Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Berjanjilah Padaku


__ADS_3

"Iya, lebih baik kami yang mengalah. Semua demi kebaikan Ica. Kami akan pindah ke kota." Kata Ibu Asmi.


Ica terharu dengan ke ikhlasan kedua orang tuanya. Mereka berangkat ke kota keesokan harinya.


Mereka tiba rumah milik keluarga Adikara saat hari sudah sore. Bunda Lusi sudah di antar sopir bersama Mama Diana. Marvin dan Ica terlihat ngobrol di taman depan rumah.


"Sayang, kamu gak tinggal di rumah lagi?" Tanya Marvin.


"Iya Bang, kan sudah ada Ibu dan Bapak." Kata Ica.


"Kapan yaa kita tinggal bareng lagi?" Tanya Marvin.


"Mungkin nanti." Jawab Ica.


Saat Ica dan Marvin sedang ngobrol di taman. Beni mendekati Marvin dan mengajaknya menjauh dari Ica, nampaknya sesuatu yang ingin Beni sampaikan.


"Vin, ayo ke taman belakang, ada yang harus saya sampaikan kepadamu." Kata Beni.


Marvin hanya mengikuti Beni dari belakang tanpa bicara satu kata pun. Beni berjalan melewati garasi.


"Silahkan duduk dulu," Kata Beni Kepada Marvin.


Marvin mengikuti Beni tanpa bicara. Ia langsung duduk di bangku taman.


"Vin, bagaimana kabar Sean?" Tanya Beni memancing.


"Saya tidak tau." Jawab Marvin.


"Saya hanya mau tanya pada mu, bagaimana bisa kamu mencintai adik saya, setelah perjuangan panjangmu untuk mendapatkan Sean?" Kata Beni to do point.


"Saya juga tidak tau, sejak saya memergoki Sean bersama seorang laki-laki dan dia meninggalkan saya. Saat itu saya masih bisa memaafkan dia dan menunggunya kembali," Kata Marvin mencoba mengingat kisahnya.


"Selama dua tahun lebih dia menghilang, orang tua saya yang sudah tidak setuju dari awal menambah kebenciannya kepada Sean. Entah kapan tepatnya, Ica datang membawa suasana baru bagi Vano, Ayah, dan Bunda. Mereka sangat menyayangi Ica." Lanjut Marvin.


"Ica yang saat itu sangat akrab dengan Vano, saya menyangka Ica adalah kekasih Vano. Saya pikir alangkah bahagianya Vano, memiliki kekasih yang sangat disayang Bunda dan Ayah. Pada suatu hari, saat Ica menghantar makanan, ia mengatakan bahwa ia bukan kekasih Vano. Di situ pertama kali ada perasaan saya ingin lebih mengenal Ica. Saya jatuh cinta padanya." Kata Marvin.


"Vin, saya sudah memaafkan mu soal Sean yang kau rebut dulu," Kata Beni menghela napas.


"Tapi bagaimana dengan Ica? Kami sudah kehilangan dia hampir dua puluh tahun lamanya," Lanjut Beni.


"Kalau kamu sekedar memberinya harapan, pergilah dari hidupnya mulai dari sekarang." Kata Beni.


"Saya sangat mencintai Sean." Kata Marvin.

__ADS_1


"Vin, Vin... Saat Ica hampir terserempet mobil saya, saya juga belum mengenal Ica. Setelah mendengar cerita bahwa tunangannya bermesraan dengan wanita lain. Saya memang laki-laki, tapi nurani saya juga ada Vin," Kata Beni.


"Dan setelah saya tau tunangan gadi itu adalah Marvin Wiraarga, saya sudah bertanya dalam hati, antara yakin dan tidak. Apa tidak salah dengar dan salah lihat seorang Marvinno memiliki pacar seperti ini?" Jelas Beni.


"Saat saya mengetahui Ica adalah adik kandung saya, entah mengapa saya kasihan kepadanya. Saya jadu ragu mengizinkan dia melanjutkan hubungan tak seimbang ini." Kata Beni.


"Kak, Mulai saat ini saya tidak akan membuat Ica menangis." Kata Marvin pertama memanggil Beni dengan sebutan Kakak.


"Apa saya bisa mempercayai mu?" Selidik Beni.


"Iya, Kak... saya akan berusaha." Jawab Marvin.


"Berjanjilah pada ku Vin." Kata Beni.


"Iya Kak, saya berjanji dengan sungguh." Jawab Marvin.


"Bagi saya, Ica adalah satu-satunya orang yang akan melindungi saya, ketika orang tua kami sudah tiada." Jelas Beni.


"Iya Kak, saya mengerti." Jawab Marvin.


"Saya percaya sama kamu Vin, kamu bisa menjaga Ica." Kata Beni menepuk pundak Marvin lalu pergi kedalam rumah.


Marvin masih duduk di kursi taman belakang rumah. Ia memandangi air kolam yang tenang.


"Hai Bang." Ica mengagetkan dari belakang.


"Belum Bang. Apa yang Kak Beni bilang tadi ke Abang?" Tanya Ica.


"Di suruh putuskan kamu." Jawab Marvin berpura-pura sedih.


"Hah, gak mungkin. Tapi kalau iya tidak apa-apa juga." Kata Ica sambil tertawa.


"Serius nih?" Marvin mengejar Ica di pinggir kolam.


"Hehe... Kak Beni yang suruh Ica temui Abang tadi. Kalau Kak Beni suruh kita putus, sudah di usirnya Abang dari sini." Kata Ica tertawa lepas.


"Oh, ya? Baik juga ya gunung es itu." Kata Marvin.


"Hus, kedengaran Kak Beni." Kata Ica.


Marvin memeluk Ica dari belakang. Ia tidak menyangka akan mendapat restu dari musuh bebuyutannya sejak zaman kuliah. Dalam hati Marvin mengakui bahwa Arbeni Adikara itu memiliki jiwa yang besar. Bahkan ia bisa meredam ego nya demi kebahagiaan adiknya.


*********

__ADS_1


Di tempat yang berbeda Tuan Alex dan Nyonya Theresia sedang di bandara menuju negara asal. Mereka baru saja menerima telepon bahwa anak semata wayang mereka mengalami kecelakaan, dan sedang dirawat di rumah sakit.


"Dad, Bagaimana anak kita?" Kata Nyonya Theresia.


"Mom, Daddy juga khawatir." Jawab suaminya.


Setelah sampai di negara asal, mereka segera menuju rumah sakit. Mereka masih tidak percaya akan hal yang menimpa anak mereka. Mereka langsung ke ruang ICU tempat putri mereka di rawat.


"Jasean, kok bisa begini sayang?" Kata Nyonya Theresia.


"Mom, bangunlah." Kata Tuan Alex kepada istrinya.


"Daddy, what happen putri kita?" Kata Nyonya Theresia dengan bahasa amburadul.


"Menurut keterangan Sean menabrak pembatas tol. Tubuhnya tidak seimbang akibat konsumsi alkohol." Jelas Tuan Alex.


"Kok alkohol sih Dad? Pasti ada hal yang membuatnya stres lagi. Awas saja kalau ada seseorang telah membuatnya seperti ini?" Ujar Nyonya Theresia.


.


"Sabar dulu, putri kita saja belum sadarkan diri." Kata Tuan Alex.


Tiba-tiba jari Sean bergerak, garis di layar monitor pun semakin stabil. Nyonya Theresia terlihat antusias menyaksikan perkembangan putrinya.


Sean perlahan membuka matanya walau sedikit, kemudian terpejam kembali. Sedang Tuan Alex melihat putrinya di samping ranjang tempat tidur.


"Sean, syukurlah nak kamu sudah sadar." Ucap Nyonya Theresia.


"Mommy, Daddy... Sean tidak mau disini." Kata Sean lemah.


"Iya, sayang. Sebentar lagi kita pulang." Nyonya Theresia menenangkan putrinya.


Sean masih terbaring lemah, Ia sesekali membuka matanya. Perasaannya tentang hal kemarin siang sangat memukul ego nya.


"Mom, Sean punya permintaan. Berjanjilah dengan Sean Mommy and Daddy akan mengabulkannya." Pinta Sean Lemah.


"Iya sayang, sembuh lah. Mommy dan Daddy akan mengabulkannya." Kata Nyonya Theresia.


"Berjanjilah Mommy." Kata Sean sangat lemah.


"Iya sayang." Ucap Nyonya Theresia.


"Sean ingin menikah dengan Marvin Mom." Kata Sean dengan mata tertutup.

__ADS_1


"Iya sayang, sembuh lah dulu. Mommy akan menemui Marvin." Kata Nyonya Theresia.


"Iya sayang, Sembuh lah terlebih dulu." Sahut Tuan Alex menimpali.


__ADS_2