
Di dalam kamar Ica sudah tertidur dengan pulas. Setelah seharian membantu persiapan pernikahannya. Dan besok pagi-pagi sekali ia bersama keluarganya akan pergi ke pernikahan Vano, adik iparnya.
Marvin telah selesai membuat minuman dari lemonnya. Ia naik ke atas untuk menemui Ica. Tapi saat melihat Ica tertidur pulas Marvin tidak tega membangunkannya.
Marvin duduk di sofa untuk beberapa saat. Namun ketika pandangannya beradu dengan tubuh Ica. Ia semakin tidak dapat menahan diri. "Sayang mengapa engkau sangat mempesona, hingga tidak bisa menahannya setiap waktu?" Gumam Marvin lirih.
Dengan pelan Marvin menjelajahi muka Ica. Perlahan tangannya membuka helaian penutup sosok gitar spanyol itu. Menyaksikan keindahan yang jarang terlihat nyata dalam pandangannya.
Jarinya mulai menapaki setiap lekuk dan setiap senti keindahan yang jelas di matanya. Batang milik Marvin menyelami lembah milik Ica dengan kelembutan.
Satu tangannya meremas dengan kuat gunungan kembar milik Ica. Ica yang tidur terbangun karena sentuhan Marvin. Ia perlahan menikmati perlakuan Marvin mengerang.
"Agghk... Bang lebih dalam lagi." Pinta Ica.
Marvin segera bangun, ia mengarahkan batang milik lebih dalam memasuki lembah milik Ica. Sedangkan wajah tetap memberi tanda kepemilikan di gunungan dan di leher milik Ica.
Mencoba sedalam-dalamnya mengukur lembah itu sampai dasar. Ica sangat menikmati petualangan Marvin di taman madu miliknya. Ia memperlakukan Marvin sebagai raja kumbang yang sangat beruntung.
Demikian dengan Marvin yang berusaha menikmati detik demi detik keindahan surga yang ada di bumi. Hal ini baru ia rasakan dari lembah milik Ica. Bukan sekedar permainan ini, namun Marvin benar-benar sangat menyayangi Ica. Ia berjanji akan melindungi Ica sampai maut memisahkan.
"Bang, airnya sudah mau tumpah." Kata Ica.
"Abang cabut atau kita satukan di dalam? Atau kita menumpahkannya bersama di luar?" Tanya Marvin.
"Di luar saja Bang, Ica takut." Jawab Ica.
Tiba-tiba Marvin menghentakkan batang miliknya beberapa kali. Ia memeluk erat Ica yang sudah tidak berdaya.
"Maafkan Abang sayang. Abang lebih enak menumpahkannya di dalam." Kata Marvin.
Marvin mengelus rambut Ica, dan membaringkan diri di sampingnya. Marvin bersyukur hari ini semua sakit yang dulu telah terobati oleh Ica. Bahkan ia telah menjadi tangguh karena kehadiran Ica.
__ADS_1
Lama Marvin menikmati kebahagiannya, bermain dalam hayalnya yang sudah menjadi kenyataan. Sedang Ica kembali tertidur pulas tanpa helaian yang menutupinya. Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk, Marvin segera menarik selimut tebal menutupi seluruh tubuh Ica. Kemudian ia membukakan pintu.
"Selamat sore Tuan, Nyonya Diana dan Tuan Hendro telah menunggu Tuan Marvin untuk makan malam di bawah. Apa Nona Ica ada di dalam kamarnya?" Kata salah seorang pelayan.
"Saya segera turun. Nona Ica ada di kamarnya, tapi biarlah saya yang membangunkan." Kata Marvin.
Setelah pelayan itu pergi, Marvin jadi bingung. Ica masih tidur, dirinya juga belum membersihkan diri. Akhirnya Marvin membangunkan Ica dengan menggendongnya ke kamar mandi.
Ica menggosok-gosok matanya, memulihkan kesadaran yang belum penuh. Marvin menarik tepat duduk dan mendudukkan Ica di bawah shower, menguyur tubuh kekasihnya dengan air hangat.
"Ada apa Bang?" Tanya Ica.
"Sayang kita di tunggu Mama dan Papa di bawah untuk makan malam bersama." Kata Marvin.
"Astaga, memang sudah pukul berapa Bang?" Tanya Ica.
"Hampir pukul 7.00 sayang." Jawab Marvin.
Mereka menyelesaikan pembersihan dirinya secara kilat. Ica berganti pakaian dan menyisir rambut, ia memberikan sedikit polesan di wajahnya. Supaya kelihatan lebih segar.
"Ayo sayang." Ajak Ica.
Mereka turun bersama menuju meja makan yang sangat besar. Meja makan di ruangan ini akan di pakai jika ada acara saja. Seluruh sanak keluarga dan pelayan serta siapapun yang ada di lingkungan rumah saat itu bisa ikut makan bersama. Kursi yang di sediakan sekitar 250 buah.
"Silahkan duduk Nak. Silahkan ucapkan salam kepada semua keluarga di sini." Kata Pak Hendro.
"Selamat malam semuanya Kakak, Tante, Om, Kakek dan Nenek, kami mohon izin." Kata Marvin.
Kemudian Marvin dan Ica duduk di sebelah Beni. Beni sudah duduk di sebelah kiri Pak Hendro, sedangkan Dave dan Ronald duduk di sebelah kanan Pak Hendro.
"Silahkan di nikmati." Kata Pak Hendro.
__ADS_1
Semua mereka makan sampai kenyang. Setelah itu mereka berbincang di meja makan. Bunda Diana mulai membuka perkenalan (Ngalih Tutur) bahasa adat mereka.
"Orang tua di sini yang saya hormati. Kakak dan adik-adik serta anak-anak kita yang saya sayangi. Karena di sini ada keluarga besar yang baru datang, mungkin ada yang belum mengenal Ica dan Marvin sebagai saudara kalian.
Kali ini kita akan berkenalan langsung, selama ini mungkin hanya mendengar saja bahwa ada keluarga di sini. Namun belum mengenal mereka secara langsung, silahkan ngobrol dengan mereka." Kata Mama Diana.
Ica dan Marvin berdiri memberi salam dengan sedikit membungkuk. Memberi senyum kepada semua anggota keluarga.
"Itu perkenalan dari mereka. Besok pagi-pagi sekitar jam 6.00 kita akan berangkat untuk menyaksikan Vano adik iparnya Ica akan melangsungkan pernikahan. Kita semua di ajak ke sana." Kata Mama Diana.
"Baik Kak." Kata Mereka yang dominan adik dan Kakan sepupu Nyonya Diana.
"Makan malam telah selesai. Silahkan siapa yang mau ngobrol dulu. Maaf saya masih ada yang harus di kerjakan, saya duluan pamit." Kata Mama Diana.
Ica dan Marvin terlibat dalam obrolan hangat dari keluarga besarnya. Mereka ternyata sangatlah ramah.
Saat obrolan santai berlangsung. Ica menyadari ada kamera yang mencintai di atas pagar mereka. Ica lalu mendekati Uncle Dave dan Uncle Ronald sambil berpura-pura tidak menyadari adanya kamera tersebut.
"Uncle, ada yang aneh nggak dengan kamera kecil di atas pagar? Sepertinya Papa tidak pernah memasang kamera seperti itu." Tanya Ica.
Dave sekilas memandang ke arah kamera. Memang ada yang mencintai kediaman mereka. Ronald yang sangat geram ingin melihat kamera tersebut. Namun tangannya di tahan oleh Dave.
"Belum saatnya Ronald, jangan gegabah. Kalau mereka di kejar sekarang bisa saja mereka akan semakin nekad." Kata Dave memperingatkan Ronald.
"Baik Kak. Lalu selanjutnya bagaimana Kak?" Tanya Ronald.
"Kamu lacak dengan kamera drone siapa yang mengendalikan kamera tersebut." Kata Dave memberi tugas pada Ronald.
"Baik Kak, Saya permisi dulu. Ica tidak perlu cemas sayang kami semua menyayangimu. Nikmati hari mu dengan bahagia." Kata Ronald.
Ia mengelus rambut Ica sebelum memutar badannya untuk pergi. Ica tersenyum mendengar perkataan tulus dari pamannya tersebut.
__ADS_1
"Iya Uncle terimakasih." Jawab Ica.