kalau sudah berkeluarga." Kata Ica.
"Iya sayang, Bunda mengerti. Bunda bersyukur punya kalian berdua untuk mendekatkan Marvin dan Vano. Bersiaplah kalau mau jalan-jalan, Bunda mau istirahat dulu sebentar sambil menunggu kalian pulang." Kata Bunda Lusi.
Bunda Lusi kemudian meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya di lantai atas. Ia akan istirahat siang sebentar untuk menjaga kebugarannya.
"Emangnya kita mau kemana Bang?" Tanya Vano.
"Kita akan berjalan-jalan sebentar, menemani Ica dan Vita." Kata Marvin.
"Apa kamu mau beli sesuatu sayang?" Tanya Vano kepada Elvita.
Elvita hanya berdiam diri, ia tidak nampak seperti biasanya yang ceria. Ica mengalihkan pembicaraan melihat Elvita hanya berdiam diri di tanya-tanya Vano.
"Iya nanti kita bicarakan Van, kami mau cari angin keluar. Kamu mau ikut nggak?" Tanya Ica.
"Ikut dong, kalau kekasih hati Abang ini ikut. Kalau hanya kalian berdua, ogah banget." Kata Vano.
"Baiklah, jadi kita berempat ikut semua nih? Biar saya yang bawa mobil." Kata Marvin.
Setelah selesai berbicara kepada bodyguard, Marvin menyuruh semuanya masuk ke mobil. Kemudian ia melajukan mobil dengan pelan. Di dalam mobil, Vano duduk di samping Mavin yang sedang menyetir. Sedang Ica dan Elvita duduk di belakang.
"Van, apa kamu pernah melakukannya dengan Elvita?" Tanya Marvin tanpa basa basi.
"Kenapa Bang?" Tanya Vano penuh selidik.
"Enggak Abang kan hanya tanya." Kata Marvin.
"Hem... Pernah, waktu kami kemah dalam perjalanan mendaki." Kata Vano.
"Sudah berapa lama kejadian itu?" Selidik Marvin.
"Paling dua bulan yang lalu." Kata Vano.
"Elvita sekarang telat kedatangan, kamu harus bertanggung jawab iya ataupun belum ada benih kamu yang tumbuh di dalamnya." Kata Marvin.
"Iya Bang, saya akan bertanggung jawab. Tapi pastinya Ayah dan Bunda akan mendahulukan kalian." Kata Vano.
__ADS_1
"Vin, pesta itu bukan menjamin kalian bahagia. Lagi pula kalau memang pernikahan kami yang harus di tunda, kita tidak masalah kalau itu yang terbaik. Iya kan sayang?" Kata Ica meminta persetujuan Marvin.
"Iya sayang. Tapi kita lihat dulu hasilnya nanti. Terlepas benih itu sudah ada atau belum, Vano harus bertanggung jawab. Namun bila benih itu memang ada kita juga harus bersyukur." Kata Marvin.
"Terimakasih Bang, kalian sudah baik sama Vita." Kata Vita hampir menangis.
"Jangan nangis El, kita ini keluarga." Kata Ica menenangkan.
Tidak terasa mobil mereka sudah parkir di sebuah klinik keluarga Wiraarga. Memang biasanya ketika sakit, anggota keluarga akan menelepon dokter Nesa yang memang dokter kandungan atau suaminya dokter Viktor umum. Karena Marvin tidak mau Ayah Bunda tau, itulah mengapa mereka datang langsung ke klinik.
"Ayok kita turun." Kata Marvin.
Elvita yang tadi di bantu oleh Ica. Tiba-tiba Vano dengan sigap membantu Elvita turun dari mobil. Mereka masuk kedalam ruang pendaftaran. Sesudah membayar administrasi, Marvin menemui dokter Viktor yang sedang dalam ruangan.
"Selamat siang Dok." Sapa Marvin.
"Selamat siang, Marvin? Biasa juga panggil Bro. Siapa yang sakit?" Tanya Dokter Viktor.
"Nggak ada yang sakit Bang. Kak Nesa nya ada?" Tanya Marvin setelah bersalaman.
"Ada, sebentar ya Vin. Lagi melayani pasien sebentar." Kata Dokter Viktor.
"Iya nggak apa-apa Bang. Oh, iya ini calon nyonya muda keluarga Wiraarga." Marvin memperkenalkan Ica.
"Saya Viktor, teman Marvin. Oh ya, hebat sekali kamu Vin bisa mencuri hati putri keluarga Adikara. Bagaimana rasanya jadi calon menantu orang terkaya di negara ini?" Goda Dokter Viktor.
"Semakin ciut nyali kita Bang." Kata Marvin cengengesan.
Tidak berapa lama kemudian Dokter Nesa keluar dari ruang pemeriksaan. Setelah berkenalan dan berbincang sebentar dengan Ica dan Marvin.
"Siapa yang mau di periksa Bang Marvin?" Tanya Dokter Nesa.
"Adik ipar Kak Nes." Kata Marvin.
"Vano sekarang udah nakal ya? Ayok yuk silahkan masuk." Kata Dokter Nesa.
Vano dan Elvita masuk dalam ruangan pemeriksaan, ditemani Ica dan Marvin. Setelah dilakukan pemeriksaan, benar saja Elvita sudah hamil tiga minggu.
"Wah, selamat yah Van. Kakak turut bahagia, terasa kemarin kamu minta es krim dulu sebelum di suntik." Goda Dokter Nesa.
__ADS_1