Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Kami Akan Membantu


__ADS_3

Di ruangan kerjanya Beni dan Marvin mengotak-atik komputer. Bahkan sampai subuh pun mereka tidak menemukan jejak sang hacker yang menyerang perusahaan keluarga Adikara.


"Vin, kita tidur dulu." Kata Beni.


"Iya Kak, saya juga ngantuk berat." Jawab Marvin.


Marvin mau berbaring di sofa ruang kerja. Tapi Beni dengan cepat mencegahnya.


"Vin, kamu tidur di kamar saya saja. Nanti saya akan tidur di kamar tamu." Kata Beni.


"Tidak usah Kak. Saya tidur di sini saja." Kata Marvin.


"Jangan sungkan. Mari saya antarkan." Kata Beni.


Marvin mengiringi Beni di belakang. Ia tidak ada alasan untuk menolak kebaikan Beni.


Sedangkan Ica dan orang tuanya masih beristirahat di dalam kamar. Setelah tadi malam sangat larut tidur.


***********


Pagi ini Pak Hendro benar-benar khawatir. Soalnya ia belum menemukan hacker yang berani menyerang data perusahaannya.


Hanya ada satu orang yang bisa membobol data keluarga Adikara. Jika benar dia, Pak Hendro tentu tidak perlu khawatir. Ica, Marvin dan Beni.


Ia segera menelepon seseorang untuk menanyakan masalah bocornya data perusahaan.


"Halo Brother, apa kabar?" Tanya Pak Hendro dalam sambungan telepon.


"Baik Kak. Keluarga di sana apa kabar?" Tanya orang tersebut.


"Baik, baik. Ada hal yang mau saya tanyakan." Kata Pak Hendro.


"Soal apa Kak?" Tanya orang tersebut.


"Apa kamu yang meretas data perusahan?" Tanya Pak Hendro.


Pak Hendro berharap orang ini yang sudah meretas data perusahaannya. Pak Hendro benar-benar menunggu jawaban dari orang tersebut.


"Bukan saya Kak, tapi saya mengetahui orang yang meretas data anda." Kata orang tersebut.


"Kalau bukan kamu. Terus siapa? Saya tidak tidur semalaman setelah mengetahui hal ini." Kata Pak Hendro.


Dengan nada tinggi menahan emosi. Pak Hendro menarik napas dalam-dalam, ada sedikit kelegaan dalam hatinya.


"Maaf Kak, itu adik kesayangan Kakak sedang penasaran dengan keponakannya. Tapi ia malu untuk bertanya langsung." Kata orang tersebut.


"Jadi kalian pelakunya? Tidak mungkin anak itu bisa sendiri, kamulah dalang utamanya." Kata Pak Hendro.

__ADS_1


"Iya Kak. Kami minta maaf." Kata orang tersebut.


"Awas kalian kalau nanti ketemu. Tapi kalau kalian yang bobol data perusahaan. Yang meneror Ica siapa? Anak buah kalian juga?" Tanya Pak Hendro.


Lawan Pak Hendro berdiam diri sejenak. Kemudian mereka saling bertanya.


"Maaf Kak, kalau hal itu tidaklah mungkin kami lakukan." Kata orang tersebut.


"Jadi siapa? Hah, kalian benar-benar menguji kesabaran saya." Kata Pak Hendro.


"Kak, kalau boleh kami akan membantu menyelidiki masalah ini." Kata orang itu.


"Kalian mau datang ke rumah? Saya lagi di luar negeri sekarang." Kata Pak Hendro.


"Kami ingin melihat keponakan kami, tapi tidak sekarang. Kami akan membantu menyelidiki masalah Kakak lewat intel kami." Kata orang tersebut.


"Baiklah, di tunggu kedatangannya. Saya peringatan untuk tidak membuat ulah. Kalau tidak, saya akan blokir semua data dan aset kalian." Kata Pak Hendro.


"Baiklah Kak. Kami berjanji akan membantu Kakak menyelidiki masalah ini." Kata orang tersebut.


"Saya matikan dulu. Di tunggu kabar baiknya." Kata Pak Hendro.


"Baik Kak." Kata orang tersebut.


Setelah mematikan sambungan ponsel. Pak Hendro menelepon Beni, Ia memberitahu Beni agar tidak usah khawatir dengan data perusahan.


Pak Hendro juga mengatakan, bahwa ada temannya yang akan membantu menyelidiki. Ia sangat yakin kepada kekuatan orang tersebut.


Beni yang masih setengah sadar menerima panggilan telepon Pak Hendro. Tetapi ia tetap berusaha memahami setiap perkataan Papanya.


Ia sadar bahwa orang tuanya sangat sibuk. Jadi Beni tidak ingin mengganggu orang tuanya nanti, hanya untuk bertanya kembali.


Ibu Asmi sudah bangun duluan. Ia membantu Bibi Tuti menyiapkan sarapan.


Bangun di pagi hari biasa Bu Asmi lakukan ketika di kampung dulu. Setelah pindah ke kota juga ia selalu menyiapkan sarapan sebelum Pak Marjoyo berangkat ke lapak.


Ica menyusul Ibunya, ia juga membantu menyiapkan makanan. Sekitar jam 08.00WIB Marvin keluar dari kamar.


Sedangkan Beni sudah pergi ke kantor sebentar, karena ada berkas yang harus di tanda tangani.


Beni di kawal oleh dua orang bodyguard. Ia juga diantar oleh supir karena Beni sangat mengantuk, tidak mungkin untuk menyetir.


Sedang empat orang lagi berjaga di depan rumah. Mereka di perintahkan oleh Pak Hendro berjaga dengan bergantian.


"Vin, sudah bangun? Ayo kita sarapan. Tolong Ajak Bapak sedang nonton TV." Kata Bi Asmi.


"Baik Bu." Kata Marvin.

__ADS_1


"Ica, tolong ajak Om yang berjaga sarapannya bergantian saja. Sekalian Pak Ujang." Kata Bu Asmi.


"Baik Bu." Jawab Ica.


Mereka menikmati sarapan dalam satu meja. Hanya saja yang jaga rumah harus bergantian.


***********


Di tempat yang berbeda, tiga orang sedang menyusun rencana. Mereka akan menculik Ica. Tujuannya untuk meminta tebusan kepada orang tua Ica yang kaya raya.


"Bagaimana dengan Ide saya tadi?" Kata salah satu dari mereka.


"Saya setuju, kita akan meminta satu perusahaan mereka. Jika ingin putri tercinta mereka selamat." Kata orang yang berambut panjang.


"Bos kita akan senang jika ini berhasil." Kata yang berambut pirang.


"Saya ingin bersenang-senang dengan gadis itu, sudah lama saya mengaguminya." Kata orang pertama tadi.


Mereka bertiga bekerja untuk orang yang mereka sebut Bos. Bos inilah yang nantinya yang akan menentukan bagaimana rencana mereka agar berhasil.


Saat mereka sedang berbincang. Tiba-tiba orang yang di panggil dengan sebutan Bos datang


"Selamat siang Bos." Kata rambut pirang.


"Selamat siang. Apa kalian sudah berhasil memotret nomer polisi mobilnya Spica Adikara." Tanya Bos.


"Sudah Bos, aman." Kata yang berambut panjang.


"Baiklah, tapi saya ingin kalian tidak ceroboh dalam melakukannya. Dan ingat kalau kalian tertangkap kerena kecerobohan kalian, jangan bawa nama saya. Kalau kalian sebut nama saya, dipastikan nyawa kalian akan melayang." Kata orang yang di panggil Bos.


"Baik Bos. Siap kami laksanakan." Kata rambut pirang.


"Tangkap dan sandera gadis itu. Jangan lakukan apapun sebelum saya perintahkan lagi." Kata Bos


"Baik Bos, kami mengerti." Kata orang pertama tadi.


Mereka kemudian menghisap rokok. Tertawa bersama atas rencana mereka mencelakakan orang lain.


Mereka menyiapkan segala sesuatunya yang akan di gunakan dalam penyanderaan nantinya.


Sedangkan orang yang di panggil Bos. Mengeluhkan asap rokok ke arah udara. Mereka meneguk minuman sampai sepuas.


"Putri Adikara, sebentar lagi kamu akan menangis seperti saya." Gumam Si Bos setelah meneguk minuman.


"Bos mabuk, ayo kita pulang." Ajak rambut pirang.


"Nanti dulu, saya ingin merayakan rencana istimewa ini." Kata Bos.

__ADS_1


Ia tertawa menggelegar, mengerikan bagi mereka yang baru pertama melihatnya. Kebencian sudah menutup rapat pintu hatinya.


__ADS_2