
Barrak mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Ia mencari nomor kontak Sean untuk segera menghubunginya. Barrak juga bermaksud untuk menjemput Sean jika acara istrinya tersebut suda selesai.
Berulang Barrak menghubungi nomer Sean namun tidak diangkat. Barrak merasa khawatir dengan Sean, tanpa berpikir panjang ia melajukan lagi mobilnya untuk mencari keberadaan Sean.
Di tempat yang berbeda, di sebuah klub malam Sean sedang meneguk minuman. Berulang kali hingga dia sedikit kelimpungan.
Sebelum datang ke klub tadi Sean telah menjemput seorang pria tampan. Mereka bisa menemani setiap wanita yang ingin membayarnya, tentunya dengan kesepakatan terlebih dahulu.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Lekzo lelaki yang sedang terlibat kencan tersebut.
"Yes Baby, saya baik-baik saja. Bahkan sangat baik, mari kita bersenang-senang hari ini." Kata Sean.
Ditengah gemerlap lampu klub dan dentuman musik DJ mengiringi kebersamaan mereka. Sean yang terbiasa dengan hal seperti ini, sangat menikmati suasana malamnya.
"Baby, sepertinya kamu mabuk?" Tanya Lekzo.
"Ahha, iya sayang. Saya mabuk karena mu." Kata Sean sekenanya.
"Sebaiknya saya antar Nona pulang." Kata Lekzo.
"Tidak, tidak. Saya ingin menikmati mu malam ini. Saya akan membayar double spesial untuk mu." Kata Sean.
Mendengar hal itu Lekzo sangat senang. Ia membawa Sean ke dalam kamar hotel. Tentunya pembayaran menggunakan kartu debit Sean.
Lekzo membaringkan Sean di ranjang kamar hotel. Kemudian ia menyulut rokoknya, duduk di sofa berwarna marun dalam kamar tersebut.
"Baby. Ke sini dong." Panggil Sean.
"Iya sayang, istirahatlah sebentar." Kata Lekzo.
"Jangan buat saya lebih lama lagi menunggu." Kata Sean suaranya hampir tidak terdengar.
Lekzo mendekati Sean, karena ini memang tugasnya. Menyenangkan siapapun yang telah memesannya.
Lekzo perlahan melepas penutup bagian tubuh Sean. Satu persatu di lemparnya, membuat semua senti terlihat jelas di pandangan Lekzo.
"Cepatlah sayang." Pinta Sean.
"Pelan-pelan saja Baby, nanti kamu muntah duluan." Kata Lekzo.
Lekzo dengan pelan mau memberi tanda di leher Sean. Namun dengan cepat menarik rambut Lekzo, dan mengarahkannya ke lembah cairan madu miliknya.
__ADS_1
Menenggelamkan seluruh muka Lekzo ke gua di tengah-tengah lembah. Lekzo yang sangat berpengalaman, memainkan benda yang tak bertulang miliknya. Merasakan cairan madu dari gua milik Sean.
"Lebih dalam dong sayang. Masuklah bersama dua jarimu, pasti lebih terasa." Kata Sean.
Menuruti arahan dari Sean. Lekzo segera mengulang aktivitasnya lagi, kali ini di tambah dengan jarinya ikut jalan-jalan kedalam lembah milik Sean. Mencari sesuatu yang bisa di jadikan tumpuan dan bisa di mainkan.
"Sayang, madunya ingin tumpah. Apa kamu mau menikmatinya?" Tanya Sean.
"Terserah sayang minta nya bagaimana?" Tanya Lekzo.
"Telan dong sayang. Biar kita lebih menikmati kebersamaan ini."
"Baiklah." Jawab Lekzo.
Lekzo segera meminum habis cairan madu yang keluar dari lembah Sean. Menikmati sampai wajahnya menjadi basah. Setelah melakukan hal tersebut, ia ingin membaginya kepada Sean.
Ia mengarahkan wajahnya kepada wajah Sean. Setelah bertemu ia memberikan sedikit madu bercampur saliva itu kepada Sean.
"Enak sayang? Seperti inilah yang kamu mau?" Tanya Lekzo.
"Bagus sayang, memang kamu tidak pernah mengecewakan saya." Kata Sean.
"Sekarang gantian dog, baby." Pinta Lekzo.
"Wah, wah... Kalau begini siapa yang bayar dan siapa yang di bayar dong. Tapi nggak apa-apa, ini tanda terimakasih dari Sean. Karena mungkin ini pertemuan terakhir kita.
"Kamu mau kemana Baby?" Tanya Lekzo.
"Saya mau pulang ke negara asal." Kata Sean.
Tanpa berpikir lagi, Sean langsung melahap barang milik Lekzo. Menikmati setiap inci dari batang pendek milik Lekzo.
"Sayang malam besok saya kasih gratis kalau kamu mau." Kata Lekzo.
"Boleh sayang." Jawab Sean.
Ia melepas sebentar mainnya itu. Menarik ulur pucuk batang yang berbentuk seperti jamur yang baru tumbuh tersebut. Memainkan bagian kanopi dengan lidahnya.
"Lemas sayang, apa masih lama keluar?" Tanya Sean.
"Sebentar lagi sayang. Tapi sya ingin keluar di dalam lembah milik kamu sayang. Boleh ya?" Tanya Lekzo.
__ADS_1
"Bolehlah sayang, semuanya milik kamu malam ini." Kata Sean tanpa berpikir lagi.
Mendengar Sean akan pergi darinya, bahkan dari negara ini. Ia semakin tidak rela, terbesit cara agar Sean tetap kembali kedalam pelukannya.
"Sayang hati-hati ya." Kata Sean.
"Iya sayang pasti." Kata Lekzo memegang daun telinga Sean.
Perlahan tapi pasti Lekzo menancapkan batang pendek miliknya. Ke gua basah milik Sean, tanpa Sean sadari Lekzo menanamkan benih darinya ke sawah subur milik Sean. Semoga benih itu jadi, begitulah harapan seorang Lekzo.
Jika benih yang di tanam sampai menghasilkan, artinya ia bisa menguras harta kekayaan suaminya Sean. Jika Sean tidak ingin rahasianya terbongkar. "Sepertinya rencana saya akan indah pada waktunya." Lekzo tertawa dalam hati.
"Sayang, yuk kita buang bersama-sama." Kode dari Lekzo.
"Satu, dua...."
"Aaaagghhhkkk." Teriak mereka berdua.
"Terimakasih sayang." Kata Lekzo melayangkan ciuman ke jidat Sean.
"Sama-sama sayang. Ini bayaran mu." Kata Sean.
"Terimakasih sayang. Besok jangan lupa di tempat ini, waktunya seperti tadi. Mau di jemput?" Goda Lekzo.
Sean merasa tersanjung akan kebaikan laki-laki bayaran ini, mungkin ada juga orang menyebutnya gi golo.Apapun sebutannya, ia adalah pemuas naf su wanita. Sean tidak sadar kalau hari sudah pukul 9.00pm waktu setempat. Itu artinya lebih dari setengah hari ia telah meninggalkan rumah.
"Iya sayang, tapi tidak usah di jemput. Kita bertemu saja di tempat tadi." Kata Sean.
"Tapi maaf sayang, HP saya tadi jatuh di selokan depan apartemen. Jadi maaf tidak bisa menghubungi mu besok." Kata Lekzo bersiasat.
"Hem, kasian lelaki saya ini. Baiklah, saya akan tambahi untuk beli handphone baru. Ingat ya sayang, beli handphone bukan untuk bersenang senang dengan wanita lain." Kata Sean.
"Iya sayang, sekali lagi terimakasih. Kamu tidak ingin menemani saya membeli handphonenya? Biar sayang lebih percaya." Pancing Lekzo.
"Astaga sayang. Sebenarnya saya mau banget, tapi takut ada yang melihat kita, sebaiknya nggak usah nanti gudang uang kita hilang." Kata Sean tertawa.
"Iya juga ya sayang. Ya udah saya pergi sendiri saja. Jadi jomblo lagi dong, resiko mencintai istri orang." Kata Lekzo.
"Hehe, bisa saja, silahkan duluan sayang. Nanti ada yang lihat kita." Kata Sean.
Lekzo kemudian pergi meninggalkan Sean yang masih di kamar. Ia tertawa terbahak-bahak saat dalam lift, "Bahagianya kalau saya bisa mengambil harta suami wanita bodoh, Sean itu." Kata Lekzo dalam hati.
__ADS_1