Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Mimpi Indah


__ADS_3

Ica tidur di halangi dengan bantal. Marvin yang tidak menghiraukan batas-batas itu. Ia memeluk Ica dari belakang. Tangannya tepat memegang gunungan kenyal milik Ica.


Marvin perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah kekasihnya. "Sayang, mengapa kita harus menunggu selama ini. Abang sudah tidak tahan." Gumam Marvin.


Ica yang dari tadi sudah tertidur pulas. Ia tidak sadar bahwa Marvin sedang mengawasi nya malam itu.


Marvin ******* rakus milik Ica di balik lipstiknya. Ia menyatukan saliva saat Sang kekasih tertidur pulas. Membuka perlahan penutup gunungan itu dan menyusup rakus di puncaknya.


"Sayang, kamu ngapain?" Tanya Ica membuka mata perlahan.


"Sayang, maafkan. Tapi sungguh tidak bisa di tahan lagi." Kata Marvin.


Sedang mulutnya melahap ujung gunungan dengan penuh gairah. Tangannya pun bermain di ujung gunungan yang lain. Seakan tidak akan pernah terpuaskan


"Aah.. Nikmatnya sayang." Gumam Marvin.


Marvin tidak ingin menuruti keinginan untuk menjebol pertahanan Ica. Ini belum saatnya. Ia menarik tangan Ica untuk memegang pedang miliknya. Sampai air cintanya keluar dengan tanpa diminta.


"Terimakasih sayang." Kata Marvin mencium pucuk kepala Ica.


"Iya Bang." Jawab Ica Lirih.


"Atau tambah lagi sayang?" Tanya Marvin siap memberi untuk Ica.


"Udahlah sayang, saya lemas." Jawab Ica.


"Ya sudah, tidurlah kembali semoga mimpi indah." Ucap Marvin sambil memeluk Ica.


"Iya sayang." Jawab Ica.


Marvin dan Ica tidur dengan berpelukan sampai esok hari. Mereka seakan tidak ingin di pisahkan.


"Sayang yuk bangun, sudah pagi nih." Kata Marvin sambil membelai rambut Ica.


Ica membuka matanya perlahan. Ia melihat sinar mentari sudah menyapa. Malam ini ia sangat lelah meskipun hanya sedikit pemanasan dari Marvin.


"Selamat pagi sayang. Selamat hari baru dan semoga bahagia." Kata Marvin kepada Ica.


"Iya, selamat pagi sayang." Jawab Ica.


"Nanti setelah sarapan, kita jalan-jalan ke kebun dan kolam belakang rumah yuk. Sekalian kita mancing ikan." Ajak Marvin.


"Iya Bang, Ica hobi mancing. Ica mau ikut." Jawab Ica.


"Nanti sayang. Kalau pagi ikannya belum lapar, yang masih lapar abang." Kata Marvin menggoda Ica.


Marvin menarik Ica masuk ke dalam ruangan pembersihan diri. Ia melucuti pakaian dan merendahkan diri ke dalam bathtub. Ica hanya berdiri sejak tadi.


"Sayang, ayo nanti Mang Tardi sudah menunggu di bawah." Kata Marvin.


"Iya Bang." Jawab Ica.

__ADS_1


Ica ingin menguyur dirinya dengan shower dalam keadaan berpakaian utuh. Marvin melihatnya semakin gemas. "Sudah pernah saya semua, masih saja malu." Gumam Marvin.


"Sayang, sini mendekat sebentar." Ujar Marvin.


"Kenapa Bang?" Tanya Ica sambil mendekat.


Marvin yang sedari tadi menunggu ingin melihatnya. Ia tidak sabar dan segera melucuti satu demi satu pakaian Ica. Ia menarik tangan Ica untuk merendam diri bersamanya.


"Sayang, Abang suka seperti ini." Kata Marvin lirih.


Marvin memasukan jarinya dalam lembah milik Ica. Sedangkan wajahnya sudah bersatu dengan wajah kekasihnya itu. Tangannya satu terus bergerilya pada kedua gunungan milik Ica secara bergantian.


"Sayang?" Kata Ica lirih.


"Ada apa yang." Jawab Marvin melepas sebentar pagutannya.


"Lebih dalam lagi sayang, Ica hampir sampai." Gumam Ica.


"Siap sayang." Marvin mempercepat gerakannya.


"Akhh...." Mereka melepasnya berbarengan.


Ica segera ke keluar dari bathtub. Ia segera mengambil handuk dan keluar dari ruang tersebut untuk berganti pakaian.


Sedang Marvin masih dengan posisi semula. Ia merendam diri mengurangi rasa lelahnya.


Ica sudah berganti pakaian dan sedikit merias dirinya. Tiba-tiba Marvin memberi pelukan dari belakang.


"Iya Bang." Jawab Ica.


Marvin segera mengenakan pakaian. Hanya dengan hitungan detik saja Marvin sudah ganteng seperti sediakala.


"Ayok sayang kita turun." Ajak Marvin memegang pundak Ica.


"Ayok." Jawab Ica singkat.


Mereka menuruni anak tangga. Di meja makan sudah tersedia makanan untuk mereka sarapan. Bi Murti sudah sejak subuh menyiapkannya.


"Bi, Bibi ayok, kita sarapan bersama." Ajak Ica.


"Bibi sarapan di dapur aja neng." Kata Bi Murti sungkan.


"Ayolah Bi, kapan lagi sarapan bersama kami?" Kata Ica.


"Iya Neng?" Bi Murti mengikuti Ica ke meja makan.


Mang Tardi dan Marvin sudah menunggunya di meja makan. Ica dan Bi Murti segera duduk.


"Ayok, monggo silahkan Mang, Bi." Kata Marvin.


"Iya Den, terimakasih." Jawab mereka hampir berbarengan.

__ADS_1


"Silahkan sayang, atau mau di ambilkan?" Tanya Marvin.


"Enggak Bang, Terimakasih. Ica ambil sendiri saja." Jawab Ica.


Selesai sarapan, mereka segera pergi menuju kebun yang ada di belakang rumah. Bi Murti dan Ica terlihat ngobrol santai sepanjang perjalanan menuju kolam di tengah kebun.


Mang Tardi dan Marvin mencari cacing untuk di gunakan sebagai umpan kail. Mereka akan memancing ikan nila dan ikan emas yang ada di kolam.


"Den, Tunangannya Den Marvin cantik sekali." Puji Mang Tardi.


"Iya Mang, saya bangga dengan kecantikan dan kebaikan hatinya." Kata Marvin.


"Cepat di halalkan, nanti keburu di dahului orang." Kata Mang Tardi sambil tertawa.


"Iya Mang. Maunya Marvin seperti itu, tapi Ayah dan Bunda masih meragukan perasaan Marvin ini." Jelas Marvin.


"Yang sabar ya Den. Tuan, Nyonya dan kami juga tentunya mendoakan yang terbaik buat Den Marvin." Jawab Mang Tardi.


"Iya Mang, terimakasih." Jawab Marvin.


Mereka sudah sampai di bibir kolam di dekat Ica dan Bi Murti berada. Mang Tardi dan Marvin berlomba-lomba dalam melemparkan kailnya.


Setelah kurang lebih dua jam, akhirnya Mang Tardi lebih unggul memenangkan perlombaan dengan mendapatkan enam ekor ikan emas. Sedangkan Marvin hanya mendapatkan empat ekor ikan emas dan satu ikan nila.


"Mang, ayok kita kembali ke Villa." Ajak Marvin.


"Ayok Dek, Nak Ica." Ajak Mang Tardi kepada istrinya dan kekasih Marvin itu.


Mereka pulang membawa ikan hasil pendapatan mereka hari ini. Ikan tersebut sekitar tujuh kilo dari sebelas ekor ikan.


Rencananya ikan akan di bawa ke kota atas usul Mang Tardi. Hanya tiga ekor saja di sisakan untuk ia dan istrinya.


"Sayang, Ayok bersihkan diri dulu." Ajak Marvin yang sudah berada di tangga villa.


"Iya Bang." Ica memasuki kamarnya.


Sebelum Marvin membersihkan diri. Ia mengecek dulu ponselnya sudah ada lima panggilan di sana. Tiga panggilan dari Bunda Lusi dan dua panggilan lain adalah dari Aldi.


Marvin segera menghubungi Bunda Lusi. Mencari mencari nomor di kontak ponselnya dan segera menekannya.


"Halo Bun, Ada apa?" Tanya Marvin dari sambungan telepon.


"Halo Nak, Kalian masih di villa?" Tanya Bunda Lusi balik.


"Iya Bunda." Jawab Marvin singkat.


"Nak, segera ajak Ica pulang ke rumah. Keluarga Adikara ingin bertemu langsung dengan Ica sekitar jam tujuh nanti malam." Jelas Bunda Lusi.


"I-iya Bunda." Jawab Marvin lemas.


Setelah menutup sambungan telepon. Marvin berdiam diri sejenak. "Ada apa ini? Mengapa harus Ica yang mereka inginkan sebagai anak angkat?" Pikir Marvin dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2