Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Foto Siapa


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat, malam hampir larut. Ica bersama keluarganya beristirahat di kamar masing-masing. Sera tidur sekamar dengan Ica.


Beni, Pak Marjoyo, dan Marvin masih di ruang TV. Mereka menonton pertandingan bola liga dunia.


"Bapak kalau sudah ngantuk, istirahat duluan aja." Kata Beni.


Beni takut orang tuanya itu sakit kalau tidur larut malam. Ia juga berencana mengajak mereka ke kediaman Wiraarga besok hari.


"Iya Nak, Bapak memang sudah ngantuk sekali." Kata Pak Marjoyo.


"Nggak apa-apa Bapak balik ke kamar saja." Kata Beni.


"Kalian Nak?" Tanya Pak Marjoyo.


"Kami di sini saja Pak, sebentar lagi hari siang." Kata Marvin.


"Bapak juga istirahat di sini saja." Kata Pak Marjoyo.


"Baiklah kalau begitu. Oh iya Pak, besok kalau mau Bapak dan Ibu ikut kami ke rumah Bunda Lusi. Sekalian refreshing, sudah lama Bapak dan Ibu tidak keluar dari rumah." Ajak Beni.


"Iya Nak, boleh juga." Kata Pak Marjoyo.


Pak Merjoyo memejamkan mata di sofa lipat. Sofa tersebut bisa di buat menjadi kasur. Saat sedang menginginkannya.


"Memang Kakak akan ke rumah besok?" Tanya Marvin.


"Iya Vin, Saya akan meminta izin kepada Om David dan Tante Lusi agar diri mu bekerja di perusahaan Papa. Ica juga sudah lama tidak main ke tempat Tante Lusi." Kata Beni.


"Oh, begitu Kak. Jam berapa besok Kak? Takutnya saya tidak bisa bangun tepat waktu kalau habis begadang." Kata Marvin.


"Sekitar jam 09.00, kalau gak bangun paling di guyur tempat tidurmu." Kata Beni.


"Diusahakan Kak ipar." Kata Marvin cengengesan.


"Kamu belum mau tidur? Saya tidur duluan." Kata Beni.


"Sebentar lagi." Jawab Marvin singkat.


"Tolong matikan televisi kalau mau tidur nanti." Kata Beni.


"Baiklah Kak." Jawab Marvin.


Beni memejamkan matanya di atas ambal yang lebar dan empuk. Ia segera memejamkan matanya dan hanyut dalam mimpi indah.


Matahari telah menyambut dengan senyuman. Sarapan pagi telah siap di atas meja makan.


Ica dan Bu Asmi membantu Bi Tuti menyiapkan sarapan pagi itu. Mereka membuat roti serta susu dan nasi goreng.

__ADS_1


Bu Asmi, Ica dan Pak Marjoyo memang kebiasaan makan nasi tiga kali sehari. Sedangkan yang lain terbiasa dengan sarapan roti di pagi hari.


"Bu, bangunkanlah anak-anak." Kata Bi Tuti.


"Biarlah Bi, saya sungkan jika harus membangunkan." Kata Bu Asmi.


"Sebentar, biar saya yang membangunkan." Kata Bi Tuti.


Bi Tuti membangunkan Beni dan yang lainnya. Pak Marjoyo di bangunkan oleh Bu Asmi.


Mereka semua membersihkan diri, ada juga yang hanya mencuci muka. Lalu bergegas ke meja makan.


"Ca, boleh Kakak minta tolong?" Tanya Beni.


"Minta tolong apa Kak?" Tanya Ica.


"Tolong ajak Pak Ujang, dan semua Om yang jaga di rumah kita." Kata Beni.


"Baik Kak." Jawab Ica.


Ica segera keluar meninggalkan meja makan menuju gardu satpam. Ia juga melewati orang-orang yang menjaga kediaman keluarga Adikara tersebut.


"Selamat pagi Om, Kak Beni mengajak Om semua untuk sarapan pagi di meja makan." Kata Ica.


"Tapi Nona?" Jawab salah seorang dari mereka.


"Bukan itu Nona, kami kan hanya bekerja." Kata Penjaga rumah.


"Om, kata Papa semua orang yang sudah masuk dalam lingkungan rumah dan niat mereka baik. Perlakukan mereka layaknya keluarga, memang kita ini keluarga Om. Jadi jangan sungkan, mari masuklah. Saya ajak Pak Ujang dulu." kata Ica.


Anak buah Pak Hendro itu masuk ke rumah untuk menikmati sarapan pagi bersama. Ica datang bersama Pak Ujang. Di kursi Pak Hendro biasanya, Beni meminta Pak Marjoyo untuk duduk di sana.


Setelah menikmati sarapan semua kembali pada tugas masing-masing. Beni menyiapkan mobil untuk pergi ke rumah keluarga Wiraarga.


Tidak lupa Beni menelepon Bunda Lusi. Setelah siap, mereka berangkat dengan menggunakan dua mobil.


Mobil pertama di tumpangi Beni, Marvin, Pak Marjoyo. Mobil kedua di tumpangi Sera, Ica, Bu Asmi dan Bi Tuti, bersama sopir dan satu pengawal.


Di belakang mereka mengikuti empat orang pengawal mengendarai mobil lain. Beni tidak ingin terjadi sesuatu dengan keluarganya.


Saat mereka di rumah Wiraarga nanti. Mereka juga akan aman, karena ada enam penjaga yang di tugaskan di rumah tersebut.


Lebih kurang satu jam, mereka tiba di kediaman Wiraarga. Bunda Lusi mempersilahkan tamunya masuk ke ruang tamu.


"Selamat pagi, Om Tante." Sapa Beni.


"Selamat pagi Ben. Wah, siapa gadis cantik ini?" Tanya Pak David.

__ADS_1


"Calon Kak Beni Yah." Bisik Ica.


"Iya Om, kami bawa rombongan. Bapak sampe Ibu sudah lama tidak keluar rumah." Kata Beni.


"Nggak apa-apa, Bunda senang kalau kalian sering main kesini." Kata Bunda Lusi.


Ica mendekati Ayah dan Bundanya untuk bersalaman. Di ikuti Sera dan Pak Marjoyo. Setelah melihat tuannya sampai, mobil pengawal pribadi yang mengiringi rombongan kembali ke rumah.


Mereka duduk di ruang tamu, Bi Siti dan Bi Sunem menyuguhkan minuman dan kue untuk tamunya.


"Ada apa Ben? Sepertinya sangat penting sehingga datang di pagi hari." Kata Pak David.


"Nggak ada main aja Om." Kata Beni.


"Wah, terhormat sekali kalau Tuan Adikara ini main ke rumah di pagi hari, ya kan Bun." Goda Pak David.


"Iya Yah, habis pastinya mereka sangat sibuk." Kata Bunda Lusi.


Beni menyeruput teh hangat di hadapannya. Kemudian ia tersenyum sekilas.


"Benar Tante Om, tujuan saya ke sini pagi ini untuk meminta izin Tante dan Om David agar Marvin membantu saya di perusahaan." Kata Beni.


"Baguslah kalau begitu Nak Beni. Marvin ini belum kerja, nanti mau menikah di kasih makan apa Ica." Kata Bunda Lusi.


Beni tersenyum mendengar cecaran calon mertua adiknya itu. Sebenarnya mau tidur sampai tujuh turunan pun harta mereka belum akan habis.


"Hem, Iya Tante. Nanti juga beberapa perusahaan akan jatuh ke tangan Ica. Artinya Marvin lah yang akan mengelola perusahan itu bersama Ica. Saya nanti akan memilik keluarga juga." Kata Beni.


"Dengar itu Vin, Kakakmu sudah sangat baik. Jangan kecewakan harapannya." Kata Beni.


"Sebenarnya sekarang sedang ada pasokan dana yang masuk dari perusahaan dari luar negeri. Jadi berkas-berkas banyak yang harus di tanda tangani. Di tambah masalah ada orang ingin mencelakakan Ica, kepala saya rasanya mau meledak Tante." Kata Beni.


"Kalau kami sangat setuju, Marvin bekerja dengan kamu Nak Beni." Kata Bunda Lusi.


"Terimakasih Tante." Kata Beni.


Sera yang sejak tadi diam. Sebenarnya ia memperhatikan photo yang terpajang di ruang tamu rumah Wiraarga. Ia penasaran dengan orang yang ada di dalam photo.


Sera menunggu waktu selesai percakapan Beni dan orang tua angkat Ica tersebut. Ia akan menanyakan kepada mereka.


"Tante, maaf sebelumnya. Sera mau tanya?" Kata Sera.


"Silahkan Nak, mau tanya apa?" Kata Bunda Lusi.


"Itu photo siapa Tan?" Tanya Sera menunjuk sebuah photo.


"Itu photo keluarganya mbah buyut Abang Marvin. Ada apa Nak?" Tanya Bunda Lusi.

__ADS_1


"Nggak Tante. Tapi kok sama dengan photo keluarga mbah buyutnya Sera." Jawab Sera.


__ADS_2