
Ica merasa ngantuk hampir dua jam bercerita sama Sera. Mereka juga sudah menikmati nasi goreng buatan mereka bersama Bi Tuti.
"Kak, kira-kira Kak Beni kemana ya? Kok belum pulang?" Tanya Sera.
"Gak tau juga Ser. Coba kamu telpon kalau punya nomor ponselnya." Ide Ica.
Sera segera menghubungi Beni. Karena sudah pukul delapan malam, Beni belum juga pulang.
"Halo Kak, apakah Kak Beni pulang malam ini?" Cecar Sera ketika panggilannya di angkat.
"Iya Ser, ini Kakak lagi di jalan menuju rumah. Mau pesan makanan apa?" Tawar Beni.
"Kak, mau di belikan jajanan apa Kak?" Bisik Sera kepada Ica.
"Terserah aja Ser. " Jawab Ica.
"Kak, kalau ada bubur ayam yang gerobak dekat pertigaan yaa Kak." Kata Sera.
"Ok, kalau gak ada. Kakak belikan yang lain yaa." Kata Beni dari sambungan telpon.
"Siap Kak. Hati-hati yaa." Sera mematikan sambungan telpon.
Tidak berapa lama Beni sampai ke rumah dengan membawa bubur ayam pesanan Sera dan Ica. Beni tidak lupa membelikan juga Bi Tuti asisten rumah tangga dan Pak Ujang satpam menjaga rumahnya bertahun-tahun.
Mereka sudah seperti orang tua kedua setelah ayah ibunya. Karena orang tua Arbeni sering keluar kota atau pun keluar negeri untuk urusan bisnis mereka.
"Sera, Ica... Kakak datang nih." Sapa Beni yang tidak melihat mereka berdua itu.
"Iya Kak, Kami masih di kamar Kak." Jawab Sera.
Mereka segera keluar, mendekati Beni yang sudah di meja makan.
"Ca, tolong panggil Bi Tuti dan Pak Ujang untuk makan bersama." Kata Beni.
"Iya Kak." Ica memutar badannya.
Setelah Ica keluar untuk memanggil Pak Ujang. Sera duduk di sebelah Beni.
"Kak Beni." Kata Sera melihat Beni hanya berdiam diri.
"Iya, ada apa Sera?" Jawab Beni.
__ADS_1
"Kak Beni, Kakak Ica sangat baik kepada Sera kami merasa sangat akrab. Kak Beni kapan Kakak bisa menerima cintanya Sera nih." Kata Sera dengan muka yang menunduk.
"Emang kamu sudah bilang sama Bang Redi kamu kesini?" Tanya Beni.
"Sera nggak berani Kak." Jawab Sera.
"Itulah yang Kakak maksud Sera, kamu masih harus fokus sekolah dulu. Jangankan Abang kandung mu, Kakak aja keberatan kalau kamu harus pacaran sekarang." Jelas Beni.
"Hem...Pupus sudah." Gumam Sera menunduk dan mengusap air matanya.
Beni sebenarnya tidak tega melihat Sera. Tapi terlalu kecil dirinya untuk mengenal dunia percintaan. Beni menyayangi Sera sebagai adik sahabat baiknya, Redi. Selebihnya Beni belum merasakannya.
Ica datang dengan di iringi oleh Bi Tuti dan Pak Ujang. Mereka duduk di meja yang sama dengan Beni dan Sera.
"Bi, Pak... Silahkan di makan." Kata Beni.
"Sera, Ica... Silahkan." Lanjut Beni.
Mereka menikmati bubur ayam yang di bawa Beni tadi. Bi Tuti dan Pak Ujang sudah menghabiskan buburnya dan pamit untuk beristirahat karena sudah hampir pukul sembilan malam.
"Lho, Sera gak bersemangat gitu?" Selidik Ica.
"Iya Ca, Dia habis di nasehati oleh Kakaknya ini." Kata Arbeni.
Ica yang melihat Sera sedang tidak baik-baik saja. Ia mencoba menenangkan Sera di kamar.
"Kak, Sera mau pulang saja malam ini." Kata Sera sambil menangis.
"Lha kok gitu, Katanya mau temani kakak malam ini?" Kata Ica memenangkan.
"Sera, jangan ke mana-mana dulu. Kakak temui Kak Beni sebentar. Lagian kan gak enak juga dengan keluarga mu jika pulang malam begini." Jelas Ica.
Ica pergi menemui Beni yang masih duduk di ruang tamu. Melepas penat setelah seharian di kantor milik ayahnya tersebut. Ia duduk agak berjarak dengan Beni, karena takut terjadi salah paham.
"Kak, sebenarnya ada apa dengan Sera?" Tanya Ica memberanikan diri.
"Oh, tadi Sera mengatakan kalau dia menyukai saya." Kata Beni membuang nafasnya kasar.
"Terus Kakak bilang apa? Kakak tolak?" Selidik Ica.
"Saya hanya bilang sebaiknya dia sekolah dulu, tanpa memikirkan tentang percintaannya." Jelas Beni.
__ADS_1
"Pantas saja Sera menangis begitu, karena Kakak menolaknya." Kata Ica.
"Saya tidak mengatakan seperti itu, tapi saya sebagai sahabat Kakaknya ingin yang terbaik untuknya." Jelas Beni.
"Itu Sera mau pulang malam ini." Kata Ica.
"Kenapa harus pulang malam ini, kan kata dia mau nginap?" Ujar Beni.
"Coba Kakak temui dulu, agar tidak salah paham." Kata Ica.
Beni menemui Sera yang bersedih hati di dalam kamar. Ia akan menjelaskan mengapa tidak bisa menerima cintanya Sera untuk sekarang ini. Apa kata Redi dan orang tuanya jika ia berani memacari Sera yang masih kelas dua Sekolah Menengah Atas.
"Ser, Ayok keluar dulu Kakak mau ngomong." Kata Beni.
"Iya Ser... Keluarlah dulu. Kakak yakin Kak Beni menyayangimu."
Sera keluar, Beni mengajaknya ke taman belakang dekat kolam. Ica membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa mau ikut campur.
"Ser, Dari mana Kakak memulainya? Untuk hal ini." Kata Beni memulai pembicaraan.
"Yang pertama, kamu mengenal saya atau melihat saya hanya saat bersama Bang Redi. Bagaimana mungkin kamu sudah cinta sama saya?" Kata Beni.
"Yang kedua, seandainya saya menerima kamu saat ini sebagai kekasih saya. Pasti Redi dan orang tuamu akan membenci saya, karena seharusnya kamu masih fokus sekolah." Jelas Beni.
"Saya sangat menghargai perasaanmu Ressera Mahena, tidak juga ada niat untuk menghinakan kamu dan keluargamu. Tapi memang saat ini belum tepat untukmu harus berurusan dengan perasaan. Dengan siapapun, apalagi terpaut umur yang cukup jauh tentu keluarga mu akan menolak menerimanya." Lanjut Beni lagi.
"Sekarang tidurlah, ini sudah malam." Beni menoleh kepada Sera.
"Berarti Kakak tidak akan menerima cintanya Sera?" Tanya Sera lirih.
"Hem... Begini saja, Nanti jika kamu sudah kuliah minimal semester lima, berarti lebih kurang tiga tahun lagi. Saya akan mempertimbangkannya, kalaupun kamu masih ingat dengan saya." Ucap Beni tersenyum manis sambil memegang pundak Sera meyakinkan.
"Terimakasih Kak, Sera ingin tiga tahun ini cepat berlalu." jawab Sera sedikit ceria.
"Ya, sudah sekarang tidurlah." Kata Beni.
"Iya, Kak. Terimakasih banyak." Jawab Sera meninggalkan Beni.
Ica segera menuju kamar. Di kamar terlihat Ica sudah tertidur pulas. Sera yang mendapat sedikit kelegaan tidak bisa tidur kerena membayangkan wajah Arbeni sahabat kakaknya itu.
Sedangkan, Arbeni masih di kursi taman belakang rumah. Ia menikmati pemandangan bintang-bintang karena suasana malam cukup cerah.
__ADS_1
Beni tidak habis pikir dengan Sera gadis kecil, Adik dari sahabatnya itu. Ia secara langsung mengutarakan perasaannya. "Cukup berani." Gumam Beni.
Lama Beni menikmati suasana malam. Setelah cukup dingin ia segera masuk ke rumah. Mengingat besok ada pertemuan dengan rekan bisnisnya, dari keluarga Wiraarga.